
Hari ini hari libur Andi mengajak Katrin jalan-jalan pagi. Andi menggandeng istrinya berjalan dengan pelan, sehingga menjadi pusat perhatian ibu-ibu di sekitar komplek.
“Pagi pak Andi, wah pak Andi mesra dan sayang banget ya sama istrinya? Istri pak Andi hamil ya?” tanya salah satu ibu-ibu yang lagi ngerumpi di lapak sayur.
“Tentu dong bu, istri saya kan calon ibu dari anak-anak saya, jadi saya harus menjaganya dengan baik,” jawab Andi yang berhenti sebentar menanggapi ibu-ibu kompleks sambil sesekali memeluk Katrin.
“Cakep betul pak Andi, wah enak ya jadi nyonya Andi?” goda ibu-ibu pada Katrin yang nampak senang karena pujian dari ibu-ibu kompleks.
“Terimakasih ibu-ibu? Mari kami permisi dulu,” ucap Katrin sopan kemudian melanjutkan acara jalan paginya.
“Sayang, kamu harus bersyukur punya suami seperti aku. Buktinya ibu-ibu memujiku,” ucap Andi sambil mengelus-elus punggung tangan istrinya.
“Kakak, sombong betul, seneng ya dipuji ibu-ibu? Lagian kan wajibnya suami membahagiakan istri,” ucap Katrin bersungut-sungut kepada suaminya.
“Sayang gitu aja kok marah. Lagian kamu harus bersyukur dan bangga kalau suami kamu itu dipuji ibu-ibu, berarti suami kamu tampan,” ucap Andi merayu istrinya sehingga Katrin kembali luluh mendengar ucapan suaminya.
“Iya…, iya aku harus bersyukur punya suami baik dan tampan. Suami aku baik kan? Kalau begitu tolong aku ambilkan buah Delima itu kak!” ucap Katrin menunjuk buah Delima yang ada di rumah tetangga.
“Iya, sebentar ya? Aku akan minta izin dulu sama yang punya rumah,” ucap Andi sambil menggandeng istrinya menghampiri pemilik rumah yang kebetulan menyapu halaman.
“Assalamualaikum, permisi ibu, ini istri saya minta buah Delima yang ada di pekarangan ibu, dan kebetulan istri saya lagi nyidam bu,” ucap Andi sopan kepada ibu pemilik buah Delima.
“Waalaikumsalam. O…, nak Andi. Silahkan nak tapi dipetik sendiri ya?” ucap ibu pemilik buah Delima.
“Terimaksih bu.” Andi langsung memetik buah Delima yang sudah matang dan bisa dijangkau olehnya.
“Dik, ini sudah aku petikan. Ayo kita pulang.” Andi menyerahkan dua buah Delima yang baru dipetiknya kepada Katrin.
__ADS_1
“Sayang aku minta yang di atas itu, kelihatan besar dan matang. Ini terlalu kecil. Aku tidak mau.” Katrin nampak kecewa dengan yang dipetik oleh Andi.
“Sayang, itu sama saja. Bahkan kelihatannya yang kamu pegang itu sudah matang dan segar kalau di makan,” Andi memberi penjelasan pada istrinya dengan sabar.
“Aku tidak mau. Kakak jangan buat aku jengkel, ini bukan kemauan aku. Tapi ini kemauan anak kembar kita.” Katrin masih bersikeras minta buah Delima pilihannya.
“Pak Andi harus sabar ya? Begitulah kalau lagi ngidam. Selama dalam batas wajar tidak apa-apa yang terpenting bapak bisa melakukannya.
“Iya bu. Tentu akan saya ambilkan untuknya. Baiklah sayang, aku akan memetikan untukmu.” Andi mencium istrinya sambil mecari kayu untuk memetic buah Delima.
“Kakak, aku maunya dipanjat. Nanti kalau pakai kayu, buah yang dipetik akan jatuh dan pecah nanti tidak enak,” ucap Katrin semakin manja sehingga membuat Andi gemas dan menciumnya kningnya.
“Ya sudah, aku akan berusaha memetiknya untuk dedek bayi kita dan tentunya juga untuk bundanya,” Andi tersenyum menatap istrinya.
“Terimakasih ya sayang. kamu memang suami yang paling baik di dunia, sehingga bisa mewujudkan keinginan aku.” Katrin memeluk suaminya.
Andi yang tidak pernah bisa memanjat pohon akhirnya dia memanjat juga hanya karena kemauan istrinya yang lagi nyidam.
“Tidak apa-apa mbok. Aku bisa memanjatnya,” teriak Andi dari atas pohon.
“Nyonya tolong pak Andi. Pak Andi fobia ketinggian.” Mbok Sum memohon Katrin sambil memegangi tangan Katrin.
“Apa iya mbok? Tapi kak Andi biasa saja,” ucap Katrin bengong sambil memperhatikan suaminya yang hendak turun karena sudah mendapatkan yang diinginkannya.
“Ini sayang, buah yang kamu minta,” ucap Andi menyerahkan buah Delima kepada istrinya.
“Alhamdulillah pak Andi tidak apa-apa. Saya pulang dulu pak!” ucap mbok Sum sambil mengelus dadanya.
__ADS_1
“Sayang kenapa kamu tidak bilang kalau kamu fobia ketinggian?” tanya Katrin yang tidak percaya denga napa yang dikatakan mbok Sum.
“Iya..sayang, sebenarnya aku memang takut ketinggian, tapi entahlah hari ini aku bisa melewatinya. Mungkin karena dorongan aku untuk membahagiakan kamu dan kedua buah hati kita, membuat aku melupakan fobia aku. Terimakasih sayang, kamu dan buah hati kita jadi penyemangat hidupku,” ucap Andi yang kembali memeluk istrinya kemudian pamit pulang kepada tetangga yang memiliki buah Delima.
“Sayang, aku bersyukur kamu bisa selalu membahagiakan aku. Aku akan selalu berdo’a semoga kakak sehat dan bisa menjaga aku dan anak-anak.” Katrin mencium pipi suaminya hingga akhirnya mereka sampai di rumah.
“Mbok Sum, tolong aku dibuatkan rujak crobo yang ada buah Delimanya. Ini mbok buahnya yang banyak ya?” Katrin memberikan buah Delima hasil yang mereka petik dari pekarangan tetangga.
“Iya, nyonya ditunggu ya, ini masih pagi masa mau makan rujak? Nanti kalau perut Nyonya sakit bagaimana?” jelas mbok Sum sambil masak di dapur.
“Mbok, tapi aku inginnya sekarang? Tolong buatkan sekarang ya? Masaknya nanti saja,” ucap Katrin yang sudah mulai merajuk manja di dekat suaminya.
“Mbok, buatkan saja, tidak apa-apa. Takutnya nanti anakku ileran,” Andi memberi perintah pada mbok Sum.
“Baik pak, akan si mbok buatkan.” Mbok Sum langsung meninggalkan pekerjaan yang lain dan mulai membuat rujak.
“Mbok, nanti kalau sudah selesai tolong dibawa ke kamar ya?” ucap Katrin sambil bergelayut manja dipelukan suaminya.
“Baik nyonya,” mbok Sum mulai mengupas buah yang lain. Mereka berdua berjalan keluar hendak menuju kamarnya. Tiba-tiba Andi langsung menggendong Katrin masuk ke kamarnya dan membaringkannya di tempat tidur.
“Sayang, sebagai penghilang lelah ayah yang memetic buah Delima kamu harus bermain dengan ayah ya? Jadi izinkan ayah tengok kamu ya?” Andi mulai mengecup bibir, leher hingga kebagian tubuh yang lain dan berlanjut mencapai kepuasan diantara kedua belah pihak. Andi melakukannya secara pelan karena takut menyakiti buah hatinya.
Akhirnya mereka pun terkulai lemas setelah melakukan aktivitas paginya, setelah beberapa menit Andi menggendong istrinya untuk mandi biar kelihatan fress kembali.
“Sayang, sini aku keringkan rambutmu, biar kamu tidak masuk angin.” Andi setelah mandi dengan kasih sayangnya membantu istrinya mengeringkan rambut.
“Terimakasih sayang, tapi lain kali tengok dedek bayinya jangan terlalu sering ya? Aku takut sayang?”Katrin menatap suaminya lewat pantulan yang ada di cermin.
__ADS_1
“Iya sayang,” Andi melanjutkan mengeringkan rambut istrinya. Tidak berapa lama suara ketukan kamar terdengar. Mbok Sum mengantarkan rujak pesanan Katrin. Katrin sangat menikmati rujaknya. Andi tersenyum bahagia menyaksikan istrinya yang sangat rakus makan rujak yang baru saja dibuatkan oleh mbok Sum.
🔥🔥🔥❤️❤️Terimakasih para pembaca yang setia, jangan lupa kasih komentar, like dan votenya!🔥🔥🔥❤️❤️