Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Ibra


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 18.30 Wib, Katrin nampak gelisah memikirkan rekaman video yang disampaikan oleh pak Irfan.


“Bener-bener itu nyata kak Andi, tapi kalau itu benar anak kak Andi kenapa tidak ikut di rumah bunda Clara. Ah…, pusing aku.” Katrin berjalan menuju balkon depan kamarnya.


“Non, ada nak Andi di depan,” ucap mbok Minah yang tiba-tiba berada di depan Katrin.


“Astaga…, mbok bikin kaget saja. Kenapa tidak mengetuk pintu?” ucap Katrin sambil mengelus dadanya.


“Sudah kok nak, bahkan aku sudah memanggil-manggil nak Katrin. Tapi nak Katrin Nya malah bengong,” ucap mbok Minah.


“Nak Katrin ada masalah?” tanya mbok minah kembali.


“Tidak kok mbok! Mbok, mungkin tidak? Orang yang mencintai kita menyimpan rahasianya dari kita?” tanya Katrin tiba-tiba pada mbok Minah.


“Kenapa nak? Kamu meragukan cinta dan kasih sayang nak Andi?” tebak mbok Minah.


“Tidak mbok, aku percaya sama kak Andi. Tapi selalu saja ada orang yang ingin memisahkan kita.” Katrin menghela nafasnya.


“Non, aku rasa nak Andi itu baik dan mencintai nak Katrin dengan tulus,” ucap mbok Minah sambil ke luar pergi ke luar kamar Katrin.


“Mbok, kak Andi suruh nunggu sebentar. Aku siap-siap dulu.” Katrin bergegas mengganti bajunya kemudian turun menemui Andi.


“Sayang kok lama banget…!” ucap Andi sambil mencium kening Katrin, kemudian menggandengnya menuju parkiran.


“Ayo naik,” ucap Andi begitu tiba di depan motor Harley Davidson miliknya, namun Katrin tidak kunjung naik.



Motor Harley Davidson milik Andi Atmajaya, seorang Satpol PP sekaligus pengusaha properti dan pemilik cafe.


“Sayang kamu kenapa kok mukanya cemberut begitu?” kata Andi sambil memakaikan helm di kepala Katrin. Katrin masih diam bahkan mukanya memerah seakan mau menangis.


“Aku ti_dak apa-apa,” ucap Katrin singkat.


“Sayang, kamu harus jujur. Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan!” Andi memegang bahu Katrin hingga berhadapan dengannya.


“Kak, adakah sesuatu yang kamu rahasiakan?”Apakah kamu memiliki anak laki-laki?” ucap Katrin yang tidak bisa berbohong lagi.


“Anak laki-laki? Mana bisa? Aku saja belum menikah lo dik?” Andi tertawa mendengar pertanyaan Katrin.


“Ta_pi kak, ada seseorang yang menunjukan kalau kakak punya anak laki-laki,” ucap Katrin sendu.

__ADS_1


“Anak laki-laki? Astaga…, iya aku mengingatnya! Ayo kamu naik dan akan aku tunjukan sesuatu!” Andi naik ke motornya kemudian menarik Katrin dalam boncengannya.


“Dik, percayalah pada ku. Aku tidak seburuk apa yang kau pikirkan.” Andi menghidupkan motornya dan menangkap kedua tangan Katrin untuk berpegangan ke pinggangnya. Andi melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Katrin yang merasa bimbang dengan Andi merenggangkan pegangannya. “Dik, kalau kamu tidak ingin jatuh peluk dan pegangan denganku!” teriak Andi di sela-sela suara motornya yang meraung-raung memecah jalan raya.


Katrin yang keras kepala tidak juga menghiraukan teriakan Andi, hingga akhirnya Andi menambah kecepatan motornya sehingga membuat Katrin ketakutan memeluk tubuh Andi.


“Kak yang pelan! Aku takut.” Katrin mengencangkan pelukannya. Andi terkekeh melihat tingkah Katrin.


“Kak, kita mau kemana?” tanya Katrin sambil mengencangkan pelukannya karena takut.


“Diam dan tenanglah, kamu nurut saja sama kakak.” Andi memelankan motornya.


Setelah beberapa menit mengendarai motornya membelah jalan raya, Andi memasuki gang yang berada di pinggir kota.


“Sayang kita sudah sampai,” ucap Andi menghentikan motornya tepat di depan Panti Asuhan Siti Hajar. Andi melepaskan helm Katrin dan mengambil beberapa barang yang ditaruh di dalam box motor.


“Ayolah sayang…, kita temui seseorang!” Andi mengandeng Katrin dan tangan satunya menenteng beberapa makanan kecil untuk anak-anak panti.


“Ayah datang!” teriak anak laki-laki berlari menghampiri mereka.


“Bukannya itu anak kecil yang ada di rekaman video pak Irfan,”Katrin melongo tidak percaya dengan kenyataan yang dilihatnya.


“Ada ayah, ibu panti lagi di ruang tamu,” ucap anak kecil tadi. “Ayah ini bunda aku ya?” tanyanya sambil melirik kearah Katrin.


“Iya sayang, kenalkan ini bunda Katrin,” ucap Andi melepaskan gendongannya.


“Bunda kenalkan aku Ibra, anaknya ayah,” ucap Ibra polos sambil mengulurkan tangannya kepada Katrin.


“Deg…,” detak jantung Katrin seolah berhenti berdetak.


“Anaknya ayah, jadi apa yang dikatakan pak Irfan benar adanya.” Katrin nampak ragu menjabat tangan Ibra.


Andi menangkap perubahan yang terjadi dalam diri Katrin. “Sayang kamu kecewa ya? Nanti kalau ketemu ibu panti pasti akan menjelaskan,” bisik Andi di telinga Katrin.


“Bunda ayo masuk ke dalam, menemui ibu panti.” Ibra dengan tangannya yang kecil dan mungil menggandeng Katrin untuk masuk ke dalam.


“Assalamualaikum ibu? Ini ayah datang bawa calon bundaku.” Ibra memperkenalkan Katrin sebagai calon bundanya.


“Waalaikumsalam. Mari silahkan duduk nak? Maaf tempatnya seperti ini.” Ibu panti mempersilahkan mereka duduk.

__ADS_1


“Sayang ini dari bunda Katrin, sana kamu bagi dengan teman-teman kamu ya?” ucap Andi sambil menyerahkan bingkisan kepada Ibra.


Ibra menerimanya dengan senang. “Terimakasih, bunda!” Ibra mendekati Katrin kemudian mencium pipi Katrin dan berlari untuk masuk ke dalam kamar menemui teman-temannya.


“Alhamdulilah nak Andi sudah dapat pasangan,” ucap ibu panti memperhatikan Katrin.


“Nak Katrin, Nak Andi sebulan sekali pasti kesini lo? Nak Andi itu donatur tetap untuk panti kami,” jelas ibu panti.


Katrin hanya menganggukan kepalanya. “Maaf bunda, Ibra itu si_apa?” Katrin bertanya dengan malu-malu.


“Ibra?” Ibu panti tersenyum melihat Andi. “Nak Andi tidak menjelaskannya ya?” tanya ibu panti.


“Tidak bu…, aku jelaskan pasti tidak akan percaya pada ku,” ucap Andi sambil mengelus-elus tangan Katrin.


“Nak, Ibra itu dulu anak yang dipekerjakan oleh sindikat pengemis, akan tetapi keberadaan keluarganya tidak jelas. Karena kasihan nak Andi menitipkan di panti ini.” Ibu panti menjelaskan kepada Katrin.


“Jadi Ibra bukan anak kak Andi?” tanya Katrin yang sedikit lega.


“Iya nak, tapi Ibra memang dekat dengan nak Andi dan selalu memanggilnya ayah,” jelas ibu panti yang tertawa melihat tingkah Katrin.


“Dik, aku itu masih perjaka ting ting lo? Masih orsinil,” goda Andi yang disambut dengan cubitan oleh Katrin.


Ibu panti tersenyum bahagia melihat tingkah mereka.


“Nak mari aku tunjukan sesuatu,” ibu panti mengajak Katrin berkeliling panti dan memperkenalkan anak-anak panti.


“Bunda, ayo main bersamaku dan teman-teman.” Ibra menggandeng tangan Katrin dan membaur dengan teman-temannya. Katrin nampak tertawa senang bermain dengan mereka.


Ibu panti mengamati dari balik pintu. “Nak Andi pintar ya, cari calon istri kelihatannya juga sangat menyukai anak-anak,” ucap ibu panti.


“Do’anya bu, semoga aku bisa membimbingnya menjadi yang lebih baik,” ucap Andi kemudian minta ijin bergabung dengan mereka.


Andi dan Katrin bermain dengan anak panti hingga mereka tertidur karena mendengarkan cerita dongeng dari Katrin.


Setelah semuanya tertidur Andi dan Katrin pamit untuk pulang.


“Ibu, kami ijin pulang dulu, untuk kebutuhan yang kurang besok akan aku kirim,” ucap Andi kepada ibu panti dan pengurus panti yang lainnya.


“Hati-hati di jalan nak! Semoga apa yang menjadi harapan nak Andi segera terkabul,” ucap ibu panti mendoakan mereka.


Andi dan Katrin keluar dari panti dengan perasaan yang senang, apalagi Katrin karena semua keraguan tentang Andi sudah sirna. Katrin bergelayut manja dan sesekali kepalanya disandarkan pada bahu Andi.

__ADS_1


💕💕💕Terimakasih para pembaca yang masih setia membaca kisah Andi dan Katrin, jangan lupa komentar, like dan votenya!💕💕💕


__ADS_2