
Sepulang dari cafe, Katrin gelisah tidak bisa tidur. “Tidurlah Rin, jangan kau pikirkan, percayalah kak Arga pasti bisa mengatasinya.” Anita berusaha menenangkan Katrin.
“Nit, kak Andi disana gimana ya? Tolong calling Arga! Aku ingin tahu keadaan kak Andi.” Katrin terisak menangis dipelukan Anita.
“Asalamualaikum, kak bagaimana kak Andi?” Anita berbicara lewat video call dengan Arga.
“Semua bukti memberatkan kak Andi, kita harus mencari bukti yang lain yang bisa membuktikan bahwa kak Andi tidak bersalah,” jelas Arga yang masih berada di Polwil.
“Arga, kakak kamu bagaimana?” Katrin cemas memikirkan Andi.
“Kakak orangnya santai kak, do’a kan saja kakak bisa bebas. Besok kak Katrin bisa kok besuk kak Andi.” Arga menenangkan calon kakak iparnya.
“Anita sayang, besok kamu temani bunda Clara di rumah ya?” ucap Arga sebelum mengakhiri video call nya.
“Iya, sayang aku besok kesana sama Katrin,” jelas Anita menutup video call nya.
Baru saja video call ditutup, Arga menghubungi kembali.
“Sayang, bunda Clara masuk rumah sakit. Tolong kamu segera kesana. Disana hanya ayah yang menemani,” jelas Arga.
“Iya kak.” Anita menyambar kunci mobilnya dan menggandeng Katrin untuk mengikuti ke rumah sakit.
“Ada apa, apa yang terjadi?” Katrin bingung sambil terisak sedih.
“Bunda Clara masuk rumah sakit karena shock.” Anita setengah berlari menuruni anak tangga diikuti Katrin.
“Mudah-mudahan bunda Clara tidak apa-apa?” ucap Katrin.
“Nak, kalian mau kemana tengah malam begini?” tanya bunda Ajeng yang berpapasan waktu mengambil air minum di dapur.
“Bunda Clara masuk rumah sakit, karena shock mendengar kak andi terjerat kasus Narkobra.” Anita menjelaskan kepada bunda Ajeng.
“Nak, kamu yang sabar, bunda yakin Andi tidak seperti itu.” Bunda Ajeng memberi support untuk Katrin.
“Terimakasih, bunda. Kita berangkat terlebih dahulu.” Katrin meminta ijin pada bunda Ajeng.
Mereka berdua meluncur menuju rumah sakit yang tidak jauh dari rumah Katrin.
“Ayah, gimana keadaan bunda?” tanya Katrin menghampiri ayah Seno.
“Bunda masih di ruang ICU nak, do’a kan bunda bisa melewati masa kritisnya,” jelas ayah Seno yang nampak sedih.
“Pak dokter bagaimana keadaan bunda Ajeng?” Katrin menghampiri dokter yang keluar dari ruang ICU.
“Pasien sudah melewati masa kritisnya, sebentar lagi bisa dipindahkan ke ruang perawatan,” jelas dokter.
__ADS_1
Tidak lama kemudian perawat mendorong ranjang bunda Clara menuju ruang perawatan.
“Keluarga ibu Clara Atmajaya, silahkan ikut kami.” Perawat memberi instruksi kepada keluarga bunda Clara. Ayah mengikuti perawat dan berjalan di samping ranjang bunda Clara. Katrin dan Anita mengikuti di belakang.
Setelah masuk ruangan, ayah tidak pernah melepaskan tangan bunda Clara. Ayah duduk disisi pembaringan bunda Clara.
“Sayang, kamu harus segera sehat, percayalah anak kita baik-baik saja.” Ayah mengusap pipi bunda Clara kemudian mencium kening bunda Clara.
“Ayah istirahat saja, biar aku dan Anita yang menjaga bunda.” Katrin menghampiri ayah Seno.
“Tidak nak, biarkan ayah menjaga bunda,” ucap ayah Seno. Ayah Seno masih terjaga di samping bunda Clara hingga waktu menjelang subuh.
“Nak ayah, sholat dulu, setelah itu ganti kalian.” Ayah Seno keluar ruangan menuju masjid.
Setelah ayah Seno pergi, Bunda Clara siuman. “Andi…,Andi…? gimana kamu nak?” Bunda Clara memanggil-mangil nama Andi.
“Bunda, kakak baik-baik saja.” Katrin mendekati bunda Clara dan menciumi bunda Clara. Bunda Clara berusaha ingin duduk dan bersandar dari ranjang.
“Bunda jangan dipaksakan,” Anita menghampiri mereka untuk membantu bunda.
“Katrin, kamu harus mendampingi Andi. Jangan kau tinggalkan dia, ya nak? Aku yakin ada yang menjebak Andi. Anak bunda tidak seperti itu!” Bunda Clara menangis sambil memeluk Katrin dan Anita.
“Iya, bunda. Arga dan pengacara keluarga sudah mengurusnya bunda. Kakak pasti akan secepatnya bebas.” Katrin mengusap punggung Katrin.
“Nak kamu segera sholat ya?” ucap ayah tiba-tiba datang menghampiri mereka.
“Iya, ayah.” Katrin dan Anita sholat dulu.
Setelah melaksanakan sholat subuh mereka kembali ke ruangan bunda Clara. Tak lama kemudian Arga datang bersama Doni.
“Bunda sudah sehat?” Arga mencium bunda Clara.”Ayah, nanti ikut ke polwil tidak?” tanya Arga pada ayah.
“Nak, ayah nunggu bunda saja. Ayah yakin kamu dengan pengacara keluarga bisa menyelesaikannya.” Ayah Seno mengusap punggung tangan bunda Clara.
“Hari ini kakak dipindahkan di BNN. Disana akan dilakukan peneyelidikan paling lama 20 hari dan apabila 20 hari belum mencapai ketuntasan maka akan diperpanjang selama 60 hari,” ucap Arga menjelaskan kepada semua anggota keluarga.
“Ah..., semoga kakak Andi bisa melewati ujian ini dengan baik,” ucap Katrin menghela nafas panjang.
“Iya…, kamu harus memberi support Andi ya nak? Dan katakana kalau bunda baik-baik saja.” Bunda Clara mengusap kepala Katrin dengan kasih sayang.
“Kak, apa kata pengacara keluarga kita?” tanya Anita sambil duduk di dekat Arga.
“Kemungkinan, kalau kakak terbukti tidak bersalah hari ini bisa bebas,” jelas Arga merebahkan dirinya tidur di sofa dengan kepala di berada di pangkuan Katrin.
“Sayang tolong aku dibangunkan jam 8.00 wib! Kita bersama-sama nanti lihat kak Andi.” Arga langsung memejamkan matanya.
__ADS_1
“Kak Doni, rekaman CCTV kemari napa sudah diserahkan?” tanya Katrin tiba-tiba.
“Sudah, mbak. Kita tadi juga sudah mempelajarinya bersama Arga. Ada kemungkinan pelaku yang sebenarnya pelayan café mbak,” jelas Doni kepada semua orang.
“Pelayan cafe?” ucap semua orang secara serentak.
“Iya, dalam rekaman CCTV ada salah satu pelayan kita yang biasa membersihkan ruangan pak Andi nampak memasukan sesuatu ke laci meja kerja pak Andi.” Doni menceritakan secara detail.
“Terus bagaimana kak? Apa pelayan itu sudah di tangkap?” tanya Katrin gusar.
“Ternyata pelayan café kita dari kemarin sudah pergi meninggalkan kota ini.” Doni mendesah pelan.
“Kak kira-kira motifnya apa kak?” ucap Anita ingin tahu.
“Entahlah. Selama menjadi pelayan, dia selalu baik bahkan palin rajin diantara temen-temannya,” jelas Doni menyandarkan didirinya di sofa.
“Nak Doni, masih ada waktu 2 jam, kamu pulang saja terlebih dahulu. Nanti kamu kesini lagi,” ucap ayah Seno pengertian.
“Iya, pak terimakasih,” jawab Doni.
“Ayah, aku sama Anita pulang dulu ya?” Katrin memohon ijin kepada calon mertuanya.
“Iya ayah, kami mau istirahat dulu dan mengganti baju kami,” tambah Anita.
“Sayang, apa kamu sebaiknya tidak ke kantor dulu?” Anita membangunkan Arga dengan mengusap pipi Arga.
“Tidak sayang, aku hari ini sudah ijin untuk mengurus kasus kak Andi.” Arga bangkit dari tidurnya dan duduk menyandarkan dirinya ke sofa.
“Aku mau pulang bersama Anita. Nanti kita berdua ikut melihat kak Andi.” Anita pamit pada Arga, ayah dan bunda Clara, disusul Katrin.
“Hati-hati dik, nanti kalian biar di jemput Doni di rumah kak Katrin,” ucap Arga menarik tangan Anita agar tidak pergi terlebih dahulu.
“Ada apalagi kak?” ucap Anita menatap nanar Arga. Arga langsung memegang kepala Anita dengan kedua tanganya kemudian mencium kening Anita.
Anita tersipu malu melihat ulah Arga. Anita dan Katrin pamit pulang, disusul oleh Doni.
“Don, tolong nanti kamu mampir ke rumah ambil baju ganti aku,” perintah Arga kepada Doni.
“Nak sekalian baju ayah dan bunda, sama mbok Ijah sudah disiapkan,” perintah ayah Seno.
“Siap ayah.” Doni menyusul Anita dan Katrin meninggalkan ruang perawatan bunda Clara.
Setelah mereka pergi Arga merebahkan tubuhnya kembali di sofa. Sedangkan Ayah masih setia mendampingi bunda Clara yang kembali tertidur karena pengaruh suntikan obat yang diberikan oleh dokter.
💕💕💕Terimakasih, para pembaca yang setia, kira-kira apa yang terjadi dengan Andi? tolong beri komentar, like dan votenya!🍁🍁🍁
__ADS_1