
Andi yang masih berada di rumah bunda Ajeng setelah sholat subuh mengajak Katrin jalan-jalan keliling kompleks, Andi menggandeng tangan Katrin berjalan romantis menuju taman kompleks. Andi mengajak Katrin duduk di bangku taman, mereka ngobrol dan bercanda membicarakan tentang anak mereka. Tiba-tiba dari jauh ada seorang anak laki-laki mendekati mereka.
“Tante-tante, ini untuk tante,” ucap anak laki-laki itu sambil memberikan es kriem kepada Katrin.
“Sayang, untuk kamu saja ya?” ucap Katrin sambil mengelus rambut anak tersebut.
“Aku sudah bawa satu tante, yang itu untuk tante cantik. Aku suka sama tante, maukah tante menjadi mamaku?” tanya anak laki-laki itu.
“Mama? Boleh kok sayang. Kenalkan ini papa Andi?” ucap Katrin sambil melirik Andi.
“Sini sayang, sama papa Andi.” Andi langsung mengangkat anak laki-laki itu ke dalam pangkuannya.
“Sayang, nama kamu siapa?” Andi yang tertarik dengan kelucuan anak itu membuat ia tertarik untuk mengetahui nama anak tersebut.
“Aku Roy…,” ucap anak itu yang masih ******* es krim nya sehingga nampak belepotan.
“Nama yang cakep seperti kamu, sayang. Dimana orang tuamu?” tanya Katrin pada Roy. Tidak berapa lama ada orang yang manggil-manggil nama Roy.
Begitu sampai di tempat mereka, semuanya nampak terkejut. “Pak Irfan?” teriak Andi dan Katrin secara bersamaan.
“Kalian mengenal ayahku?” Roy bingung dengan mereka bertiga karena saling mengenal.
“Pak Irfan, kamu hutang penjelasan kepada keluarga saya.” Andi langsung menarik lengan pak Irfan ke tempat yang sepi.
“Bruk…, bruk…, itu untuk adikku Alexa,” ucap Andi tanpa basa-basi langsung memukul pak Irfan.
“Pak Andi tunggu dulu, itu tidak seperti yang kamu bayangkan. Itu putra dari adik perempuan aku,” ucap Pak Irfan yang terbata-bata sambil mengusap bibirnya yang sedikit berdarah.
“Putra dari adik perempuan bapak? Kenapa memanggilmu Ayah?” tanya Andi bingung dan menelan salivanya karena perasaan bersalahnya.
“Astaga pak Irfan kenapa? Bapak mampir ke rumah saya saja nanti biar aku obati!” ajak Katrin sambil mengandeng tangan Roy.
“Dasar Arogant, main pukul saja!” Katrin memarahi Andi yang dari tadi merasa bersalah atas sikapnya.
“Iya ayah, aku mau main ke rumah mama Katrin yang cantik dan baik,” ucap Roy langsung bergelayut manja di lengan Katrin yang berjalan menuju rumahnya yang tidak jauh dari taman kompleks.
__ADS_1
Pak Irfan yang tidak tega menyakiti Roy langsung mengikutinya dari belakang.
“Astaga? Kalau seperti ini rugilah aku. Kenapa aku ceroboh banget.” Andi menempelkan telapak tagannya yang kanan ke keningnya dan langsung menyusul mereka.
Tak berapa lama mereka sampai di rumah Katrin. “Silahkan duduk pak. Mbok Minah tolong ambilkan es untuk kompres dan kotak obat,” teriak Katrin yang masih kesal dengan sikap Andi.
Andi hanya terdiam duduk di dekat pak Irfan sambil mengamati mereka. “Kalau aku diamkan bisa-bisa pak Irfan akan berdekatan terus dengan istriku. Aku harus menghubungi Alexa untuk kesini,” gumam Andi sambil mengetik sesuatu untuk disampaikan kepada Alexa.
“Sini pak aku kompres lukanya.” Katrin menempelkan es yang sudah dibungkus dengan kain ke bibir pak Irfan yang memar karena tonjokan Andi.
“Dik biar aku saja yang mengobatinya. Kamu siapkan makan saja untuk kita sarapan,” ucap Andi kesal karena menahan cemburu.
“Biar aku kerjakan sendiri saja.” Pak Irfan yang merasa canggung dengan sikap Andi, langsung meraih alat kompres dari tangan Katrin.
“Baguslah, kalau sardar diri,” ucap Andi lirih nyaris tidak terdengar oleh orang lain. Tapi Katrin yang peka mendengar apa yang diucapkan oleh Andi.
“Sayang, jangan kelewatan ya kamu.” Katrin mencubit pinggang suaminya.
“Aduh sakit dik, Ampun dik.” Andi memegang tangan Katrin agar tidak mencubitnya lagi.
“Papa Andi dicubit mama saja kesakitan.” Hi…hi…hi…, Roy tertawa sambil kedua tangannya ditutupkan ke mulutnya.
“Habisnya papa lucu,” ucap Roy langsung berada di tengah-tengah Andi dan pak Irfan.
Katrin yang mengethaui mereka sudah tenang, Katrin langsung berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan bersama mbok Minah.
Tak lama kemudian Alexa datang membawa beberapa makanan dan langsung di letakkan di meja tamu begitu saja.
“Kakak kenapa? Sini aku saja yang mengompres luka kamu!” Alexa meninta kompres dari pak Irfan dan langsung dikompresnya luka Irfan.
“Tidak kenapa-napa, cuman salah paham saja,” ucap pak Irfan sambil melirik Andi.
“Tadi ayah berantem sama papa Andi, bunda?” ucap Roy berjalan menuju Alexa.
“Jadi Alexa sudah tahu segalanya?” tanya Andi pada pak Irfan.
__ADS_1
“Iya, dari awal aku memberitahunya kalau Roy putra Adikku. Dia memang suka memanggilku ayah karena ayahnya…,” pak Irfan menghentikan ucapannya dan menatap nanar Roy seolah tidak tega menyebutnya.
“Ayahnya kenapa?” tanya Andi penasaran karena ada sesuatu yang membuat pak Irfan berhenti mengatakannya.
“Sayang ayo ke belakang bersama mama Katrin membantu nenek Ajeng di dapur ya? itu bunda buatin kamu susu.” Tiba-tiba Katrin datang dan mengajak Roy ke dapur. Katrin berusaha memberi kesempatan mereka agar tidak salah paham. Kemudaian mereka berdua berjalan menuju dapur.
“Sebenarnya ayah Roy dan mamanya meningggal dalam kecelakaan sejak Roy usia 1 tahun kak,” ucap Alexa melanjutkan pembicaraan mereka.
“Astaga, Roy sekecil itu sudah yatim piatu? Maaf atas kesalahpahaman ini. Aku kira Roy putramu dan kau membohongi adikku Alexa,” ucap Andi merasa bersalah atas sikapnya yang membuaat muka pak Irfan lebam dan memar.
“Iya kak. Makanya bapak Andi yang Satpol PP dan Arogant lain kali dipikir dulu baru bertindak,” ucap Alexa memandang Andi dengan sorot mata yang sangat tajam.
“Pak Irfan sekali lagi maaf?” Andi mengusap bahu pak Irfan menatap luka pak Irfan dengan persaaan yang bersalah.
“Sudahlah bro, tidak apa-apa? Lupakanlah!” ucap Pak Irfan sambil meringis kesakitan karena sedang diolesi obat oleh Alexa.
Andi yang tahu seperti itu meninggalkan mereka untuk pergi ke dapur, karena dia semakin bersalah jika melihat pak Irfan seperti itu.
“Sayang, kamu itu ya? Masa dipukul seperti itu tidak berusaha melawan?” ucap Alexa memarahi pak Irfan gemas dengan sikapnya.
“Sayang mana bisa seperti itu. Dia kan calon kakak ipar aku, masa aku harus kembali memeukulnya? Bagaimana kalau nanti tidak merestui hubngan kita dan menjauhkan kamu dari aku?” ucap pak Irfan serius memandangi Alexa. Alexa yang mendapat tatapan seperti itu semakin gemas dibuatnya, kemudian mengecup bibir pak Irfan.
“Dik masih sakit tahu? Untuk sementara cium sini dulu ya?” Pak Irfan menunjuk pipinya untuk dicium kembali Alexa.
“Idih kakak maunya, ini di rumah orang tahu.” Alexa mencubit pinggang Pak Irfan gemas. Pak Irfan tertawa dengan tingkah gadisnya, seolah menghilangkan rasa sakitnya.
“Pak Irfan, Alexa ayo kita sarapan. Maaf sarapannya seadanya ya?” ucap Katrin mengajak mereka ke ruang makan. Katrin memperkenalkan mereka kepada bunda Ajeng. Akhirnya mereka saling mengenal satu sama lainnya daan menunjukan keakraban mereka.
“Kak Katrin tidak makan?” tanya Alexa yang memperhatikan Katrin hanya makan roti dan buah saja tidak makan nasi sama sekali.
“Maaf aku masih belum bisa makan nasi. Tidak apa-apa kamu lanjutkan makan kamu ya?” ucap Katrin sopan, dia sengaja tidak makan nasi menghindari perutnya yang mual biar tidak menggannggu moment mereka makan.
“Iya nak, karena Katrin lagi hamil. Jadi biasa mengalami morning sickness. Ayo dilanjut makannya,” ucap bunda Ajeng menyakinkan Alexa.
“Kakak hamil?” tanya Alexa senang, Katrin hanya bisa mengganggukan kepalanya. “Selamat ya kak?” Alexa langsung menghampir Katrin dan memeluknya.
__ADS_1
“Trimakasih dik, tolong jangan kasih tau bunda Clara dulu ya? Aku sama kak Andi baru nanti memastikan ke rumah sakit, karena kemarin masih dokter umum yang memberitaunya.” Katrin memohon kepada Alexa. Merekapun melanjutkan acara sarapan mereka.
💕💕💕Terimakasih para pembaca yang setia, jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan komentar, like dan votenya!💕💕💕