Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Merajuk


__ADS_3

Setelah test dan menghadap atasannya yang tak lain ayahnya sendiri, Arga dan Anita pamitan pulang untuk ke rumah bunda Clara.


“Bunda, acara sudah selesaikan? Aku sama Anita pulang dulu, kak Arga sudah menunggu di rumah bunda,” ucap Arga yang pamitan kepada kedua orang tuanya.


“Berarti Katrin ada juga di rumah ya? Kalau begitu nanti tolong belikan rujak dan cendol di dekat alun-alun ya? Bunda sama ayah pulang terlambat karena masih ada kegiatan,” ucap bunda Clara yang masih bergelayut manja sama ayah Seno.


“Iya bunda, nanti akan aku belikan. Aku juga tahu tempat langganannya.” Anita langsung pamitan dan mencium punggung tangan ayah Seno dan bunda Clara.


“Iya, hati-hati ya nak. Tolong Katrin suruh nunggu ayah dan bunda. Bunda sudah kangen dan mau tanya perkembangan calon cucu bunda,” ucap bunda Clara sambil menyiapkan berkas untuk memimpin rapat kegiatan ibu-ibu persit.


Sementara itu Andi dan Katrin setelah melunasi administrasi pembayaran KKN di kampus langsung meluncur ke rumah bunda Clara. Di rumah bunda Clara hanya ada mbok ijah, kemudian Andi dan Katrin langsung berjalan menuju belakang dan duduk di teras belakang rumah. “Sayang aku mau makan manisan rambutan,” ucap Katrin tiba-tiba saat melihat buah rambutan yang ada di belakang rumah bunda Clara.


“Sayang, kamu tidak kasihan ya? dulu waktu aku memanjatkan buah Delima untuk kamu aku berjuang mati-matian karena penyakit fobia ketinggian aku. Dik aku suruh satpam depan saja ya?” ucap Andi yang berusaha merayu Katrin.


“Tidak bisa kak, aku maunya kakak yang manjat. Pokoknya harus kakak kalau tidak aku mau pulang saja ke rumah bunda Ajeng.” Katrin ngambek berdiri dari tempat duduknya kemudian hendak berjalan ke luar rumah.


“Sayang, aku gemes deh kalau seperti ini, masa aku harus panjat pohon lagi? Ok kalau begitu kamu harus janji selesai panjat pohon aku boleh ya tengok dedek bayi kita?” rayu Andi pada istrinya. Kemudian mengajaknya kembali duduk. Andi dengan cekatan langsung memanjat pohon rambutan, penyakit fobia ketinggian sudah bener-bener hilang dengan sendirinya. Setelah memetik rambutan, andi langsung memungutinya dan membawanya ke dapur.


“Mbok Ijah, tolong buatkan manisan rambutan ya? segera ya mbok nanti jangan sampai anak aku ileran?” ucap Andi yang menaruh rambutan di dapur kemudian kembali ke belakang bersama istrinya. Sedangkan mbok Ijah mengupas rambutan dan memasak membuat manisan.

__ADS_1


“Sayang jangan cemberut dong yang, itu sudah dibuatkan mbok Ijah. Dik anak ayah, kamu jangan marah sama ayah ya? Ayah itu hanya takut dengan ketinggian, tapi ayah senang kamu membuat ayah semangat sehingga ayah sudah tidak takut lagi dengan ketinggian.” Andi mengelus-elus perut istrinya dan sekali-kali ada tendangan di perut Katrin.


“Habisnya kakak tadi membuat aku jengkel sih, masa kemauan anaknya tidak dituruti? Aku itu maunya kakak manjain anak kita, ini buah hati kita kak? Jadi kita harus membahagiakannya baik masih di kandungan ataupun nanti waktu mau melahirkan?” ucap Katrin masih dengan gayanya yang merajuk, hingga membuat Andi gemas. Andi langsung mengendong tubuh Katrin dan membawanya menuju kamar tidurnya yang biasanya di rumah bunda Clara.


“Sayang, kamu mau bawa aku kemana?” tanya Katrin pada suaminya. Katrin yang takut kalau terjatuh langsung melingkarkan tangannya memeluk leher Andi.


“Diamlah sayang, aku hendak bermain-main dan memanjakan putraku,” bisik Andi nakal di telinga istrinya.


“Sayang, kau itu semakin nakal saja, ingat ini di rumah bunda sayang,” ucap Katrin mengingatkan suaminya.


“Memangnya kenapa sayang, kamu lupa ya kalau aku bagian dari anggota keluarga bunda Clara? Aku kan masih ada tempat sayang? dan aku pastikan tempatku dirawat dengan baik,” Andi masih menggendong istrinya kemudian memberi isyarat pada Katrin untuk membuka kamarnya. Andi merebahkan istrinya di ranjangnya kemudian kembali mendekati pintu dan menguncinya.


“Sayang, pelan-pelan ya? Jangan membuat buah hati kita kaget dan marah?” bisik Katrin di telinga Andi sehingga membuat Andi semakin tergoda dan menikmatinya.


“Tentu sayang, aku akan melakukannya dengan sangat pelan. Biar kalian suka dan menikmatinya. Dan kelihatannya anak ayah juga enjoy saja bahkan tidak rewel sayang?” Andi kembali menikmati permainannya hingga mencapai kepuasan lagi hingga akhirnya keduanya terkulai lemas tertidur hingga sore.


Mereka berdua setelah bangun bergegas ke kamar mandi membersihkan dirinya. Katrin yang mandi terlebih dahulu mengeringkan rambutnya di depan meja rias. Setelah selesai mereka berdua melakukan sholat dhuhur dan turun ke bawah menuju dapur. Katrin bertemu dengan mbok Ijah yang menyiapkan makan siang.


“Nak, mau makan ya? ini sudah mbok siapkan. Dan ini juga ada rujak dan es cendol kesukaan nak Katrin. Tadi nak Anita membawakannya untuk nak Katrin dan ini manisan rambutan yang tadi nak Katrin minta,” ucap mbok Ijah kepada Katrin dan membuka kulkas mengambil manisan rambutan yang tadi dibuatnya.

__ADS_1


“Mbok, apa Anita ada di sini?” tanya Katrin sambil menghempaskan dirinya duduk di kursi makan. Dan tak lama kemudian Andi juga duduk di sebelahnya.


“Iya ada kok non, tapi sekarang sedang istirahat di kamar tamu,” jelas mbok Ijah sambil menyiapkan minum, kemudian pergi meninggalkan mereka.


Katrin makan rujak dan manisan rambutan diikuti dengan minum es cendol. Katrin dengan lahap makan makanannya bahkan punya Andi dihabiskannya. Andi hanya mengamati Katrin sambil sesekali menyuapinya.


“Sayang, makannya yang pelan. Jangan tergesa-gesa aku tidak bakal minta kok,” kata Andi dengan telaten dan sabar menyuapinya.


“Habisnya seger banget kak, aku sangat menyukainya. Besok aku dibuatkan lagi ya kak, yang seperti ini,” ucap Katrin yang terus mengunyah makanannya.


“Iya sayang, aku nanti akan memetiknya lagi untuk kamu,” ucap Andi yang menelan salivanya karena gemas melihat istrinya makan dengan sangat rakus.


“Dik, tambahkan nasi ya? sedikit saja biar perutmu tidak sakit.” Andi mengambilkan nasi sedikit dengan lauknya kemudian menyuapinya. Katrin sangat senang diperhatikan oleh suaminya.


“Wah kakak yang super dingin dan arogant ternyata bisa juga ya manjain istri?” ucap Arga yang tiba-tiba muncul di depan mereka.


“Eh, Arga. Terimakasih ya rujak dan es cendolnya,” ucap Katrin sambil terus makan.


“Sama-sama kak. Tadi bunda pesan kalau kakak mau pulang harus nunggu bunda sama ayah terlebih dahulu. Bunda kangen sama calon cucunya,” ucap Arga sambil duduk di kursi makan dihadapan mereka berdua.

__ADS_1


Terimakasih para pembaca yang setia, jangan lupa kasih komentar, like dan votenya!


__ADS_2