
Setelah mendengar cerita dari Doni, Katrin merasa sedikit lega, setidaknya kasus Andi sudah mendapatkan titik terang.
“Nit, kamu tidak usah pulang, kita berangkat dari sini saja. Kamu bisa pakai baju aku,” ucap Anita merebahkan diri di ranjangnya.
“Kira-kira apa ya motif pelayan itu.” Anita menyusul merebahkan dirinya di samping Katrin.
“Entahlah, yang terpenting kak Andi tidak bersalah.” Katrin bernafas lega.
Karena semalaman tidak tidur, mereka terlelap hingga waktu menunjukan pukul 8.30 wib.
“Tok…,Tok…, nak Katrin di luar ditunggu nak Doni,” ucap mbok Minah sambil terus mengetuk pintu kamar Katrin.
“Iya mbok, suruh nunggu sebentar,” teriak Katrin dari kamarnya. Katrin kemudian bangkit dari tidurnya dan membangunkan Anita.
“Nit, ayo bangun, untuk mempercepat waktu kamu mandi di kamar tamu saja,” jelas Katrin sambil berlari ke kamar mandi.
Anita mandi di kamar tamu. Kemudian mereka berangkat menjemput Arga di rumah sakit untuk selanjutnya pergi menemui Andi.
“Kak Doni, kita mampir beli makanan kesukaan kak Andi dulu ya?” ucap Katrin sambil menyenggol bahu Doni dari belakang.
“Kak Katrin memangnya tahu makanan kesukaan kakak,” tanya Arga dari bangku depan mobil.
“Tahu lah, aku sama kakak kamu sering diajak makan di restauran favoritnya,” jelas Katrin yang nampak senang karena mau bertemu Andi.
“Wah, kayaknya ada yang seneng nih mau ketemu kekasih hatinya,” goda Anita sambil menaik turunkan alisnya.
“Ya, i_yalah, kan sebentar lagi kak Andi bebas?” ucap Katrin santai.
“Mbak Katrin, kita sudah sampai restoran, silakan untuk memesan makanan. Kita tunggu di mobil saja.” Doni membukakan pintu untuk Katrin dan Anita.
Katrin bersama Anita masuk ke dalam untuk memesan makanan. Setelah memesan makanan Katrin berniat untuk menunggu di salah satu kursi dekat kasir, akan tetapi bola matanya menangkap Indah yang bercakap-cakap dengan seseorang.
“Itu yang bersama Indah, siapa ya? Sepertinya aku mengenalnya? Tapi dimana?” gumam Katrin sambil berpikir sejenak.
“Nit, kamu mengenal orang yang dipojokan itu tidak?” tanya Katrin pada Indah sambil menutupi mukanya dengan buku menu yang ada di meja.
“In_dah dan…, astaga…, itu pelayan café kak Andi.” Anita berbisik dengan Katrin.
“Kamu tunggu di situ aku mau melakukan sesuatu.” Katrin pergi menemui pelayan restoran.
“Mbak, tolong nanti saat mengantar makanan tolong rekam pembicaraan mereka.” Katrin berbisik kepada pelayan restoran.
“Tapi mbak saya tidak berani, nanti saya dipecat mbak karena membuat pengunjung tidak nyaman,” ucap pelayan restoran lirih.
__ADS_1
“Jangan kuatir aku yang bertanggung jawab.” Katrin mengeluarkan beberapa lembar uang dan diberikan ke pelayan tadi.
“Baiklah mbak.” Pelayan restoran menyalakan alat rekam dalam ponsel Katrin kemudian berjalan ke arah Indah.
“Maaf mbak ini makanannya.” Pelayan restoran menyajikan makanannya secara berlahan sambil merekam pembicaraan mereka.
“Mas, terimakasih. Berkat kamu Andi masuk penjara. Dan akan aku pastikan dia akan membusuk di penjara,” ucap Indah kejam.
“Mbak, mana bayaran aku. Kemarin baru kamu transfer setengah,” ucap pelayan café meminta imbalannya dari Indah.
“Tenang aku akan mengirimkannya nanti.” Indah mulai menyantap makanannya. Dan pelayan restoran pergi meninggalkan mereka dan kembali menghampiri Katrin.
“Mbak, maaf ini rekamannya.” Pelayan restoran menyerahkan hasil rekamannya ke Katrin.
Katrin mengambil ponselnya dan tidak lupa dia memotret Indah dan pelayan café Andi. Kemudian Katrin hendak melangkah menghampiri mereka. “Rin, apa yang akan kamu lakukan!” Anita menarik tangan Katrin agar Katrin tidak berbuat ceroboh.
“Aku akan menghabisi mereka,” Katrin melepaskan tangannya dari cengkraman Anita.
“Astaga, nekad betul dia.” Anita memukul keningnya dan berlari memanggil Arga dan Doni di parkiran.
“Kak Arga…, kak Doni…, Ka_trin… membuat kekacauan,” ucap Anita tersengal-sengal setelah berlarian. Arga dan Doni menghampiri Anita dan mengikutinya masuk ke restoran.
Di dalam restoran Katrin langsung menggebrak meja Indah dan pelayan café Andi.
“Hai…, ada apa dengan kamu gadis ingusan!” ucap Indah kesal.
“Dasar wanita murahan! Bener-bener kejam dan tidak bermoral.” Katrin kembali memaki Indah.
“Dengar gadis ingusan, bagaimanapun aku tidak akan melepaskan kak Andi. Kalau tidak bisa bersamanya, aku tak akan membiarkan hidup kalian bahagia.” Indah semakin berani menghampiri Katrin dan hendak menyerang Katrin.
“O…, jadi benar kamu yang menjebak kak Andi.” Katrin berusaha mengelak dari serangan Indah.
“I_ya, memangnya kamu punya bukti.” Indah menjambak Katrin. Katrin menendang Indah sekuat tenaga hingga Indah terhuyung-huyung hingga jatuh.
Tiba-tiba pelayan café Andi berusaha menyerang Katrin, dengan kemampuan bela dirinya Katrin bisa menghindari serangan pelayan tadi. Kemudian Katrin menangkap Indah.
“Damar…, Apa yang kamu lakukan,” ucap Doni menghampiri Damar.
“Maafkan saya pak Doni, jangan penjarakan saya.” Damar menghentikan serangannya terhadap Katrin, kemudian berlutut meminta ampun kepada Doni.
“Damar, begitukah balasan mu terhadap pak Andi?” Doni memukul Damar sekuat tenaga hingga bibirnya mengeluarkan darah.
“Dan kau Indah, jangan harap kali ini kamu akan terbebas dari penjara,” ancam Doni sambil menunjuk Indah. Semua orang melihat ke arah Indah sehingga dimanfaatkan oleh Damar untuk melarikan diri.
__ADS_1
“Bruk…,” Damar terjatuh karena Arga segera mengarahkan kakinya untuk menghadang damar.
“Jangan harap kamu bisa pergi dari sini, Damar.” Arga membekuk Damar.
“Ampun, pak Arga. Aku hanya di suruh oleh mbak Indah.” Damar nampak ketakutan.
“Anita cepet kamu telepon pak polisi,” perintah Arga sambil memegangi tangan Damar.
“Iya kak.” Anita memencet tombol darurat di ponselnya untuk memanggil polisi.
Setelah beberapa menit kemudian polisi datang menangkap Indah dan Damar pelayan cafenya Andi.
“Aku tidak akan menyerah Katrin. Kamu tunggu pembalasanku.” Indah meronta-ronta ingin melepaskan dirinya dari borgol pak polisi.
“Jangan harap Kak, kamu bisa bebas kali ini. Dulu kamu bisa bebas karena aku kasihan sama kamu. Tapi tidak untuk kali ini.” Katrin tersenyum sinis memandang Indah.
“Iya kita jangan kasih kesempatan untuk orang-orang seperti itu.” Anita berbicara sambil menggandeng Katrin untuk keluar restoran.
“Tunggu pak polisi. Saya punya bukti kejahatan Indah dengan pelayan café ini.” Katrin menghampiri salah satu pak polisi dan mengirimkan foto dan hasil rekamannya tadi.
“Terimakasih mbak, nanti akan segera saya proses,” ucap pak polisi tadi dan kembali menuju mobilnya.
“Mbak terimakasih atas bantuannya.” Katrin menghampiri pelayan restoran yang membantunya.
“Sama-sama mbak, yang sering makan disini mbak,” ucap pelayan restoran dengan ramah.
“Ok.” Katrin bersama Anita, Doni dan Arga keluar dari restoran.
“Kayaknya cinta itu bisa merubah pribadi seseorang deh?” sindir Anita untuk Katrin.
“Memangnya kenapa dik?” Arga menimpali perkataan Anita.
“Tahu nggak, sayang…? Seorang Katrin Sanjaya gadis yang polos dan kalem, hanya karena cinta, tiba-tiba seperti macan kelaparan yang menyerang musuhnya,” ejek Anita sambil berjalan menuju mobil yang di parkiran.
“Apa an sih kamu Nit?” Katrin menonjok lengan Anita.
“Mbak Katrin hebat,” puji Doni sambil mengacungkan jempolnya. “Pantas Doni klepek-klepek jatuh cinta sama mbak Katrin.”
“Sudahlah ayo kita segera pergi dari sini. Waktu kita tertunda hampir satu jam.” Arga memotong pembicaraan mereka.
Mereka pun meninggalkan restoran dan melajukan mobilnya untuk menjenguk Andi. Karena bukti Andi tidak bersalah kemungkinan besar Andi akan terbebas.
💪💪❤️❤️Terimakasih, para pembaca yang setia, semakin seru ya cerianya? tolong beri komentar, like dan votenya! ❤️❤️❤️
__ADS_1