Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
48


__ADS_3

Satria terduduk lemas setelah mendengarkan penjelasan Dokter bahwa itu bukan tanda-tanda Ara akan sadar. Tapi itu tanda bahwa Ara merespon apa yang dilakukan Satria padanya.


flash back on


Dokter dan perawat yang merawat Ara tergesah-gesa menuju ruang VVIP tempat Ara dirawat. Mereka takut terjadi sesuatu pada pasien VVIP mereka.


Satria yang melihat Dokter dan Perawat masuk langsung berdiri. Dan mengatakan apa yang terjadi.


" Dok tadi tangannya bergerak, apa Ara akan cepat sadar Dok?" Tanya Satria Bahagia.


" Baiklah saya periksa dulu sebentar" Ucap Dokter Suryadi


Dokter Suryadi memeriksa Ara dengan seksama dibantu dua Perawat. Setelah selesai Dr. Suryadi langsung memberitahukan hasil pemeriksaannya.


" Bagaimana Dok?" Tanya satria penasaran


" Menurut hasil pemeriksaan awal, saya rasa gerakan pada jari pasien bukan karena akan siuman. Itu bentuk respon dari tubuhnya pada orang yang mengajaknya berbicara." Satria terlihat kecewa mendengan penjelasan Dokter.


" Pasien yang koma seperti yang dulu saya katakan diawal. Dia bisa mendengar dan merasakan keadaan sekitarnya. Bahkan bisa merespon dengan gerakan tangan atau menangis misalnya" Jelas.Dr. Suryadi


" Saya mengerti Dok, terima kasih" Ucap Satria lemah


" Kalau begitu saya permisi " Pamit Dr. Suryadi.


Dokter dan Perawat pun pergi meninggalkan ruang perawatan Ara.


Flas back off


Satria terus menggenggam tangan Ara dan berbicara dengan Ara. Sebenarnya Satria berbicara sendiri, menceritakan apapun yang bisa ia ceritakan.


Cklek...


Tiba-tiba pintu dibuka, Satria langsung menengok ke arah pintu. Satria melihat Dion dan menatapnya penuh selidik. Satria bukan penasaran kenapa dia datang menjenguk Ara tanpa memberitahunya. Namun yang membuat Satria menatap Dion adalah gadis yang berada dibelakang Dion.


Satria terkejut melihat siapa gadis yang dibawa Dion.


" Hai" Ucap gadis itu


Satria tidak menjawab. Malah menatap tajam Dion. Yang ditatap hanya cengegesan sambil menggaruk tengkuknya.


" Sorry dia ngancem gue, kalau gue gak nurutin permintaannya. Dia bakalan bilang kalau lo sama Ara pacaran. Karena dia bilang lo pernah jemput Ara dan dia di mall dan pulang bareng lo bertiga." Jelas Dion. Satria menghela nafasnya.


Gadis itu menundukan kepalanya " Sorry aku hanya ingin bertemu dengan Ara dan melihat keadaannya" Ucap Alia sendu


Satria beranjak dari duduknya dan menyuruh mereka masuk.


" Masuklah, Ara" Satria menjeda ucapannya "Dia koma" Alia mengagguk " Lo tahu?" Alia melirik Dion


" Iya aku tahu. Dion yang bilang" Ucap Alia

__ADS_1


Satria melirik Ara " Dia bisa mendengar yang lo katakan dan merasakan ketulusan lo. Jadi tolong beri dia semangat untuk tetap bertahan" Ucap Satria sendu. Alia mengagguk


" Bolehkah aku duduk disampingnya?" Tanya Alia


" Tentu" Jawab Satria


Setelah mendapatkan ijin, Alia berjalan mendekati Ara dan duduk ditempat tadi Satria duduk. Alia menggenggam tangan Ara dan mulai berbicara. Sedangkan Satria dan Dion, mereka duduk disofa yang tersedia di ruangan tersebut.


" Lo hutang penjelasan sama gue" Satria menatap Dion


" Penjelasan Apa?" Satria melirik Alia lalu kembali menatap Dion.


" Lo dan dia" Satria melirik Alia dengan ekor matanya.


" Assalamualikum Ara, bagaimana kabar mu hari ini?. Aku merindukan mu, kau tahu kini aku selalu sendiri disekolah. Karena teman baik ku masih betah tertidur." Alia meneteskan Air matanya, cepat cepat ia menghapusnya.


"Kau tahu, kamu lebih terkenal dari sebelumnya. Karena waktu kamu pingsan digendong Satria. Seluruh murid disekolah tahu, mereka semua membicarakan mu" Alia menghela nafas


" Tapi ada yang bikin aku kesel banget. Kamu tahu apa, mereka bilang kamu pelakor!. Huh mereka tidak tahu saja siapa dirimu. Kalau mereka tahu, mereka pasti pingsan. Hahahaha"


Satria dan Dion merilik Alia yang tertawa. Senyum Satria terbit, Satria berharap Ara juga tersenyum mendengar Alia tertawa. Namun beberapa saat kemudian Alia menangis tersedu-sedu.


" Maafkan aku Ara" Ucap Alia sambil menangis " Jika saja waktu itu aku mencegah mu pergi bersama Susan, pasti kita sekarang sudah pergi ke pantai. Hiks... Hiks... Hiks..."


Satria menyuruh Dion untuk membawa Alia keluar. Dion beranjak dan membawa Alia keluar.


" Ayo, kita keluar dulu " Ajak Dion, Alia menurut.


" Apa kamu sedih mendengar teman mu menangis. Kalau memang seperti itu bangun lah. Jangan buat kami sedih menunggu mu terlalu lama" Ucap Satria


...----------------...


Satria tertidur disamping Ara. Dengan posisi ia duduk dikursi dan kepalanya diletakan di tempat tidur Ara dengan lengannya sebagai bantal. Dan tangan yang satunya lagi menggenggam tangan Ara dan diletakkan diatas perut Ara.


Drtt...


Drtt...


Drtt...


Bunyi suara Handphone Satria membuatnya membuka mata. Lalu Satria meraih Handphone nya yang terletak diatas nakas sebelah ranjang Ara. Satria menjawab telepon nya setelah tahu Alvin yang menghubunginya


"Hallo Sat"


" Iya kenapa?"


" Lo gila!. " Satria mengerutkan keningnya " Ngapain lo posting foto kaya gitu. Lo mau hubungan kalian ketahuan"


"Gue gak masalah, biarkan saja mereka tahu bahwa gue milik Ara"

__ADS_1


" Gak masalah mungkin bagi lo. Namun bagi Ara?. Denger Sat, identitas Ara memang seharusnya lo sembunyiin. Untuk melindungi dia dari perlakuan kasar fans lo!. Terutama Angel, dia masih ngejar lo!"


" Gue tahu. Gue bakalan ngelindungi Ara. Memangnya sampai kapan kita bakalan terus sembunyiin identitas Ara. Ada waktunya gue juga ke gep mereka saat jalan bareng sama istri gue"


" Setidaknya untuk saat ini Sat"


" Gue tahu, lagipula siapa yang bakalan tahu Ara istri gue kalau bukan kalian yang bilang"


"Kita gak bilang tapi kalian juga yang... Ah sudah lah"


" Alia udah tahu"


" Apa!!"


"Tadi dia kemari jenguk Ara bareng Dion. Tapi dia tahunya gue pacaran sama Ara"


"Apa dia dapat dipercaya"


" mungkin, kita tidak tahu isi hati orang. Tolong awasi dia"


" Hadeuh nambah lagi kerjaan gue"


" Kalau lo gak suka, gue nyuruh orang lain"


"Bukan gak suka!. Gue awasin dia. Gue tutup."


" Ehmz"


Alvin menutup panggilannya. Satria meletakan Handphone nya diatas meja. Ia terus menatap Ara lalu melettakan kepalanya dengan posisi seperti tadi saat ia tertidur.


Tiba-tiba Ara mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia melihat sekeliling, melihat siapa yang berada disampingnya dan memegang tangannya.


" Dia memang Satria atau hanya anganku saja?. Apa dia Budi tapi terlihat seperti Satria karena kerinduan ku padanya?" Batin Ara


Ara mencoba menggerakan sebelah tangannya yang tidak digenggam Satria.


" Kenapa rasanya tangan ku berat sekali" Batin Ara


Ara berusaha sekuat tenaga mengagkat tangannya dan ia berhasil. Walau tangannya gemetar tapi ia tetap berusaha menyentuh kepala Satria.


Puk...


Lengan Ara mendarat dikepala Satria dan mengusapnya. Satria yang kaget langsung berbalik melihat Ara. Ara tersenyum melihat ekspresi kaget Satria yang terbengong melihat Ara.


" Apa aku mimpi?. Apa ini dirimu, benar dirimu Suamiku Satria?" Batin Ara


"Ara" Air mata Satria jatuh saat mengatakannya. Satria mengakup wajah Ara


"Akhirnya kamu sadar" Lalu Satria memeluk Ara yang tengah berbaring. Ara pun membalas pelukannya.

__ADS_1


"Iya" Jawabnya lemah


menyadari itu Satria melepaskan pelukannya lalu beranjak menekan tombol untuk memanggil Dokter dan perawat.


__ADS_2