
Bima menempel terus sama Katrin, kemana-mana selalu mengikuti Katrin. Katrin sangat menyanyanginya. Hari ini Katrin berencana menjenguk kakek Bima ke rumah sakit. Namun sebelumnya Katrin harus mengajar di mushola. Sementara itu Andi, Doni dan Farida baru datang dari kota. Mereka bertiga langsung menuju rumah kontrakan yang dipakai Katrin dan temen-temennya. Andi tidak mendapati istrinya di rumah sehingga bertanya kepada Anita.
Tak lama kemudian Andi menghampiri Katrin yang sedang mengajar ngaji di Mushola. Andi menunggunya di teras mushola sambil memperhatikan aktifitas Katrin dengan sangat sabar membimbing belajar anak-anak. Tiba-tiba matanya menangkap ada sesosok anak laki-laki yang begitu dekat dengan Katrin.
“Siapa anak laki-laki itu? Kenapa begitu dekat dengan istriku? Kasihan dia kelihatannya menderita sekali?” gumam Andi lirih sambil memandangi wajah polos anak laki-laki itu. Namun tiba-tiba andi dikejutkan dengan suara anak laki-laki yang dipandanginya sudah berada di depannya.
“Om cari siapa?” tanya Bima kepada Andi layaknya orang yang sudah dewasa. Dan dengan sopan Bima mencium punggung tangan Andi.
“Om lagi nunggu tante Katrin. Itu yang lagi ngajar ngaji.” Andi menunjuk Katrin dengan jari telunjuknya.
“O…, mencari kakak? memangnya om siapanya kakak?” tanya Bima sekali lagi sehingga membuat Andi gemas.
“Suaminya kak Katrinlah memangnya siapanya? Kak Katrin itu istrinya om. Kira-kira ngajinya masih lama tidak?” tanya Andi yang sudah tidak sabaran karena menahan rindunya apalagi dia juga ingin bermain-main dengan buah hatinya yang masih ada di dalam kandungan Katrin.
“Masih. Om tungu disini ya? Jangan masuk ke dalam mushola, karena orang asing tidak boleh masuk.” Bima kemudian meninggalkan Andi yang masih bengong dengan tingkah Bima.
“Wah kecil-kecil sudah bisa mengatur orang lain. Tapi kelihatannya jagoan juga dan wajah begitu tampan. Mudah-mudahan anakku nanti terlahir laki-laki seperti dia. Berani dan tegas kelihatannya juga punya wibawa,” guman Andi lirih sambil celingukan memandangi Katrin yang asyik mengajar.
Tidak berapa lama akhirnya KAtrin selesai mengajar. “Assalamualaikum sayang?” sapa Katrin langsung mencium punggung tangan suaminya.
__ADS_1
“Waalaikumsalam. Sayang ayo sini aku bawakan tas dan bukunya.” Andi langsung mengambil buku dan tas dari tangan Katrin, tapi belum sampai diambil tiba-tiba ada tangan kecil yang mengambilnya.
“Maaf ya om, ini sudah tanggungan Bima. Jadi Bima yang membawakan buku dan tas kak Katrin,” ucap Bima langsung berjalan di depan mereka berdua menuju rumah kontrakan Katrin. Katrin dan Andi tersenyum simpul melihat tingkah laku Bima.
“Sayang, anak itu lucu banget. Dia sangat perhatian sama kamu,” Andi menggandeng tangan Katrin berjalan pelan menikmati indahnya pemandangan lereng gunung kelud.
“Sayang nanti habis magrib antar aku dan Bima besuk kakeknya yang sakit ya? Kasihan Bima hanya memiliki satu kakek dan ibunya entahlah tidak tahu rimbanya,” ucap Katrin yang berjalan menggandeng tangan suaminya.
“Iya, Sayang buat kamu pokoknya aku siap.” Mereka tidak terasa sudah sampai di rumah. Bima langsung menaruh buku dan tas Katrin di ruang tengah tempat mereka berdiskusi tentang KKN. Bima langsung pergi ngambil baju gantinya yang ditaruh di tas dengan pakaian yang agak santai.
“Bim. Sini duduk dekat om.” Andi menepuk kursi yang ada di dekatnya. Sementara yang lain duduk nonton televisi sambil bercanda. Farida yang kangen dengan Katrin langsung bercerita panjang lebar dengan Katrin melepas kerinduaannya.
“Iya om tampan. Ada apa?” tanya Bima yang langsung menghempaskan duduknya dekat Andi.
“Sekolah di kota dan mendaftar tentara? Mau banget om, itu memang cita-cita Bima. Dulu ayah aku sebelum meninggal mengharapkan aku untuk jadi Tentara. Ayah selalu menyauruhku untuk Belajar dan mengikuti olahraga bela diri agar aku bisa menjadi orang yang kuat,” cerita Bima dengan antusias dan menggebu-gebu tapi sesaat kemudian terdiam.
“Ta…pi, kalau aku ke kota kakek bagaimana om? Siapa yang mengurusnya?” tanya Bima kepada Andi.
“Untuk kakek nanti kalau sudah sembuh kita ajak sekalian ke kota. Kakek bisa tinggal di yayasannya om untuk mengurus temen-temennya yang seusia kakek. Bagaimana?” tanya Andi kepada Bima. Bima nampak berpikir sejenak kemudian dia mengganggukan kepalanya sebagai tand setuju dengan Andi.
__ADS_1
“Om, nanti aku sama kak Katrin ingin menjenguk kakek. Apakah om mau mengantarku?” Bima bertanya kepada Andi dengan ragu-ragu.
“Siap. Nanti aku antar sekalian tuh om Doni yang kehabisan obat. Dari tadi kelihatan bengong saja.” Andi menunjuk Doni yang bengong memperhatikan Bima.
“Bima, kalau boleh tahu siapakah nama ayahmu?” tanya Doni tiba-tiba kepada Bima sambil melihat Bima tanpa berkedip.
“Tegar…,” ucap Bima belum dilanjutkan sudah dipotong oleh Doni. “Tegar Abidin kah? Dari kota Semarang?” tanya Doni yang disambut anggukan oleh Bima. Doni langsung memeluk Bima dan mengusap-usap kepalanya.
“Astaga Bima, kamu keponakan om. Dulu ayah kamu pergi dari rumah karena tidak mendapat restu menikah dengan ibu kamu,” ucap Doni terbata-bata sambil menghela nafasnya karena sekian tahun dia mencari kakaknya tidak ketemu.
“Om, Bima tidak mengerti. Ayah Bima sudah meninggal dua tahun lalu om, sedangkan ibu Bima pergi entah kemana sampai sekarang tidak kembali. Aku tinggal bersama kakek aku,” jelas Bima kepada Doni. Semua orang menatap Doni dan Bima secara bergantian dan mereka baru menyadari kalau diantara mereka ada kemiripan.
“Bim, nenek dan kakek dari ayah kamu pasti senang memiliki cucu setampan dan segagah kamu. Besok kamu ikut om pulang ke rumah om ya? bertemu dengan kakek dan nenek.” Ucap Doni kepada Bima. Doni meneteskan air matanya melihat Bima yang malang karena harus mengurus kakeknya.
“Tapi aku sudah janaji sama om Andi.” Bima ragu-ragu menatap Andi dan Katrin bergantian. Mereka berdua menganggukan kepalanya tanda setuju dengan keputusan Doni.
“Iya tidak apa-apa Bim. Nanti kita urus kepindahan kamu ke kota ke rumah kakek dan nenek kamu.” ucap Katrin menyakinkan Bima.
Tidak berapa lama kemudian adzan magrib berkumandang, mereka langsung mengambil wudhu untuk sholat berjamaah. Setelah sholat berjamaah mereka langsung makan malam dan untuk selanjutnya pergi ke rumah sakit menjenguk kekek Bima. Bima dengan perasaan senang duduk berdmpingan dengan Doni dan Farida. Sedangkan Andi dan Katrin duduk di depan, Andi sengaja mengemudikan sendiri mobilnya untuk memberikan suasana akrap antara Bima dan Doni yang baru saja bertemu.
__ADS_1
Tidak berapa lama mereka sudah sampai ke rumah sakit. Kakeknya Bima ternyata sudah dalam kondisi kritis. Setelah Bima masuk bersama Doni, kekeknya Bima langsung menghembuskan nafsnya. Tapi sebelum meninggal kakek yang sudah tahu cerita Doni dan Bima, kakek berpesan agar membawa Bima ke rumah Doni.
Terimakasih para pembaca yang setia, mari kita simak episode selanjutnya dan jangan lupa kasih komentar, like dan votenya!