
Setelah kepergian pak Irfan dan Alexa, Andi bersama Katrin bersiap untuk pergi ke rumah sakit. “Sayang ayo berangkat ke rumah sakit.” Andi menggandeng Katrin menuju mobil. Mereka berangkat dengan perasaan yang sangat senang.
Mereka antri di poli Obstetri dan Ginekologi, hingga perawat memanggilnya untuk masuk. Andi mendampingi Katrin masuk dalam ruangan. Nampak seorang dokter wanita sudah berada di situ.
“Silahkan berbaring bu,” kata perawat memberi instruksi kepada Katrin kemudian mengoleskan gell diperut Katrin untuk USG. Setelah itu dokter memeriksa kandungannya Katrin.
Dokter nampak menatap monitor yang diikuti oleh Andi. Kemudian tersenyum menatap Katrin. “Selamat, anda akan menjadi seorang ibu,” ucap dokter Via sambil menuju tempat duduknya. Kemudian Katrin mengikuti nya dan duduk berhadapan dengan dokter Ana.
“Ini kehamilan anak pertama ya? dan dari hasil USG menunjukan usia kehamilan masih 3 minggu jadi anda harus hati-hati terutama pada trisemester 1, apalagi anda mengandung bayi kembar,” jelas dokter pada kedua pasangan muda.
“Maksud dokter kita akan punya 2 bayi?” tanya Andi melongo karena tidak percaya.
“Iya. Bayi kembar dua,” ucap dokter Ana tersenyum.
“Dik, kita mau punya baby kembar,” ucap Andi sambil memeluk dan mencium kening Katrin.
“Iya kak, itu karena kamu suka nyerang aku terus,” Dokter dan perawat yang ada diruangan itu tersenyum mendengar percakapan mereka.
“O iya dokter boleh gak kalau selama kehamilan di trisemester pertama aku sering tengok-tengok anakku? Maksudku begituan dokter,” tanya andi sedikit fulgar.
“Begituan bagaimana?” tanya dokter pura-pura tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Andi.
“Ya begituan dokter.” Andi menjelaskan sambil memperagakan dengan menggerakkan kedua tangannya.
“Sayang, dasar arogant malu-maluin saja!” Bisik Katrin sambil mencubit pinggang Andi.
“O…, itu? Boleh kok tapi jangan terlalu sering dan harus hati-hati,” jawab dokter Ana sambil tersenyum memperhatikan kedua pasangan tersebut.
“Tu kan sayang aku boleh kok tengok-tengok dedek bayi,” ucap Andi senang dengan penuturan bu dokter.
“Iya boleh tapi harus berhati-hati dan pilihlah posisi yang tidak membahayakan janin.” Dokter Ana menambahkan penjelasannya secara detail.
__ADS_1
“Mbak Katrin harus menjaga Kesehatan dan perbanyak minum vitamin ya?” ucap dokter Ana sambil memberikan resep kepada mereka.
“Terimakasih dokter kami permisi dulu.” Andi dan Katrin beranjak pergi meninggalkan ruangan untuk pergi ke Apotek.
“Sayang, semoga anak kita cewek semua dan dua-duanya cantik dan cerdas seperti kamu ya?” ucap Andi yang terus menggandeng istrinya, menuju apotek.
“Kalau aku pingin satu cewek dan satunya cowok kak, biar komplit jadi dua sudah cukup.” Kata Katrin yang terus manja pada suaminya.
“Sayang , sudahlah kita tidak usah meributkannya, yang terpenting mereka terlahir sehat dan selamat,” ucap Andi sambil mencium kening istrinya dengan perasaan sayang.
Mereka akhirnya selesai mengambil obat di apotek, kemudian mereka berencana kembali ke rumah bunda Ajeng. Akan tetapi separuh dari perjalanan mereka menuju rumah bunda Ajeng, ponsel Andi berbunyi, kemudian Andi menepikan mobilnya.
“Assalamualaikum sayang, kamu sekarang ada dimana, kamu harus pulang ke rumah sekarang,” ucap bunda Clara langsung memerintah pada Andi.
“Waalaikumsalam, bunda. Iya ini aku masih di jalan mau ke rumah bunda Ajeng,” jelas Andi pada bundanya melalui ponselnya.
“Ok, setelah itu kamu langsung pulang ya? Bunda tunggu tidak pakai lama.” Bunda Clara langsung menutup ponselnya.
“Bunda kenapa sayang?” tanya Katrin yang tidak mengerti kemauan ibu mertuanya.
“Entahlah dik, mungkin bunda kangen sama kamu.” Andi mengelus-elus kepala Katrin dan melajukan kendaraannya lagi menuju ke rumah bunda Ajeng.
Tak berapa lama mereka sampai di rumah bunda Ajeng. Bunda Ajeng bersama mbok Minah sudah menunggunya di teras. Bunda Ajeng langsung mengajak keduanya masuk berada di ruang keluarga.
“Sayang, gimana hasilnya?” tanya bunda Ajeng tegang karena sudah berharap untuk mendapatkan cucu dari keduanya meskipun sudah memiliki cucu dari Tora dan Widya, karena mereka tinggal berjauhan dengan bunda.
“Em…, Alhamdulilah bunda akan mendapat cucu kembar.” Katrin nampak senang dan memeluk bundanya dan menciumin bunda Ajeng, dan sebaliknya bunda Ajeng nampak senang dengan berita yang baru saja dia dengar.
“Alhamdulliah sayang, semoga bayi kamu sehat dan lancar hingga kamu melahirkan.” Bunda Ajeng mendo’akan mereka.
“Amin,” ucap Andi dan Katrin secara bersamaan.
__ADS_1
“Mbok Minah hari ini kamu belanja ke pasar ya? tolong belikan kue untuk dibagikan ke tetangga.” Bunda Ajeng nampak bersemangat memerintah mbok Minah.
“Bunda, setelah ini kita ijin pulang, karena bunda Clara sudah berada di rumah. Tapi tolong jangan kasih tau bunda Clara dulu ya? kita mau kasih surprice untuknya,” ucap Katrin sambil begelayut manja duduk di samping bunda Ajeng.
“Tentu sayang, aku akan merahasiakannya dulu,” bunda Ajeng mengelus-elus rambut putrinya.
“Terimakasih bunda, aku akan ke atas dulu mengambil perlengkapan ku untuk pulang.” Katrin berdiri dari tempat duduknya hendak menuju kamarnya yang berada di atas. Andi dengan cekatan melarangnya.
“Sayang kamu disini saja. Biar aku yang mengambilnya.” Andi naik ke atas mengambil perlengkapannya dan kembali mendekati mereka kemudian pamit pulang kepada bunda Ajeng.
Andi dan Katrin sudah berada di dalam mobilnya dan menuju rumahnya. Di sepanjang jalan menuju rumahnya Katrin terdiam dan mengelus-elus perutnya, ketika lewat di sekitar alun-alun.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Andi penasaran melihat perubahan sikap dari Katrin.
“Sayang, aku ingin es cendol tapi yang jual harus bang Fahmi, orang Madura yang waktu itu aku salah tangkap sama pak Broto.” Katrin mencarai-cari keberadaan bang Fahmi.
“O…, yang itu?” Andi juga celingukan mencari keberadaan bang Fahmi tapi tidak ditemukannya.
“Sayang kok tidak ada ya? kita beli ke tempat lain saja ya?” ucap Andi sambil konsentrasi menyetir.
“Tidak mau kak, akum au es cendol yang itu. Soalnya es cendolnya mantap dan membuat aku ketagihan.” Ktrin merengek-rengek seperti anak kecil karena tidak dituruti kemauannya.
“Iya sudah, coba aku tanyakan dulu. Kamu jangan menangis ya?” Andi dengan sabar menghadapi Katrin. Andi turun dari mobilnya dan bertanya kepada salah satu pedagang yang ada di sebelahnya.
“Maaf pak jangan tangkap aku, ya? Kita sudad dapat ijin resmi dan sesuai dengan waktu yang telah disepakati dengan pihak pengelola alun-alun.” Pedagang tersebut sangat ketakutan dengan Andi, karena mereka mengenal Andi sebagai satpol PP Arogant dan tidak akan melepaskan targetnya begitu saja.
“Maaf pak saya hanya mau tanya bang Fahmi penjual cendol pindah kemana ya?” tannya Andi kepada pedagang tersebut.
“O…, bang Fahmi pindah lapak di dekat stadion pak. Disana dia sudah sangat maju dan pelanggannya banyak,” ucap pedagang tersebut dengan senyum yang sumringah karena ternyata pak Andi tidak bertujuan untuk menangkapnya.
“Terimakasih, permisi pak.” Andi membalikan tubuhnya kembali menuju mobil kemudian melanjutkan perjalanannya menuju tempat bang Fahmi. Dan tak berapa lama mereka ketemu dengan lapak bang Fahmi, setelah puas mereka pulang ke rumah.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️ Untuk para pembaca yang setia, jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan kasih komentar, like dan votenya!❤️❤️❤️❤️