
Pagi-pagi sekali Satria sudah siap. Ia memakai kemeja putih dan jas abu-abu senada dengan celananya. Ia tidak mengancingkan kancing kerahnnya juga jas, penampilan Satria terlihat keren dimata Ara.
"Kenapa kamu berpenampilan tampan hanya untuk konferensi pers?"
Satria terkekeh mendengar ocehan istrinya yang masih anteng diatas tempat tidur sembari memandanginya.
"Lalu aku harus berpenampilan seperti apa?" Jawab Satria
"Tidak tahu"
Mendengar itu Satria menjadi gemas sendiri. Ia menghampiri Ara dan mencium puncak kepalanya sebelum mengacak-acak rambut Ara.
" Ih kan jadi kusut" Beo Ara
"Udah san mandi, Ini udah jam berapa. Masih anteng aja sama selimut"
"Nanti saja, masih mager"
Satria menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Ara. Memang setelah hamil Ara menjadi malas untuk melakukan segala hal kecuali makan.
"Memangnya tidak mau mengantar suami mu ini pergi" Bujuk Satria
"Ehmm baiklah" Ucapnya malas lalu beranjak dari zona nyamannya dan masuk kedalam kamar mandi
Tak lama suara pintu diketuk. Satria pun berbalik dan berjalan menuju pintu lalu membukanya. Nampak dua orang pelayan membawa nampan. Satria sudah paham bahwa mereka membawa sarapan untuk dirinya dan Ara.
"Saya membawa sarapan untuk Aden sama Non Ara"
"Taruh saja didalam" Perintah Satria
Mereka pun meletakkan makanan yang mereka bawa diatas meja sofa yang ada dikamar Satria. Setelah itu mereka keluar dari kamar Satria bertepatan dengan keluarnya Ara dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang membuat Satria menahan hasratnya.
"Sabar Ara lagi hamil anak lo" Batin Satria
Ara yang melihat makanan sudah tersaji dikamar mereka langsung duduk di sofa tanpa memakai pakaian terlebih dahulu.
"Wah kelihatan enak nih" Lalu Ara mengusap perutnya yang masih rata "Lapar ya sayang, kita makan dulu ok"
Satria menggeleng melihat kelakuan istrinya yang sedang hamil itu.
"Ya ampun Ara" Gummanya pelan
Satria menghampiri Ara yang sudah melahap makanan yang ada didepannya lalu duduk disamping Ara.
" Sayang, pakai baju terlebih dulu. Emang kamu gak dingin"
"Gak" Jawab Ara singkat lalu melanjutkan makannya
"Ia kamu gak apa-apa tapi aku panas lihatnya" Satria pun pasrah dan memakan makanan yang ada didepannya
Setelah selesai acara sarapannya, Satria langsung keluar dari kamar dan turun kelantai satu menemui keluarganya yang pasti sedang menunggu dirinya dan Ara diruang keluarga. Sedangkan Ara jangan ditanya, dia kan belum memakai pakaian jadi otomatis ia sedang berpakaian dan sedikit berdandan.
__ADS_1
Diruang keluarga nampak semua anggota keluarga hadir di sana termasuk mertuanya. Mereka sedang berbincang-bincang setelah sarapan saat Satria menghampiri mereka. Bambang dan Devina datang pas setelah keluarga Aditama sarapan untuk berangkat bersama ketempat konferensi pers diadakan. Yang akan hadir hanya Satria, Heru dan Bambang. Sedangkan para istri menyaksikan dirumah termasuk Ara.
Mereka berdua menghampiri dua pasang suami istri itu lalu mencium tangan keempat nya. Kemudian Ara dan Satria duduk disofa bersebrangan dengan orang tua mereka.
"Sudah siap?" Tanya Bambang pada menantu kesayangannya
"Siap Pa"Jawab Satria mantap
"Baiklah, bagaimana jika kita langsung saja ke hotel" Ajak Heru
"Sepertinya memang kalian harus berangkat sekarang takutnya terjebak macet" Ucap Devina
"Iya itu lebih baik, ya walaupun acaranya masih lama. Jam sepuluh bukan?" Ucap Lisa dan semuanya mengagguk kecuali Ara
"Bisakah aku ikut." Semua pasang mata tertuju pada bumil yang lagi mengadu "Sungguh bosan diam terus dirumah" Ucap Ara sambil cemberut
Satria mendesah pelan "Andai saja ini dikamar" Batinnya melihat bibir Ara yang begitu menggoda baginya.
Tangan Satria terangkat mengelus punggung istrinya. " Sabar, satu hari ini saja. Besok mau kemana pun aku antar" Ara tersenyum mendengar perkataan suaminya lalu sejurus kemudian ia mengagguk.
"Sudah jangan mendrama. Kan ada Mama sama mertua mu disini. Kami tidak akan bosan sayang" bujuk Devina
"Iya Ma"
Setelah drama pagi yang selalu tercipta oleh pasangan muda yang sedang menanti buah hati mereka. Kini Satria, Bambang dan Heru akhirnya berangkat menuju lokasi tempat diadakannya konferensi pers dengan mengendarai mobil masing-masing.
Tepat seperti apa yang dipikirkan, mereka terjebak dalam kemacetan namun keberuntungan masih berpihak pada mereka. Mereka tidak terlalu lama terjebak kemacetan sehingga tiba setelah melakukan perjalanan satu jam.yang biasanya ditempuh dalam waktu 40 menit.
"Apa sudah siap semuanya" Tanya Bambang pada manager hotel
"Sudah, Tinggal menunggu waktu yang sudah ditentukan" Jawabnya
"Aku tidak ini terjadi kesalahan sekecil apapun" Manager hotel pun mengangguk
"Wartawan yang kita undang sudah datang?"
"Sudah Tuan"
"Baiklah kau boleh pergi. Minta pelayan untuk membawa minuman dan camilan"
"Baik Tuan"
Ketiga laki-laki itu pun berbincang-bincang sampai waktu acara akan dimulai. Sebuah ketukan terdengar dan masuklah Asisten Heru
"Maaf Tuan waktunya kita memulai acara"
"Ehmm baiklah. Ayo"
Di dalam ballroom hotel wartawan sudah duduk rapi dengan alat tempur mereka. Menunggu Satria menyampaikan klarifikasi tentang isu yang beredar saat ini.
Seorang pria berjalan di atas podium sembari memegang mic wireless. Lalu tersenyum menatap para pencari berita yang sudah tidak sabar menunggu.
__ADS_1
"Selamat siang semuanya" Ucap pak Rudi selaku moderator (Kaya presentasi aja ya pake moderator. hehehe)
"Siang" Jawab semua wartawan yang hadir
"Saya berterimakasih atas kehadiran rekan-rekan sekalian, memenuhi undangan kami disini. Baiklah tidak usah berlama lama, mari kita sambut Yang terhormat Bapak Heru Aditama, Satria Aditama dan Bapak Bambang Wiguna"
Seketika ruangan menjadi riuh mendengar pemilik hotel hadir. Ada apa gerangan, hubungan apa yang terjalin antara kedua pengusaha itu. Itu yang mereka pikirkan.
Mereka bertiga naik ke podium dan duduk ditempat yang sudah disediakan.
Sang moderator mempersilahkan Satria untuk memulai klarifikasi tentangnya. Satria memposisikan mic yang ada didepannya. Kemudian ia menghela nafas panjang.
"Assalamualaikum dan selamat pagi menjelang siang. Saya berharap tidak ada yang menyela ucapan saya. Ada saatnya kalian diberi waktu untuk bertanya. Terimakasih karena sudah bersedia menghadiri undangan saya."
Satria melirik Ayah dan Mertuanya. Lalu kedua orang tua itu mengangguk. Satria lagi-lagi menghela nafas " Isu yang sedang beredar itu memang benar" Satria menjeda ucapannya
Tiba tiba ruangan menjadi riuh mendengar pertanyaan pewaris Aditama.
"Harap rekan-rekan pers untuk tenang" Ucap pak Rudi. Dan suasana pun tenang kembali
"Itu memang benar tapi tidak semuanya" Lagi-lagi pers dibuat bingung dengan pernyataan Satria
Satria tersenyum melihat reaksi orang-orang yang ada didepannya.
"Ya memang saya sudah menghamili seorang wanita yang berstatus istri saya" Semua pers yang datang terkejut, ini berita besar fikir mereka
"Ya saya sudah menikah sekitar enam bulan yang lalu. Dengan seorang gadis bernama Tiara dan mungkin kalian sudah tahu. Saya menikah bukan karena ada masalah atau berhubungan dengan pergaulan bebas. Saya menikah karena dijodohkan" Ucap Satria yang membuat gempar dengan pernyataan nya.
Satria melirik kearah pak Rudi dan mengagguk. Pak Rudi mengerti kode yang diberikan Satria.
" Baiklah rekan-rekan sekalian apa ada pertanyaan"
Salah satu wartawan mengangkat tangannya "Pernikahan ini terjadi karena terpaksa, apakah tidak ada cinta didalamnya?"
"Ya itu memang benar, ada pepatah mengatakan cinta tumbuh karena terbiasa dan itu yang terjadi pada kami. Sekarang kami saling mencintai" Ucap Satria
"Siapa sebenarnya istri anda. Tidak mungkin bukan menantu keluarga Aditama dari kalangan biasa"
Satria tersenyum mendengar pertanyaan itu "Kami tidak pernah membeda-bedakan kasata. Kalaupun memang benar dia dari kalangan bawah. Asalkan dia gadis yang baik. Istri saya adalah putri kesayangan keluarga Wiguna. Tiara Adelia Wiguna"
Sontak semua saling pandang mendengar pertanyaan Satria. Lalu Bambang mengeluarkan suaranya sebelum keadaan tidak kondusif
"Itu benar, saya mempunyai seorang putra yang mungkin kalian sudah kenal dan seorang putri saya tutupi identitasnya untuk melindunginya selama ini. Benar bahwa Pemuda disamping saya ini adalah menantu kesayangan saya suami dari putri saya Tiara Adelia Wiguna"
"Tolong tampilkan buktinya" Ucap Heru pada Rudi
Lalu Pak Rudi menyuruh operator untuk menampilkan beberapa foto yang telah disiapkan untuk dipublikasikan. Dan terpampanglah foto buku nikah yang memperlihatkan identitas dan tanggal mereka menikah, beberapa foto saat ijab qobul dan bukti hasil USG kehamilan Ara yang baru menginjak satu bulan.
Setelah itu, Heru, Bambang dan Satria keluar dari ballroom yang sedang riuh mendapat kabar menggemparkan warga +62
Ditempat lain seorang gadis membanting seluruh barang yang ada didalam kamarnya. Sehingga kamarnya penuh dengan pecahan barang barang yang ia banting.
__ADS_1
"Aaaaa SIALAN!!!"