Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
92


__ADS_3

Pagi menjelang, Satria masih meringkuk dalam selimut sedangkan Ara entah kemana. Ia mulai mengerjapkan matanya dan bangun.


"Euh..." Satria merenggangkan tangannya lalu melihat sekeliling " Kemana dia pagi pagi begini?."


Satria beranjak dari tempat tidur kemudian berjalan menuju kamar mandi. Ia membuka kamar mandi namun tidak ada siapapun.


"Kemana dia" Gummanya pelan


Satria melangkah mengambil handphone nya kemudian menghubungi Ara. Namun ternyata handphone Ara ditinggal dikamar.


"Ya ampun. Dia kemana" Satria mengacak-ngacak rambutnya.


Satria masuk kekamar mandi untuk mencuci muka dan langsung keluar dari kamarnya mencari Ara. Ia mencari disekitar resort namun tidak menemukan Ara.


Satria mengacak rambutnya frustasi. Ia beberapa kali mengusap wajahnya kasar.


"Kamu kemana sayang" Raut wajah khawatir terlihat jelas dimukanya. Ia menanyakan Ara kebeberapa orang yang berpapasan dengannya, namun tidak ada yang melihat Ara.


Satria pergi kepantai, sampai ia berjalan jauh menyusuri pantai dan akhirnya menemukan pujaan hatinya sedang duduk dibatu karang menghadap ke laut. Satria berlari dan menarik tangan Ara dan memeluknya. Ara tersentak kaget namun ia langsung diam saat menghirup aroma khas yang ia kenal.


"Jangan lakukan itu lagi. Aku benar-benar khawatir dirimu tidak ada disampingku"


Ara membalas pelukan Satria " Maaf"


Satria melepaskan pelukannya lalu mencium kening Ara "Jangan lalukan lagi!" Ara mengagguk


"Iya"


"Jika aku punya salah, tolong beritahu aku. Jika kamu punya masalah beritahu diriku. Aku akan selalu ada disamping mu"


"Ehmm" Fikiran Ara menerawang mengingat kejadian semalam.


Flash Back On


Ara memandangi Satria yang tidur terlelal sambil memeluknya. Ia mengusap wajah suami tampannya yang sangat ia cintai kini.


Drtt


Drtt


Drtt


Handpone Ara berdering menandakan ada panggilan masuk kenomornya. Ara melepaskan tangan Satria yang melingkar dipinggangnya dan bangun meraih handphonenya.


"Alia?. Ngapain jam segini nelepon aku?" Gummanya pelan


Ara menekan tombol hijau sambil berjalan kearah sofa yang berada dikamar tempat mereka menginap lalu duduk disana.


"Hallo, ada apa Al?"


"Ucap Salam Ra!" Ara terkikik


"Maaf Bu Ustadzah. Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam!. Ra kamu lagi liburan sama Satria?"


"Iya dari mana kamu tahu?"


"Ya jelas tahu lah. Orang suami mu itu posting foto kalian" Ara tersenyum mendengarnya


"Trus apa, gak mungkin kamu hubungi aku jm segini cuma buat nanya hal itu?"


Terdengar helaan nafas Alia disebrang telepon membuat Ara mengerutkan keningnya.


"Pasti kamu belum tahu?"


"Apa?"


"Ra tapi kamu jangan sedih ya"

__ADS_1


"Apa, ayo cepat katakan!"


"Satria posting foto kalian dan banyak netizen yang nyiyir kalian. Sampai aku terus beristigfar bacanya."


"Memang apa kata mereka"


"Kamu baca sendiri aja lah. Aku takut melebih lebihkan. Hehehe"


"Ehmzz"


"Udah deh aku tutup dulu. Maaf ganggu"


"Gak apa-apa. Thanks Al"


"Ok Assalamualaikum"


"Waaikumussalam"


Dan panggilan mereka pun terputus. Ara langsung membuka akun media sosialnya dan melihat postingan Satria. Ia tersenyum melihat foto mesra meraka namun sedetik kemudian ia menghela nafas membaca hasil karya netizen yang maha tahu. Ara terus mengscrol dan membaca setiap komentar komentar negatif yang ditujukan padanya. Ia memegang dadanya yang tiba-tiba terasa berat untuk bernafas. Ara meletakkan handphone nya dan kembali meringkuk dalam dekapan Satria. Air matanya menetes, mengingat komentar pedas yang dilayangkan untuknya.


"Serendah itu kah diriku dimata mereka" Batin Ara. Lalu ia ikut terlelap menyusul Satria.


Flash Back Off


Mereka berjalan menyusuri pantai sembari bergandengan tangan.


"Ayo kita sarapan dulu, pasti belum sarapan kan"


"Iya memang" Ara cengir


Mereka berjalan menuju resort


"Mau makan diresto apa di kamar?" Tanya Satria


"Ehmm di resto aja, kita makan sambil melihat kepantai" Satria mengacak rambut Ara


"Baiklah ayo"


Melihat Ara makan namun sambil fokus melihat pantai, membuat Satria gemas. "Makanannya enak?"


"Ehmm enak" Jawab Ara tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kalau begitu makalah yang benar. Pantai bisa menunggu"


Ara mengalihkan pandangannya pada Satria dan tersenyum kikuk.


"Maaf"


"Jangan minta maaf. Makanlah"


"Ia baiklah"


Setelah sarapan, Satria mengajak Ara bermain dipantai. Ara begitu senang berada dipantai yang tidak banyak orang alias sepi. Ara bermain pasir, lalu berlari mengejar dan dikejar ombak. Ara tertawa riang seperti anaj kecil yang baru pertama kali dibawa kepantai fikir Satria. Satria hanya duduk dibawah pohon kelapa sembari mengawasi Ara. Ia tidak ikut bermain, karena menurutnya itu kekanak kanakan.


Baju yang Ara kenakan sudah basah terkena air laut. Yang membuat baju Ara menempel sempurna ditubuhnya. Sehingga memberlihatkan bentuk tubuh Ara yang indah. Sampai cup hitamnya pun terlihat walau tidak terlalu jelas. Itu membuat Satria kesal terlebih banyak mata laki-laki memandangnya penuh *****.


Satria menghampiri Ara yang sedang bermain air. Ia menarik tubuh Ara dan memeluknya. Memberlihatkan pada semua yang menatap lapar Ara bahwa dia lah pemiliknya. Ara kaget, tapi mengetahui kalau yang memeluknya adalah Satria malah membenamkan wajahnya didada Satria dan menghirup aroma yang sangat ia sukai akhir-akhir ini.


"Sudah mainnya?" Tanya Satria


"Tapi aku belum puas"


"Besok masih ada waktu. Kita istirahat dulu. Hari sudah terik, sebentar lagi juga waktunya makan siang."


"Ehm baiklah" Ara mengikuti kemauan suaminya walau ada rasa keberatan.


Kemudian Satria melepas kemejanya dan memakaikan pada Ara. Satria melingkarkan sebelah tangannya dipinggang Ara. Selama perjalanan menuju resort Satria memeluk Ara prosesif. Membuat Ara merasa bahagia dengan perlakuan Satria.


Tiga hari berlalu, ini adalah hari terakhir mereka berada di pulau. Karena sore nanti mereka akan pulang dan mempersiapkan Ujian Nasional yang akan diadakan tiga hari lagi. Ara sudah mulai membereskan barang-barangnya dan Satria. Setelah selesai dengan kegiatannya, Ara menghampiri Satria yang tengah duduk sambil memainkan handphone nya. Ara duduk disamping Satria lalu mengangkat satu tangan Satria sehingga membuat siempunya mengalihkan pandangannya pada Ara. Lalu Ara bersandar didada Satria, memeluk Satria prosesif.

__ADS_1


Satria tersenyum dengan kelakuan Ara. Tangan Satria yang masih melayang diudara pun mendarat dikepala Ara dan mengusap lembut kepala Ara. Ia meletakkan handphonenya dan memeluk balik Ara.


"Kenapa hem?" Ara mendongkrak melihat Satria yang sedang menunduk menatapnya


"Kita belum beli oleh-oleh" Jawab Ara manja


Satria gemas menciumi seluruh wajah Ara dan terakhik ******* sebentar bibir istrinya itu.


"Ayo kita beli"


"Yeah. Assik shoping" Teriak Ara


Satria tertawa dan mengacak-ngacak rambut Ara gemas. " Ayo jalan sekarang. Nanti keburu siang" Ajak Satria


Ara melepaskan pelukannya dan bersiap siap berangkat. Ara mengambil topi pantai dan memakai kaca mata hitam. Lalu ia menghampiri Satria dan memakaikan topi juga kaca mata hitam milik Satria.


"Perfect " Ucapnya dan Satria tersenyum mendengar itu


"Ayo" Ara bergelayut manja dilengan Satria


"Ayo"


Mereka mengunjungi pasar tempat menjual berbagai oleh-oleh dari mulai makanan, aksesoris, baju, sendal sepatu dan masih banyak yang lainnya. Mata Ara berbinar melihat apa yang ada didepannya. Ia melepaskan tangannya ya yang digenggam Satria lalu melangkah menuju sebuah toko yang menjual berbagai macam aksesoris. Satria menggeleng pelan lalu mengikuti istrinya. Ara memilih gantungan kunci yang menarik perhatiannya dan mengambil banyak.


"Jangan terlalu banyak. Memangnya buat siapa?"


"Buat temen sekelas juga buat pelayan di rumah mama dan ibu" Satria mengagguk


Pandangan mata Ara kini tertuju pada tas bulat dari balok kelapa.


"Wah ini bagus ya, Alia pasti suka." Ara mengambil dua buah tas


"Kenapa dua, satu lagi buat siapa?"


"Aku lah. Kan kembaran. Hehehe" Satria menggelengkan kepalanya


"Sat" Panggil Ara


"Hem" Jawaban Satria tanpa melihat Ara dan masih melihat lihat beberapa aksesoris.


"Kamu pilih oleh-oleh buat Papa dan Ayah. Juga kedua sahabat mu"


"Iya kita lihat lihat ditoko yang lain"


Satria membayar barang-barang yang Ara beli lalu keluar dari toko dan melihat lihat lagi.


"Ayo kesana." Ara menarik lengan Satria dan masuk kesebuah toko yang menjual berbagai macam tas hasil kerajianan tangan warga lokal.


Ara langsung memilih dua buah tas yang cantik dan cocok untuk ibu-ibu sosialita. Yang akan ia berikan untuk Mama dan Ibu mertuanya. Ara langsung membayarnya. Setelah membayar ia keluar toko mencari Satria namun tidak ada.


"Kemana dia?" Tanya Ara pada dirinya sendiri


Ara melirik kekanan dan kekiri mencari Satria namun nihil. Ara juga mencoba menghubungi nomor Satria namun tidak diangkat. Ara memutuskan untuk diam ditempat karrna takutnya saat ia mencari Satria. Satria datang ketoko yang baru saja ia masuki.


"Ya sudahlah tunggu dulu sebentar. Kalau belum datang juga baru nyari" Gumma Ara.


Beberapa saat kemudian Satria muncul dengan menenteng paper bag dikanan dan kiri tangannya. Yang pasti salah satunya milik Ara. Satria melihat Ara tertunduk kesal menunggunya segera menghampiri Ara.


"Sayang" Panggil Satria dan Ara mendongkrak melihat kesumber suara sambil mencebikkan bibirnya.


" Maaf nunggu lama barusan habis beli oleh-oleh buat Ayah dan Papa" Jelas Satria


Ara mengagguk " Iya. Giman dengan Alvin dan Dion?"


"Juga sudah"


"Aku lapar" Rengek Ara


Satria terkekeh lalu menggenggam tangan Ara "Ayo kita cari makan dulu. Lalu kembali ke resort"

__ADS_1


"Let's go"


__ADS_2