
Karena sedang sepi mereka tidak harus lama menunggu.
"Ini Neng baksonya"
" Terima Kasih Mang" Ucap Alia dan Ara
Mereka pun memakan bakso dengan lahap. Setelah memakan bakso Ara dan Alia segera membayar baksonya.
"Mang jadi berapa baksonya?" Tanya Ara
"Empat puluh ribu Neng" Lalu Ara mengeluarkan uang selembar lima puluh ribu dan memberikannya pada penjual bakso
"Kembaliannya buat Mang aja"
"Alhamdulillah. Terima kasih Neng" Ucap syukur penjual bakso.
Ara dan Alia pun pergi dan berjalan berkeliling taman.
"Ra" Panggil Alia
"Ehmz" Hanya dijawab deheman oleh Ara
"Tadi yang di taksi, kamu mau bicara apa?."Ara melirik Alia lalu pandangannya kembali lulur kedepan. "Ayo lanjutkan" Perintah Alia
"Ayo duduk disana" Tunjuk Ara pada kursi di taman "Aku akan melanjutkan kalimat ku yang terpotong. Hahahaha" Ara tertawa pelan
Mereka berdua berjalan menuju kursi di taman yang disediakan untuk pengunjung. Lalu mereka duduk dan Ara mulai menceritakan kisah hidupnya sebagai Ara.
"Kau tahu Al. Wajar jika Dion dan Alvin berkata seperti itu. Karena mereka tahu hubungan ku dan Satria tidak sesedarhana kelihatannya. Bukan pula hubungan yang dengan mudah bisa diputuskan " Alia mengerutkan keningnya mendengar pernyataan Ara
"Apa maksudnya?. Maaf Ara aku belum bisa memahaminya" Ara pun tersenyum lalu melanjutkannya.
"Wajar jika Satria menyentuhku. Bukan hanya berciuman tapi juga lebih dari itu pun boleh" Ucap Ara memancing emosi Alia
"Apa kamu sudah gila!". Ucap Alia dengan marah. Ara terkikik mendengar ucapan Alia "Kamu benar-benar sudah gila. bukannya berfikir malah tertawa!." Alia memalingkan wajahnya.
"Alia, Sebenarnya aku dan Satria itu sudah MENIKAH!" Ucap Ara dengan menekankan kata menikah
__ADS_1
Seketika Alia membulatkan matanya lalu menatap Ara dengan tatapan tidak percaya. Alia sangat terkejut mendengar pernyataan Ara.
"APA!!. JANGAN BERCANDA!" Teriak Alia tidak percaya..
"Itu benar. Aku gak bohong" Ara tersenyum sembari memgagguk
" Tapi kita masih sekolah Ra. Bagaimana kalian bisa menikah". Tanya Alia masih belum percaya dengan peryataan Ara
"Ya bisa lah. Kamu mau bukti" Alia mengagguk. Ara mengeluarkan handphone nya lalu membuka galeri mencari foto saat ia dan Satria menikah. Ara tersenyum melihat foto itu. Ia lalu memperlihatkan foto itu pada Alia.
" Coba lihat ini" Ara menyodorkan pada Alia.
Alia mengambil handphone Ara dan melihat foto sepasang pengantin yang diampit oleh dua orang laki-laki. Yang tentunya sangat ia kenal, yaitu Alvin dan Dion sedangkan pengantinnya adalah Ara dan Satria. Alia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia melirik Ara meminta kepastian dan Ara mengagguk. Seakan masih belum yakin ia memperbesar foto untuk melihat wajah-wajah orang yang ada didalam foto yang dilihatnya. Alia mengembalikan handphone milik Ara.
"Ja jadi kalian benar sudah menikah" Ara mengangguk " Bagaimana ini" Alia menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.
" Kenapa Al?." Tanya Ara lembut melihat tingkah Alia
Alia menurunkan tangannya dan menatap Ara dengan muka yang menyedihkan. Bibir cemberut, mata sayu, kening mengkerut. Ara yang melihat ekspresi muka Alia ingin tertawa namun ditahan.
" Bagaimana ini Ra?" Ucapnya merengek
"Bagaimana aku menghadapi mereka terutama Satria" Ara mengerutkan keningnya " Aku malu" Ucap Alia pelan dan membuat Ara seketika tertawa
"Hahahaha. Apa katamu?. malu. Hahahaha" Ara terus tertawa
"Araa. Ich malah tertawa" Ara berusaha berhenti untuk menertawakan tingkah konyol sahabatnya itu
"Jadi kamu malu ketemu mereka karena sudah salah paham dan terutama sudah berteriak menuduh mereka yang tidak-tidak" Alia mengagguk
"Aku juga takut kalau Satria akan marah padaku. Kamu lihat ekspresinya tadi. Dia diam, ihh mukanya datar gitu" Ucap Alia
"Tenang saja, mereka tidak akan marah. Mereka bukan orang yang berfikiran dangkal" Ucap Ara menenangkan.
"Ra. Aku minta maaf ya karena sudah salah sangka" Ucap Alia menyesal dan Ara pun mengagguk "Oh iya nanti tolong sampaikan permintaan maaf aku pada Satria" Timpannya lagi
"Iya nanti aku sampaikan" Jawab Ara
__ADS_1
"Kok kamu bisa sampai menikah muda?" Tanya Alia penasaran tapi Ara malah termenung mendapat pertanyaan dari Alia
"Apa aku harus menceritakannya?. Apa Alia tidak akan menghianati ku seperti Sisil?." Batin Ara
"Ra" Panggil Alia
"Eh. Apa Al" Tanya Ara
"Apa Ara tidak percaya padaku?." Bantin Alia "Tidak ada. Ini sudah sore, sebaiknya kita pulang. Satria mungkin menunggu mu" Ucap Alia
"Iya sih memang sudah sore." Ara mengeluarkan handphone nya lalu menghubungi Satria.
Tut tut tut.
"Hallo"
"Ehmz Sat. Kamu sekarang dimana?."
"aku masih dikafe, kenapa?"
"Kamu bisa jemput aku gak ditaman kota"
"Bisa. Tunggu disana aku berangkat sekarang"
"Iya baiklah" Ara menyimpan kembali handphone nya.
"Al sekarang Satria menuju kemari. Kita pulang bareng ya" Ucap Ara dan itu membuat Alia salah tingkah.
"Ehmm gimana ya. Euuh aku naik taksi aja deh" Ucap Alia tidak enak.
"Ayo lah Al. Tidak apa-apa"
"Aish kamu iti gimana sih Ra!" Alia menarik nafas panjang "Kan kamu tahu srndiri sekarang aku malu banget liat mereka. Maku malah ajak aku pulang bareng kalian. Gak mau ah". Tolak Alia
"Beneran nih?" Tanya Alia
"Gak ah. aku gak mau"
__ADS_1
Ara terus saja mengajak Alia untuk pulang bersama namun Alia juga terus saja menolak. Sampai akhirnya Satria datang mendekati mereka berdua. Dan alangkah terkejutnya Alia ternyata Satria sudah berada dekat dengan Ara. Walaupun Ara belum memyadarinya