Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
70


__ADS_3

"Dia kenapa?" Tanya Dion


"Bego" Ucap Satria dan Alvin


"Lo berdua bilang Apa!"Ucap Dion marah


"Lah emang benerkan?." Alvin melirik Satria " Iya kan Sat" Satria mengagguk


"Katanya playboy. Kok gitu aja gak ngerti!. Aneh" Ucap Satria menimpali


"Aku itu bukan playboy cuma sedang mencari cinta sejati" Ungkapnya


"Cih" Satria dan Alvin berdecih bersamap


"Kalian mah gitu" Ucap Dion sembari mencebikkan bibirnya


Alvin menoyor kepala Dion pelan "Gak pantes lo kaya gitu. Jijik gue liatnya"


Mereka bertiga melangkah masuk kedalam kelas namun langkah mereka terhenti diambang pintu mendengar suara yang familiar memanggil Satria.


"Hei Sat" Mereka bertiga menoleh kebelakang " Lo kemana kemarin, ngilang gitu aja" Ucap Renaldi


Satria bersikap seperti tidak terjadi apapun. "Gue ada urusan. Sorry gue kamarin gak pamit dulu sama lo"


" No problem. Santai aja, Gue hanya bingung aja lo ngilang gitu aja dan bukan hanya gue tapi yang lain juga" Satria mengangguk "Gue pergi dulu" Ucap Renaldi lalu melangkah pergi meninggalkan Satria, Alvin dan Dion.


"Dia bersikap biasa aja. Apa dia tidak curiga sama gue?. Gue tetap harus berhati-hati!" Batin Renaldi.


Renaldi mengeluarkan handphone nya dan menghubungi Angel.


"Hallo"


"Lo udah siap!. Bagaiman kita akan lanjutkan rencana nya?."


"Iya, kapan lo mau nyebarin video itu?"


"Besok gue upload diforum sekolah. Lo udah pergi ke rumah sakit buat visum?"


"Udah"


"Lo yakin?"


"Gue yakin!"


"Gue akan bertanggung jawab sama lo!. Jika lo mau lepasin Satria"


"Gak. Walaupun gue gak bisa dapetin hati Satria. Gue bakalan buat dia hancur"


"Terserah"


Tut...

__ADS_1


Tut...


Tut...


Renaldi menutup sambungan telepon secara sepihak. Ia menatap handphonenya dengan tatapan penuh amarah.


"Gue sayang sama lo. Tapi lo nyia-nyiain gue demi dia. Saat lo hancur karena gak bisa dapetin Satria!. Gue gak akan mau tanggung jawab. Lo nikmatin sendiri penderitaan lo. Lagi pula gue udah menikmatinya." Ucap Renaldi, ia tersenyum smirk.


Disisi lain Ara sedang tiduran diatas sofa depan TV, ia dilanda kebosanan. Karena ia sendiri diapartemen dan tidak ada yang bisa menemank dia walaupun hanya lewat chat. Karena mungkin teman-temannya yang lain sedang belajar. Terlebih sekarang diluar sedang panas panasnya. Mau keluar pun ia jadi malas.


"Ngapain coba?" Tanyanya pada diri sendiri "Mau keluar panas, disini bosen. Mana di TV gak ada acara seru lagi. Huh ya ampun ini gara-gara Satria yang ngelarang aku buat sekolah. Jadi ngini nih, bosen." Gerutu Ara


Bell apartemen berbunyi. Ara melihat jam lalu melihat ke arah pintu. Ia bingung siapa yang bertapi jam segini. Padahal jam segini mereka biasanya disekolah dan orang-orang terdekat mereka pasti tahu.


"Siapa ya, jam segini bertamu. Buka jangan ya?." Ara berfikir sejenak "Buka aja deh siapa tahu penting" Ucap Ara


Ia melangkah menuju pintu dan membukanya. Ara terkejut melihat siapa yang sekarang berdiri didepannya.


"Ayah, Ibu" Ucap Ara


"Nak kamu tidak apa-apa, Tadi Satria bilang kamu sakit?." Lisa menyentuh kening Ara dengan tangannya "Gak panas, Kamu sudah baikan?"


Ara menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Gak apa-apa Bu. Dia nya saja yang terlalu berlebihan. Ara sampe gak diijinin sekolah" Ucapnya manja


Heru menghela nafasnya menatap Ara. Sebenarnya ia mengetahui kejadian semalam. Karena supirnya sudah memberitahu dirinya walaupun Ara melarang.


"Ara Ayah mau bicara sebentar" Ucapnya serius.


"Huh ini pasti tentang kejadian semalam. Udah diwanti-wanti jangan sampe ada yang tahu, eh bocor juga!" Batin Ara


Mereka bertiga duduk disofa. Ara dan Ibu mertuanya duduk bersama dan Ayah mertuanya duduk di sofa single.


"Sepertinya kamu sudah tahu apa yang akan Ayah bicarakan?" Tanya Heru pada Ara


"Apa Ayah akan bertanya tentang kejadian semalam?." Tanya Ara. Heru mengagguk


"Iya tepat!"


"Memang ada apa semalam. Kalian merahasiakan sesuatu dari ibu" Tanya nya Curiga


" Kalau Ayah ingin merahasiakan sesuatu. Ayah bakal datang sendiri gak bareng Ibu" Lisa mencebikkan bibirnya mendengar perkataan Heru


"Ayo ceritakan Nak" Perintah Heru lembut


Ara menghela nafas. "Ara sebenarnya tidak tahu dengan jelas apa yang terjadi. Harusnya Ayah tanya Satria supaya lebih jelas."


"Anak itu hanya bilang dia masih bisa menyelesaikannya sendiri tanpa memberitahu apa yang terjadi. Jadi Ayah ingin dengar dari mu Nak" Jelas Heru. Ara mengagguk


"Waktu itu ada acara untuk anggota OSIS angkatan kita. Acaranya diadakan di kafe milik Satria lalu ke tempat karoke. Tadinya Ara mau pulang saja, tapi Satria memaksa Ara untuk ikut karena dia berjanji bahwa hari ini bakalan nemenin Ara belanja. Ara fikir mungkin untuk mempersingkat waktu supaya tidak pulang pergi" Ara menjeda ucapannya


"Lalu" Ucap Lisa tidak sabar.

__ADS_1


"Sesampainya ditempat karoke, Ara tidak ikut bergabung. Satria memesankan ruangan disebelah ruangan mereka. Ara tidak keluar dari sana sama sekali sampai tiga puluh menit kemudian Satria menghubungi Ara dan menyuruh Ara untuk keluar dan menuju lobi. Sebenarnya Ara merasa aneh karena baru setengah jam Satria udah pulang. Dan Ara lihat Satria sudah berada di luar gedung. Satria terlihat seperti orang yang sedang dalam keadaan mabuk. Tapi dia terus membantah kalau dia mabuk dan tidak lama supir Ayah datang lalu mengantarkan kami pulang."


"Apa Satria tidak mengatakan sesuatu.?"Tanya Heru


Ara memandang Ayah mertuanya lekat lalu menundukan kepala. Ia bingung harus bilang atau tidak.


"Apa aku harus bilang bahwa satria dijebak dan diberi obat perangsang. Tapi bagaimana jika mereka menanyakan hal yang lebih intim. Achhhh gimana ini" Batin Ara


"Ara!" Panggi Heru


Ara mendongkrak menatap Ayah mertuanya.


"Ara, dengarkan Ayah. Ayah akan menyelidiki ini sampai tuntas. Takutnya ini hanya awal dan akan ada masalah yang lebih besar." Ara mengagguk


"Ara" Ara menoleh Ibu mertuanya yang sedang mengusap punggung tangannya"Satria itu anak Ayah dan Ibu satu-satunya. Jadi kami akan berusaha untuk melindunginya termasuk kamu sayang. Karena sekarang Ara adalah putri kami sekaligus nyonya muda Adithama" Lisa tersenyum, tangannya terulur membelai wajah Ara


"Ara mengerti kekhawatiran Ibu dan Ayah" Ara menatap Ibu dan Ayah mertuanya lalu menghela nafas. " Satria bilang ia dijebak" Belum selesai ucapan Ara sudah dipotong oleh mertuanya


"APA!! DIJEBAK!" Ucap kedua mertuanya dan Ara mengagguk


"Apa Satria dijebak dengan diberi obat perangsang" Batin Heru Lalu menatap Ara.


"Bagaimana bisa, siapa yang menjebak putra kesayanganku!" Ucap Lisa


"Diam!" Ucap Heru pada Lisa. Lisa langsung diam " Bagaimana Satria bisa dijebak?" Tanya Heru pada Ara


"Satria bilang kalau ada yang menaruh obat dalam minumannya" Jawab Ara


"Ternyata benar dugaan ku" Batin Heru


"Apa Satria diberi obat perangsang"Ara mengagguk. Lisa menatap Ara "Apa kalian.." Tanya Lisa menggantung


"Tuh kan" Batin Ara


Ara yang ditanya seperti itu langsung menundukan wajahnya. Kini wajah Ara sudah memerah karena malu. Dan kedua mertuanya tersenyum melihat itu. Karena mereka tahu mungkin itu adalah pengalaman pertama bagi mereka. Lisa dan Heru tahu bahwa mereka mempunyai janji untuk tidak melalukan hubungan suami istri sampai mereka lulus sekolah.


"I iya Bu" Ucap Ara malu


Lisa sudah tidak bisa menahan tawanya dan akhirnya ia tertawa.


"Hahaha, akhirnya" Ara semakin menunduk "Jangan malu sayang, sekarang atau nanti itu sama saja"


"Ibu" Beo ara pelan


"Sudah Bu. Jangan digoda terus menantu mu, kasian dia" Ucap Heru


"Iya. Tapi hari ini Ibu bahagia Yah. Ibu sebentar lagi bakalan gendong cucu" Ucap Lisa sumringah


Deg


"Gawat!. Kemarin gak pake pengaman, mana gak ada obat pencegah kehamilan lagi. Diminum nanti sama saja terlambat!. Aku gak mau hamil saat masih sekolah" Batin Ara

__ADS_1


__ADS_2