Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Test Calon Ibu Persit


__ADS_3

Katrin dan Andi pergi ke rumah Anita. Anita sudah nampak rapi dan siap dengan baju Persit nya untuk berangkat. “Ayo, Nit kamu segera naik.” Katrin memberi perintah kepada Anita.


“Kak, Andi nanti aku ditinggal saja. Aku pulangnya sama kak Arga, kelihatannya kak Arga acaranya sudah selesai. Dan kalau kalian menunggu nanti kelamaan karena aku sama kak Arga harus menghadap para pejabat di kesatuan tentara,” ucap Anita yang berada di belakang mereka berdua.


“Iya, dik. Aku sama Katrin juga berencana ingin pergi ke kampusnya membayar administrasi untuk KKN. Kamu sudah mengurus administrasinya apa belum? Kalau belum sekalian biar dibayarkan sama kakakmu!” ucap Andi sambil fokus mengemudi.


“Kakakmu? Maksudnya apa kak Andi?” tanya Anita penuh penekanan.


“Ya maksudnya kakak Katrin lah? Sebentar lagi kan kamu nikah sama Arga?” jelas Andi pada Anita yang baginya sangat tabu memanggil kakak untuk sahabatnya.


“Siap kak, aku akan memanggil Katrin dengan sebutan kakak. Kak Katrin sebagai kakak nanti sering-sering ya nganterin adikmu ini, kemanapun aku pergi. Kakak kan harus bertanggungjawab sama keselamatan adiknya,” ucap Anita pada mereka berdua.


“Siap, yang penting adiknya yang keluar bensinnya,” goda Katrin menanggapi usulan Anita.


“Rin itu sama saja bohong dong. Eh kita sudah sampai biar aku telpon kak Arga dulu.” Anita langsung menghubungi Arga. Arga yang selesai rapat langsung menghampiri mereka.


“Kak terimakasih ya sudah mengantar Anita. Untuk selanjutnya Anita jadi tanggungjawab saya. Nanti setelah acara kita ke rumah bunda Clara. Kita ketemu disana ya kak!” Arga membukakan pintu mobil untuk Anita dan menggandengnya masuk ke ruang pimpinannya. Arga dan Anita mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh kesatuan mereka.


Di akhir acara mereka harus menghadap Pangdam beserta istrinya. Ayo dik kamu harus siap ini pertanyaannya sedikit menyulitkan kamu apalagi istri Pangdam ini menakutkan. Tidak jarang calon istri perwira seangkatan aku langsung pingsan dibuatnya. Arga menakut-nakuti Anita, sehingga wajah Anita menjadi pucat menahan takut.


“Kak aku takut dan gugup, gimana nanti kalau aku pingsan?” tanya Anita pada Arga sehingga Arga sedikit menyunggingkan senyumnya menahan geli melihat ulah Anita.


“Tenang dik, kan ada kakak Arga yang siap melindungimu,” ucap Arga sambil membawa masuk Anita. Anita yang ketakutan terus menyembunyikan dirinya di belakang Arga.

__ADS_1


“Pak Arga, jadi ini ya calon istri kamu? istri tentara itu harus berani? Masa begini saja tidak berani, bersembunyi di balik punggung calon suaminya,” ucap pak Pangdam yang tak lain adalah ayah Sandi.


“Kayaknya aku kenal suaranya? Tapi dimana ya?” gumam Anita yang penasaran dengan suara atasan Arga. Anita yang merasa penasaran langsung mendongakkan kepalanya di belakang Arga kemudian Anita terkejut denga napa yang dilhatnya.


“Ayah Sandi dan bunda Clara? Kenapa ayah dan bunda ada di sini?” ucap Anita menatap bingung ayah Sandi dan bunda Clara.


“Nak, kamu tidak tau ya kalau Arga itu bawahan ayah Sandi? Apa Arga tidak memberitahu kamu?” tanya bunda Clara pada Anita yang masih juga belum percaya dengan apa yang dilihatnya.


“Kak Arga curang, kenapa tidak memberitahu aku. Aku kan malu kak, kalau seperti ini.” Anita mencubit pinggang Arga.


“Ya, ini surprice dik, namanya uji nyali. Jadi yang mengetes kamu bunda dik. Bunda pasti akan meloloskan kamu.” Arga mengankat kedua alisnya memberi isyarat kepada bunadanya.


“Tidak bisa, meskipun bunda calon ibu mertua kamu justru bunda harus melakukan tes calon ibu Persit nya sesuai aturan. Nanti bunda tidak ingin dikatakan melunak karena ada hubungan darah.” Ucp bunda Clara pada calon menantunya sekaligus bawahannya di kesatuan ibu persit.


“Anita, apakah kamu siap menjadi seorang istri tentara apalagi perwira di angkataan darat yang sering mendapatkan tugas tanpa mengenal waktu dan tempat ?” tanya bunda Clara pada Anita.


“Bagus, Anita? Apakah kamu siap menjadi calon ibu dari calon cucu-cucu bunda dan mendidiknya menjadi putra dan putri yang bisa diandalkan oleh agama dan negaranya?” tanya bunda Clara yang mulai bertanya di luar koridor pertanyaan antara atasan dan bawahan dalam kesatuan persit.


“Siap bunda, tapi tolong nanti bimbing Anita agar bisa menjadi seorang ibu yang tangguh dalam meenjalankan sebagai ibu dari anak-anakku dan anggota ibu-ibu persit.


“Sayang kamu yang tenang dan jangan tegang. Bunda akan selalu mendukungmu baik lahir maupun batin,” ucap bunda Clara menenangkan calon menantunya.


“Anita, bunda Clara itu jago di segala bidang, di kepengurusan sebagai ibu persit juga jago. Pokoknya bund aitu the best dech. Ayah bisa maju juga tidak lepas dari dorongan bunda Clara.” Ayah Sandi memuji istrinya di depan calon menantu dan anaknya.

__ADS_1


“Ayah jangan begitu, bunda jadi malu. Padahal bunda sebagai istri masih banyak yang kurang, apalagi bunda terkadang masih suka egois,” jelas bunda Clara yang nampak merendah di depan menantunya.


“Tidak kok bunda, bagi ayah bunda wanita yang paling sempurna yang bisa mengisi hati ayah dengan penuh warna sehingga bisa mendidik putra-putra ayah dengan baik.” Ayah Sandi mendekati bunda Clara kemudian mencium keningnya.


“Ayah, romantic banget. Kita yang muda bisa dong belajar kehidupan dengan ayah,” ucap Anita sopan tanpa menghilangakan rasa hormatnya kepada kedua calon mertuanya.


“Sayang, ayah itu memang jago mengambil hati bunda, sehingga bunda nempel terus sama ayah.” Arga memeluk tubuh Anita dengan perasaan sayangnya.


“Jadi kamu kalah jago dong sama ayah?” tanya Anita pada Arga.


“Tidak dong sayang? aku bisa kok buktikan sekarang,” ucap Arga yang tiba-tiba mengecup bibir Anita di depan atasannya sekaligus orangtuanya.


“Pluk…, Dasar bocah gemblung, main sosor saja.” Bunda Clara melempar tisu ke arah putranya.


“Ha…, ha…, bener-bener anak ayah kamu Ar.” Ayah Sandi tertawa lepas melihat kelakuan anaknya yang tidak jauh beda denganya dulu di waktu masih muda.


“La…, Arga kan memang anak ayah, pastilah ini menurun dari ayah,” jawab Arga yang membela dirinya di hadaapan bundanya.


“Bener-bener ayah sama anak sama-sama gemblung dan sedeng. Udah yah loloskan aja cepet nikahkan mereka berdua,” kata bunda Clara sambil bersungut-sugut kesal.


“Alhamdulilah bunda, aku sudah dapat SIM…(Surat Izin Menikah).” Arga langsung menghampiri bundanya dan mengangkat bundanya kemudian diciumnya pipi bundanya.


“Astaga, Arga kamu tidak malu apa sama calon istri kamu? ayo turunkan bunda ya?” teriak bunda Clara sambil mencubit pinggang putranya. Ayah Sandi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah bunda dan putranya.

__ADS_1


“Sayang, ayo kita pulang. Andi dan Katrin sudah ada di rumah menunggu kit berdua.


Maaf para pembaca karena baru bisa update episode. Mari kita simak episode selanjutny dan jangan lupa kasih komentar, like dan votenya!


__ADS_2