
Andi dan Katrin sudah pulang ke rumah. Andi meminta Katrin menemaninya, mereka bertiga sudah sampai di kediaman Andi.
“Don, kamu pulang dulu saja. Mobil kamu bawa pulang ya?" ucap Andi setelah sampai di halaman depan rumahnya.
“Ok, bos. Selamat beristirahat!” ucap Doni sambil memutar balik mobilnya.
“Ayo dik kita masuk ke dalam.” Andi menggandeng Katrin masuk ke dalam rumah. Mbok Ijah yang mendengar suara Andi langsung menghampiri mereka.
“Alhamdulilah nak, kamu sudah bebas. Si mbok takut terjadi sesuatu dengan nak Andi.” Mbok Ijah meneteskan air matanya.
“Mbok terimakasih, berkat do’a mbok Ijah aku bebas.” Andi mencium punggung tangan mbok Ijah.
“Mbok, tolong makanan ini di siapkan di meja makan ya?” Katrin memberikan bungkusan makanan yang telah mereka beli di restauran. Mbok Ijah mengambil makanan yang telah diberikan oleh Katrin.
Setelah mbok Ijah pergi ke dapur, tiba-tiba Andi menggendong tubuh Katrin dan membawanya ke dalam kamar.
“Kak, lepaskan aku,” ucap Katrin lirih sambil menggelayutkan tangannya di leher Andi karena takut jatuh.
“Sudahlah dik, kamu diam saja.” Andi tak menghiraukan Katrin kemudian Andi membaringkan tubuh Katrin di ranjangnya. Andi tiba-tiba mencium Katrin dengan nafsu yang memburu.
“Sayang kamu sangatlah menggemaskan dan kamu selalu mengusik tidurku.” Andi terus menyusuri leher jenjang Katrin dan menciumnya.
“Ah…, sayang.” Katrin membalas ciuman Andi yang memanas. Andi semakin lepas kontrol, Andi sudah membuka baju bagian atas Katrin dan bermain menyusuri bagian atas tubuh Katrin.
“Tok…, tok…. Nak makanannya sudah siap.” Mbok Ijah mengetuk pintu kamarnya. Andi segera menutupi tubuh Katrin dengan selimut. “Terimakasih mbok, kamu telah mengingatkanku sehingga aku tidak akan berniat yang lebih jauh dan melampaui batas,” gumam Andi beranjak pergi membukakan pintu.
“Iya, mbok. Aku akan mandi dulu.” Andi membuka pintu kamarnya.
“Baik nak, segera turun makan ya?” ucap mbok Ijah kemudian bergegas pergi meninggalkan mereka. Andi bergegas menghampiri Katrin, dilihatnya Katrin sudah tertidur karena menahan kantuk yang begadang sampai dini hari. Andi kemudian bergegas menuju ke kamar mandi untuk menyelesaikan hasratnya.
Setelah mendinginkan sesuatu yang memanas dalam tubuhnya, Andi keluar dari kamar mandi dan hendak membangunkan Katrin untuk makan siang.
“Sayang, ayo kita makan dulu.” Andi mengusap pipi Katrin dengan lembut. Katrin menggeliatkan tubuhnya sehingga selimut yang menutupi bagian atas tubuh Katrin menyingkap dan memperlihatkan bagian atas tubuh Katrin yang menggoda Andi. Andi menelan salivanya.
“Dik pakai bajumu, kamu janganlah menggoda aku.” Andi mengambilkan baju Katrin yang berada di sebelahnya.
__ADS_1
“Kakak, apa yang barusan kita lakukan.” Katrin nampak tersipu malu begitu tersadar dirinya sudah setengah telanjang.
“Sudahlah sayang, maafkan aku. Aku pastikan setelah bunda sehat, bulan depan kita menikah.” Andi berjalan menuju sofa menunggu Katrin memakai bajunya.
“Kak bukannya kita rencananya lamaran dan tunangan dulu,” ucap Katrin sambil memakai bajunya.
“Dik, aku takut kita akan berbuat sesuatu yang membuat kita terjerumus dalam hubungan yang menyesatkan. Apalagi kamu sering menggodaku,” kata Andi tegas.
“Kak, aku takut…, aku takut jika kita menikah dan memiliki anak, aku tidak bisa menyelesaikan kuliahku.” Katrin menghampiri Andi yang duduk di sofa dan bergelayut manja memeluk lengan Andi dan menyandarkan dirinya di bahu Andi sebelah kiri.
“Lihatlah dik sikapmu, kamu bilang takut menikah, tapi tubuhmu selalu menggoda aku.” Andi mengecup bibir Katrin.
Katrin merenggangkan pelukannya, dilihatnya wajah Andi dengan mengernyitkan dahinya.
“Mana bisa begitu kak?” Aku kan hanya memeluk kakak karena kangen,” ucap Katrin yang tak kalah sengit.
“Dik memangnya tingkah laku mu seperti itu tidak membangkitkan Andi juniorku?” kata Andi sambil melirik sesuatu yang ada dibawah bagian tubuhnya.
“Kakak mesum sekali.” Katrin mencubit pinggang Andi.
“Kak, katanya mau makan,” tanya Katrin ingin menghentikan bercandanya dengan Andi.
“Iya, aku ingin makan kamu saja!” Andi memandang Katrin dengan perasaan yang tidak menentu.
“Ayolah kak kita turun dan makan!” Katrin menggandeng Andi menuruni anak tangga. Mereka berdua makan di meja makan.
“Dik, kita makan sepiring berdua saja ya?” kata Andi sambil menggeser tempat duduk untuk Katrin.
“Lo, kenapa kak?” tanya Katrin pura-pura tidak tahu maksud Andi.
“Dik, aku minta disuapin sama kamu.” Andi menghempaskan dirinya, duduk di dekat Katrin. Katrin mengambil makanan untuk di taruh di piringnya. Katrin menyuapi Andi dan kemudian memasukan makanan ke dalam mulutnya.
“Nak, ini jus jambunya, kesukaan nak Andi!” tiba-tiba mbok Ijah berada di dekat mereka.
“Nampaknya nak Andi sangat bahagia dengan nak Katrin dan mereka kelihatan banget selalu menyanyangi satu sama lainnya,” gumam mbok Ijah.
__ADS_1
“Iya mbok, terimakasih,” ucap Katrin malu-malu, menghentikan menyuapi Andi.
“Mbok, sudah makan?” tanya Andi sambil mengunyah makanan nya.
“Sudah kok nak. Nak…, nanti kalau ke rumah sakit, tolong bawakan makanan untuk bunda Clara ya?” Mbok Ijah menyiapkan beberapa makanan untuk bunda Clara.
“Iya mbok. Nanti kita habis sholat Ashar, akan kembali ke rumah sakit.” Andi menimpali per nyataan mbok Ijah.
Tak berapa lama kemudian, mereka selesai makan. Andi bergegas menuju raung kerjanya.
“Dik, aku ke ruang kerja dulu ya?Kalau kamu bosan bisa ke ruang keluarga atau tidur di kamar kak Andi,” ucap Andi berlalu meninggalkan Katrin.
“Iya kak, aku akan membantu si mbok untuk beres-beres terlebih dahulu.” Katrin bangkit dari duduknya dan mulai membersihkan tempat makan yang mereka gunakan.
“Nak, kamu duduk saja di ruang keluarga, biar si mbok yang membersihkan,” tegur mbok Ijah.
“Mbok, kak Andi itu orangnya bagaimana mbok?” tanya Katrin sama si mbok.
“Nak Andi itu baik kok nak? Dia paling suka membantu si mbok di dapur. Dia itu selalu menyanyangi keluarganya, terutama pada bunda Clara,” jelas si Mbok Ijah sambil bersih-bersih.
“Masa sih mbok?” tanya Katrin sambil duduk di kursi dapur.
“Iya. Dan satu lagi nak, perasan nak Andi itu halus nak, dia tidak pernah melukai perasaan orang lain,” ucap mbok Ijah.
“Mbok Ijah mengenal Indah tidak?” tanya Katrin tiba-tiba.
“Indah? Iya dia dulu sering kesini, bunda Clara sangat menyayanginya. Tapi sayang Indah melukai perasaan semua orang.” Mbok Ijah menghela nafasnya dan tidak melanjutkan ceritanya.
“Sudahlah nak kamu jangan memikirkan Indah, dia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kamu. Kamu sangat beruntung mendapatkan nak Andi, segeralah menikah. Nak Andi itu banyak penggemarnya lo?” goda mbok Ijah.
“Do’anya mbok, rencananya kak Andi akan segera melamar aku mbok.” Katrin membantu menaruh piring yang sudah bersih ke dalam rak piring. Setelah pekerjaan selesai Katrin bergegas pergi ke ruang keluarga untuk melihat acara di televisi.
🍁🍁🍁🍁
Terimakasih para pembaca, jangan lupa komentar, like dan votenya!
__ADS_1