
Hari ini hari pemberangkatan KKN universitas Putra Bangsa, kebetulan geng rempong ditempatkan pada satu kelompok. Mereka ditempatkan di tempat yang terpencil di lereng gunung Kelud. Andi nampa kuatir dengan istrinya, karena sedang mengandung buah hatinya.
“Dik, kamu yakin mengikuti KKN? Apa sebaiknya kamu ambil cuti kuliah saja. Aku masih tidak tega melepaskan mu,” ucap Andi sambil terus memegangi tangannya Katrin.
“Sayang, percayalah aku akan baik-baik saja. Aku kan masih ada geng rempong yang akan selalu membantuku,” ucap Katrin memegang lengan suaminya dan berbisik di telinga suaminya.
“Iya kak, aku akan selalu menjaga Katrin dan calon keponakanku.” Anita tiba-tiba menyambung pembicaraan mereka. Anita baru datang diantar Arga. Anita dan Arga merupakan manten baru yang baru melangsungkan pesta pernikahannya 2 minggu yang lalu.
“Kak, biarkan saja kak mereka berangkat. Aku juga akan memantau mereka karena anak buah aku juga ada beberapa yang bertugas di daerah mereka KKN. Dan aku sudah menyuruh mereka untuk mencari kontrakan untuk kita tinggal jika kita berkunjung di tempat mereka KKN. Dan lokasinya tidak jauh dengan mereka,” kata Arga dengan tenang tanpa menunjukan rasa kuatir sedikitpun kepada Anita meskipun sesungguhnya dia sangat kuatir.
“Wah, kalau begitu seru juga Ar, kita bisa janjian untuk mengunjungi mereka,” ucap Toni tiba-tiba sudah ada di dekat mereka.
“Kebiasaan nih orang tiba-tiba nongol saja kayak tuyul.” Andi menyenggol lengan Toni dengan lengannya.
“Iya kamu sih enak langsung numpang saja! Tuh ujung-ujungnya Arga pasti membebankan uang sewanya ke aku kakaknya,” tebak Andi yang memang mengetahui kebiasaan Arga adiknya.
“He…, he…, iya kakak tahu juga ya?” kata Arga nyengir karena memang seperti itu maksudnya. Arga tahu uang dan asset kekayaan Andi jauh lebih baik dibandingkan dengan dirinya yang masih merintais usaha. Itupun masih dibawah bimbingan Andi.
“Iya, iya beres. Nanti aku transfer sekalian untuk anak buahmu yang telah mencarikan kontrakan untuk kita,” kata Andi dengan santai dengan sedikit membanggakan dirinya di depan teman dan adiknya.
“Sayang, rombongan sudah diumumkan untuk berangkat. Aku berangkat dulu ya?” pamit Katrin ke Andi diikuti oleh teman-temannya. Andi mengantar Katrin sampai naik bis, kemudian turun dari bis dan hendak kembali menuju mobilnya.
“Pak Andi, mengantar Katrin ya?” tanya pak Irfan yang tiba-tiba muncul berada di dekatnya.
__ADS_1
“Iya, lo pak Irfan kok disini ya?” tanya Andi kepada pak Irfan dengan penuh curiga.
“Aku itu Dosen Pembimbing Lapangan untuk rombongan ini. Dan nanti waktu serah terima dengan bapak kepala Desa aku yang mewakili untuk memberi sambutan. Pak Andi kalau mau ikut juga boleh nanti berangkat dengan mobil saya saja. Itu Alexa ada di dalam,” ucap pak Irfan ramah.
“Baiklah kalau begitu, aku akan kasih kejutan untuk Katrin. Pak boleh ajak Arga sekalian ya mumpung dia libur,” ucap Andi yang mulai ramah dengan pak Irfan.
“Arga, sini sebentar,” teriak Andi kepada Arga yang tidak jauh dari tempatnya.
“Iya kak, ada apa?” tanya Arga setelah mendekat dekat Andi.
“Ini aku sama pak Irfan diajak ke lokasi tempat KKN, dan kebetulan kamu kan juga lepas jaga, gimana kalau kita mengikutinya?” tanya Andi kepadaa adiknya.
“Wah, cocok banget ini, aku ikut kak.” Arga langsung memutar balik hendak menuju ke mobilnya.
“Ar, pakai mobil aku saja. Mobil kamu biar siambil Doni,” ucap Arga sekaligus perintah kepada adiknya.
“Baik, tunggu sebentar aku serahkan kuci mobil ini dulu.” Arga langsung menuju ke post Satpam, sedngkan Andi menelepon Doni untuk mengambil mobil Arga.
“Kak Andi kak Arga gimana kalau mobilnya pakai punya kak Irfan saja, biar hemat dan kita juga bertambah akrap,” kata Alexa yang menyembulkan kepalanya keluar dari cendela mobil pak Irfan.
“Baik kalau begitu mobil aku biar aku taruh disini saja! Amankan?” tanya Andi kepada pak Irfan,
“Aman kok. Disini banyak penjagaan dan pemantau CCTV,” jelas pak Irfan kepada Andi dan Arga.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu mobil aku, biar di sini saja, kak tolong kamu cancel Doni ya?” ucap Arga kemudian masuk ke dalam mobil pak Irfandi bagian belakang bersama Andi. Kemdian tak berapa lama mereka mengikuti bis rombongan perserta KKN.
“Pak Irfan, misal Katrin, Anita dan Dewi tidak tinggal serumah dengan temen-temennya bagaiman? Arga kemarin melalui anak buahnya menyewa rumah dekat tempat peserta KKN menginap,” tanya Andi kepada pak Irfan sekaligus minta ijin.
“Ha…,ha…, kak andi jadi bucin dan super protektif banget ya? kak mana bisa seperti itu? Nanti jadi iri dong mahasiswa yang lanin?”Alexa menertawakan Alexa atas kekonyolann Andi.
“Dik bukan begitu maksud kakak, kakak itu hanya kuatir dengan kandungan Katrin, dan kakak bisa besuk Katrin seminggu sekali dik. Kakak selepas ngantor hari Jum’at bisa berkunjung di sana jadi kakak nanti tidak mengganggu temen-temenya,” jelas Andi pada Alexa sekaligus pad pak Irfan dengan maksud biar dikasih ijin oleh pak Irfan.
“Kita lihat saja nanti. Kalau memang rumah yang kamu kontrak dekat dengan posko KKN mereka, saya rasa tidak masalah,” jelas pak Irfan dengan tetap fokus menyetir.
“Pak, Irfan itu berlaku juga dong untuk pengantin baru. Aku juga bermaksud mengunjungi Anita setiap libur dinas, jadi biarkan Anita bersama kak Katrin ya? Aku juga segera membuatkan Alexa keponakan? Gimana nanti aku akan bantu kamu memperlancar proses melamar Alex, ingat tante aku biasanya paling ribet jadi soal tante nanti aku yang urus gimana?” tanya Arga seklaigus membujuk pak Irfan sebagai calon adik iparnya.
“Kakak, jangan begitu dong kak. Itu namyanya mengancam dan menekan kak Irfan dong. Tapi memang bener sih kak mama itu kalau ada kemauan pasti tidak bisa di cegah tapi kalau sama kak Arga nurut banget. Dah deh kak kasih ijin saja. Untuk mahasiswa yang lain jika dikasih pengertian pasti mau menerimanya.” Alexa memantu kakaknya menyakinkan pak Irfan.
“Iya, nanti saya pikirkan yang terpenting kita sampai ke tempat tujuan. Dan itu desa tempat KKN sudah ada di depan kita.” Pak Irfan langsung memasukan mobilnya masuk gang menuju desa tempat mahasiswa KKN. Setelah sampai mereka memarkir kendaraanya di belakang bis yang membawa mahasiswa KKN. Andi langsung turun menghampiri istrinya dan membimbingnya untuk istirahat di bangku depan balai desa.
“Sayang, kenapa ada di sini! Jangan membuat malu istrimu kak! Itu semua pada melihat ke arah kita.” Katrin memberi isyarat kepada Andi lewat gerakan matanya.
“Sayang aku rasa itu pandangan kagum untuk aku, sudahlah yang terpenting semuanya nanti diatur oleh pak irfan,” ucap Andi dengan penuh percaya diri.
“Pak Irfan?” Sudah baikan nich ya?” goda Katrin kepada suaminya.
“Ya, iyalah sekarang kan akan jadi adik ipar aku,” jawab Andi santai tanpa ada rasa cemburu lagi.
__ADS_1
Andi dan Arga menunggu istrinya di rumah kontrakan yang Arga sewa sampi acara pembukaan. Mengingat kondisi Katrin yang hamil pak Irfan mengijinkannya tinggal di rumah kontrakan dan memang letaknya bersebelahan dengan posko. Sedangkan Anita dan Dewi di daulat menemani ibu hamil, semua mahasiswa menerimanya karena memang group rempong punya rekom yang baik di klangan mahasiswa.
Terimakasih para pembaca yang setia, jangan lupa kasih komentar, like dan votenya!