Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
98


__ADS_3

Dipagi hari yang cerah, Satria sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk mereka sarapan. Sedangkan Ara, Ia masih meringkuk dibawah selimut. Setelah melaksanakan shalat subuh ia langsung tidur lagi dan belum bangun. Mimpi indahnya terganggu oleh suara handphone miliknya dan Satria yang sedari tadi tidak berhenti berbunyi. Dengan malas Ara bangun dan mengambil handphone miliknya. Baru saja ia menekan tombol hijau, suara teriakan langsung menyambutnya.


"ARA!. Jangan masuk sekolah. Pokoknya jangan!" Teriak Alia, Ara langsung menjauhkan handphone dari telinganya.


"Apaan sih teriak-teriak!. Memang kenapa aku tidak boleh masuk sekolah?. Kamu ini ada-ada saja" Ucap Ara


"Pokoknya jangan!"


"Dasar aneh" Ara langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak


"Aneh apa?. Siapa yang aneh?" Tanya Satria mengagetkan Ara


"Ih Kalau masuk itu salam ke, ketuk pintu kek. main nyelonong masuk aja" Ucap Ara sambil mengelus dadanya


Satria mengerutkan keningnya mendengar perkataan Ara. " Memangnya kenapa kalau aku nyelonong masuk kedalam kamar. Ini kan kamar ku juga"


"Kan kan ada aku didalam" Ucap Ara


"Lah memang kenapa kalau ada kamu. Aku suami mu!. Walau kau sedang telanjang sayang, aku masuk pun tidak masalah" Satria tersenyum menang


Ara tersenyum kaku, ia tidak bisa membalas perkataan Satria. karena apa yang dikatakan Satria ada benarnya.


"Ehmm aku kekamar mandi dulu" Ucap Ara lalu bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamar mandi.


"Ada-ada saja" Satria menggelengkan kepalanya


Satria mengambil gawainya. Ia terkejut melihat puluhan panggilan masuk dari kedua sahabatnya dan notifikasi dari grup sekolah. Satria lalu menghubungi Alvin, Satria merasa pasti ada hal yang sangat penting sampai menghubunginya terus-menerus.


Tut..


Tut..


Tut..


" Akhirnya Lo balas telepon gue."

__ADS_1


Satria mengerutkan keningnya "Ada apa sampai kalian menghubungi ku terus-menerus?"


"Memang lo belum lihat grup sekolah?. Pasti belum, kalau sudah lo gak bakalan nanya kenapa" Sungut Alvin


"Memang ada apa?"


Terdengar helaan nafas panjang Alvin. Membuat Satria mengerutkan keningnya lagi


"Kabar kehamilan Ara bocor, dan sekarang murid-murid sedang berspekulasi tentang kehamilan Ara."


Satria tidak berbicara hanya terus mendengarkan perkataan Alvin.


"Mereka berfikir Ara hamil diluar nikah. Sehingga banyak yang menghujat Ara dan kehamilannya. Dan mereka menebak ayah dari anak yang dikandung Ara adalah lo karena lo pacarnya. Ya walaupun itu benar."


"Lalu?"


"Mereka semakin membenci Ara karena membuat lo masuk pergaulan bebas. Sekarang Ara dicap gadis nakal yang membawa pengaruh negatif."


Satria memijit kepalanya pusing baru saja kemarin ia merasakan kebahagiaan yang begitu besar. Dan sekarang ia harus menghadapi lagi masalah.


"Sat lo denger gue gak"


"Ah iya" Satria tersadar dari lamunannya


"Sepertinya ada yang nguping pembicaraan kita saat di UKS. Soalnya tidak mungkin perawat dan kepala sekolah ngebocorin rahasia lo"


Cklek...


Suara pintu terbuka dan Ara keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk saja. Satria diam terpaku melihat istrinya itu.


"Sat. Hallo Lo masih disitu?. Sat. Satria" Teriak Alvin


Satria langsung menjauhkan handphone dari telinganya.


"Gue denger!" Dengan nada tidak bersahabat "Kita bicarakan nanti" Lalu Satria memutuskan sambungan telepon nya.

__ADS_1


Satria melangkah mendekati Ara lalu mengelus kepalanya.


"Ibu bilang hari ini kamu kerumah. Katanya kita kumpul-kumpul. Nanti Mama Devina juga ada" Satria berbohong dengan ekspresi natural sampai Ara tidak menyadarinya.


Ara mengangguk "Tapi bukannya kita akan kesekolah?" Tanya Ara


"Tidak masalah, lagi pula kita sekarang sedang bebas"


Ara mengangguk setuju. Setelah Ara berpakaian, mereka duduk untuk sarapan. Sarapan yang khusus Satria buat untuk Ara, Ibu dari anaknya.


"Ehmm enak" Ucap Ara disela-sela makanya


"Bagus kalau enak" Satria tersenyum melihat Ara makan dengan lahap


Setelah sarapan Satria membuat susu ibu hamil untuk Ara yang telah tersedia didapurnya. Ara meneguk habis susu yang Satria berikan pada dirinya. Membuat Satria tersenyum lebar. Ada rasa lega melihat Ara seperti ini. Ia harap Ara tidak seperti kebanyakan wanita hamil lainnya yang mual dan muntah bahkan sampai bolak balik rumah sakit karena dehidrasi sehingga nutrisi untuk si jabang bayi pun tidak bisa terpenuhi.


Satria berjongkok didepan Ara yang masih duduk di kursi. Lalu ia mengelus perut Ara yang masih rata dan mengecupnya.


"Baik-baik didalam perut Bunda mu ya sayang. Jangan nakal. Sehat terus anak Ayah sampai kita bertemu." Ucap Satria


Ara terharu yang mendengar ucapan Satria. Matanya berkaca-kaca. Lalu ia menghapus air mata yang sudah menggenang dan siap menetes. Lalu mengusap kepala Satria dan menjawab ucapan Satria dengan nada suara seperti anak kecil.


"Iya Ayah, Aku akan gak akan nakal"


Satria menengadahkan kepalanya melihat wajah Ara dan tersenyum. Kemudian Satria berdiri dan mengecup puncak kepala Ara.


"Siap-siap sebentar lagi kita berangkat. Bawa baju ganti kita menginap malam ini"


"Menginap?" Satria mengagguk


Walau Ara merasa aneh tapi ia tetap menurut. Ara melangkah menuju kamarnya dan menyiapkan baju yang akan mereka bawa. Namun belum Ara sampai didepan pintu kamarnya suara Satria menghentikan langkahnya dan Ara berbalik melihat Satria


"Jangan banyak-banyak. Satu setel saja, Susana juga masih ada baju bukan. Bawa yang penting saja" Ara mengagguk


Setelah Ara hilang dari pandangan Satria, Ia langsung menghubungi Ayahnya dan memberitahukan masalah yang ia hadapi sekarang secara singkat. Satria meminta Ayahnya untuk memberi tahu Ibunya dan menghubungi Mama Devina untu berkumpul dikediaman Aditama. Satria meminta bantuan keluarganya untuk menutup rapat masalah ini sampai Satria menemukan jalan untuk memecahkan masalah yang sedang ia hadapi. Satria tidak ingin Ara stress karena masalah ini yang akan berakibat pada kandungnya.

__ADS_1


__ADS_2