
Katrin membetulkan make up nya di kamar mandi, dan hendak mencuci tangannya di wastafel.
“Hai…, dasar cewek kecentilan suka merebut kekasih orang?” ucap wanita itu sambil membalikan badan Katrin secara kasar sehingga mereka saling berhadapan.
“Plak…, rasakan ini?” Indah menampar Katrin secara tiba-tiba.
“Kau…,In_dah, apa mau mu? Kamu hanyalah masa lalu kak Andi, tidak lebih dari itu,” teriak Katrin sambil memandang wanita itu dengan sorot mata yang sangat tajam.
“Aku ingin kau jauhi kak Andi, dia hanya milikku selamanya,” kata Indah yang langsung menarik Katrin ke luar toilet.
“A_pa? Menjauhi kak Andi? Apa hak kamu nona?” ucap Katrin kesal.
“Karena aku kekasihnya dan sebentar lagi aku akan menikah dengan kak Andi,” ucap Indah marah dan berusaha mencekik leher Katrin.
“Kekasih, jangan mimpi nona?Aku lah kekasih kak Andi dan akulah masa depannya. Camkan…itu!” ancam Katrin memegangi kedua tangan indah dan diarahkan kebelakang.
“Di toilet wanita ada yang bertengkar,” kata seorang pelayan wanita tergopoh-gopoh menyampaikan ke bos mereka.
“Toilet wanita…? Astaga…, Katrin!” Tora menepuk jidatnya kemudian berlari menuju toilet diikuti Andi dan Widya.
“Apa yang terjadi?” tanya Andi sedikit bingung.
“Sudahlah, kita ikuti Tora saja,” kata Widya cemas.
“Dik Katrin…, apa yang kamu lakukan.” Tora menghampiri adiknya dan menariknya dalam pelukannya.
“Ini kak, ada ulat bulu yang mengusik aku.” Katrin memeluk kakaknya.
“Apa, kamu bilang?” Indah menjambak Katrin yang ada di pelukan kakaknya.
“Indah, apa yang kamu lakukan,” teriak Andi sambil menarik Indah.
“Kak…, dia tadi menyerangku.” Kata Indah sambil menghampiri Andi.
“An_di, kau mengenal wanita itu?” tanya Tora menatap tajam Andi.
“Dia dulu mantanku, waktu masih sekolah,” jelas Andi.
“Kak, aku masih sayang sama kamu, aku ingin kita kembali seperti dulu.” Indah terisak menangis sambil memeluk Andi.
“Lepaskan aku dik, aku tidak mencintai mu lagi.” Andi melepaskan pelukan Indah dan menghampiri Katrin kemudian mengajaknya pergi.
“Kak Andi, ingat selamanya tidak aku biarkan kamu hidup bahagia!” ancam Indah sambil menangis karena kecewa, dijambaknya rambutnya secara kasar.
“Ingat nona, janganlah kau mengusik kebahagiaan adikku!” kata Tora sambil keluar menggandeng Widya. Tidak lama kemudian satpam muncul dan mengamankan Indah dan menyeretnya keluar secara kasar.
Andi dan Katrin sampai di meja makan, Andi cemas memeriksa seluruh wajah Katrin.
__ADS_1
“Dik kamu tidak apa-apa kan? Lain kali kalau ketemu Indah, kamu abaikan saja! Lebih baik kau hindari dia.” Andi mengelus-elus tanganKatrin.
“Mana bisa kak, dia menyerang aku lebih dulu, untung tadi kalian cepet datang, kalau tidak...., itu orang sudah aku mbecek-mbecek jadi perkedel,” kata Katrin sambil mengeratkan giginya.
“Dik, hati-hati dik sama pelakor, biasanya nekat dik,” ucap Widya yang baru datang tiba-tiba.
“Set…, jangan membuat situasi semakin panas,” bisik Tora di telinga Widya.
“Biasanya be_gitu,” Widya tidak melanjutkan perkataannya karena kedua laki-laki yang ada di sebelahnya memelototinya.
“Widya…, diamlah!” kata Andi dan Tora bersama-sama.
“Dik, dengarkan aku, sesungguhnya aku sama Indah sudah tidak ada apa-apanya. Dia sudah menikah seperti yang aku sampaikan kemarin, percaya lah sayang?” Andi menenangkan Katrin.
“Iya..., aku percaya kok sama kak Andi.” Katrin menyandarkan kepalanya di bahu Andi.
“Terimaksih, ya sayang.” Andi mencium kening Katrin.
“Dasar pria mesum, dikit-dikit cium. Hoi…ingat bro di sini masih ada kakaknya!” umpat Tora.
“Iya nih, padahal dulu waktu kuliah anti banget yang namanya cewek. Ingat tidak waktu kamu di dekati sama Rinda?” tanya Widya.
“Maksudnya Rinda yang cantik dan seksi itu dik?” tanya Tora balik.
“Cantik dan seksi sih, tapi hobinya unik…,” kata
“Suka ngupil,” sahut Widya
“Jadi kalau nggak punya hobi unik kakak suka ya?” Katrin memelototi Andi.
“Tidaklah sayang…, kalau aku suka sama dia pasti aku tidak akan sama kamu kan? Buktinya aku selalu di dekatmu sayang, cup….,” Andi mencium pipi Katrin.
“Dasar gombal banget,” kata Tora sambil memandangi Widya.
“Kenapa sayang…Mau cium juga?” kata Widya memandangi Tora.
I_ya, sedikit saja ya…sayang? Besok kita sudah tidak boleh ketemu lo?” ucap Tora memohon.
“Ogah…, nanti sekali dikasih malah minta lebih,” ucap Widya memonyongkan bibirnya.
“Kalau tidak mau tapi kenapa bibirmu kamu monyongkan dik?” kata Tora sambil meraih kepala Widya, dan ******* bibir Widya.
“Kakak…, malu dong kak,” seru Widya sambil berusaha melepaskan pagutan Tora.
“Plak. Hoi…tadinya ngelarang-larang orang, sekarang main sosor saja.” Andi memukul bahu Tora.
“Terbawa suasana bro,” kata Tora sambil menelan salivanya.
__ADS_1
“Selamat makan…, makanan sudah siap,” Pelayan restoran menyiapkan hidangan yang mereka pesan.
Mereka sibuk makan dengan pasangan mereka masing-masing, dan ternyata mereka adalah pasangan muda dan mudi yang sama-sama somplak dan kompak.
Semua mata yang ada di resturan memandang mereka, sedangkan mereka cuek sama sekali terutama Andi.
“Sayang…, sini aku bukakan kulit kerangnya!” Andi mengambil piring Katrin kemudian tangannya dengan terampil memisahkan daging kerang dari kulitnya.
“Hac…ha…, buka mulutmu dik?” Andi menyuapi Katrin, sambil sekali-kali membersihkan mulut Katrin yang belepotan.
“Aduh…, aduh mak, kita serasa ngontrak kali?” ujar Widya tiba-tiba.
“Ngiri ya? Itu minta suapin laki lo?” jawab Andi tak kalah sengit.
“Sayang…, sudahlah jangan hiraukan mereka. Sini aku suapin!” Tora mengikuti tingkah Andi.
“Bener-bener hari ini ada sinetron gratis dan kejar tayang,” gumam pelayan restouran.
Setelah acara makan selesai, Tora pergi ke kasir membayar semua tagihan yang mereka makan.
“Tora, sini kuncinya aku yang pegang kemudi ya?” Andi mengambil kunci dari tangan Tora.
Andi masuk dibelakang kemudi, Katrin dan Widya kompak masuk pintu belakang duduk di kursi penumpang.
“Lo…, sayang kenapa kamu duduk disitu,” tanya Andi dan Tora kompak.
“Aku disini saja sama mbak Widya, kakak di depan sama mas Andi,” jawab Katrin.
“Dik…Katrin, sayang...,kamu di depan ya?” pinta Tora.
“Tidak bisa.” Jawab Katrin dan Widya kompak.
“Kita di belakang, mau istirahat dari kejahilan kalian, dari otak mesum kalian,” kata Widya dan di dukung oleh Katrin.
“Iya, betul kak…, bisa-bisa kita sampai rumah, badan kita remuk semua,” ujar Katrin.
“I_ya dik, ular-ular sekarang ganas dik..., suka nyosor dan meninggalkan bekas.” Widya dan Katrin tersenyum kompak menggoda lelaki mereka masing-masing.
“Ular…, kita dibilang ular. Waduh…, padahal ular kita masih kita kurung lo dik?” ucap Andi tiba-tiba.
“Kakak…, dasar otak mesum,” Katrin menjewer telinga Andi dari belakang.
“Dik…, sakit lo dik, awas ya nanti aku hukum,” teriak Andi di belakang kemudi.
“Gawat, jangan sampai aku dapat hukuman dari kak Andi, bisa-bisa bibirku dower.” Katrin menelan salivanya.
Sedangkan Tora yang tidak mengerti perkataan sahabatnya, hanya memandang sahabat dan adiknya secara bergantian.
__ADS_1
🍁🍁🍁Terimakasih para pembaca, kita akan kembali lagi dengan kisah yang semakin seru dan heboh setelah pemirsa beri like, komentar dan votenya, ya?🍁🍁🍁