
Tidak berselang lama pintu apartemen Satria terbuka dan masuk lah dua pasang suami istri paruh baya kedalam apartemen Satria.
"Kemana mereka, harusnya mereka sudah pulang bukan" Ucap Devina yang melihat keadaan apartemen yang ditempati anak menantunya sepi
"Iya jeng, kemana mereka"
Devina dan Lisa melangkah kedapur dan meletakkan makanan diatas meja makan lalu menyusul suami mereka yang telah lebih dulu duduk disofa.
"Coba lihat dikamar!" Perintah Heru
"Iya dari tadi aku menghubungi nomor Ara tidak diangkat-angkat" Bambang menimpali
Lisa dan Devina pun melangkah menuju kamar Ara dan Satria.
Cklek...
Pintu kamar terbuka. Lisa dan Devina membulatkan matanya melihat anak menantu mereka yang tengah tidur saling berpelukan dengan selimut yang menutupi mereka sampai ke leher. Tiba tiba otak Lisa dan Devina traveling kamana-mana.
"Astagfirullahaladzim" Teriak Lisa dan Devina bersamaan yang membuat kedua pria yang tengah duduk itu berdiri hendak menghampiri mereka.
Lisa yang melihat itu langsung mengagkat tangannya mengisaratkan untuk berhenti.
"Stop Yah. Ayah diam disitu tidak boleh melihat mereka"
"Iya Lisa benar. Diam disitu"
Heru dan Bambang mengerutkan dahi mereka bingung.
"Kenapa?" Tanya heru penasaran
"Aish. Ini semua salah anak Ayah yang tidak tahu waktu!" Ungkap Lisa kesal
"Lah kenapa Satria yang disalahkan" Heru semakin bingung
"Ya iya lah. Anak Ayah udah buat menantu ku kelelahan melayaninya!" Sungut Lisa
Barulah Heru dan bambang mengerti. Sudut bibir mereka terangkat.
"Tidak apa. Bagus itu! jadi aku akan secepatnya menjadi seorang kakek" Ucap Bambang dan dianggukin Heru "Aku sudah ingin menggendong cucu. Kalau berharap dari Bara, tidak tahu kapan ia akan memberiku cucu. Sedangkan dia tidak pernah dekat dengan seorang gadis. Bahkan diumurnya yang sudah menginjak 22 tahun pun aku belum pernah mendengar kabar dia dekat atau mempunyai kekasih" Ucap Bambang panjang lebar lalu berbalik dan kembali duduk diikuti oleh Heru.
"Apa kalian akan membangunkan anak-anak atau masih mau menonton didepan pintu" Sarkas Heru
Lisa dan Devina tersenyum lalu masuk dan membangunkan anak-anak mereka.
"Satria"
"Ara"
Panggil mereka bersamaan
"Hei kalian bangun"
"Iya ayo bangun" Devina menggoyang-goyangkan tubuh Ara
__ADS_1
"Satria ayo bangun. Ya ampun kamu ini masih susah dibangunin ternyata" Omel Lisa
Satria dan Ara mengerjapkan mata mereka dan melirik kearah suara yang mengganggu tidur mereka. Ara Satria membulatkan matanya melihat Lisa dan Devina sedang berkacak pinggang menatap mereka. Mereka dengan cepat duduk dan membuat Lisa juga Devina terkejut kembali, ternyata apa yang mereka fikirkan Salah.
"Ka-kalian tidak..." Tunjuk Devina pada pasangan yang baru bangun tidur itu
"Tidak apa Ma?" Tanya Satria dan Ara
"Ach tidak, ayo cepat bangun. Ayah dan papa kalian menunggu!" Ucap Lisa
Lisa dan Devina keluar dari kamar anak mereka lalu duduk bergabung dengan suami mereka.
Tak lama Ara dan Satria pun keluar dengan memakai baju santai mereka. Yang biasa dikenakan dirumah.
"Tumben Papa, Ayah, Ibu dan Mama kemari tidak menghubungi kami" Tanya Ara
"Kata siapa kita tidak menghubungi kalian. coba lihat handphone kalian. Kalian saja yang sulit dihubungi" Ujar Bambang sambil mendelik ke arah putrinya
"Biasa aja kali Pah" Ara berbalik kembali ke kamar mengambil handphone nya.
Ara membuka handphonenya dan ternyata apa yang dikatakan Papanya betul. Puluhan panggilan tak terjawab dari nomor orang tuanya dan mertuanya tercentang nyata di layar handphonenya. Ara keluar dari kamarnya, berjalan menuju tempat keluarganya berkumpul sembari cengengesan.
"Gimana, ada?"...
"Hehehe ada Pah"
"Kalian sudah makan?" Tanya Devina
"Belum Ma" Jawab Satria dan Ara berbarengan
"Aw sakit Bu" Satria meringis mendapat pukulan dibahunya.
"Hukuman buat kamu yang udah bikin putri Ibu kelaparan"
"Bukan gitu Bu. Tadi itu..." Satria tidak melanjutkan perkataannya karena Lisa langsung memotong perkataan Satria.
"Tadi itu apa!" Satria menghela nafas
"Percuma" Batin Satria
"Harusnya kamu ngajak Ara makan dulu baru enak enak dikamar" Heru menimpali
"Hah" Ara dan Satria bengong mendengar ucapan Ayah Heru
"Biasa lah anak muda. Biarkan saja. Hahaha" Ucap Bambang lalu tertawa.
Ara dan Satria semakin bingung mendengar perkataan Papa dan Ayah mereka. Apa yang telah mereka lalukan ucap mereka dalam hati. Sebenarnya Heru maupun Bambang tidak tahu bahwa Ara dan Satria hanya tidur saja. Bahkan mereka masih memakai seragamnya.
"Udah udah. Ayo kita makan dulu" Ajak lisa
"Iya ayo. Kita tadi bawa makanan banyak"
Mereka beranjak dari duduknya dan pergi kedapur untuk makan siang yang terlambat.
__ADS_1
...----------------...
Disebuah ruangan VVIP rumah sakit, seorang Ibu paruh baya tengah terbaring lemah ditemani oleh seorang gadis berhijab yang masih memakai seragam SMA. Ibu itu sadar dan membuka matanya. Ia menyerngit mencium bau obat-obatan khas aroma rumah sakit.
"A-air. Air" Ucap Ibu itu terbata-bata
Gadis yang tengah selesai menerima telepon dari handphone ibu itu pun bergegas mendekati blangkar.
"Alhamdulillah Tante sudah sadar. Ada yang bisa saya bantu?"
Ibu itu tertegun melihat gadis cantik berhijab yang sopan dan lemah lembut ada dihadapannya.
"Tante" Panggil gadis itu lembut
"Ah iya Nak. Tante haus"
Gadis itu berbalik dan mengambil air yang ada dinakas sebelah belangkar. Lalu memberikan pada Ibu yang tengah berbaring lemah.
"Ini airnya Tante" Ia menyodorkan segelas air
Ibu itu meminum airnya sampai habis setengah lalu memberikan pada gadis itu.
"Terima kasih Nak"
"Sama-sama Tante." Gadis itu merogoh sakunya dan mengeluarkan handphone "Oh iya ini handphone Tante. Maaf tadi ada panggilan masuk saya lancang menerimanya"
"Terima kasih Nak. Siapa yang menghubungi nomor Tante?"
"Owh itu namanya D'Love kalau gak salah" Gadis itu nampak berpikir "Iya D'Love Tante" Gadis itu mengagguk yakin
Ibu itu tersenyum penuh arti "Itu anak Tante sayang. Terima kasih udah nolong Tante"
"Sama-sama Tante. Memang seharusnya bukan kita saling menolong"
"Iya. Kamu tahu" Gadis itu menggeleng" Jarang ada gadis seperti mu. Tidak hanya cantik diluar tapi juga cantik didalam" Ucapnya sungguh-sungguh
Gadis itu tersipu malu mendapat pujian dari wanita yang ia tolong. "Saya tidak secantik itu. Tante terlalu berlebihan"
"Tante tidak berlebihan Nak. Itu memang benar. Coba saja anak tante punya jodoh seperti dirimu. Pasti tante sangat bahagia" Ucapnya dengan mata berbinar namun tidak lama tatapannya menjadi sendu
"Sayangnya dia playboy. Tidak pantas untuk gadis yang sholeh, cantik dan baik seperti mu"
Gadis itu meraih tangan Ibu itu dan pandangan mereka bertemu. Gadis itu tersenyum.
" Seorang hamba yang sholeh punya masa lalu. Begitu pula dengan seorang pendosa, ia juga punya masa depan. Jadi Tante jangan berkecil hati. Berdoalah, insya Allah doa tante akan dikabulkan Allah SWT. Aamiin"
"Aamiin"
Cklek...
"Momz" Teriak pemuda yang menerobos masuk
Kedua perempuan beda jaman itu berbalik melihat seseorang yang menerobos masuk. Gadis itu mematung, begitu pula dengan pemuda itu mematung diambang pintu.
__ADS_1
"Alia"
"Dion"