
Setelah Andi dan Katrin pergi, di villa hanya ada mereka berempat. Arga dan Toni berbincang-bincang di teras. “Arga, gimana kabar Andi?” tanya Toni sambil menyeruput kopinya.
“Alhamdulilah, mereka baik-baik saja,” kata Arga sambil memandang ke luar, cuaca masih menunjukan hujan lebat dan angin yang kencang.
“Ar, aku baru tahu kalau kakakmu dulu pernah pacaran dan punya masa lalu yang buruk dengan pacarnya,” ucap Toni sambil memandang Arga.
“Begitulah…, sejak kejadian itu kakak tidak pernah mengenal yang namanya makhluk cewek. Setiap ada cewek yang menyukainya, kakak selalu menghindar. Ayah dan ibu khawatir dengan kondisi kakak. Suatu ketika kakak mau di jodohkan dengan salah satu putri temen bunda. Kakak menolak mentah-mentah perjodohan itu,” cerita Arga panjang lebar.
“Masa sih, Ar…? Ternyata dibalik sikap bos terhadap wanita menyimpan suatu misteri yang menyebabkan dia trauma,” ucap Toni sambil membayangkan sikap dingin bosnya terhadap semua wanita.
“Ya…, begitulah kakak ku. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata cewek yang mau dijodohkan bunda itu ternyata Katrin. Aneh kan...? Mungkin itu yang dinamakan jodoh Ton.” Arga tersenyum pada Toni.
“Benarkah…? Wah, seru banget kisahnya si bos,” kata Toni sambil mengisap rokoknya.
Anita dan Dewi muncul sambil membawa cemilan. “Kak, ini cemilannya, keliatannya seru banget ngobrolnya,” kata Anita sambil duduk di dekat Arga.
“Dik, besok kita langsung pulang apa ke perkebunan teh dulu?” tanya Arga sambil mengunyah cemilan yang dibawa Anita.
“Aku terserah sama kakak saja, ke kebun teh dulu aku juga tidak masalah, kamu bagaimana kak Toni,” balas Anita sambil memandang Toni.
“Kita ke kebun teh dulu, sekalian menikmati liburan kita,” jawab Toni.
“Ok, kita ke kebun teh, baru sorenya pulang ke kota.” Arga menyela pembicaraan mereka.
Mereka pun melanjutkan berbincang-bincang menambah keakraban satu dengan lainnya.
Arga memetik gitar menyanyikan lagu cinta untuk Anita.
Toni mengambil jagung dan menyiapkan perapian untuk membakar jagung. “Dik Dewi…, tolong bantu kakak oleskan mentega ya?” kata Toni memanggil Dewi.
Dewi mengolesi beberapa jagung dengan mentega, kemudian di serahkan kepada Toni. “Ini kak, jagungnya?” kata Dewi sambil menghempaskan dirinya duduk di dekat Toni.
Jagung yang di bakar pun siap dihidangkan, mereka sibuk makan jagung bakar dan nampak menikmatinya.
“Dik…, maaf belepotan pipimu kena mentega, aku bersihkan ya?” kata Toni sambil mengusap pipi Dewi.
__ADS_1
“Terimakasih kak,” jawab Dewi dengan muka memerah menahan malu.
Arga dan Anita saling memandang. “Kak, kayaknya sudah ada kemajuan dengan hubungan mereka,” bisik Anita di dekat telinga Andi.
“Iya..., Dik ayo kita buat hubungan kita selangkah lebih maju, bagaimana?” goda Arga kembali berbisik kepada Anita.
“Kakak, jangan mesum ah,” kata Anita sambil mencubit pinggang Arga.
“Auh…auh, sakit dik,” teriak Arga sambil berusaha melepaskan tangan Anita dari pinggangnya. Anita tidak menghentikan aksinya, justru Anita berusaha mencubit kembali pinggang Arga sehingga membuat Arga gemas dan menariknya dalam pelukannya. Arga ******* bibir Anita dengan nafsu memburu.
“Mbuuk…, hoi ini masih ada orang ya?” Toni melempar tongkol jagung ke Arga.
“Apaan sih, Ton. Syirik saja kamu, itu yang di depan jangan diabaikan,” jawab Arga sambil mengangkat dagunya memberi kode ke arah Dewi.
“Dasar gemblung, kakak sama adiknya sama-sama mesum,” teriak Toni menarik tangan Dewi menuju ruang tengah untuk nonton TV.
Begitulah mereka dua pasang muda dan mudi yang mabuk karena cinta, hingga waktu terus berganti menunjukan suasana pagi hari yang cerah. Mereka mengemasi barang-barang mereka untuk dimasukan ke dalam mobil.
“Nak Arga, jadi pulang sekarang?” tanya mang Sukri sambil membantu memasukan tas ke dalam mobil.
“Jadi mampir ke kebun teh nak?” tanya mang Sukri kembali.
“Jadi pak. Terimakasih kami telah merepotkan bapak selama kami disini,” jelas Arga, kemudian masuk ke dalam mobil.
Toni menyalakan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan ke perkebunan teh. Arga dan Anita duduk di belakang. Anita bersikap manja sama Arga sehingga menimbulkan rasa iri dalam diri Toni. “Sial, nasib-nasib jadi jomblo sejati, Dewi sebentar lagi akan ku pastikan menjadi milikku,” gumam Toni kembali memfokuskan dirinya mengemudi.
“Ton, berhenti, kita sudah sampai,” ucap Arga sambil menyentuh bahu Toni.
Toni menghentikan mobilnya, mereka turun dan berjalan menuju perkebunan teh.
“Kak, itu ada kuda, aku pingin naik kuda sekalian menikmati pemandangan di sekitar perkebunan,” Seru Anita sambil mengandeng Arga diikuti Toni dan Dewi.”
“Pak, sewa kudanya 4 ekor ya pak?” ucap Anita menghampiri bapak-bapak yang menyewakan kuda.
“Maaf non, kudanya tinggal dua,” jawab penyewa kuda.
__ADS_1
“Ta_pi, kami berempat pak?” Anita menjelaskan sambil memandang Arga yang ada di sebelahnya.
“Tidak apa-apa nak, bisa kok 1 ekor untuk sepasang, kuda kita kuda unggulan kok,” jawab penyewa kuda.
“Ayo dik, kamu sama aku.” Arga menaikan tubuh Anita, kemudian diikuti dirinya. Toni melakukan hal yang sama dengan Dewi.
Sepanjang perjalanan Anita nampak bergembira dengan Arga, tapi tidak dengan Toni dan Dewi. Toni masih berjuang keras mengambil hati Dewi, berbagai cara dia lakukan untuk mendekati Dewi. Hal itu diketahui oleh Arga, maka Arga berbisik pada Dewi.
“Dik kita ke arah sana saja ya? Pemandangannya bagus sekali," bisik Arga di daun telinga Anita.
Toni, menghentikan kudanya, kemudian pergi menuju gazebo kayu di pinggir perkebunan teh. Mereka duduk berdua menikmati pemandangan dengan makan gorengan dan minum teh panas yang dia beli dari warung di dekat perkebunan.
“Dik, boleh kah aku bertanya sesuatu?” ucap Toni menggeser duduknya mendekati Dewi.
“I_ya, kak.” Jawab Dewi gugup.”Ada apa dengan jantungku, kenapa berdetak begitu kencang?” batin Dewi.
“Dik…, tunggu sebentar, " ucap Toni pergi meninggalkan Dewi.
"Itu kan ada yang jual bunga mawar.” Toni berlari menghampiri seorang gadis kecil yang menjual bunga mawar.
“Dik, bunganya kakak beli semua ya?” ucap Toni sambil mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
“Iya…, ini kak bunganya, dan ini kembaliannya,” ucap gadis kecil penjual mawar.
“Kembaliannya untuk Adik saja,” ujar Toni sambil pergi kembali menghampiri Dewi, dan bunganya di sembunyikan di belakang tubuhnya.
“Dik…, meskipun aku tidak sesempurna seperti yang kamu harapkan tapi aku akan berusaha untuk menjadi sempurna seperti impian kamu. Maukah dik Dewi menjadi kekasih ku? Calon ibu dari anak-anakku kelak?” ucap Toni yang tiba-tiba berlutut di depan Dewi sambil memberikan seikat bunga mawar merah.
“Dewi, kau terima saja cinta kak Toni, kelihatanya dia mencintaimu,” ucap Anita diikuti Arga, entah darimana mereka tiba-tiba muncul di dekatnya.
Dewi gugup dan wajahnya kelihatan memerah menahan malu. Dewi pun mengangguk an kepalanya sebagai pertanda kalau dia setuju. Toni langsun memeluk Dewi dan mengangkatnya memutar kegirangan.
“Terimakasih, dik. Aku janji akan mencintaimu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu,” ucap Toni sambil mencium kening Dewi.
Setelah menikmati pemandangan di perkebunan teh, mereka kembali ke kota ke tempat tinggal mereka dengan perasaan senang, karena mendapatkan cintanya masing-masing.
__ADS_1
♥️♥️♥️Terimakasih para pembaca yang setia, jangan lupa, like, vote serta komentarnya!❤️❤️❤️