
Waktu penentuan lamaran Arga untuk Anita sudah dekat, seperti biasa bunda Clara selalu heboh mempersiapkan acara untuk putranya, seperti halnya lamaran Andi untuk Katrin. Bunda Clara memperlakukan kedua putranya sama tanpa pembedaan, bahkan menantunya juga diperlakukan sama.
“Nak, ayo kamu pilih semua yang kamu suka sesuai dengan selera kamu ya?” kata bunda Clara sambil memilih sepatu dan tas untuk acara lamaran.
“Iya bunda.” Anita mengikuti memilih sepatu dan tas sesuai keinginannya dan sesekali bertanya pada bunda Clara maupun Arga.
Setelah memilih sepatu dan tas mereka berlanjut memilih perhiasan untuk lamaran. Bunda Clara memberikan kebebasan mereka berdua untuk memilih.
Setelah aktivitas di mall selesai mereka berlanjut ke butik bunda Ajeng, karena mereka mempercayakan gaun untuk acara lamaran ke bunda Ajeng. Mereka bertemu dengan bunda Ajeng kemudian mencoba baju mereka yang sudah disiapkan oleh perancang andalan bunda Ajeng.
“Ayo nak kamu coba dulu, silahkan kamu masuk ruang ganti biar ditemani mbaknya.” Bunda Ajeng memanggil salah satu pelayan butik untuk menemani Anita masuk ke dalam ruang ganti.
“Jeng, alhamdulilah bulan depan cucu kita usianya 3 bulan dalam kandungan, bagaiman kalau nanti kita adakan acara telon-telon?” tanya bunda Clara kepada bunda Ajeng.
“Bagus jeng, nanti kita adakan yasinan dan do’a bersama anak yatim piatu bagaimana?” sahut bunda Ajeng yang menanggapi komentar bunda Clara.
“Setuju jeng. Apalagi kalau usia segitu menurut agama kita, Allah akan mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya,” ucap bunda Clara sambil memilih model untuk Katrin agar bisa digunakan untuk acara telon-telon kehamilannya.
“Iya, jeng aku berharap apa yang jadi garis hidupnya kelak menjadi anak sholeh/sholekah yang berbakti pada agama, orang tua dan negaranya.” Bunda Ajeng menyambung pembicaraannya dengan bunda Clara.
“Amin. Jeng model begini bagus kan untuk anak kita Katrin?” tanya bunda Clara pada bunda Ajeng.
“Iya bagus, nanti aku buatkan untuk anak kita Katrin,” ucap bunda Ajeng yang kemudian mengamati Anita bersama Arga keluar dari kamar ganti.
“Bagus rancangannya jeng. Nak..., kalian memang pasangan yang serasi, tampan dan cantik,” Bunda Clara mendekati mereka dan mengabadikan kedua pasangan tersebut lewat ponselnya.
Setelah puas dengan jepretannya, mereka bertiga pamit untuk pulang. Bunda Ajeng menitipkan gaun untuk Katrin yang akan digunakan untuk acara lamaran Arga.
__ADS_1
Waktu yang dinantikan Arga pun telah tiba, acara lamaran dilaksanakan cukup meriah di kediaman Anita dengan dihadiri oleh beberapa kerabat kedua belah pihak. Arga yang tampan tersenyum memandang Anita kemudian menyematkan cincin di jari manisnya.
Setelah acara inti selesai semua kerabat foto bersama dengan Arga dan Anita. Group rempong selalu kompak bersama. Katrin dan Dewi foto diantara Arga dan Katrin kemudian disusul pasangan mereka masing-masing.
Group rempong dan pasangan mereka berpose layaknya model, semua kerabat mereka mengagumi keunikan group rempong. Tiba-tiba Alexa muncul bersama pak Irfan dengan Ryo yang lucu menyapa mereka.
“Mama Katrin aku mau foto dengan mama dan papa Andi.” Ryo menarik tangan Andi minta digendong.
“I…ya. Sini aku gendong.” Andi langsung menggendong Ryo kemudian mereka berpose di depan kamera layaknya satu keluarga. Ryo yang tampan menarik perhatian semua orang.
“Mama, aku gendong mama. Aku mau mencium pipi mama,” bisik Rio di telinga Andi.
“Sayang, di dalam perut mama ada dua dedek bayi, jadi tidak bisa menggendong Ryo, “ Andi mendekatkan pipi Ryo mendekati pipi Katrin dan menciumnya.
“Mama sama bunda Alexa sama-sama cantik. Besok aku juga ingin dapat pacar yang cantik kayak mama dan bunda,” ucap Ryo yang turun kembali mendekati Alexa dan pak Irfan.”
“Sayang, nanti kalau aku berangkat ke Kamboja kamu menginap di rumah bunda Clara ya?” Arga sangat kuatir dengan Anita.” Arga mencium Anita dengan kasih sayang.
“Hem…, hem…, jadi cowok kok protektif banget to Ar?” tiba-tiba Luki muncul di hadapan mereka.
“Ya..., iyalah lagian jaman sekarang tuh banyak gerandong-gerandong yang suka nikung istri orang. Jadi ya berjaga-jagalah sebelum kejadian.” Arga ngomel-ngomel tidak jelas dihadapan Luki.
“Ha…,ha…, kalian ternyata adik kakak dua-duanya sama. Ya…sama-sama bucin dengan pasangan kalian masing-masing. Padahal kamu tuh cowok yang garang di medan perang, apalagi kak Andi kalau sudah di lapangan semua preman-preman takut dengannya. E…, sekarang kalian malah tunduk di ketiak istri masing-masing.” Luki tertawa-tawa melihat kedua kakaknya yang dulu suka membuat dia menangis sekarang jadi bucin habis.
“Pletak.” Andi menjitak kepala Luki dari belakang. “Dasar cowok kutu buku, daripada seperti itu segera sari pacar sana.” Andi ikut bergabung dengan mereka sambil makan makanan ringan yang dihidangkan di meja oleh keluarga Anita.
“Nit, kita sebentar lagi akan jadi saudara. Kita bisa keluar bareng dan bermain bareng. Apalagi kelak kita tetangga dekat,” ucap Katrin memeluk Anita, mereka berdua haru dengan persahabatan mereka hingga pertemuan para suami mereka yang ternyata dua bersaudara.
__ADS_1
“Dewi, dan kak Toni ayo gabung sini.” Teriak Katrin memanggil mereka. Dewi dan toni pun bergabung dengan mereka.
“Dik, kenceng betul suaranya!” Andi berbisik mendekati telinga Katrin.
“Iya lah kan habis makan. “Katrin tidak menghiraukan perkataan Andi dan langsung mendekati Dewi dan Toni.
“Kak Toni, kapan kamu akan melangsungkan pernikahan? Kalian apa tidak menginginkan seperti kami?” ucap Katrin yang sudah nimbrung dengan Toni dan Dewi.
“Kita sebulan setelah pernikahan Arga dan Anita, Rin. Doákan acara lancar ya? Alhamdulilah lampu hijau sudah aku dapatkan dari orang tua Dewi. Mereka sangat welcome begitu kita bertemu,” ucap Toni senang dan memeluk Dewi.
“Terimakasih ya Rin, atas saran kalian orang tua aku bisa menerima kami.” Dewi menghampiri Katrin dan memeluknya.
“Alhamdulilah trio rempong ketemu jodohnya, dan mudah-mudahan acara kalian lancar seperti Arga dan Anita,” ucap Katrin kemudian mengajak mereka menikmati hidangan yang disjaikan oleh keluarga Anita.
“Always trio rempong harus selalu kompak, tidak ada permusuhan diantara kita,” ucap Anita tiba-tiba muncul dihadapan mereka.
“Ok kita harus bersatu, dan anak-anak kita kelak juga akan bersahabat seperti kita.” Dewi terharu dengan kekompakan kedua temennya, meskipun dia baru mengenalnya beberapa saat.
“Kakak ipar, bukan Trio rempong lagi tapi Four Rempong.” Alexa tiba-tiba muncul dan ikutan bergabung dengan mereka.
“Siapa takut. Boleh kok Alexa. Sini bergabung dengan kita biarkan para bapak-bapak membuat komunitas sendiri. Kita juga rumpi sendiri.” Begitulah mereka berempat sangat ceria dan tidak peduli dimana tempatnya mereka berempat selalu menunjukan kekompakannya.
Lamaran Arga
Untuk para pembaca yang setia, jangan lupa kasih komentar, like dan votenya!
__ADS_1