Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Perpisahan


__ADS_3

Andi ditemani Arga menjemput Katrin dan Anisa, karena hari ini Anisa sudah di jemput keluarganya di polwil wilayah kota A.


Katrin bersama mbok Minah membereskan semua pakaian dan mainan Anisa yang dibelikan oleh Katrin maupun yang lainnya.


“Mbok…, aku sudah terlanjur sayang sama Anisa, kalau boleh aku ingin dia tetap tinggal di sini mbok.” Katrin meneteskan air matanya sambil memasukan semua barang-barang ke dalam tas.


“Sudahlah non, tempat tinggal Anisa kan juga tidak begitu jauh dari tempat tinggal kita dan sewaktu-waktu kita bisa berkunjung,” kata mbok Minah.


“Ta_pi mbok, tetap saja beda…,” ucap Katrin.


“Bunda…, mainan barby aku mana?” tanya Anisa tiba-tiba.


“Ini sayang. Di dalam tas,” Katrin memberikan boneka barby kepada Anisa.


“Asalamualikum.” Andi dan Arga masuk menghampiri mereka.


“Waalaikumsalam,” sahut Katrin.


“Hore…, ayah sama om Arga datang.” Anisa lonjak-lonjak kegirangan.


Katrin menatap Anisa sedih. ” Semoga, kamu selalu mengingat bunda nak, dan semoga kamu bahagia bersama kedua orang tuamu.”


“Sudahlah dik…, kamu jangan bersedih nanti kalau sudah menikah kita buat Anisa-Anisa yang lain.” Andi mengelus-elus punggung Katrin.


“Kakak…, nggak lucu kak.” Katrin menghapus air matanya.


“Ayo kita berangkat,” ucap Arga sambil membawa tas Anisa.


“Kita kemana, bunda?” tanya Anisa.


“Ketemu orang tua kamu nak?” Katrin mengusap kepala Anisa.


“Nenek Ajeng, Anisa pamit ya, maaf telah menyusahkan nenek.” Anisa menghampiri bunda Ajeng yang ada di teras.


“Iya sayang, ingat pesan nenek, kamu tidak boleh nakal.” Bunda Ajeng mencium kening dan pipi Anisa.


“Aku akan selalu merindukan nenek.” Anisa memeluk bunda ajeng seolah tidak mau melepaskannya.


“Sudahlah nak, ayo berangkat.” Katrin kembali mengandeng Anisa.


Andi dan Arga duduk di depan, dengan Arga yang pegang kemudi. Katrin dan Anisa duduk di mobil bagian belakang. Di dalam mobil Anisa nampak murung.


“Kamu kenapa sayang?” Katrin bertanya kepada Anisa.


“Aku bingung…, aku sayang orang tua aku, tapi aku juga sayang ayah dan bunda.” Anisa berkaca-kaca menahan air matanya.

__ADS_1


“Sayang, ayah dan bunda juga sayang Anisa, tapi orang tua kamu kangen sama kamu. Mereka lama tidak bertemu sama kamu.” Katrin memberi pengertian kepada Anisa.


“Iya nak, kalau ada waktu ayah sama bunda bisa berkunjung ke rumah kamu,” ucap Andi membuat Anisa tenang.


“Ayah dan bunda janji?” Anisa mengarahkan jari telunjuknya ke arah Katrin dan Andi.


“Ok, anak manis…, kesayangan ayah.” Andi mengarahkan telunjuknya hingga bersentuhan dengan telunjuk Anisa.


“Terimakasih, ayah dan bunda.” Anisa kembali menghempaskan dirinya duduk di kursi mobil.


“Anisa, om sama tante Anita boleh nggak ikut berkunjung ke rumah kamu?” tanya Arga melirik Anisa lewat kaca spion depan.


“Boleh dong om, ta_pi bawa mainan yang banyak ya?” ucap Anisa polos.


“Tentu…, kamu suka mainan apa?” tanya Arga kembali.


“Boneka barby…, yang lengkap dengan baju dan tempatnya,” Anisa bergelayut manja memegang lengan Katrin.


“Si_ap, anak manis.” Arga hormat dengan tangan kanannya.


Di dalam mobil mereka berempat ngobrol dengan santai, sehingga tidak terasa sampai di Polwil wilayah kota A.


“Sampai, ayo turun!” Katrin menggandeng tangan Anisa. Di dalam ruangan sudah menunggu Kapolwil dan kedua orang tua Anisa.


“Alhamdulilah nak, kamu dalam keadaan baik dan sehat.” Ibu Anisa berlari memeluk anaknya sambil meneteskan air matanya. Dicium dan dibelainya Anisa.


“Ayah…, aku baik-baik saja. Aku diselamatkan oleh bunda Katrin, dan ayah Andi. Mereka hebat ayah,” celoteh Anisa.


“Perkenalkan, kami orang tua Anisa, kami berterimakasih atas kebaikan saudara.” Ayah Anisa diikuti oleh ibunya berjabat tangan dengan Andi, Arga dan Katrin.


“Sama-sama pak, kami senang bisa bertemu dengan Anisa, putri bapak sangat menggemaskan dan tidak merepotkan,” kata Andi tulus.


“Alhamdulilah berkat putri bapak, kami bisa menangkap pimpinan sindikat Gepeng yang meresahkan masyarakat di wilayah kami pak,” ucap pak Kapolwil.


“Anisa anak yang cerdas dan daya ingatnya tinggi. Dia bisa mendiskripsikan tempat penampungan Gepeng dengan baik, sehingga kami bisa membekuk sindikatnya.” Andi mengacungkan jempolnya untuk Anisa.


“Pak karena waktu sudah siang, kami mohon ijin untuk pulang,” kata ayah Anisa.


“Silahkan pak, semoga ke depannya kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” kata Andi tegas.


Mereka semua bersalaman melepas kepergian Anisa dan keluarganya.


“Hua…hua, bunda jangan sedih aku akan selalu mengingat bunda,” ucap Anisa di depan Katrin.


“Tidak sayang…, kamu disana jangan melupakan sholat dan ngaji ya?” Katrin memeluk Anisa dan menciuminya seakan mereka tidak ingin berpisah.

__ADS_1


“Ayo nak…, sudah ditunggu ayah,” ucap bunda Anisa memisahkan pelukan Katrin.


“Bentar bunda…, aku masih ingin peluk bunda Katrin,” kata Anisa melepaskan tangannya dari bundanya.


“Bunda, tolong jaga ayah Andi ya?” Anisa memeluk kembali Katrin.


“Ayo nak, kita antar ke mobil.” Andi menggandeng Anisa.


“Anisa, ingat om Arga juga ya?” kata Arga mengendong Anisa untuk didudukkan dalam mobil,


“Tentu om tampan…, kapan-kapan kita naik kuda beneran ya?” ucap Anisa.


Anisa dan keluarganya meninggalkan mereka, sehingga Katrin merasa sedih.


“Sudahlah sayang, Anisa akan lebih bahagia dengan orang tuanya. Ayo kita pulang.” Andi mengandeng tangan Katrin.


“I_ya sayang.” Katrin menganggukkan kepalanya.


“Mohon ijin komandan, kami sekeluarga izin pulang.” kata Andi kepada Kapolwil.


“Ya, silahkan pak Andi, semoga karier pak Andi tetap cemerlang,” ucap Kapolwil sambil bersalaman.


“Terimakasih atas do’anya pak,” jawab Andi sambil memberi hormat.


“Pak Andi kalau sudah cocok jangan di tunda, disegerakan saja! Awas lo banyak setan.” Pak Kapolwil menggoda Andi.


“Do’anya pak, semoga kami berjodoh dunia akhirat,” jawab Andi.


“Amin. Kami tunggu undangannya pak,” kata Kapolwil sambil melirik Katrin.


“Kak, aku malu,” Katrin berbisik ke telinga Andi.


“Tidak apa-apa dik. Lagian kenapa mesti malu sebentar lagi kita kan juga mau menikah.” Andi cuek sambil terus menggandeng Katrin.


“Arga…, kita mampir ke café dulu ya, baru antar Katrin pulang,” perintah Andi.


“Ngapain ke café kak?” tanya Katrin.


“Ambil berkas dik, ada sesuatu yang harus aku kerjakan,” kata Andi sambil membukakan pintu belakang mobil untuk Katrin.


“Kakak masih sakit kak, kalau bekerja jangan berlebihan,” ucap Katrin cemas.


“Kak Andi memang begitu kakak ipar, dia pekerja keras, café itu dia rintis dengan jerih payahnya sendiri lo?” jelas Arga.


“Biasa saja kok sayang, itu pun juga sering dibantu Arga. Dia jago mengelola bisnis juga lo?” jelas Andi. Begitulah mereka akhirnya sampai ke café yang dikelola Andi.

__ADS_1


💕💕Terimakasih para pembaca atas semangat, komentar, like dan votenya.”


__ADS_2