
"Ini benar-benar rumit" Gumamma Alvin
Alvin menggelengkan kepalanya. Lalu Alvin menepuk pundak Satria
" Gimana kalau kita mencari solusinya bersama. Kita panggil Dion buat kesini. Sekalian traktir gue makan, laper gue. Ya itung-itung konpensasi pinjem mobil gue" Alvin menyilangkan tangannya menatap Satria lalu Alvin menaik turunkan alisnya
" Lama-lama lo kaya Dion" Lalu Satria melenggang pergi meninggalkan Alvin
Mereka berdua berjalan beriringan masuk kedalam gedung apartmen menuju unit apartemen milik Satria dan Ara
Cklek...
Satria membuka pintu lalu masuk kedalam bersama Alvin. Satria mengedarkan pandangannya mencari Ara. Tapi Satria tidak melihat Ara.
Cklek...
Pintu kamar terbuka, nampak Ara keluar dari kamar mengenakan pakaian rumahan. Satria terpaku melihat apa yang Ara kenakan saat ini. Begitu pula dengan Alvin. Ara memakai hot pans dan kaos yang agak kebesaran di badannya.
Ara melenggang pergi ke dapur, tanpa menghiraukan Satria dan Alvin. Seketika Satria tersadar, ia menarik lengan Ara dan masuk kedalam kamar. Saking terkejutnya Ara hanya diam ditarik Satria.
Brak..
Ara tersadar lalu menepis cengkraman tangan satria yang melonggar.
" Ihh kamu tuh kenapa sih, sakit tahu! " Ara mengelus tangannya yang ditarik Satria
Satria memandang Ara dari atas kebawah. Ara merasa tidak nyaman dengan tatapan Satria. Ara lalu menyilangkan kedua tangannya didada menutupi gunung kembarnya.
" A apa. Apa!"
Satria mengusap mukanya frustasi dan menghembuskan nafasnya kasar.
" Ganti baju mu"
" Hah" Ara terbengong
" Ganti baju mu! "
"Biasanya juga aku pakai apapun tidak protes" Ara mencebikkan bibirnya
Satria melangkah maju mendekati Ara dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Sedangkan Ara berjalan mundur menghindari Satria. Sampai punggung Ara menabrak dinding kamar. Satria memepetkan tubuhnya pada Ara. Tangan Ara berada didada Satria, menahan Satria untuk tidak menempel padanya. Lengan Satria merangkul pinggang Ara dan yang satunya menempel didinding menahan tubuhnya.
Ara meremang merasakan hembusan nafas Satria. Saat Satria mendekatkan mukanya pada muka Ara. Tubuh Ara tegang, nafasnya tak beraturan, degup jantungnya begitu cepat. Namun itu tidak hanya terjadi pada Ara, Satria pun merasakannya.
" Aku tidak masalah kamu memakai baju apapun bahkan bila telanjang sekalipun. Paling aku akan memakanmu saat aku tidak bisa menahannya" Kata satria dengan suara yang berat menahan hasratnya.
Deg...
Jantung ara berpacu lebih cepat
" Gawat, aku membangunkan singa yang lapar" Batin Ara
"Woi !. Disini masih ada gue. Jangan asik-asik dikamar!" Teriak Alvin diluar kamar.
Satria melepaskan Ara lalu pergi dari kamar.
" Selamat, aku harus ganti baju" Batin Ara
Setelah berganti pakaian Ara keluar dari kamar menuju dapur. Melakukan hal yang tertunda alias memasak karena insiden kecil. Satria tersenyum melihat Ara memakai celana training panjang. Satria beranjak dari duduknya lalu menghampiri Ara.
__ADS_1
" Masak yang banyak karena Dion akan kemari" Setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan, Satria melenggang pergi meninggalkan Ara di dapur sendiri.
" Dasar tidak pengertian! Bantuin kek" Gerutu Ara lalu fokus dengan acara masaknya.
Satria dan Alvin tengah serius membicarakan masalah Ara disekolah. Mereka berdua sedang memikirkan cara agar Ara tidak menjadi sasaran penggemar mereka.
Ting tong...
Suara bel berbunyi.
" Nah pasti itu Dion" Kata Alvin dan Satria pun mengagguk. Satria bergegas membukakan pintu yang ia yakini itu adalah Dion.
Cklek...
" Mama " Satria terkejut ternyata yang datang adalah mertuannya
" Eh menantu ganteng Mama. Dimana Ara"
" Ara ada didapur Mah lagi masak " Jawab Satria " Ayo masuk Ma" Satria mengajak Devina masuk
" Iya"
" Biar Satria bawakan barangnya"
Mendengar apa yang dikatakan menantunya Devina tersadar. Ia membawa gaun untuk Ara dan jas untuk Satria.
" Ini untuk kalian" Menyerahkan Paper bag pada satria
Devina dan Satria masuk kedalam apartmen. Alvin yang melihat Mama Ara datang langsung mencium tangan Devina.
" Tante apa kabar" Tanya Alvin
mendengar suara yang ia kenal, Ara menghentikan kegiatannya. Lalu melihat siapa yang datang.
" Mama" Ara berlari langsung memeluk Devina " Kangen"
Devina terkikik mendengar Ara. Devina membalas pelukan Ara, mengusap ngusap punggungnya.
" Siapa suruh kamu jarang main ke rumah "
" Maaf Ma" Satria yang Menjawab. Ia merasa bersalah karena belum mengajak Ara pergi kerumah orang tua Ara sejak mereka menikah.
" Sudah sudah" Devina melepaskan pelukannya " Mama kesini mau menyampaikan aja. Besok malam ada acara ulang tahun perusahaan teman Papa dan Ayah kalian. Jadi kalian harus datang. Dan itu gaun dan Jasnya" Devina melirik Paper bag itu dengan ekor matanya.
" Iya Ma" Jawab Satria dan Ara berbarengan.
" Ya sudah Mama mau pergi dulu"
" Loh kok pergi lagi sih Ma" Ara bergelayut manja pada Mamanya " Makan dulu ya, kebetulan Ara lagi masak "
" Maaf sayang, Mama cuma sebentar. Mau nganterin itu aja sambil memberitahukan kalian. Sekarang Mama ditunggu Ibu-ibuu arisan Nak, Mama udah janji soalnya" Devina mengusap kepala Ara yang sedang cemberut
" Iya" Jawab Ara lemah
"Mama pulang ya" Lalu semuanya menyalami Devina
" Satria antar Ma"
" Tidak usah, lanjutkan saja kegiatan kalian"
__ADS_1
Sepeninggalnya Devina, Ara melanjutkan kegiatan memasaknya. Sedang kan Satria dan Alvin melanjutkan pembicaraan mereka.
Ting tong...
Bel apartmen Satria terdengar lagi. Kini Alvin yang membukakan pintu. Terlihat seorang pemuda berdiri di depan pintu dengan senyumnya yang menawan.
" Lama lo"
" Sorry, tadi bebeph gue telephon"
" Laga lo"
Mereka bertiga duduk lesehan beralaskan permadani diruang tamu sekaligus ruang keluarga.
" Eh jadi benar yang dikatakan Alvin di telephon?" Satria mengagukkan kepalanya
" Kenapa jadi rumit kaya gini sih" Dion merbahkan tubuhnya
" Iya makanya sekarang kita disini buat ngebahas itu" kata Alvin
" Hei ayo makan! Makanan udah siap" Ara datang tiba-tiba
Mendengar kata makan, Dion langsung bangkit
" Asik makan makan" Setelah mengatakan itu Dion langsung menuju meja makan dan duduk
" Makan aja lo tanggapnya cepet!" Ara ngedumel
Melihat kelakuan Dion, Satria dan Alvin menggelengkan kepalanya. Mereka pun menyusul Dion yang sudah duluan duduk dimeja makan. Mereka berempat duduk di meja makan yang memang untuk empat orang.
" Wah kelihatannya enak nih" Dion ngiler liat makanan yang ada didepannya " Semoga rasanya sama dengan penampilannya"
" Sana lo pergi, gak usah makan! " Kesal Ara
" Galak bener istri lo Sat"
" Apa lo bilang!" Ara berdiri dari duduknya. Melihat itu Satria menarik Ara untuk duduk kembali.
" Udah kita makan" Satria menengahi
Alvin menggelengkan kepalanya melihat lelakuan Dion yang terus menggoda Ara. Ara duduk disamping Satria dan didepannya ada Alvin yang duduk disebelah Dion. Seperti biasa, Ara akan mengbilkan makanan untuk Satria baru untuknya.
" Cie, yang udah punya istri. Makan pun ada yang nyiapin. Hahahaha " Dion tertawa bahagia melihat hubungan pasutri didepannya
" Diem lo" Kesal Ara
Satria hanya diam tanpa menggubris Dion.
"Gue seneng liat hubungan kalian. Walaupun dilandasi keterpaksaan tapi kalian bertanggung jawab dan menjalaninya dengan baik" Kata Alvin
Mereka pun akhirnya makan. Dion dan Alvin menyuapkan makanannya dan terkejut. Ternyata masakan Ara enak pake banget.
Alvin mengacungkan jempolnya pada Ara. Ara yang mendapatkan itu pun tersenyum sumringah. Sedangkan Dion tidak langsung memuji masakan Ara. Malah menggodanya.
"Sumpah ini enak banget. Beneran lo yang masak?" Ara mengangguk " Gue kira beli"
" Sialan lo"
" Udah makan. Jangan berdebat terus" Lagi lagi Satria menengahi
__ADS_1
Dan akhirnya mereka makan dengan canda tawa diselingi perdebatan antara Ara dan Dion.