Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Sun Set


__ADS_3

Pantai Parangtritis merupakan pantai yang terindah di Jogja. Mereka berjalan menelusuri keindahan pantai sambil menunggu sunset.


Andi mengandeng mesra Katrin, sama halnya Tora yang tak mau kalah dengan Andi. Tora menggandeng mesra Widya.


“Kak, ayo naik ATV, pasti seru.” Katrin menarik tangan Andi. Andi mengikuti Katrin untuk naik ATV.


“Bang ini aku yang pegang kemudi bisa?” tanya Andi pada tukang sewa ATV.


“Bisa, silahkan!” kata tukang sewa ATV berniat membantu Katrin untuk naik.


“Biar aku sendiri saja bang, yang bantu.” Andi memasang wajah masam. Andi naik terlebih dahulu baru disusul Katrin yang dibantu Andi.


“Kak, ayo jalan kita ke ujung sana.” Katrin menunjuk ke arah barat pantai dan memegangi pinggang Andi. Mereka nampak mesra dan semua orang iri melihatnya.


“Iya sayang, kamu berpegangan lo sama kakak.” Andi menarik gas ATV agak kencang. Rambut Katrin melambai-lambai terurai indah ditiup angin pantai.


“Sayang kita berhenti dulu disini, pemandangannya bagus,” ucap Katrin menepuk bahu Andi.


“Sebentar sayang!” Andi mematikan mesin ATV. Andi turun duluan dan bermaksud mengangkat tubuh Katrin, karena kurang keseimbangan mereka terjatuh. Tubuh Katrin menindih tubuh Andi, bibirnya menyentuh bibir Andi. Nafas Andi begitu memburu karena merasakan sensasi yang luar biasa. Harum wewangian rambut Katrin membuat Andi lepas kendali. Andi mengecup bibir Katrin yang merah dan seksi.


“Hoi..., kalian itu ya? Halal kan dulu baru nyosor,” teriak Tora yang baru muncul dengan Widya mengendarai ATV.


“Bener-bener ganggu orang saja. Tidak suka melihat orang senang.” Andi bangkit membantu Katrin berdiri dan membersihkan bajunya.


“Sial sekali aku, punya calon kakak ipar galak banget," Andi memandang Tora dengan sorotan mata yang tajam.


“Awas ya kau ulangi lagi?” Tora mengepalkan tangannya diarahkan ke Andi.


“Iya…, galak banget bang. Kayak nggak pernah pacaran saja,” gerutu Andi kemudian menarik tangan Katrin menjauhi kakaknya.


“Lo, mau kemana lagi?” tanya Widya yang juga over protektif terhadap adik iparnya.


“Kesitu…!” Andi menunjukan sebuah tempat. “Lihat pemandangannya bagus, sun setnya sudah mulai nampak.” Andi duduk di atas tikar yang disewakan, sambil memeluk pinggang Katrin.


“Sayang aku suka, cahaya matahari di sore hari, apalagi kalau dinikmati di pinggir pantai bagus sekali,” ucap Katrin senang.


“Iya sayangku, sebentar lagi matahari akan tenggelam dan digantikan cahaya rembulan di malam hari,” bisik Andi di telinga Katrin.


“Memang kenapa sayang? Itu memang keindahan alam semesta yang tiada duanya,” jawab Katrin menyandarkan kepalanya di bahu Andi.


“Ya, bulan dan matahari sama-sama indah. Mereka memiliki cahaya yang indah, seindah cahaya cintaku ke kamu dik,” ucap Andi berusaha merayu Katrin.


“Sayang, kau gombal banget.” Katrin mencubit pinggang Andi.


“Itu bener lo sayang, ta_pi…?” Andi nampak berpikir sesaat.


“Tapi kenapa sayang?” Katrin penasaran dengan ucapan Andi yang tidak diteruskan.

__ADS_1


“Tapi kalau kamu jadi matahari, aku gak mau jadi bulannya,” ucap Andi sambil membetulkan rambut Katrin yang mengenai wajahnya.


“Kenapa sayang…?” kata Katrin memandangi Andi.


“Karena aku gak bisa jauh-jauh dari kamu!” Andi merangkai kata-kata yang membuat Katrin tersenyum bahagia.


“Sayang, aku semakin sayang sama kamu,” Katrin mencium pipi Andi.


“Apalagi aku sayang, aku begitu mencintaimu, berjanjilah apapun yang terjadi kamu jangan tinggalkan aku ya?” Andi membaringkan tubuhnya di pangkuan Katrin.


Katrin menganggukan kepalanya memberi tanda setuju. “Ayo kita kembali kak, kakak Tora pasti sedang menunggu kita.” Katrin berdiri dari tempat duduknya.


Andi membayar sewa tikar dan beranjak pergi menuju APV dan kembali ke tempat semula.


“Ayo pulang, keburu gelap.” Tora berteriak pada Andi dan Katrin.


“Kuncinya mana? biar aku yang pegang kemudi,” ucap Tora kembali.


"Aku dan Katrin duduk di belakang ya? Wah, terimaksih banget kakak ipar!” ucap Andi senang karena dirinya berharap akan bermesra-mesaran dengan Katrin.


“Buang pikiran mesummu, kamu duduk di depan sama aku.” Tora langsung menyalakan mobilnya diikuti Andi duduk disampingnya.


“Bener-bener kau calon kakak ipar yang tidak berperasaan.” Andi ngomel-ngomel tidak jelas.


Katrin dan Widya duduk di belakang. Tiba-tiba mereka di kejutkan dengan bunyi perut Katrin yang lapar.


“Iya kita makan di resturan seafood langganan kakak.” Tora melajukan kendaraannya.


Andi nampak diam karena kesal.


“Sariawan ya?” tanya Tora berusaha mencairkan suasana.


“Nggak tapi lagi malas,” ucap Andi sambil membuang mukanya melihat pemandangan di luar candela.


“Santai bro, aku sebagai kakak Katrin, berharap kalian bisa menjaga diri sampai nanti di jenjang pernikahan.” Tora melirik Andi teman sekaligus calon adik iparnya.


“Iya…, aku paham. Aku akan menunggu saatnya tiba bro, percayalah pada ku?" Andi berusaha menyakinkan Tora.


“Ok, segera nikahi adikku!” perintah Tora pada Andi.


“Kalian itu yah, tidak tahu tempat. Bahas hal penting begini, kalau sudah sampai rumah,” ucap Widya kesal.


“Apan sih kak, tidak bunda, kalian, mem soal nikah melulu. Aku belum mau nikah,” ucap Katrin kesal.


“Diam dik, kamu perempuan jadi untuk jaga kehormatanmu kamu harus segera menikah,” ucap Tora tegas.


“Setuju, aku dan keluargaku sudah siap meminang kamu dik.” Andi mengacungkan jempol ke Tora.

__ADS_1


Tora mengarahkan mobilnya ke arah restaurant yang biasa jadi langganannya. Mereka turun dari mobil dengan Katrin wajahnya nampak murung karena kesal.


“Bruk…,” Katrin menabrak seseorang.


“Mbak kalau jalan lihat-lihat!” seru sesorang pemuda yang memegangi lengan Katrin agar tidak jatuh.


“Hai…Katrin, kau Katrin Sanjaya kan?” ucap pemuda itu.


“Yoga Permana?” ucap Katrin terkejut. “Gimanan kabar?” ucap mereka bersamaan.


“Aku baik, aku meneruskan studiku di Jogja, kamu bagaimana?” ucap Yoga yang tak lepas memandangi wajah cantik Katrin.


“Aku kuliah universitas di tempat kita tinggal,” ucap Katrin nampak senang ketemu dengan Yoga. Andi yang menyadari Katrin tidak berjalan mengikuti nya lagi, Andi langsung berbalik menghampiri Katrin.


“Maaf perkenalkan, calon suaminya Katrin.” Andi dengan sigap mengulurkan tangnnya dan berjabat tangan dengan Yoga Permana.


“Katrin sudah punya calon suami ya?" ucap Yoga berharap Katrin bilang tidak pada dirinya.


“Iya…, kenalkan calon suamiku?” ucap Katrin bingung.


“Ini kalau nggak segera diajak pergi bakalan ribut dong,” gumam Katrin dalam hatinya.


“Yoga aku permisi dulu,” Katrin mengajak Andi pergi meninggalkan Yoga. Sebelum pergi Yoga menarik tangan Katrin dan menuliskan no ponselnya dengan spidol yang dia bawa.


“Hai bocah, nekad betul kamu!” Andi memelototi Yoga.


“Apaan sih kak, cuman kasih no ponsel saja kok ribut," ucap Katrin kesal karena malu.


"Rin..., ingat calling aku, ya?" Yoga memberi isyarat kepada Katrin.


“Awas ya, jangan macam-macam dengan calon istriku.” Andi mengancam Yoga.


“Sayang, jangan buat malu, Yoga itu hanya temenku waktu SMA dulu.” Katrin meninggalkan mereka berdua dengan wajah kesal.


“Sayang, tunggu kakak!” Andi mengejar Katrin hingga sampai meja makan tempat Tora dan Widya.


“Tadi mesra, sekarang berantem, benar-benar pasangan aneh.” Widya mengomentari mereka.


“Tuh si Arogan masa cemburunya selangit!” ucap Katrin menghempaskan dirinya duduk di dekat Widya.


“Kamu sih dik terlalu dekat dengan temenmu. Maklum si bujang lapuk cemburu dik, apalagi temenmu cakep!” ucap Tora membuat suasana semakin panas.


“Bro jagalah mulut kamu itu, mau aku kasih sambal? biar tahu rasa!” Andi bertambah kesal dengan ocehan Tora.


“Sudah jangan ribut lagi, mari makan!” ajak Widya mencairkan suasana. Mereka pun akhirnya menghabiskan makanan yang mereka pesan dan selanjutnya pulang ke rumah.


💕💕💕💕

__ADS_1


Terimakasih para pembaca, silahkan kasih komen, like dan votenya? Itulah keseruan Andi dan calon kakak iparnya.💕💕💕💕


__ADS_2