Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Ungkapan Hati Leo


__ADS_3

Andi mengantarkan Katrin pulang kerumahnya. Mobil Andi telah sampai di halaman rumah Katrin. Andi membukakan pintu mobil untuk Katrin.


“Ayo sayang, kita sudah sampai.” Andi mengusap pipi Katrin agar terbangun dari tidurnya, tapi Katrin tidak kunjung bangun bahkan kelihatan begitu nyenyak. Andi yang tidak tega menggendong Katrin menuju rumahnya.


“Mbok tolong bukakan pintu kamar Katrin,” ucap Andi pada mbok Minah yang membukakan pintu rumah.


“Baik nak.” Mbok Minah mendahului Andi dan membukakan pintu kamar Katrin.


“Maaf ya nak, nak Katrin merepotkan mu!” ucap mbok Minah sambil merapikan tempat tidur Katrin.


“Tidak kok mbok, aku tidak merasa direpotkan.” Andi membaringkan Katrin di tempat tidurnya dan menyelimutinya.


“Mbok, aku pamit dulu ya.” Andi mencium kening Katrin kemudian pergi meninggalkan Katrin.


“Iya, nak hati-hati di jalan!” ucap mbok Minah sambil menutup pintu kamar Katrin.


Andi menuruni anak tangga untuk keluar dari kamar Katrin diikuti mbok Minah.


“Ada nak Andi to?” sapa bunda Ajeng yang baru pulang dari butiknya.


“Iya bunda, maaf aku dari kamar Katrin mengantarkan dia tertidur di mobil,” jelas Andi pada bunda Ajeng.


“Maaf ya nak? Memang begitu Katrin kalau sudah tertidur sangat sulit dibangunkan,” jelas bunda Ajeng. “Mbok ambilkan minum untuk nak Andi!” perintah bunda Ajeng sambil mempersilahkan Andi duduk di kursi tamu.


“Maaf bunda, aku buru-buru untuk pulang, ada sesuatu yang harus aku kerjakan.” Andi menolak secara halus agar tidak menyinggung perasaan bunda Ajeng.


“Sebentar saja nak. Ada sesuatu yang harus bunda sampaikan.” Bunda Ajeng duduk berhadapan dengan Andi.


“Nak, bagaimana keadaan bunda Clara sekarang? Sampaikan salamku ke bunda Clara!” perintah bunda Ajeng.


“Alhamdulilah sudah sehat bunda,” jelas Andi kepada bunda Clara.


“Alhamdulilah semoga tetap terus sehat. Sampaikan salam bunda ya?”


“Iya bunda, saya permisi dulu!” Andi mencium punggung tangan bunda Ajeng kemudian pergi meniggalkan rumah bunda Ajeng.


Andi menyalakan mobilnya menuju café, sekaligus mau memeriksa keadaan café.

__ADS_1


“Sore bos, tumben sore-sore datang kesini?” sapa Doni menyambut kehadiran bosnya.


“Iya, ini tadi sekalian ngantar calon nyonya Andi pulang,” ucap Andi masuk ke dalam ruagannya.


“Wah bakalan ada yang segera meried nih?” Goda Doni sambil menyerahkan surat ke Andi.


“Ini Bo, kemarin ada surat panggilan dari kantor polisi untuk datang ke sidang pertama Indah,” kata Doni kemudian duduk di kursi berhadapan dengan Andi.


“Bos informasi dari pihak yang berwajib, kasus Indah ini sangat berat, ternyata Indah terlibat sebagai pengedar narkoba,” jelas Doni.


“Iya, kemarin temenku yang ada di kepolisian memberitahuku. Indah paling sedikit akan mendapat hukuman 5 tahun penjara dan paling berat mendapat hukuman mati.” Andi menarik nafas terasa berat mengucapkannya karena bagaimanapun Indah pernah mengisi hatinya di saat mereka masih bersama.


“Kasihan ya bos? mbak Indahnya cantik-cantik masuk penjara,” ucap Doni merasa iba dengan nasib Indah.


“Don semua laporan pendapatan café bulan ini sudah kamu rekap belum?” Andi mengalihkan pembicaraan.


“Sudah bos, aku taruh di laci dengan map biru.” Doni bergegas mencari berkas di almari belakang Andi.


“Ok, kamu taruh di meja, aku mau mandi dulu.” Andi bergegas ke kamar mandi dan menunaikan sholat Magrip.


“Bos, ada Leo menunggu di luar.” Doni masuk ke ruangannya memberitahu Andi.


“Ok, suruh saja masuk kesini! Dan tolong buatkan minuman dan makanan!” perintah Andi sambil memeriksa berkasnya.


“Selamat malam bro.” Leo masuk ke ruangannya di antar oleh Doni.


“Malam, gimana kabar bro? lama kita tidak pernah ngobrol bareng.” Andi memeluk Leo menunjukan rasa hormat karena bertemu dengan temen lamanya.


“Alhamdulilah aku baik-baik saja. Maaf aku mengganngu waktumu,” ucap Leo kemudian melepaskan pelukannya Andi.


“Ayo duduk, tumben kamu ingin menemuiku.” Andi menghempaskan dirinya duduk di sofa berdampingan dengan Leo.


“Ini undangan pernikahan aku dan Sandra. Aku ingin kamu datang bersama Katrin,” ucap Leo memohon kepada Andi.


“Maaf, aku tidak bisa janji, aku tidak ingin membuat dirinya di maki oleh Sandra. Kamu kan tahu Sandra sikapnya begitu sangat membenci Katrin.” Andi menghela nafasnya.


“Iya, aku tahu, sejahat apapun Sandra sekarang dia calon dari anakku, aku tidak bisa berbuat apapun untuk menyadarkannya agar tidak membenci Katrin.” Leo menahan sesak di dadanya karena penyesalannya.

__ADS_1


“Besok aku coba membujuknya! Katrin itu sangat keras kepala, susah utnuk membujuknya!” kata Andi berusaha selunak mungkin terhadap Leo.


“Gila apa? Mana bisa aku mengajak Katrin ke pernikahan kamu!” gumam Andi dalam hatinya dia tidak akan merelakan hal itu terjadi pada Katrin.


“Terimakasih, aku ingin sekali bertemu dengan Katrin empat mata denganya, sebelum aku menikah. Aku sudah berkali-kali menghubunginya lewat ponsel tapi sangfat sulit sekali,” ucap Leo terang-terangan di hadpan Andi.


“Apa kamu sudah gila? Kamu minta bertemu dengan Katrin? Kamu mau apa, Leo?” Andi nampak murka dihadapan Leo.


“Tunggu dulu kamu jangan salah paham padauk. Aku hanya meminta maaf padanya, karena aku telah melibatkan dirinya dan Sandra dalam suatu hubungan yang sangat rumit.” Leo mendesah penuh penyesalan.


“Sudahlah Leo, aku rasa Katrin sudah memaafkanmu. Aku yakin itu, bagaimanapun sekarang dia sudah bersamaku,” ucap Andi percaya diri di hadapan Leo.


“Aku tahu itu, tapi aku ingin bertemu secara langsung dengannya, kumohon ijinkanlah aku.” Leo memohon kepada andi dengan tulus.


“Iya nanti akan aku sampaikan. Ayo kamu makan dulu! Don ayo kamu bergabung juga dengan kami.”


Mereka bertiga makan makanan yang telah dihidangkan oleh pelayan café, setelah selesai makan mereka bertiga bermain catur di ruangan Andi.


“An, kumohon kamu jaga Katrin dengan baik ya? Kamu jangan menyia-nyiakan hidupnya. Katrin sangat peka dan halus perasaanya.” Leo memohon kepada Andi.


“Tentu aku akan sangat menjaganya, karena aku sangat mencintainya, melebihi cintamu terhadapnya,” ucap Andi sambil melirik Leo.


“Berjanjilah kamu jangan menyakiti dia! Aku menyesal telah menduakannya dengan sahabatnya” ucap Leo sambil mengulurkan tangannya ke Andi utnuk saling berjabat tangan.


“Wah, pak Leo, apa hak anda? Kenapa kamu menyuruh pak Andi berjanji segala!” Doni kesal membela bosnya.


“Sudahlah Don, kamu jangan memperkeruh keadaan. Pak Leo tidak akan macam-macam kok,” Andi menenangkan Doni.


“Gimana An, kamu bisa kan berjanji untuk tidak menyakitinya dan selalu membuatnya bahagia.” Leo kembali memohon kepada Andi tanpa ada perasaan sama sekali.


“Ok, aku janji akan membahagiakannya, tanpa kamu suruh pun aku akan berusaha dengan sekuat tenagaku untuk selalu membuat dia bahagia.


“Ok, terimakasih. Aku ingin kita tetap bersahabat seperti dulu sewaktu masih sekolah. Tolong jangan jahui aku walau dulu aku pernah menjalin hubungan dengan Katrin,” ucap Leo pamitan untuk pulang.


“Iya…, kita akan tetap menjadi sahabatmu. Ingat janganlah kamu mengulangi kesalahan yang sama. Sekarang kamu sebentar lagi akan menjadi calon Ayah.” Andi menepuk bahu Leo.


💕🍁💕🍁erimakasih para pembaca, Bagaimana kisah selanjutnya bisa kalian simat kelanjutannya pada episode berikutnya! Dan jangan lupa komentar, like dan vote nya!💕🍁💕🍁

__ADS_1


__ADS_2