Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Ingin Cucu


__ADS_3

Sudah 3 hari, Anisa tinggal bersama Katrin, keluarga dari Anisa juga belum ditemukan.


“Bunda, ayo ke rumah ayah Andi!” rengek Anisa kepada Katrin.


“Bentar sayang, bunda masak dulu makanan kesukaan ayah,” kata Katrin sambil memasak di dapur di bantu si mbok.


“Aku kangen ayah,” kata Anisa sambil duduk di kursi dapur.


“I_ya, ini sudah selesai, ayo kamu mandi sana sama si mbok,” ucap Katrin sambil memasukan masakannya pada tempatnya.


“Mbok tolong, mandi kan Anisa dan dandani yang cantik ya mbok?” ucap Katrin sambil berjalan menuju kamarnya.


“Iya…, nak Katrin. Ayo nak ikut mbok Minah,” ucap mbok Minah menggandeng tangan Anisa.


🏠 Ke****diaman Andi****


Setelah melakukan perjalanan 15 menit, Katrin dan Anisa sampai di rumah Andi.


“Asalamualaikum, pagi…, ayah?” kata Anisa masuk dalam kamar Andi.


“Anisa sayang, kesini sama siapa?” tanya Andi.


“Sama bunda.” Anisa beranjak naik ke ranjang Andi.


“Bundanya mana?” tanya Andi sambil mengelus rambut Anisa.


“Di bawah, menyiapkan sarapan ayah, tadi bunda masak sendiri,” celoteh Anisa.


“Sayang, masakan bunda enak tidak?” tanya Andi kembali.


“Enak ayah, ta_pi keasinan. Meskipun masakan bunda asin, ayah harus makan..., kasihan bunda?” ucap Anisa sambil memohon.


“Ok, sayang kita harus menyenangkan hati bunda ya?” tanya Andi kembali sambil menggendong Anisa pergi ke ruang makan.


“Iya, bunda sudah capek mengurus aku dan masak untuk ayah?” kata Anisa lagi.


“Pagi bunda,” ucap Andi sambil mencium kening Katrin.


“Pagi ayah? Ayah jangan gendong Anisa seperti itu? Bahu ayah masih sakit sayang, ayo turun,” kata Katrin sambil meraih Anisa dari gendongan Andi.


“Sayang, ayo di makan! Aku sudah masak masakan kesukaanmu kak?” kata Katrin.


“I_ya, sayang, tapi kata Anisa masakan kamu….” Andi tidak melanjutkan kata-katanya.


“Kenapa sayang masakan bunda?” tanya Katrin kepada Anisa.


“Enak…, dan mantap bunda.” Anisa mengacungkan jempolnya sambil mengerlingkan matanya memberi kode pada Andi.


“U_enak bunda, mantap dan mak nyus bunda.” Andi mengangkat jempolnya dan berusaha menghabiskan makanannya.


Katrin duduk mendekati Andi. “Kakak, kenapa gak dihabiskan?”


“Kakak, sudah kenyang sayang.” Andi berdiri mengambil minuman untuk menghilangkan rasa asin di tenggorokannya. Katrin curiga dengan sikap Andi, kemudian Katrin mencicipi masakannya dari piring Andi.


“Huek…huek…, gila kok asin banget ya sayang?” tanya Katrin pada Andi.


“Gpp sayang, itu tandanya adik minta k*w*n,” bisik Andi ke daun telinga Katrin agar tidak di dengar Anisa.

__ADS_1


“Plok...., kamu mesum sekali kak?” Katrin menabok lengan Andi.


“Ayo ke teras belakang sayang,” ajak Andi menggandeng Anisa, diikuti Katrin.


Mereka berdua duduk di kursi sedangkan Anisa main ayunan di dekat mereka.


“Kak, bagaimana perkembangan kasus Anisa?” tanya Katrin sambil bergelayut manja memegang lengan Andi.


“Tadi saya di hubungi pihak polwil dik, orang tua Anisa sudah ketemu besok mau dijemput di kantor polisi,” jelas Andi sambil menghela nafasnya.


“Alhamdulillah…, besok aku ikut mengantar ya kak.” Katrin memandang Anisa seolah berat untuk melepasnya.


“Bunda, sini main ayunan sama Anisa!” Anisa menarik tangan Katrin.


Mereka bercanda layaknya sebuah keluarga kecil. Andi mendorong ayunan Katrin dan Anisa.


“Sayang, besok orang tua kamu, datang menjemput kesini?” ucap Andi pelan,


“Ayah dan ibu kandung aku?” tanya Anisa tiba-tiba murung.


“Kenapa sayang? Jangan bersedih?” tanya Katrin sambil memeluk tubuh Anisa.


“Aku bersedih, karena harus berpisah dengan ayah Andi dan bunda Katrin,” ucap Anisa sambil memandangi Andi dan Katrin.


“Kamu tidak usah bersedih? Nanti kamu bisa berkunjung kemari!” ucap Andi sambil mengelus-elus kepala Anisa.


“Ya…, ayah. Terimakasih.” Anisa mencium pipi Andi dan Katrin secara bergantian.


“Selamat pagi semua, Anisa sini sama nenek?” Bunda Clara mendekati Anisa sambil memberikan beberapa mainan yang telah disiapkan sebelumnya.


“Ya sayang, nenek juga sayang sama kamu, “ ucap bunda Clara sambil menghempaskan duduknya dekat Andi dan Katrin.


“Bunda sakit ya?” tanya Katrin tiba-tiba.


“Tidak nak, bunda ingin punya cucu seperti Anisa.” Bunda Clara menghela nafasnya.


“Siap bunda…, nanti aku buatkan sama dik Katrin,” kata Andi tiba-tiba sambil mengerlingkan matanya mengarah ke Katrin.


“Plok..., dasar otak mesum.” Bunda Clara menabok bahu Andi yang belakang.


“Sakit bunda, masa sama anak sendiri tega.” Andi meringis kesakitan.


“Makanya kalau ngomong dikontrol kak,” sahut Katrin.


“Ya sudah, ayo kita lamar dik Katrin sekarang bunda,” ucap Andi menahan sakit.


“Ya, kita tunggu setelah pernikahan kakaknya Katrin,” tegas bunda Clara.


“Ta_pi, aku masih ingin menyelesaikan skripsi dulu, bunda?” ucap Katrin sambil memohon pada bunda Clara.


“Kelamaan nak, bunda sudah kebelet pingin nimang cucu nak?” ucap bunda Clara.


“Iya, buruan kak aku juga ingin segera punya keponakan,” sergah Arga yang tiba-tiba muncul.


“Alasan, paling-paling juga kebelet nunggu antrian bunda?” ucap Andi menggoda Adiknya.


“Antri…, wah sudah dapat calon istri juga ya?” goda bunda Clara.

__ADS_1


“Iya bunda, mereka sih sudah lengket bunda kayak amplop dan perangko,” ucap Andi.


“Apaan sih kak, ember banget.” Arga melempari Andi dengan kulit Kacang.


“Hai…, jangan bilang calonnya Arga, itu Anita?” tanya bunda Clara.


“Memang Anita, bunda,” jawab Katrin.


“Nak, apa benar nak?” tanya bunda Clara memastikan.


“Iya nek, kemarin om Arga cium tante Anita, pasti mereka pacarana.” Anisa mendekati mereka setelah bermain ayunan.


“Pletak, dasar anak nakal. Tidak tahu tempat.” Bunda Clara menjitak kepala Arga.


“Sakit bunda.” Arga mengusap kepalanya.


“Ha…,ha…, rasain ya?” Andi dan Katrin tertawa terbahak-bahak.


“Sayang, om tidak mencium tante Anita, tapi om kemarin hanya meniup mata tante yang kelilipan.” Arga membela diri.


“Klilipan ya om, maaf aku lihatnya dari belakang, ta_pi om kayak cium tante.” Anisa berceloteh tidak mau kalah.


“Sudahlah sayang, kamu duduk sini sama bunda.” Katrin mengalihkan pembicaran.


“Terimakasih bunda, tapi aku ingin bermain sama om Arga,” jawab Anisa.


“Bermain apa, sayang?” tanya Arga mendekati Anisa.


“Bermain kuda-kuda an. Aku joki nya om yang jadi kudanya,” kata Anita polos.


Arga mengusap lehernya yang tidak gatal, sedangkan yang lain tertawa terbahak-bahak.


“Apes-apes, baru lepas piket sudah lanjut jadi kuda,” gumam Arga.


“Sini om, om Arga harus jongkok,” ucap Anisa kemudian naik di punggung Arga.


“Sudah sana, menyenangkan anak kecil dapat pahala besar lo?” ucap Andi.


“Awas ya kak, tunggu aku balas, ingat pembalasan biasanya lebih kejam,” ucap Arga sambil mengacungkan tinjunya.


“Tekrak…,tekrak…, ayo om jalannya agak kencang,” teriak Anisa disertai semua orang yang tertawa terbahak-bahak.


“Semangat Ar…,” kata Andi tersenyum mengejek Arga.


“Nak, sini sama bunda, om Arga capek habis pulang kerja.” Katrin menghampiri Anisa dan menurunkan dari punggung Arga.


“Bunda, ayo pulang. Aku mengantuk sekali.” Anisa menguap.


“Kamu bawa tidur Anisa di kamar tamu saja nak!” Bunda Clara mengajak Katrin dan Anisa ke kamar tamu.


Katrin dan Anisa masuk dalam kamar tamu. Katrin yang semula hanya rebahan menemani Anisa, ikut tertidur.


“Kasihan nak, kamu sekecil ini harus mengalami nasib seperti ini.” Andi mengusap kepala Anisa, dan mengecup kening Katrin yang lagi tertidur.


“Kakak…, aku ngantuk kak, tolong jangan ganggu aku,” ucap Katrin memejamkan kembali matanya. Karena kecapean Katrin tertidur hingga sore. Kemudian Katrin beranjak pergi membersihkan mukanya dan segera menemui bunda Clara untuk ijin pulang.


🍁🍁🍁Semangat para pembaca, jangan lupa komentar, like dan votenya, terimakasih.🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2