Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Beringin Kembar


__ADS_3

Setelah bulan madu ke Bali, Tora berencana kembali ke jogja bersama Widya. Bunda Ajeng mengantarkan mereka diikuti oleh Katrin, tentunya Andi ikut andil di dalamnya.


“Bunda, ngikut mobil kakak apa mobil kita,” tanya Katrin.


“Ngikut kamu saja nak, sambil jagain kamu biar tidak macam-macam.” Bunda Ajeng langsung masuk di bagian belakang mobil Andi.


Andi dan Katrin saling memandang. "Bunda rencananya kita menginap di Jogja berapa hari?” tanya Andi sopan.


“Dua hari saja nak, biar tidak mengganggu mereka. Mereka biar cepet buatin cucu bunda,” jawab bunda Ajeng sambil tersenyum.


“Siap bunda…, kalau begitu aku tidak perlu bolos untuk hari Senin,” jawab Andi sambil menyalakan mobilnya dan Tora sudah melajukan mobilnya di depan.


“Dik sabuk pengamannya dipakai.” Andi mendekatkan tubuhnya hingga mukanya hampir menyentuh pipi Katrin.


“Plak…,” modus banget kak. Aku pakai sendiri saja!” Katrin memukul tangan Andi.


“Dik, jangan galak-galak dong dik,” kata Andi langsung melajukan mobilnya.


“Habis kakak pikirannya mesum melulu, apa tidak malu sama bunda?” Katrin memonyongkan bibirnya.


“Usaha dik,” ucap Andi melirik calon mertuanya dari spion depan.


“Sudahlah nak, jangan ribut. Setelah pulang dari jogja, bawalah keluargamu untuk melamar Katrin.” Bunda Ajeng berkata dengan bijak.


"Terimakasih bunda, itu yang aku harapkan," Andi tersenyum sekilas memandang Katrin yang manyun.


“Bunda…, aku belum siap,” ucap Katrin Kesal.


“Sudahlah nak, dipikir nanti saja.” Bunda Ajeng memejamkan matanya untuk tidur.


Setelah 3 jam mereka sampai Jogja. Setelah makan siang, mereka pergi istirahat untuk tidur siang.


“Dik, ntar kita ke pantai ya, jam 3 kamu siap-siap.” Andi berjalan menuju kamar tamu.


“Ya…, kak,” kata Katrin merebahkan dirinya nonton acara televisi bersama Widya.


“Kak Widya, kakak Tora sudah tidur ya?” kata Katrin pelan.


“Iya, kenapa? Ada yang kamu tanyakan ke kakak?” Widya menggeser duduknya mendekati Katrin.


“Kak, malam pertama kakak sakit tidak?” Katrin berbisik di telinga Widya.


“Tanya yang lain apa dik?” sahut Widya malu.


“Tapi aku ingin tahu kak, please?” Katrin menyatukan kedua tangannya memohon kepada Widya.


“Sakit dik, ta_pi setelah itu ingin mengulang lagi?” bisik Widya di telinga Katrin.


“Maksud kakak, mengulang begituan lagi?” jelas Katrin memandangi Widya.


“Iya, makanya kamu cepat nikah ya? Setelah menikah kamu nanti akan menyesal,” ucap Widya sambil membaringkan dirinya di sofa.


“Menyesal? Kenapa mesti menyesal?” kata Katrin tidak mengerti.

__ADS_1


“I_ya, menyesal, kenapa kita tidak secepatnya menikah.” Widya tersenyum penuh dengan makna.


“Bodho ah, aku mau tidur dulu. Aku tidak mengerti.” Katrin memejamkan matanya dengan pikiran melayang-layang tidak jelas.


“Ha…,ha…, kamu itu lucu dik, jadi gadis kelewat polos.” Widya beranjak pergi meninggalkan Katrin.


Andi bangun dari tidurnya setelah mendengar adzan Ashar berkumandang dan bergegas membersihkan diri untuk sholat Ashar. Setelah melaksanakan ibadah Andi mencari Katrin di ruang keluarga.


“Dik…, bangun ayo kamu bersiap-siap!” Andi mengelus pipi Katrin.


“Iya kak.” Katrin mengerakan tubuhnya untuk bangun.


“Mau kemana kalian?” tanya Tora menghampiri Andi dan Katrin.


“Ke pantai, ikut ngak?” tanya Andi sambil mengganti canel TV.


“Ngak ah, aku mau olahraga saja di rumah!” Tora menyeringai nakal.


“Emang sore-sore begini? Apa tidak malu terdengar oleh bunda,” ucap Andi sambil memasukan cemilan ke dalam mulutnya.


"Tidak, kamar aku kedap suara ya? jadi bebas." Tora menghempaskan diri nya duduk di sofa.


“Sayang, ini kopinya, ngobrolnya biar tambah seru!” Widya tiba-tiba datang membawa 2 cangkir kopi.


“Terimakasih, kakak ipar?” Andi mengambil kopi.


“Kakak ipar? Nikah i dulu adikku baru panggil kakak ipar.” Tora melototi andi dengan kesal.


“Biarin lah mas. Kalian kalau bertemu ribut terus,” ucap Katrin menghempaskan dirinya duduk di sofa mendekati Tora. “Kau sama Katrin jadi ke pantai ya?” Widya bertanya pada Andi.


“Ok, aku sama Tora ngikut?” Widya asal nyeplos tanpa tanya Tora terlebih dahulu.


“Dik, kita lain kali saja. Kita harus mengerjakan PR dulu.” Tora mengedipkan matanya ke arah Widya.


“PR…? Tidak mengerti aku.” Ucap Widya memelototi Tora.


“I_ya, Pekerjaan Rumah dari Bunda Ajeng. Membuat Tora junior,” ucap Tora tanpa sungkan dengan Andi.


“Astaga mas, malu-malu in saja. Aku ingin ke pantai juga, kalau kamu tidak ngikut tidak ada acara mengerjakan PR sekarang maupun nanti.” Widya beranjak pergi meninggalkan Tora dan Andi.


“Ok dik, kamu ganti bajumu, kita pergi ke pantai bersama mereka,” ucap Tora takut karena ancaman istrinya.


“Ha…, ha…, rasain kamu, sono olahraga sendiri.” Andi tertawa terbahak-bahak.


“Kamu itu ya…, suka sekali kalau temennya menderita.” Tora meninju lengan Andi.


“Ayo kak, aku sudah siap.” Katrin muncul langsung menarik Andi untuk berangkat.


“Tunggu Widya dulu,” kata Andi sambil berjalan ke luar.


“Kak Widya ikut? Memang kak Tora memberi izin?” tanya Katrin heran karena yang dia tahu kakaknya posesif banget.


“Sama akulah dik, mana mungkin Widya aku biarkan berangkat sendiri, jadi obat nyamuk kalian,” ucap Tora Kesal.

__ADS_1


Setelah Widya selesai berganti baju, mereka berempat berangkat ke pantai dengan mobil Andi.


“Kak…, kita ke alun-alun dulu, aku mau mencoba berjalan melewati pohon beringin kembar,” kata Katrin sambil memberi petunjuk arah ke alun-alun.


“Kita sampai dik, ayo kita kesana.” Andi menggandeng Katrin dengan mesra.


“Tora kamu mau mencoba tidak?” tanya Andi.


“Tidak…, buang-buang waktu saja, itu kan hanya mitos,” ucap Tora sambil menggandeng Widya. Tora dan Widya duduk di bangku pinggir alun-alun Jogja.


Sedangkan Andi sibuk menyekap mata Katrin dengan sapu tangan.


“Dik sudah siap? Aku hitung sampai 3, kamu jalan ya?” Andi memutar tubuh Katrin sampai 3 kali putaran.


“Dik sebut keinginanmu, semoga cinta kita bersatu selamanya,” ucap Andi sambil mencium kening Katrin.


Katrin tiba-tiba melepas sapu tangan yang digunakan untuk menyekap matanya. “Kak keliru, kakak yang seharusnya melakukan.” Katrin memasang saputangan untuk menyekap Andi.


“Ayo kak jalan! Ingat pastikan sampai melewati pohon beringin kembar. Aku tunggu disana.” Katrin meninggalkan Andi yang kebingungan dan berjalan menunggu di dekat pohon beringin.


“Sayang…, ini nggak lucu!” teriak Andi sambil berjalan terseok-seok menuju ke arah beringin kembar.


“Sayang, kamu juga harus mengikuti mereka.” Tiba-tiba Widya menarik tangan Tora untuk mengikuti Andi.


“Dik, mana bisa begitu.” Tora kesal mengikuti keinginan istrinya.


“Ayo sayang, kamu harus bisa,” teriak Katrin sambil lonjak-lonjak.


“Bisa-bisanya, kau menyiksa aku dik, aku akan mengintip sedikit saja, lagian kalau nggak sampai tujuan pasti aku diomeli," gumam Andi sambil merenggangkan sapu tangannya.


“Ayo kak tinggal sedikit. Lima langkah lagi ya? Katrin berteriak memberi aba-aba.


"Sayang kamu sudah sampai. Terimakasih, semoga cinta kita akan abadi selamanya,” ucap Katrin sambil memeluk dan mencium Andi.


“Untung tidak tahu, kalau aku sedikit curang.” Andi tertawa senang.


“Sayang, ayo semangat jangan kalah sama Andi.” Widya berteriak memberi aba-aba pada Tora.


Andi dan Katrin saling beradu pandang.


“La, katanya nggak mau? Kok ngikut juga?” kata Andi memandangi sahabatnya yang kesulitan berjalan karena Tora yang lugu tidak seperti dirinya.


“Aku yang menyuruh!” Widya kembali memberi semangat untuk Tora.


“Tora…, ayo semangat. Kamu masih ada tugas mengerjakan PR lo?” goda Andi sambil tertawa terbahak-bahak.


Akhirnya Tora sampai juga melewati beringin kembar. Widya langsung memeluk suaminya puas.


“Terimakasih sayang, kamu memang suami Andalan.” Widya kembali mencium suaminya.


“Ayo berangkat ke pantai kita akan melihat sunset.” Andi mengandeng Katrin dan meninggalkan sepasang suami istri yang sedang berciuman.


“Dasar adik ipar gemblung, mengusik kenyamanan orang saja,” maki Tora yang selanjutnya menyusul Andi.

__ADS_1


🍁🍁🍁Sebelum kita lanjutkan acara ke pantainya, sempatkan beri komentarnya ya? Terimakasih”


__ADS_2