
Keluarga Katrin telah disibukan dengan persiapan untuk pernikahan besok. Semua peralatan dan perlengkapan untuk keperluan acara ijab syah telah dipasang dengan baik.
Tora yang sudah sampai di rumah membantu memeriksa semua perlengkapan dan peralatan yang sudah dipasang oleh pihak Wedding Organizer. Tora menginginkan pernikahan adiknya satu-satunya berjalan dengan baik dan meriah.
“Sayang, bagaimana pendapatmu? Sudah bagus kan?” tanya Tora kepada Widya istrinya.
“Sudah, kok sayang, semuanya nampak bagus dan mewah sesuai selera Katrin,” ucap Widya yang duduk disamping suaminya sambil mengamati semua dekorasi yang ada di ruangan.
“Tidak aku sangka adikku yang manja sudah ketemu jodohnya. Mudah-mudahan Andi bisa menjaga dan menyayanginya dengan baik ya?” Tora menghela nafasnya dalam-dalam seolah ada keraguan di dalam dirinya.
“Sayang, kamu meragukan Andi ya?” tanya Widya cemas yang melihat kegundahan hati suaminya.
“Tidak aku tidak meragukannya, tapi sikap Katrin itu terlalu kekanak-kanakan, bahkan terkadang di luar batas wajar dik.” Tora mengenang saat ayahnya masih ada, Katrin selalu dimanjakan oleh ayahnya. Bahkan tidur pun terkadang masih mengikuti ayah dan bundanya di kamar.
“Nak, percayalah Andi bisa membimbing adikmu dengan baik. Dan aku melihat Andi tulus menyayanginya terkadang sikapnya itu terlalu memanjakannya.” Bunda Ajeng tiba-tiba muncul dihadapannya dan ikut menyambung pembicaraan mereka.
“Iya bunda. Kami sudah berteman akrap dengan Andi dan karakternya cukup baik dan dia tidak pernah menyakiti temennya,” kata Widya yang membenarkan apa yang diucapkan oleh ibu mertuanya.
“Gimana nak semua persiapan untuk kegiatan besok sudah siap?” bunda Ajeng menanyakan kepada Tora dengan harapan acaranya besok berjalan lancar.
“Siap bunda, semuanya disiapkan dengan baik. Wedding Organizer yang bunda Clara rekom memang kinerjanya bagus.” Tora menyakinkan bundanya.
“Trimakasih ya nak, karena ayahmu sudah pergi semua tanggungjawab ayahmu kamu yang melaksanakan, termasuk menikahkan Adikmu!” Bunda Ajeng matanya nampak berkaca-kaca mengingat dan mengenang almarhum suaminya.
“Bunda jangan bersedih, kasihan dik Katrin nanti kalau melihat kesedihan bunda,” ucap Tora sambil mengelus-elus bahu budanya.
__ADS_1
“Iya bunda, ayah sudah tenang di surga. Dan tentu ayah akan senang dengan kebahagiaan putri satu-satunya. Sudahlah bunda mari istirahat dulu.” Widya menggandeng bunda Widya memasuki kamarnya, sedangkan Tora berjalan menemui saudara-saudaranya yang sudah hadir di rumah bunda Ajeng.
Sementara itu Katrin berada di kamar bersama Anita dan Dewi. Mereka sengaja bertemu untuk melepas masa lajang Katrin. Mereka bertiga berbincang bersama-sama di kamar Katrin.
“Rin, gimana perasaan kamu?” tanya Dewi yang berbaring di sebelah kanan Katrin.
“Ya biasa saja. Tapi mendekati hari H, aku semakin berdebar-debar. Aku takut katanya malam pertama itu sakit,” ucap Katrin sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya.
“Tapi kata orang yang sudah melakukannya sakit membawa kenikmatan.” Anita menimpali percakapan mereka.
“Sok tahu kamu Nit,” balas Katrin dengan membayangkan malam pertamanya dia merasa ketakutan. “Apalagi tubuh kak Andi yang Atletis dan selalu menjaga staminanya, Ah…, pasti akan sering minta jatah,” gumam Katrin Lirih.
“Sudahlah Rin, kamu jangan membayangkan yang aneh-aneh, yang terpenting acara untuk besok lancar,” ucap Anita yang mengerti akan kegalauan hati sahabatnya.
“Iya, Rin. Sekarang lebih baik kamu jaga stamina kamu, biar besok kamu siap menghadapi malam pertama kamu,” sambung Dewi untuk menguatkan sahabatnya.
“Masa sih, Nit mertua kamu segitu perhatiannya?” tanya Dewi penasaran.
“Tau lah bunda Clara orangnya sangat mengagumi warisan leleuhurnya, dan memang sih ramuannya leluhurnya kelihatannya bagus untuk merawat kecantikan dan organ intim wanita. Buktinya bunda Clara masih kelihatan cantik dan seksi.” Katrin bersemangat cerita tentang ibu mertuanya.
“Iya, kelihatan banget kok. Bunda Clara kalau berjalan dengan kedua putranya kelihatan kayak adik kakak,” ucap Anita ikut memuji bunda Clara.
“Dan bunda Clara itu orang e gaul habis, tau apa yang menjadi trend anak muda sekarang,” sambung Katrin kembali memuji bunda Clara.
“Wah kalian beruntuang ya, punya calon mertua yang mengerti trand jaman sekarang dan keliahatan banget kalau bunda Clara menyanyangi kalian.” Dewi nampak iri dengan kedua sahabatnya, sedangkan hubungan dirinya dengan Toni masih bermasalah dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Sabar ya, aku yakin bunda kak Toni pasti akan menyanyangimu, karena kak Toni putra satu-satunya,” ucap Katrin yang selalu mendapatkan cerita tentang Toni dari Andi. Katrin dan Anita menguatkan hati Dewi.
Merekapun berhenti berbincang-bincang dan sibuk dengan pikiran masing-masing.Tak berapa lama Widya datang ke kamar Katrin dengan perut yang sudah mulai membesar. Widya langsung duduk di sofa kamar Katrin. Mereka bertiga bangkit dari tidurnya dan menghampiri Widya yang duduk di sofa melihat acara televisi.
“Kak, dedek bayi sudah mulai besar ya, sebentar lagi akan lahir ya?” tanya Katrin sambil mengelus perut kakak iparnya, adik bayi yang ada di perut Widya bergerak menendang-nendang.
“Iya, sebentar lagi kakak akan melahirkan dik. Perkiraan dokter bulan depan dik,” ucap Widya mengelus-elus perutnya.
“Kak, aku takut. Katanya malam pertama itu sakit ya?” tanya Katrin tiba-tiba kepada kakak iparnya. Widya ketawa melihat pertanyaan polos dari adik iparnya.
“Dik kakak tidak bisa cerita, tapi nanti kamu akan merasakan sendiri. Tabu dik! Yang jelas kelak semua pasangan suami istri besok akan mengalaminya. Setelah menikah.” Widya bangkit dari duduknya kemudian menyuruh mereka untuk tidur karena besok pagi harus segera di rias.
“Ta_pi kak, aku juga ingin tahu dari kakak yang sudah mengalaminya.” Katrin juga ikut berdiri dan mengikuti Widya yang sedang berjalan hendak ke luar kamar. Widya yang merasa kasihan kepada Katrin berbalik kembali duduk di sofa kamar Katrin kemudian menjelaskan tentang malam pertama.
“Wah, berarti kak Tora dalam semalam bisa berapa ronde kak?” tanya Katrin, yang sangat antusias karena rasa ingin tahunya yang besar.
“Tidak pasti dong dik. Kakakmu itu kalau ada maunya gak bisa di rem dik. Bahkan kakak seharian harus melayaninya. Sampai-sampai makan pun kita pakai jasa gofood.” Cerita Widya yang di dengarkan oleh mereka bertiga. Katrin dan temen-temenya menutup mulutnya dengan tangannya karena terkejut dengan penuturan Widya.
“Astga, kakak tidak sakit melayani kak Tora seperti itu?” tanya Katrin kembali dengan rasa penasarannya.
“Tidak dik, tapi justru enak dan suka,” ucap Widya yang terkekeh melihat Katrin dan temen-temenya tidak percaya dengan penuturannya. “Besok, kalau sudah ijabsyah kamu bisa mencobanya,” goda Widya.
“Dan satu lagi dik, cowok kalau sudah begitu biasaya merupakan candu baginya. Jadi kita sebagai cewek harus siap melayani, kecuali karena ada halangan.” Widya menjelsakannya kepada Katrin dan kedua sahabatnya.
“Begitu ya kak, terimakasih penjelasannya kak.” Katrin mencium pipi Widya dan berlanjut mencium perut Widya.
__ADS_1
“Ayo kalian istirahat dulu, besok kita harus di rias, dan kamu Katrin harus siap stamina. Besok acaranya sangat padat.” Widya menasehati mereka dan beranjak keluar kamar Katrin menuju kamarnya. Tak berapa lama mereka bertiga sudah terlelap dalam pesona mimpinya masing-masing.
🍁🍁🍁Terimakasih para pembaca setia yang telah membaca dan jadi penggemar setia, untuk menambah semangat update episode selanjutnya, jangan lupa kasih komentar, like dan votenya!🍁🍁🍁