Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
96


__ADS_3

Di ruang keluarga keluarga Aditama, Heru sedang bersantai sembari menikmati secangkir kopi yang diberikan oleh Istri nya. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah dan bersantai karena di kantor tidak ada pekerjaan yang mendesak.


Drtt


Drtt


Drtt


Handphone Heru berdering. Ia mengambil dan melihat siapa yang menghubunginya. Baru setelah melihat siapa yang menghubunginya ia menyentuh tombol hijau.


"Ada apa kau menghubungi ku?" Heru berucap dengan santai namun sedikit penasaran karena tidak biasanya Dokter keluarganya menghubunginya.


"Maaf mengganggu Tuan, saya ingin memberitahukan kabar bahagia bagi keluarga Aditama"


"Kabar bahagia?"


"Benar Tuan"


"Katakan!"


"Tadi Tuan Muda memerintahkan saya untuk mengatur janji dengan Dokter Kandungan" Dokter Dani menjeda ucapan nya.


Heru mengerutkan keningnya mendengar yang dikatakan Dokter Dani.


"Lalu?"


"Kemungkinan Nona Ara hamil dan ingin memeriksakan kehamilannya"


"Ha-hamil. Dari mana kau mendapatkan kesimpulan seperti itu!"


"Maaf Tuan, saya menyimpulkan seperti itu karena tidak mungkin Nona Ara dan Tuan Muda ingin melakukan program kehamilan sedangkan usia mereka masih sangat muda"


"Ehmz masuk akal juga. Baiklah aku akan mencari tahu kebenarannya" Heru langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak tanpa mendengarkan jawaban lawan bicaranya.


"Bagus jika memang menantu ku itu hamil. Hahahaha aku akan jadi Kakek" Ucap Heru sembari tertawa.


Tawa Heru yang kencang membuat Lisa yang berada di dapur menghampirinya.


"Apa yang Ayah tertawakan?" Ucap Lisa


Heru melihat kebelakang, ia tersenyum riang pada Istri nya. Seperti seorang anak yang mendapatkan permen.


"Duduk sini" Heru menepuk sofa yang kosong disebelahnya.


Lisa duduk dan berbalik menghadap Suaminya. "Apa?. Ayah sepertinya senang sekali. Ayah dapat proyek besar ya?" Heru menggeleng." Terus?" Tanya Lisa penasaran.


"Kita bakalan jadi Nenek dan Kakek" Ucap Heru dengan gembira


Lisa menatap Heru mencari kebenaran dimatanya. Namun yang terlihat hanya kejujuran dimatanya.


"Benarkah?" Ucap Lisa dengan mata yang sudah berkaca-kaca saking bahagianya.

__ADS_1


"Belum pasti sih" Ucap Heru datar


Plak...


Lisa mengeplak bahu Suaminya itu.Heru pun meringis


"Ya ampun Ayah. jadi ini belum pasti!. Tapi Ayah udah kaya dapet lotre!" Sungut Lisa


"Aduh Bu sakit tahu. Iya memang belum pasti.Tadi Dr.Dani bilang Satria menyuruhnya untuk membuat janji dengan Dokter Kandungan. Jadi kemungkinan besar memang Ara hamil" Ucap Heru panjang lebar.


"Hubungi kepala sekolah. Hari ini mereka terakhir ujian, mungkin ada yang terjadi disekolah. Sekarang baru jam 10 pagi pasti mereka masih ada disekolah"


"Ide bagus"


Heru pun menghubungi Kepala sekolah. Kepala sekolah pun menjelaskan bahwa Ara pingsan dan melakukan tes kehamilan dan hasilnya positif. Lisa mendengar menantu nya pingsan sangat khawatir namun juga bahagia. Rona bahagia terlihat jelas diwajah pasangan suami istri itu. Lisa sampai meneteskan air mata.


Lisa yang sudah mengatur emosi nya menghubungi sahabat sekaligus besannya. Tidak jauh beda dengan keluarga Aditama, Devina dan Bangbang pun sangat gembira mendapatkan kabar bahagia. Devina bahkan memeluk suaminya sembari menangis sesenggukan.


"Pah anak kita mau jadi seorang Ibu..hiks hiks hiks"


"Sudah-sudah, jangan menangisi kabar bahagia ini" Ucap Bambang menenangkan.


Walaupun ia menenangkan istrinya. Tapi ia juga merasa sangat bahagia sampai menitikan air mata. Namun segera dihapus olehnya agar tidak ada yang tahu.


Akhirnya kedua pasangan suami istri itu memutuskan untuk langsung pergi ke apartemen dimana anak mereka tinggal. Saking tidak sabarnya.


......................


Ara membuka pintu apartemennya karena Satria sedang menenteng dua keresek belanjaan sehingga tidak bisa membuka pintu. Baru saja pintu itu terbuka, mereka berdua disambut suara teriakan dua wanita paruh baya.


"ARA.." Teriak Devina dan Lisa.


Devina dan Lisa memeluk Ara secara bersamaan. Membuat Ara kesulitan bernapas.


"Kalian berdua mau membunuh Ara dan calon cucu ku!" Teriak Bambang yang melihat kelakuan dua wanita itu.


"Kalian tidak lihat!. Menantu ku kesulitan bernapas" Timpa Heru


Mendengar omelan Heru dan Bambang, Devina dan Lisa pun melepaskan pelukannya. Satria yang berada di belakang Ara menggelengkan kepalanya pelan.


"Maafkan Mama sayang" Ucap Devina


"Iya Ibu juga, Ibu terlalu senang sampai lupa" Ucap Lisa lalu terkekeh.


Satria menghela nafas lalu ia mengeluarkan suara nya.


"Sampai kapan drama di depan pintu ini akan berlangsung" Ucap Satria datar


Sungguh sebenarnya ia sudah pegal menenteng dua keresek belanjaan ditangannya.


"Ayo sayang kita duduk" ujar Lisa

__ADS_1


"Iya Ibu hamil tidak boleh berdiri terlalu lama" Ucap Devina


"Kalian sendiri yang membuat Ara berdiri lama didepan pintu" Sarkas Bambang


"Itu benar, kalian yang membuat istri ku berdiri terlalu lama" Ucap Satria dalam hati.


Devina mendegus kesal mendengar sindiran suaminya. Lalu menuntun Ara duduk di sofa. Semua orang duduk di sofa, kecuali Satria yang pergi ke dapur untuk meletakan belanjaannya.


"Dari mana Mama tahu kalau Ara hamil?" Tanya Ara setelan duduk di sofa yang diampit Mamanya dan mertuanya.


"Pasti dari Dr. Dani. Siapa lagi" Jawab Satria yang berjalan dengan santai lalu duduk di sofa yang kosong." Kenapa mulutnya tidak bisa dijaga" Lanjutnya


Mendengar kalimat terakhir putranya, Lisa menjadi kesal. Ia memukul bahu Satria dengan sekuat tenaga.


"Aww sakit Bu" Satria meringis kesakitan


"Memang pantas kamu mendapatkannya. Memangnya kenapa kalau Dr. Dani memberitahukan berita bahagia ini kepada kami. Berita bahagia seperti ini memang harus segera dilaporkan" Ucap Lisa kesal.


Satria menghela nafas, ia memang harus ekstra sabar menghadapi wanita paruh baya yang paling ia cintai.


" Bukannya tidak ingin langsung memberitahukan kabar kehamilan ini. Namun Satria hanya ingin memastikan dulu, dengan melakukan pemeriksaan kehamilan di rumah sakit.".Ara yang menjawab pertanyaan mertuanya


"Sudah dapat kabar kapan pemeriksaannya?" Tanya Heru


"Sudah Yah. Nanti sekitar jam dua. Saat semua pasien dipoli klinik sudah tidak ada lagi" Heru mengangguk mendengar jawaban Satria.


"Kalau begitu kami ikut" Ucap Devina penuh semangat dan diangguki Lisa.


Seketika Ara dan Satria saling pandang. Lalu Satria membuka suara nya.


"Bukannya tidak ingin ditemani. Hanya saja takut menarik perhatian. Kita masih murid SMA jika ada yang tahu mungkin akan menjadi gosip yang tidak sedap. Itu juga akan berpengaruh terhadap kehamilan Ara. Lebih baik kita rahasiakan dulu untuk keamanan dan keselamatan Ara"


Lisa dan Devina murung, mereka sangat ingin pergi menemani Ara memeriksakan kehamilannya untuk yang pertama.


Melihat itu Bambang menjadi sedih karena istrinya sedih


"Kita tidak akan menarik perhatian. Benarkan?" Bambang meminta persetujuan Heru.


Heru mengangguk "Itu benar"


Mendengar suami mereka membelanya. Devina dan Lisa tersenyum bahagia. Begitu pula dengan Ara yang tersenyum melihat keluarganya bahagia.


"Baiklah. Terserah kalian saja!" Ucap Satria lalu beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya.


"Mau kemana?" Tanya Heru


"Ganti baju"


"Aku juga" Ucap Ara lalu mengikuti suaminya


Melihat itu empat orang paruh baya itu tersenyum bahagia

__ADS_1


__ADS_2