
Andi saat ini berada dalam kantor dan disampingnya selalu ada Toni yang membantunya mengerjakan segala sesuatu yang berurusan dengan kegiatannya di Kantor. Toni saat ini nampak lesu dan tidak bersemangat seperti biasanya, bahkan pekerjaan yang diberikan oleh Andi tidak kunjung diselesaikan.
Andi memperhatikan rekan kerjanya. Andi menepuk bahu Toni kemudian duduk berhadapan dengannya. “Ton, apa yang kamu resah kan?”
Toni menghela nafasnya, menghisap rokok yang ada di dalam jarinya. “Itu Bro..., aku meragukan hubungan aku dengan Dewi?” ucap Toni kembali menghisap rokoknya.
“Kenapa begitu? Kamu tidak cinta dengannya lagi? Atau dia tidak mencintaimu?” Andi penasaran dengan keresahan temennya. Toni yang sudah tidak bisa menyimpan kegelisahan yang ada di hatinya, semua unek-uneknya diceritakan semuanya kepada Andi. Semua hal tentang perjodohan Dewi diceritakannya, termasuk kegigihan orang tua Dewi untuk melarang Dewi menikah dengannya.
“Kamu sudah berusaha menemui dan mendekati mereka?” tanya Andi berusaha mencari solusi permasalahan temennya.
“Belum.” Jawab Toni gelisah, karena Toni merasa dirinya tidak akan berhasil mendekati orang tua Dewi yang status sosialnya terlalu tinggi dibandingkan dengan dirinya.
“Bro, kamu laki-laki. Kamu harus mencoba dulu, jangan menyerah sebelum mencobanya! Ayolah bro mana Toni yang aku kenal selama ini.” Andi menepuk bahu Toni dan memberi semangat agar tidak mudah menyerah pada keadaan.
“Terimakasih bro masukannya. Aku akan berjuang meluluhkan hati kedua orang tua Dewi.” Toni tiba-tiba bangkit dari duduknya kemudian berjalan keluar melewati Andi.
“Hoi kamu mau kemana?” teriak Andi menegur sahabatnya karena waktu pulang masih setengah jam lagi, dan pekerjaannya juga belum diselesaikan.
“Mau berjuang bos, demi masa depan.” Toni pun sudah tidak memperdulikan teriakan Andi lagi. Andi kembali ke tempat duduknya menyelesaikan semua pekerjaannya yang tertunda. Setelah pekerjaannya selesai dan waktu menunjukan waktu pulang, Andi bergegas pulang.
Di tengah jalan Andi melihat ada penjual rujak dan es cendol kesukaannya Katrin. Andi menghentikan mobilnya kemudian membeli rujak dan es cendol untuk Katrin. Andi mengingat saat pertama kalinya Katrin kena kasus salah tangkap oleh pak Broto.
__ADS_1
Andi kembali meluncurkan kendaraanya menemui sang pujaan hatinya. Tak berapa lama Andi sampai di rumah Katrin. Mbok Minah yang mengetahui Andi datang langsung mempersilahkannya masuk. Andi menyerahkan bungkusan untuk mbok Minah.
“Mbok ini tolong siapkan untuk Katrin ya, yang lainya untuk mbok dan bapak!” Andi duduk di sofa tamu.
Tak berapa lama mbok Minah datang kembali menyampaikan kalau Katrin masih tidur di kamar dan susah dibangunkan.
“Kalau begitu biarkan saja mbok. Aku tunggu di sini saja.” Andi merebahkan dirinya di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya, hingga tertidur.
Bunda Ajeng yang pulang dari butiknya menatap calon menantunya dengan menggelengkan kepalanya. “Pulang kerja kok tidak pulang dulu, dan masih berseragam juga!” Gumam bunda Ajeng langsung ke kamar Katrin. Bunda Ajeng membangunkan Katrin yang masih terlelap tidur.
“Nak, ayo bagun, itu kamu ditunggu nak Andi hingga tertidur di ruang tamu.” Bunda Ajeng mengguncang-guncang tubuh Katrin hingga terbangun dari tidurnya. Katrin menggeliat manja dan mengucek-ucek matanya untuk kemudian bangun dari tidurnya hendak menemui Andi dengan baju tidurnya yang sexi.
Bunda Ajeng langsung menarik lengan anaknya dan mengingatkan Katrin untuk ganti baju dulu. Katrin baru tersadar kalau bajunya tidak pantas untuk menemui kekasihnya. Katrin pergi mengambil bajunya dan bergegas ke kamar mandi sekalian membersihkan dirinya.
Andi yang sudah terbangun merasakan goresan halus tangan Katrin denga Liptiknya. Andi dengan cekatan meraih tangan Katrin dan menariknya ke dalam pelukannya. Katrin tidak bisa berkutik melarikan diri dari pelukan Andi. Andi memanfaatkan kesempatan itu untuk mencium bibir Katrin hingga terus berlanjut ke leher jenjang tubuh Katrin, setelah kehabisan nafas Andi baru melepaskan Katrin.
“Kakak, kenapa tadi tidak membangunkan aku?” tanya Katrin yang membenahi duduknya dekat dengan Andi.
“Sayang, mbok Minah sudah berusaha memanggilmu tapi kamu tidak kunjung bangun,” ucap Andi yang bangkit dari posisi rebahan dan duduk berdampingan dengan Katrin.
“Apa iya? Aku kok tidak merasakan kalau mbok Minah membangunkan ku!” ucap Katrin santai menyandarkan kepalanya di bahu Andi. Andi gemas dengan tingkah Katrin, dipeluknya Katrin dan di dudukannya di pangkuannya, dan sesekali diciuminya rambut Katrin yang aromanya wangi.
__ADS_1
“Kak, aku ingin pernikahan kita diadakan pesta dengan konsep out door,” ucap Katrin tiba-tiba mengingatkan Andi kalau pernikahannya akan segera dilangsungkan bulan depan.
“Itu gampang sayang, nanti kita sampaikan ke bunda Clara. Kita buat saja di halaman villa yang kita kunjungi kemarin saja, dengan background pemandangan bukit pegunungan gimana?” tanya Andi dengan meletakan kepalnya di bahu Katrin.
“Iya tidak apa-apa, ta_pi aku ingin banyak bunga sayang?” bisik Katrin manja.
“Bunga? Bunga apa sayang?” tanya Andi mengernyitkan alisnya karena selama ini dia tidak mengetahui banyak hal tentang bunga.
“Boleh bunga apa saja yang penting ada bunga mawar nya sehingga membuat susana menjadi harum dan romantis,” ucap Katrin yang tiba-tiba hendak berdiri dan menggandeng Andi menuju kamar tamu.
“Beres dik. Semuanya akan aku siapkan untuk dirimu,” ucap Andi yang baru tersadar kalau dirinya sudah berada di dalam kamar, pikiran mesumnya mulai muncul.
“Dik, ngapain kita ke kamar. Sabar dik, nunggu satu bulan lagi,” ucap Andi yang menghentikan Langkah Katrin. Katrin tertawa terkekeh mendengar ucapan Andi, reflek Katrin mencubit pinggang Andi.
“Dasar otak kakak mesum sekali. Kakak bau asem sana mandi dulu, perlengkapan mandi sudah aku siapkan. Dan itu ada baju kak Tora kamu ganti ya?” ucap Katrin berjalan menuju kamar tamu diikuti Andi. Katrin menghempaskan dirinya duduk di sofa sambil nonton acara televisi menunggu Andi selesai mandi.
Setelah mandi, Andi mendekati Katrin duduk disampingnya. Andi yang habis mandi keramas menunjukan aroma maskulinnya. Katrin semakin merapatkan dirinya mendekati Andi dan menghirup aroma tubuh Andi dengan senang hati. Andi spontan memeluk Katrin dan mencium keningnya. “Kak, lepaskan aku. Ayo kita turun kak aku ingin duduk di taman belakang. Katrin berusaha melepaskan pelukan Andi. Andi tersenyum melihat tingkah laku Katrin.
“Sayang, makanya jangan suka menggodaku. Janganlah kau berusaha meningkatkan gaerahku.” Andi berdiri dari duduknya dan mengandeng Katrin keluar dari kamarnya menuju taman belakang. Katrin menikmati rujak dan es cendol yang dibawakan oleh Andi.
“Terimakasih sayang.” Katrin mengecup pipi andi dan menyuapinya dengan rujak. Mereka berdua nampak romantis. Sikap mereka tidak lepas dari pengamatan bunda Ajeng.
__ADS_1
🍁🍁🍁Terimakasih para pembaca setia yang telah membaca dan jadi penggemar setia, untuk menambah semangat update episode selanjutnya, jangan lupa kasih komentar, like dan votenya!🍁🍁🍁