
Hari ini Doni sedang berada di café bersama Farida. Doni bersama Farida sudah resmi pacaran namun mereka belum melangsungkan pernikahannya. Mereka berencana menikah setelah Farida lulus kuliah. “Sayang, aku kangen sama kak Katrin. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Kira-kira sekarang dia lagi ngapain ya?” tanya Farida tiba-tiba kepada Doni yang sedang rebahan dipangkuan Farida.
“Katrin bersama group rempong nya sedang KKN dik di daerah terpencil di lereng gunung Kelud. Tiap hari sabtu dan minggu si bos sering kok berkunjung kesana. Si bos sangat menyanyangi istrinya apalagi akan memiliki buah hati kembar,” ucap Doni yang masih berbaring di pangkuan Farida.
“Kak ayo kita kesana apalagi aku bener-bener merindukan mereka terutama kak Katrin. Aku juga ingin melihat keindahan alam gunung kelud. Please kita berangkat hari jum’at ya?” rengek Farida kepda Doni karena memang ingin sekali bertemu dengan Katrin dan group rempong nya.
“Dik, kakak masih repot apalagi kalau hari Jum’at sabtu kakak tidak boleh libur, apalagi menjelang akhir pekan café rame. Nanti pasti si bos marah,” ucap Doni sambil menghela nafasnya langsung duduk menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Siapa yang marah Don?” tanya Andi yang tiba-tiba sudah berada dekat Doni.
“E…, itu Farida kalau minta sesuatu kalau tidak diberikan langsung marah. Aku kan jadi repot.” Doni membohongi Andi karena takut kena marah
“Bukan begitu kak, aku ingin bertemu kak Katrin di tempat KKN tapi kak Doni takut minta izin libur sama kakak. Tolong dong kak berikan izin kakak untuk kita. Please…, dong kak. Hitung-hitung bonus untuk cuti kak Doni ya?” Farida merengek-rengek seperti anak kecil kepada Andi yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya. Andi memang dari kecil selalu menyanyangi Farida yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.
“Ke tempatnya Katrin? Boleh kok Da. Besok aku juga mau kesana aku sudah kangen dengan Katrin dan calon anakku, jadi kamu boleh ikut kok. Aku berangkat jam 4 setelah pulang dari kantor. Doni, untuk café serahkan saja ke salah satu pelayan senior yang biasanya sering kamu suruh,” ucap Andi dengan wajah datarnya.
“Yang benar kak Andi, jadi kak Doni boleh ikut bersama aku?” tanya Farida dengan wajah girang dan senang langsung mencium Doni. Doni yang mendapat ciuman dari Farida nampak senang seolah-olah seperti dapat lotre.
“ Iya Da…, tapi besok pagi kamu kerumahnya bunda ya? Kata bunda ada yang dititipkan untuk para menantunya. Nanti aku dan Doni jemput kamu disana. Don kamu besok yang mengemudikan mobilku ya?” ucap Andi sekaligus perintah kepada Doni.
__ADS_1
“Siap Bos. Ternyata si bos mengijinkan aku ikut karena ada maunya ya? Bener-bener enak ya kalau jadi bos bisa main perintah seenaknya,” ucap Doni santai sambil mengusap wajahnya secara kasar.
“Don, kalau kamu tidak ikut tidak apa-apa. Aku bisa kok berangkat sendiri sama Farida. Aku pastikan Farida akan tergoda sama sekertaris desa tempat Katrin KKN. Sekretaris desanya cakep bahkan masih muda lo? Bagaimana kamu jadi tidak ikut?” tanya Andi sambil memeriksa beberapa kuitansi belanjaannya.
“Bos, ikutlah. Kamu jangan membakar api cemburuku. Kau jangan begitulah, kita kan bersahabat sejak kecil.” Doni menyakinkan Andi.
“Iya, besok kamu ke rumah dulu baru kita ke rumah bunda. Bunda juga lama tidak ketemu sama kamu. Bunda sudah merindukan mu. Kata bunda kamu tidak pernah bermain ke rumahnya. Sekalian kalau kesana kamu ajak Farida,” ucap Andi mengingatkan Doni.
“Siap, bos. Aku juga kangen kok sama bunda. Lama tidak memberi nasehat kepada kita. Bunda Clara kalau memberi nasehat kepada kita tidak tanggung-tanggung bahkan berjam-jam bunda betah,” ucap Doni sambil membantu cek berkas penjualan café.
Sementara itu Katrin di tempat KKN memberi bimbingan belajar kepada anak-anak yang sekolah di SD kelas 6. Ada satu anak yang bernama Bima sering terlambat mengikuti bimbingan bahkan Bima juga sering tidak masuk sekolah. Hal itu membuat Katrin penasaran dengan keadaan Bima.
“Saya buk. Bima tidak masuk karena merawat kakeknya sakit bu? Bima itu hanya tinggal bersama kakeknya jadi kalau kakeknya ditinggal nanti tidak ada yang mengurusnya,” kata Irma yang juga siswi bimbingan belajarnya.
“O, begitu ya? bisakah kamu mengantarkan ibu ke tempat tinggalnya?” tanya Katrin kepada
“Bisa buk. Mari kita berangkat sekarang.” Irma dengan langkah kecil menggandeng Katrin menuju rumah Bima.
“Assalamualaikum Bima? Ini ada ibu Katrin yang siap membantu kamu,” ucap Irma setelah Bima membuka pintu untuknya dan bu Katrin.
__ADS_1
“Waalaikumsalam. Silahkan masuk bu. Maaf tadi saya tidak mengikuti bimbingan belajarnya. Aku masih merawat kakek yang sakit,” ucap Bima terbata-bata sambil sesekali mengusap air matanya.
“Sudahlah nak, ayo kita lihat kakek kamu.” Katrin melihat seorang kakek tua sedang meringkuk di pembaringan. Katrin merasa haru dengan perjuangan Bima. Anak yang masih kecil dan dibawah umur. Katrin langsung menelpon Anita untuk minta bantuan kepada pihak pemerintah desa agar membawa kakeknya Bima ke rumah sakit.
Tidak berapa lama bantuan pun datang. Kakek dibawa ke rumah sakit oleh pihak perangkat desa, sedangkan Bima mengikuti Katrin di rumah kontraknya. Sedangkan untuk menunggu kakek di rumah sakit pihak desa menghubungi kerabat kakek yang paling dekat.
Bima nampak murung di teras tak kala Katrin menghampirinya Bima meneteskan air matanya.
“Sayang, kamu kenapa? Jangan bersedih ya? Kakek sudah dapat pertolongan dan dirawat di rumah sakit.” Katrin mengusap-usap kepala Bima. Bima tak hayal langsung memeluk Katrin sambil menangis sesenggukan.
“Kak, aku tak ingin terjadi sesuatu dengan kakek. Aku ingin kakek aku tetap sehat, karena aku hanya punya kakek seorang. Ibu aku lama sudah pergi dan tak kembali lagi. Aku tidak tahu keberadaannya.” Bima mencurahkan semua perasaannya kepada Katrin.
“Sudahlah sayang, kamu masih punya kak Katrin. Jangan sedih ya? Ayo kamu makan dulu dari tadi kamu belum makan.” Katrin nampak menyanyangi Bima seperti adiknya sendiri. Kemudian Bima dan Katrin pergi ke dapur untuk makan.
Bima nampak tidak berselera untuk makan. Katrin yang melihatnya merasa kasihan. Bima seorang yang masih kecil harus menanggung beban hidup yang begitu berat. Katrin merasa bersyukur atas anugerah yang diberikan oleh Allah selama ini.
“Bima, ayo dihabiskan makanmu. Tidak baik membuang rezeki. Di luar sana masih banyak orang yang membutuhkannya. Ayo Bim, kamu tetap semangat ya? Besok kita besuk kakek di rumah sakit.” Katrin berusaha membujuk Bima agar mau menghabiskan makanannya. Bima pun akhirnya menghabiskan semua makanan yang dihidangkan oleh Katrin.
💕💕💕Terimakasih para pembaca yang setia, mari kita simak episode selanjutnya yang semakin menarik dan jangan lupa kasih komentar, like dan votenya!💕💕💕
__ADS_1