
Hari ini di café Andi ada pesta ulang tahun Dewi. Semua sahabat Dewi dan Toni mengikuti pestanya. Katrin dan Anita duduk di salah satu kursi yang berada di sudut ruangan café.
“Nita, minggu depan aku dilamar secara resmi oleh keluarga kak Andi.” Katrin memulai pembicaraan.
“Baguslah, kalau begitu. Lebih cepat lebih baik. Persiapan acaranya bagaimana?” tanya Anita.
“Semuanya sudah disiapkan oleh bunda Ajeng dan bunda Clara,” ucap Katrin sambil meminum jus pesanannya.
“Rin, Nit…, ayo kita turun dance.” Dewi datang menarik tangan kedua sahabatnya untuk
melakukan dance.
“Aku disini saja, aku tidak terbiasa seperti itu,” ucap Katrin malu-malu. Anita pun sama halnya dengan Katrin yang merupakan anak rumahan sehingga tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu.
“Ah…, kalian payah,” ucap Dewi kembali berjoget menuju kelompoknya. Toni dibuat kewalahan mengawasi Dewi.
“Rin, lihat kak Toni! Kasihan kayaknya tidak bisa mengimbangi gerakan Dewi.” Anita mengarahkan jarinya menunjuk kea arah Toni dan Dewi.
“Iya…, Dewi kelihatan sudah biasa sekali melakukan nya! Ta_pi kak Toni, astaga dia lucu sekali gerakannya?” Katrin tertawa terpingkal-pingkal melihat kekonyolan pasangan Toni dan Dewi.
Acara pesta berjalan dengan lancar, waktu menunjukan pukul 22.00 wib. Sebagai puncak dan penutup acara hari ini, Andi selaku pemilik café akan menyanyikan sebuah lagu.
“Terimakasih atas kehadiran kalian semua dan mempercayakan pesta hari ini di café kami. Aku selaku pemilik café hari ini akan mempersembahkan sebuah lagu dengan judul “Kesempurnaan Cinta.” Andi mulai memetik gitar dan menyanyikan lagunya.
Semua tamu yang hadir berteriak histeris mendengar kemerduan suara Andi. “Abang yang cakep selfie dengan kita dong?” ucap salah satu teman Dewi berusaha menggoda Andi. Tiba-tiba Andi turun dari panggung dan mengajak Katrin untuk naik ke panggung.
Mereka berdua menyanyi duet bersama, semua cewek yang ada di café dibuat patah hati dengan keromantisan Andi. Dewi dibuat iri dengan keromantisan mereka berdua.
“Sudahlah dik, kamu kan sudah punya aku.” Toni memeluk mesra Dewi dan mengecup keningnya.
"Apaan sih kak? tidak lucu tau," ucap Dewi menghempaskan tangan Toni.
Acara pun selesai tepat pukul 22.30 wib, semua tamu undangan sudah pulang. Tiba-tiba dari arah pintu depan muncul beberapa anggota dari kepolisian datang memeriksa café Andi.
“Malam pak, kami akan melakukan pemeriksaan dan penggeledahan café bapak.” Salah satu dari mereka menyodorkan surat ijin penggeledahan dari atasannya.
“Silahkan pak! Kenapa café kami harus diperiksa?” ucap Andi dengan santai dan tegas.
“Kak, aku takut?” ucap Katrin yang memegangi lengan Andi karena ketakutan. Andi mengelus tangan Katrin dan menenangkannya. “Sudahlah dik, percayakan sama kakak. Kakak akan baik-baik saja,” ucap Andi tenang.
“Ada laporan dalam café bapak ada transaksi Narkoba yang melibatkan bandar Narkoba yang terkenal.” Pak Polisi menjelaskan dengan gamblang.
“Ok. Saya rasa anda salah sasaran. Kami selama ini hanya menjual makanan dan minuman yang legal dan sesuai dengan hukum.” Andi menegaskan dan menerangkan secara gamblang.
__ADS_1
“Ok, kita buktikan perkataan anda,” ucap komandan polisi yang memimpin operasi.
“Bos di ruangan sebelah sini ditemukan sabu bos,” teriak salah satu anggota dari kepolisian yang melakukan penggeledahan.
Semua orang menuju sumber suara yang berada di ruangan Andi. Andi juga berjalan mengikuti langkah pak polisi. “Kak, gimana ini kak?” Katrin cemas memikirkan Andi.
“Sayang, tenangkanlah hatimu,” bisik Andi di telinga Katrin.
“Doni, CCTV kita berfungsi semua kan?” ucap Andi sambil memandang Doni.
“Kondisi masih baik bos, kemarin baru aku cek,” kata Doni menyakinkan Andi.
“Bagus, kalau terjadi sesuatu dengan saya segera amankan file CCTV dan cari semua bukti,” perintah Andi dengan tenang.
“Maaf pak, semua bukti ada, dan mengarah ada peredaran narkoba di café anda, maka anda kami tangkap.” Bapak polisi mengeluarkan borgol untuk menangkap Andi.
“Tunggu pak, meskipun sabu itu berada di ruangan saya, belum tentu itu milik saya,” ucap Andi tegas.
“Semua bukti sudah jelas, anda mau apalagi? Mari pak ikut kami di kantor polisi.” Pak Polisi mempersilakan Andi untuk ikut ke kantor polisi.
“Kak, jangan pergi! Aku takut kak.” Katrin menangis dan memeluk Andi sangat erat tidak mau dilepaskan.
“Sayang, kamu jangan menangis.” Andi menghapus air mata Katrin dan mencium keningnya.
“Pak polisi jangan tangkap kak Andi. Aku yakin kak Andi tidak bersalah.” Katrin masih memeluk Andi, bahkan sangat kencang tidak mau melepaskan.
“Anita tolong kau tenangkan Katrin. Kamu telpon Arga dan jangan kasih tahu ayah maupun bunda,” perintah Andi tegas. Andi mencium Katrin dan membujukya untuk tenang.
“Mari pak.” Andi mengikuti pak polisi yang memeriksanya.
“Don, ingat pesan aku!” Andi mengingatkan Doni ketika berjalan di depannya.
Setelah kepergian Doni, Katrin terisak menangis sedih di sofa ruang kerja Andi. “Rin, aku percaya kok sama kak Andi. Dia akan menyelesaikan masalah ini dengan baik.” Anita memeluk Katrin.
“Aku bingung Nit, kenapa seperti ini? Aku tahu kak Andi tidak akan melakukan hal sebodoh ini!” Katrin menghapus air matanya dan bangkit dari duduknya menemui Doni.
“Kak Doni, telpon Arga secepatnya untuk kesini. Dan kamu segera ke ruangan kak Andi.” Katrin kembali kembali ke ruangan Andi.
“Iya, mbak.” Doni langsung membuka video call, memencet no Arga.
“Asalamualaikum,” ucap Arga yang ada di seberang sana.
“Waalaikumsalam. Ar, tolong kamu segera ke café ditunggu mbak Katrin,” ucap Doni.
__ADS_1
“Bukankah ada kak Andi?” tanya Arga kembali.
“Kamu jangan banyak ngomong. Andi ditangkap polisi kasus Narkoba,” ucap Doni.
“Apa? Mana mungkin? Kakakku tidak seperti itu! Baiklah aku segera ke situ.” Arga menutup ponselnya.
Setelah video call dengan Arga, Doni kembali ke ruang kerja Andi.
“Gimana kak?” tanya Katrin sambil menghela nafasnya.
“Arga segera datang kemari, kita tunggu saja Arga,” ucap Doni sambil membuka file CCTV di meja kerja Andi.
“Kak, apa yang kamu lakukan?” tanya Anita yang melihat Doni sibuk di depan computer.
“Sudahlah, kamu diam saja. Aku akan meneliti semua kejadian rekaman CCTV semingggu sebelum kejadian hari ini.” Doni kembali sibuk di depan computer.
“Malam semuanya!” Arga menghampiri mereka.
“Arga, tolong selamatkan kakak mu!” Katrin menangis dan berlari berhambur di pelukan Arga.
“Baiklah kak, kita cari solusinya.” Arga memapah Katrin duduk di dekat Anita.
“Semua bukti mengarah ke kak Andi kak!” ucap Anita sedih.
Arga memecet ponselnya menghubungi seseorang. “Aku sudah menelepon pengacara, aku dan Doni akan ke kantor polisi bersama pengacara untuk membebaskan kak Andi,” ucap Arga tenang.
“Arga, aku minta kamu usahakan kak Andi untuk keluar dari penjara.” Katrin menangis kembali di pelukan Anita.
“Anita tolong kamu antar Katrin pulang, dan untuk malam ini kamu jaga dia di rumahnya,” perintah Arga pada Anita.
“Iya, kak! Kalau begitu aku pulang dulu bersama Katrin!” Anita beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.
“Hati-hati ya dik,” Arga mencium kening Anita.
Tiba-tiba petugas dari kepolisian datang dan meminta mereka untuk keluar café karena mau dipasang garis polisi untuk dilakukan pemeriksaan.
Mereka berempat meninggalkan café dengan tujuan masing-masing.
“Ar, ini copian isi rekaman di café, siapa tahu berguna untuk membantu kebebasan Andi.” Doni menyerahkannya ke tangan Arga.
“Ok. Terimakasih. Nanti aku copynya dulu dan aku pelajarinya,” ucap Arga sambil menimang flasdis di tangannya. “Aku yakin kakak ku tidak bersalah, pasti ada seseorang yang ingin menjebaknya. Jangan coba-coba mempermainkan keluarga Sanjaya.” Arga tersenyum sinis.
💓💓💓Terimakasih, para pembaca yang setia, tolong beri komentar, like dan votenya! Bagaimana kisah selanjutnya kita ikuti episode berikutnya.💓💓💓
__ADS_1