
Andi yang menggendong Katrin menuju kamar langsung mendudukkan Katrin di depan meja riasnya. Katrin mulai melepaskan setiap Pernik-pernik yang ada di kepalanya. Katrin hendak melepas baju pengantinnya tapi Katrin sangat kesulitan membuka resleting bajunya yang berada di belakang.
Andi melepaskan jasnya kemudian berjalan mendekati Katrin dan hendak membantu melepaskan baju pengantin Katrin. Setelah semua baju Katrin terlepas dari tubuhnya dan hanya menyisakan baju ***** saja, membuat Andi terpesona dan reflek Andi mengecup bibir Katrin dan berlanjut menyusuri leher jenjang Katrin. Katrin menikmati sentuhan dan sensasi yang diberikan oleh Andi.
Andi terus bermain dan terbawa oleh suasana yang romantis karena dekorasi ruangan Katrin di desain sebaik mungkin yang bisa membawa hasratnya menggebu-gebu untuk segera melepaskan Andi Yunior kedalam wadahnya.
Kedua ***** kembar yang ada dalam tubuh Katrin semakin membuat Andi tidak bisa menahan nafsunya, Andi mulai melepas kemeja yang melekat di dalam tubuhnya dibuang entah kemana. Andi menelan salivanya sambil meneruskan bergerilya menyusuri keindahan tubuh Katrin.
“Tok…tok…,” suara ketukan pintu memaksa Andi untuk menyudahi permainannya dan segera memakai kemejanya lagi. Andi meninggalkan Katrin menuju pintu. Katrin pun berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Andi membuka pintunya, ditatapnya Doni yang ada di depan pintu kamar membawakan koper baju ganti untuk dirinya.
“Bro ini baju kamu, dan kamu dipanggil bunda Clara di bawah,” ucap Doni sambil memasukan koper Andi ke dalam kamar Katrin.
“Doni, kamu itu menganggu saja! Nanti-nanti kan juga bisa!” ucap Andi yang bersungut-sungut karena kecewa hasratnya tidak jadi tersalurkan.
“Sorry bro, sudah tidak kuat ya. Nanti juga masih ada waktu bro?” goda Doni geloyor pergi meninggalkan Andi.
“Tolong bunda suruh nunggu sebentar ya?” teriak Andi, kemudian masuk kembali kedalam kamarnya. Tak berapa lama Katrin keluar dari kamar mandi dan sudah memakai dress berwarna biru navi yang semakin memancarkan kecantikan dan keanggunannya.
“Dik ayo, turun di tunggu bunda Clara di bawah!” Andi menggandeng tangan Katrin dan mengajaknya turun menemui bunda Clara dan ayah Sandi yang ternyata masih ada di bawah bersama temen-temen rumpi bunda Clara dan bunda Ajeng.
Semua temen bunda Clara dan bunda Ajeng menatap kagum Andi dan Katrin. Mereka mengucapkan selamat dan memberi mereka beberapa hadiah pernikahan.
“Kalian memang pinter ya bisa jadi besanan. Cantik dan tampan,” puji salah satu teman bunda Clara dan bunda Ajeng.
“Kalau jodoh tidak akan kemana jeng? Alhamdulilah mereka dipertemukan satu sama lainnya tanpa ada suatu kesengajaan dan paksaan dari kami jeng. Dan kisah mereka unik kok!” sahut bunda Clara yang heboh bahkan sangat memuji Katrin sebagai menantunya.
__ADS_1
Setelah saling ramah tamah sekaligus reonian, semua teman bunda Clara dan bunda Ajeng pamitan untuk pergi.
Bunda Clara mendekati putranya dan berbisik lirih di telinga Andi. “Nak, sabar ya? Nanti saja buat cucunya!”
“Bukannya bunda tadi sudah pulang dengan rombongan keluarga yang lain?” tanya Andi yang kesal karena kegiatannya terganggu.
“Bunda sama Ayah masih di sini ngobrol dengan bunda Ajeng. Ini ada sesuatu yang akan aku berikan untuk menantuku.” Bunda Clara mengambil kotak perhiasan dari dalam tasnya.
“Kau itu jadi anak kok tidak sabaran ya?” ucap ayah Sandi yang mengerti perasaan putranya.
“Nak, ini perhiasan bunda dari ibu bunda, jadi untuk selanjutnya ini aku serahkan ke kamu sebagai estafet penerus keturunan keluarga besar Atmajaya.” Bunda Clara memberi petuahnya kepada Katrin. Katrin menerimanya dengan senang hati.
“Terimakasih, bunda,” ucap Katrin sambil mencium pipi bunda Clara.
“Nak dan ini pemberian bunda yang harus kamu pakai nanti malam ya?” ucap bunda Clara memberikan paper bag yang dia pegang kepada Katrin. Katrin hanya menggangukan kepalanya menatap pemberian bunda Clara. Katrin merasa ada sesuatu yang tidak beres di dalamnya.
“Jeng, kami pulang dulu, kami serahkan putraku jeng, kalau dia bandel dan menyakiti hati Katrin kamu boleh memukulnya!” seloroh bunda Clara sambil pamitan untuk pulang.
"Bunda, putramu bukan anak kecil lagi ya?" sahut Andi sambil mendekati bundanya.
Andi dan Katrin mencium punggung tangan ayah Andi dan bunda Clara secara bergantian. Setelah kepergian mereka Andi dan Katrin kembali masuk ke dalam kamar mereka.
Katrin duduk di sofa dan meletakan pemberian bunda Clara di meja. Andi yang merasa capek merebahkan tubuhnya di sofa dan meletakan kepalnya di pangkuan Katrin.
“Sayang, kamu mandi dulu sana, badanmu penuh keringat dan bahu gitu lo?” ucap Katrin sambil mengelus-elus wajah Andi dengan jari jemarinya. Andi pun bangkit dari tidurnya kemudian menuju kamar mandi.
Katrin mengambil koper Andi dan memasukan semua baju dan perlengkapan Andi di lemarinya. Katrin mengambilkan satu stel pakaian ganti Andi dan diletakan di tempat tidur.
__ADS_1
Setelah selesai, Katrin kembali ke sofa dan menatap paper bag pemberian bunda Clara, karena penasaran Katrin membukanya dan terkejut dengan barang yang dia pegang. “Astaga bunda memberiku baju yang kurang bahan begini, gimana mau pakainya malu-maluin saja,” gumam Katrin yang kembali memasukan lingerie ke dalam paper baginya.
Katrin yang kecapekan tidak lama kemudian tertidur di sofa. Andi yang selesai mandi langsung menganti bajunya yang telah disiapkan oleh Katrin, kemudian melangkah menghampiri Katrin. Andi yang tidak tega melihat Katrin tertidur di sofa, segera mengangkat tubuh Katrin untuk dibaringkan di ranjang. Andi pun berbaring memeluk tubuhnya hingga akhirnya Andi juga tertidur.
Waktu terus berjalan, mereka makan malam di ruang makan, kerabat Katrin masih ada beberapa yang masih tinggal di rumahnya. Tora dan widya juga ikut makan bersama dengan mereka. Setelah makan Tora mengajak Andi berbincang di ruang keluarga, disusul Widya dan Katrin.
“An, gimana acara besok Minggu sudah siap?” tanya Tora memulai pembicaraan.
“Sudah, besok keluarga besar aku berangkat menuju villa memantau persiapan di sana. Kita berangkat hari sabtu saja!” ucap Andi yang duduk di dekat Tora sambil menikmati cemilan yang dibawakan oleh Katrin dari dapur.
“Ya sudah kalau begitu. Untuk penginapan para tamu bagaimana?” tanya Tora kembali mengingat jarak kota ke villa memakan waktu 2 jam.
“Siap. Semuanya gratis untuk keluarga yang menghendaki menginap di sana. Hotel keluarga kami yang dikelola pamanku sudah dikosongkan untuk semua tamu undangan, yang lokasinya tidak jauh dari villa. Khusus kamu nanti akan diletakan di kamar bagian bawah kasian Widya hamil besar,” ucap Andi menyakinkan Tora tentang persiapan yang sudah di susun keluarganya.
“Ok terimakasih, atas perhatian yang kamu berikan. Kau memang sahabat sekaligus adik ipar yang the best.” Tora mengacungkan jempolnya untuk sahabatnya.
“Kak aku mengantuk sekali.” Katrin merajuk bergelayut manja bersandar di bahu Andi. To[ra dan Widya tertawa melihat tingkah adiknya.
“Dik, ini masih jam 21.00 wib. Yang lain masih terjaga dik, jadi tunggu agak malam ya?” goda Tora untuk adiknya.
“Apaan sih kak, aku memang mengantuk! Kakak pikirannya mesum banget.” Katrin cemberut menaggapi perkataan kakaknya.
“Sudah dik, jangan hiraukan kakak kamu. An, tuh kamu ajak Katrin tidur ya? Kasihan kayaknya capek banget,” ucap Widya menengahi mereka.
Andi kemudian pamitan untuk meninggalkan mereka dan menggandeng Katrin masuk ke dalam kamarnya.
🍁🍁🍁🍁Terimakasih para pembaca setia yang telah membaca dan jadi penggemar setia, untuk menambah semangat update episode selanjutnya, jangan lupa kasih komentar, like dan votenya!🍁🍁🍁🍁
__ADS_1