
Andi pukul Sembilan sudah siap di depan rumah Katrin menjemput sang pujaan hati. Setelah mendapat ijin dari bunda Ajeng Katrin dan Andi bergegas meninggalkan rumah Katrin menuju rumah Andi.
“Dik kita mampir ke salon dulu ya?” Andi membelokan mobilnya menuju salon keluarga yang dikelola bunda Clara.
“Hai…, Nita? Ternyata kamu sudah disini ya?” ucap Katrin langsung duduk di sebelah Anita yang sudah di make up.
Setelah beberapa menit Katrin dan Anita sudah selesai di make up dan memakai gaun yang sudah disiapkan oleh bunda Clara.
Katrin nampak cantik bagaikan tuan putri yang turun dari langit. Andi bengong menatapnya.
”Kamu cantik sekali sayang?” Andi menggandeng Katrin bagaikan pangeran dan puteri yang memasuki altar pernikahan.
Begitu pula Arga melakukan hal yang sama terhadap Anita. Semua karyawan salon menatap kagum keduanya.
“Astaga, kedua calon menantu bunda Clara semuanya cantik,” ucap salah satu karyawan mengagumi kecantikan mereka berdua.
Andi menyalakan mobilnya menuju rumahnya. Setelah sampai di rumah Andi, bunda Clara menyambut kedua calon menantunya dengan hangat.
“Sini, sayang kita langsung ke belakang,” ajak bunda Clara menggandeng kedua calon menantunya.
“Memangnya hari ini ada acara apa bunda?” tanya Katrin heran, karena di belakang sudah berkumpul banyak saudaranya bunda Clara maupun Ayah Seno Atmajaya.
“Ini hari pernikahan ayah dan bunda ke-50 sayang, hari pernikahan emas sayang?” ucap bunda Clara yang membawa duduk calon menantunya berdekatan dengan dirinya.
“Maaf bunda, Katrin tidak tahu, jadi tidak membawa kado,” ucap Katrin lirih karena malu, datang dengan tangan kosong.
“Tidak apa-apa, sayang? Do’a kan saja bunda dan ayah sehat, sehingga bisa menemani kalian waktu menikah dan segera menimang cucu,” ucap bunda Clara sambil mengusap-usap tangan Katrin.
“Iya nak…, aku berharap kalian segera cepat menikah,” Ayah Seno Atmajaya mendukung ucapan bunda sambil tersenyum.
“Maaf kan kakak ya, karena tidak memberitahu tentang acara hari ini!” ucap Andi berbisik di dekat daun telinganya.
Andi dan Katrin duduk di sebelah mamanya, sedangkan Arga dan Anita menempatkan duduknya di sebelah ayah Seno. Sesaat bunda Clara memberi tahu MC kalau acara akan segera di mulai.
Setelah Acara potong kue, MC mengumumkan kalau hari ini adalah hari kebahagian keluarga besar Seno Atmajaya, karena kedua putranya sudah menemukan pasangannya masing-masing.
MC menyebutkan nama Andi Atmajaya dengan pasangannya dan Arga Atmajaya dengan pasangannya juga.
Semua kerabat dan relasi yang hadir di tengah acara mereka berdecak kagum dengan kecantikan kedua calon menantunya.
“Nak Katrin dan nak Anita sini ngobrol sama nenek,” ucap nenek Andi sangat ramah.
“Nak, kalian berdua harus sabar ya menjaga kedua cucu nenek, mereka itu dua-duanya susah diatur,” ucap nenek lirih biar tidak terdengar oleh Andi dan Arga.
“Apa benar begitu nek?” ucap Katrin ingin tahu.
“Iya…, terutama Andi paling bandel diantara saudara-saudaranya.” Nenek memandangi kedua cucunya.
__ADS_1
“Nenek tolong, jangan bongkar rahasia kami!” ucap Andi barengan dengan Arga.
“Gak apa-apa nek, tolong teruskan cerita nenek.” Anita duduk mendekati nenek.
“Iya nek, pasti mereka suka jahil ya?” tanya Katrin beringsut mendekati nenek juga.
“Iya. Si Gembul Luki paling sering dibuli mereka berdua, kalau belum menangis mereka tidak melepaskannya,” ucap nenek sambil memanggil Luki.
“Iya nek, ada apa?” tanya Luki mendekati mereka.
“Duduk sini! kenalkan kedua calon kakak iparmu,” perintah nenek sambil menepuk bahu Luki.
Mereka saling berjabat tangan dan mengenalkan nama masing-masing. Katrin dan Anita bengong.
“Nek katanya Luki gembul? Ta_pi?” ucap Katrin polos.
“Atlatis dan macho, ya kak?” sahut Luki menyambung perkataan Katrin.
“I_ya…, dan cakep!” kata Katrin sengaja membuat Andi cemburu. Semua orang tertawa mendengar perkataan Katrin, tetapi Andi kesal dibuatnya.
“Sayang, kamu itu di depan pacar masih berani memuji orang lain?” kata Andi dengan wajah masam.
“Sayang, dia masih saudaramu lo?” ucap Katrin bergelayut manja memegang lengan Andi.
“Tidak boleh, ya tidak boleh,” tegas Andi di depan nenek dan saudara-saudaranya.
“Awas ya! Tunggu pembalasan aku,” bisik Andi di telinga Luki.
“Kak Katrin kamu tinggalkan saja kak Andi, dan jadilah pacarku.” Luki semakin mengggoda Andi.
“Luki…, sudah pergi sana!” Andi mengusir Luki. Luki tertawa terbahak-bahak mendekati Katrin.
“Kak Katrin kalau kak Andi menyakiti kamu, laporkan ke aku ya?” bisik Luki semakin membuat Andi panas dibakar cemburu.
"Awas kau." Andi mengejar Luki yang berlari menjauh.
Tak lama kemudian acara telah selesai, dan sebagai penutup acara diadakan makan bersama.
Andi mengajak Katrin masuk ke kamarnya. “Dik aku capek banget, aku istirahat dulu, setelah itu aku antar kamu ya?” Andi merebahkan dirinya di ranjang tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu.
“Iya, aku duduk di sofa sini saja kak!” ucap Katrin sambil membawa majalah yang tergeletak di meja kamar.
Karena capek Andi terlelap tidur, Katrin memandang wajah tampan Andi.
Katrin mengusap wajah Andi dengan tangannya kemudian mengecup keningnya.
“Terimakasih kak, kamu sudah berusaha menjadi yang terbaik untuk ku,” ucap Katrin lirih.
__ADS_1
Kemudian Katrin duduk kembali di sofa, tapi karena kecapean Katrin tertidur juga.
“Tok…, tok….” Suara ketukan pintu membangunkan Andi. Andi membuka pintu kamarnya dilihatnya mbok Ijah mengantarkan paper bag untuk Katrin.
“Maaf…, nak Andi, ini baju untuk mbak Katrin.” Mbok Ijah menyerahkan kepada Andi.
“Terimakasih mbok.” Andi kembali menutup pintu Kamarnya dan meletakan paper bag di meja.
“Astaga dik, tidur kok seperti ini. Apa gak sakit badanmu,” gumam Andi sambil memindahkan Katrin ke ranjangnya. Andi masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya untuk mengerjakan sholat luhur.
“Kak, mau kemana?” tanya Katrin yang sudah bangun.
“Mau sholat sayang,” ucap Andi hendak melangkah pergi.
“Kak aku ikut? Sekalian sholat jamaah.” Katrin beranjak pergi ke kamar mandi.
“Dik ini baju gantimu.” Andi menyerahkan paper bag ke Katrin.
“Kak, ini siapa yang membelikan?’ tanya Katrin.
“Tidak tahu, sayang. Bunda yang telah menyediakan semuanya. Cepetan mandi dan ganti bajumu!” Andi pergi meninggalkan Katrin.
Setelah melakukan aktivitas sholat Andi dan Katrin menghampiri bunda Clara yang duduk santai di ruang keluarga bersama Ayah.
“Bunda, Katrin ijin pulang dulu.” Katrin mencium tangan bunda Clara dan Ayah Seno.
“Iya, sayang. Hati-hati di jalan. Salam untuk bunda Ajeng.” Bunda Clara mencium pipi Katrin.
“Nak, tolong sampaikan ke bunda Ajeng, Minggu depan keluarga besar kita mau ke rumah kamu,” ucap Ayah Seno tiba-tiba.
“Baik ayah, nanti aku sampaikan.” Katrin hendak melangkah ke luar.
“Nak, besok kamu kesini lagi ya?” ucap bunda Clara sambil menahan Katrin agar tidak pergi.
“Maaf bunda, aku besok ada kuliah,” jawab Katrin sopan.
“Ya, setelah kuliah aku jemput kamu, kita sama bunda harus membeli perhiasan untuk lamaran kamu,” ucap Andi tegas.
“Lamaran?” ucap Katrin terkejut.
“Iya lah dik. Kita kesana itu mau melamar kamu secara resmi.” Andi gemes mengacak rambut Katrin.
“Kirain, kunjungan biasa, reoni bunda Ajeng sama bunda Clara,“ ucap Katrin sambil keluar rumah.
Bunda Clara sama ayah Seno hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Katrin.
“Bunda, ayah, aku pamit antar Katrin dulu,” ucap Andi segera menyusul Katrin ke luar.
__ADS_1
💕💕💕💕Terimakasih para pembaca, silahkan kasih komen, like dan votenya? 💕💕💕💕