Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
78


__ADS_3

Ara begitu lahap memakan makanan yang dipesan Satria. Membuat Satria menghentikan pekerjaannya dan memandang Ara.


"Dia seperti tidak makan beberapa hari" Batin Ara " Apa mau nambah lagi" Saat melihat makanannya hampir tak bersisa


Ara menggeleng" Tidak, sudah kenyang" Ucap Ara sambil mengelus perutnya


"Bagaimana mungkin tidak kenyang. Itu porsi untuk dua orang" Batin Satria. Ia menggelengkan kepalanya seraya tersenyum


"Istirahatlah dulu. Setelah ini selesai kita pulang" Ucap Satria dan Ara pun mengagguk sebagai jawaban, lalu Satria melanjutkan pekerjaannya


Drtt


Drtt


Drtt


Handphone Satria berbunyi, ia langsung menerimanya setelah melihat nama yang tertera dilayar.


"Sat. Gue nemuin sesuatu"


"Ehmm" Satria memandang Ara yang memandangnya penasaran


" Tapi sepertinya itu belum cukup buat ngebuktiin lo gak bersalah"


"Tidak masalah, kita simpan saja dulu. Nanti kita keluarin secara bersamaan"


"Ok"


"Thanks"


"Lo kaya sama siapa aja. Masalah lo masalah gue"


Lalu mereka mengakhiri panggilannya.


"Siapa?" Tanya Ara yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya. Satria malah tersenyum. "Ye malah senyum" Ara memonyongkan bibirnya dan berbaring disofa memunggungi Satria.


Melihat tingkah Ara, Satria menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


Satria meregangkan otot-otot setelah berkutat dengan pembukuan kafe. Satria membereskan mejanya dan menghampiri Ara yang tertidur meringkuk disofa. Satria duduk dipinggir sofa. Ia merapikan anak rambut Ara memandang Ara penuh cinta.


Cup...

__ADS_1


Satria mengecup kening Ara. Senyumnya mengembang melihat Ara menggeliat terganggu oleh tindakan Satria.


Satria menepuk-nepuk pipi Ara "Ra. Bangun"


"Ehmmm"


"Ayo kita pulang" Ajak Satria


Ara perlahan membuka matanya " Jam berapa?" Tanya Ara


Satria melihat jam dipergelangan tangannya "Jam empat" Jawab Satria


Ara bangun lalu pergi kekamar mandi untuk merapikan penampilannya. Setelah Selesai Ara keluar, ia melihat Satria tengah sibuk dengan handphone nya. Satria terlihat serius, dahinya mengkerut dan sesekali menghela nafas. Ara menghampiri Satria dan memasang wajah seceria mungkin.


"Serius amat" Ucap Ara setelah ia duduk disamping Satria


Satria memasukan handphone nya kedalam sakunya.


"Ayo pulang " Ajak Satria


Satria berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Ara. Ara tersenyum sembari menyambut tangan Satria. Mereka berjalan keluar ruangan Satria sembari bergandengan tangan. Setelah mereka sampai diparkiran depan kafe. Satria membukakan pintu mobil untuk Ara lalu ia memutar dan masuk kedalam mobil.


"Sat kita jadi nginap dirumah Ibu?" Tanya Ara sambil memasang sabuk pengaman.


"Engga bukan gitu. Cuma tanya saja" Satria mengagguk "Ayo cepat nyalakan mobilnya. Pasti ibu sudah memasak makan yang enak buat aku" Ucap Ara berbinar


"PEDE" Ucap Satria sembari menghidupkan mobilnya


"Iya donk aku kan putri kesayangannya" Ucap Ara bangga


Satria tidak menjawab ocehan Ara. Ia fokus menyetir sampai tidak mengeluarkan suara. Hening, itu yang akhirnya terjadi. Tidak ada obrolan ringan seperti biasa, membuat Ara mendesah. Ara tahu Satria kini sedang menghadapi masalah yang cukup berat. Walaupun didepannya selalu terlihat baik-baik saja namun Ara tahu bahwa Satria tidak dalam keadaan baik.


Sampai mobil yang ditumpangi Ara kini berhenti didepan gerbang yang menjulang tinggi menunggu untuk dibuka dan masuk kedalam rumah yang begitu mewah.


Ara segera keluar dari mobil sesaat setelah mobil berhenti didepan pintu rumah mertuanya. Ia berlari masuk tanpa memperdulikan Satria yang bengong melihat Ara keluar dari mobil tanpa sepatah katapun


"Dia kenapa?" Batin Satria, lalu ia ikut turun dari mobil dan menyusul Ara


"IBU" Teriak Ara sesampainya didalam rumah


"Assalamualaikum Sayang" Ucap Lisa yang sedang menghampiri menantunya

__ADS_1


Ara mencium tangan Lisa lalu memeluknya. Satria melihat itu merasa bersalah karena dia sendari tadi mendiami Ara. Satria langsung menghampiri Ara dan Ibunya. Melihat anaknya berada didepan mata, Lisa melepaskan pelukannya dengan Ara. Satria mencium tangan Ibunya seperti biasa.


"Kalian ke kamar dulu gih bersih-bersih dan istirahat. Kalau udah waktunya makan malam Ibu panggil" Ucap Lisa


"Ara mau bantu Ibu masak ya" Ucap Ara manja


"Istirahat saja dikamar Nak" Ucap Lisa pada Ara


Ara bergelayut manja dilengan Lisa "Tapi Ibu, Ara itu baru bangun tidur. Iya kan?" Ara meminta dukungan dari Satria dan Satria mengagguk sebagai jawaban. "Jadi Ara mau bantu Ibu masak aja" Ucap Ara kekeh


Lisa tertawa kecil "Ya sudah. Ganti dulu pakaiannya. Masa masak pake seragam"


"Iya Bu"


Ara melangkah menuju kamarnya dan Satria dan disusul oleh Satria. Saat Satria masuk kamar, Ara sudah berganti pakaian bersiap untuk turun kedapur. Satria mematung didepan pintu sampai suara Ara terdengar memanggilnya.


"Sat. Hallo" Ara melambaikan tangannya didepan wajah Satria


"Satria!" Panggil Ara dengan nada naik satu oktaf


"Ehmmm" Gumma Satria


Ara menghela nafas dan berkacak pinggang "Awas aku mau lewat Satria." Ucap Ara


"Maaf" Lalu Satria sedikit bergeser


"Kamu sana mandi aku sudah menyiapkan bajunya" Perintah Ara


Satria mendekati Ara lalu memeluknya dan Ara membalas pelukan Satria. Satria mengecium puncak kepala Ara lalu berbisik


"Terima kasih sayang" Ucap Satria lembut


Senyum Ara mengembang mendengar kata sederhana yang sangat bermakna baginya.


...----------------...


Terima kasih untuk readers yang selalu dukung aku dan selalu nungguin update terbaru dari novel aku. Terus dukung author supaya lebih semangat buat nulis biar updatenya banyak. Hihihi


Dan selamat hari raya IDUL ADHA bagi yang merayakannya. Semoga kita mendapat keberkahan dihari ini. Semoga Allah SWT memberikan kita kesehatan dan kekuatan menghadapi pandemi covid-19 ini.


Jaga diri kita agar kita bisa menjaga orang-orang yang kita sayangi dengan merapkan protokol kesehatan.

__ADS_1


Hempaskan corona, Indonesia bangkit!.


Semangat!!!


__ADS_2