Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
65


__ADS_3

"Al ke D'kafe yuk. Temenin aku!" Ajak Ara


"Aku gak bisa Ra kalau sekarang. Udah janji sama Umi mau nemenin Umi" Tolak Alia


"Ya Sendiri donk" Ucap Ara kecewa. Ara duduk sambil menopang dagu.


"Emang kamu mau ngapain ke D'kafe" Tanya Alia penasaran


"Huft" Ara menghela nafas. Melihat itu Alia mengerutkan keningnya


"Kenapa sih?"


"Aku tadinya mau beli pembalut dan minta temenin kamu. Gara gara Satria, kemarin aku gak jadi beli. Padahal hari ini aku jatuh tempo. Aku belum ada persiapan. Takut keburu dateng. Hehehe" Ucap Ara panjang lebar


Alia mengerutkan keningnya lalu menggeleng.


"Terus hubungannya ngajak ke D'kafe apa?" Tanya Alia


"Hehehe Kan tadi aku bilang mau beli pembalut dan minta temenin kamu. Tapi gak boleh sama satria, katanya nanti beli bareng dia tapi udah selesai acara bareng anggota OSIS di kafe. Aku males kan harus nunggu dia sendiri coba. Jadi aku minta kamu nemenin nunggu Satria" Ucapnya


Alia menghela nafas " Ribet amat sih ih. Tapi beneran hari ini aku gak bisa Ra. Maaf ya" Ara mengagguk


"Iya tak apa Al" Jawab Ara lemah.


" Kamu berangkat sama siapa Ra?."


"Sendiri kaya nya"


"Yaudah bareng aku aja yuk. Kita naik taksi, kan searah" Ajak Alia


"Ayolah"


Akhirnya mereka memutuskan pergi bersama menggunakan taksi. Ara dan Alia berjalan keluar kelas. Saat mereka sampai halaman depan sekolah. Ara menghentikan langkahnya melihat Satria diparkiran, begitu pula dengan Alia.


" Ternyata dia belum berangkat" Ucapnya pelan. Ara memandang Satria yang sedang terlihat mengobrol dengan anggota OSIS yang lain. Beberapa Saat kemudian pandangan mereka bertemu. Ara berjalan kembali bersama Alia.


Melihat Ara yang baru keluar. Satria mengelurkan handphone nya dan mengirim pesan pada Istrinya.


"Langsung ke kafe dan tunggu aku di dalam . Pesan apapun yang kamu mau"

__ADS_1


Ara mendengus membaca pesan dari Satria. Ia melirik kebelakang dan ternyata Satria sedang melihatnya. Ara berbalik dan pergi bersama Alia. Sesampainya di kafe, Ara langsung menyuruh pelayan untuk membawakan makanan dan jus kesukaannya ke ruangan Satria. Semua karyawan di kafe tahu bahwa Ara adalah kekasih Satria. Jadi mereka menghormati Ara sama seperti bosnya. Terlebih sikap Ara yang rendah hati dan ramah pada karyawan kafe, sehingga Ara disenangi.


Disisi lain, Satria baru saja berangkat menggunakan motornya. Ia melesat dengan cepat meninggalkan teman-temannya. Ia tiba lebih dulu dari teman-temannya. Satria langsung menuju ruang kerjanya bersamaan dengan seorang pelayan yang membawa nampan berisi pesanan Ara.


"Siang pak" Ucap pelayan itu, walau ia usianya lebih tua dari Satria namun karena Satria adalah bosnya jadi ia memanggilnya Pak.


"Ehm. Itu untuk Ara" Tannya Satria menunjuk nampan yang pelayan itu bawa.


"Iya pak"


"Biar aku yang bawa" Satria mengambil nampan itu lalu masuk keruangannya.


Cklek...


Ara menengok melihat siapa yang masuk. Dan senyum Ara mengembang melihat Satria masuk dengan membawa nampan.


"Kamu dah datang?" Satria mengagguk ia meletakkan nampannya "Wah kelihatannya enak" Mata Ara berbinar


"Makanlah." Ucap Satria


Drtt...


Drtt...


Drtt...


"Hallo"


"Keluarlah!. Kita sudah sampai dikafe" Ucap Alvin di sebrang sana.


"Ok"


Lalu Satria menutup sambungan teleponnya.


"Aku keluar dulu. Anak-anak sudah pada datang" Ucap Satria


"Hus sana pergi" Usir Ara


"Kamu mengusir ku" Satria mendekati Ara dan mengikis jarak diantara mereka. "Setiap kesalahan mu harus diberi hukuman yang pantas" Satria menyeringai

__ADS_1


Cup...


Satria mengecup singkat bibir Ara. Ara terkejut mendapatkan serangan mendadak dari Satria. Karena Ara diam Satria melanjutkan aksinya. Ia kembali mencium Ara, dan Ara membalas. Mereka saling mencumbu, Satria menekan tengkuk Ara memperdalam ciuman mereka sampai...


Tok...


Tok...


Tok...


Ara melepas pungutannya dan mendorong Satria.


"Sial" Batin Satria.


Ia berdiri dan membuka pintu. Saat pintu terbuka, terlihat Dion sedang berdiri menatap tajam Satria sambil menyilangkan tangannya didada.


Dion menghela nafas, ia tahu apa yang mungkin Satria lakukan didalam.


"Udah belum?.Ayo anak-anak udah nungguin lo" Setelah mengucapkan itu ia berlalu pergi menuju teman-teman OSIS nya yang lain.


Satria menatap Ara, Ada rasa tidak rela meninggalkan Ara sendiri diruangannya.


"Aku kedepan dulu" Ucapnya dianggukin Ara. Ia pun pergi meninggalkan Ara sendiri


"Huft. Selamat" Ucap Ara sumringah " Makan lagi ach" Ara memakan makananya kembali.


Didepan, semua anak-anak OSIS satu angkatan dengan Satria hadir tanpa kecuali. Mereka berkumpul untuk merayakan berakhirnya tugas mereka, walau belum resmi. Karena peresmiannya akan diadakan minggu depan.


Mereka berbincang-bincang tentang dulu waktu mereka pertama masuk OSIS. Semuanya tertawa menceritakan pengalamannya masing-masing. Ada juga yang menekuk wajahnya karena diejek yang lain tapi lebih dari itu, mereka terlihat bahagia mengenang kebersamaan mereka dulu sampai sekarang. Walaupun tentu saja selalu ada masalah yang datang diantara mereka. Mereka tidak selalu akur.


Ditengah-tengah perbincangan, Satria kembali keruangannya. Ia berniat melihat Ara, takut Ara merasa bosan.


"Gue kebelakang dulu sebentar" Pamitnya


"Jangan lama-lama Sat!" Dion memperingati dan Satria mengagguk sebagai jawaban.


Cklek...


Satria membuka pintu ruangannya. Pandangannya tertuju pada seorang gadis yang kini menjadi Istrinya sedang berbaring dan tidur disofa diruangannya, Ia tersenyum. Satria mengambil selimut yang tersedia di ruangannya dan menyelimuti Ara.

__ADS_1


"Kamu cantik banget kalau tidur" Ucapnya pelan. Satria mengelus pipi Ara lalu mengecup keningnya. "You are so special for me Ara " Setelah mengucapkan itu Satria meninggalkan Ara sendiri dan kembali bersama teman-temannya.


__ADS_2