Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
63


__ADS_3

"Ra aku pulang sekarang ya. Dah" Ucap Alia terburu-buru lalu pergi meninggalkan Ara


"Eh tapi Al. Al" Teriak Ara " Lah ditinggal sendiri deh" Gumma Ara pelan namun masih bisa didengar oleh Satria yang berada tepat dibelakangnya.


"Siapa yang ninggalin kamu sendiri" Bisik Satria ditelinga Ara.


"Astagfirullahhaladzim!" Teriak Ara kaget.


Ia memegangi dadanya dan berbalik melihat siapa yang berbisik dan membuatnya kaget.


"Ya ampun kamu tuh ngagetin aja sih" Ucap Ara. Tangannya melayang memukul lengan Satria.


"Aww sakit Ra" Ucap Satria sambil meringis


"Habisnya kamu ngagetin aja. Sejak kapan ada dibelakang aku?. Apa jangan-jangan..." Satria mengagguk "Pantas saja Al langsung lari, lihat kamu ternyata"Ucapnya lalu terkikik


"Ayo pulang" Ajak Satria


"Ayo" Ara menggandeng tangan Satria dan mereka berjalan bergandengan menuju tempat parkir.


" Kita ke super market dulu ya. Aku mau beli sesuatu sekalian belanja bahan makanan, tinggal sedikit." Ucap Ara


"Iya tapi kita cari tempat makan dulu. Kamu tadi belum sempat makan" Satria melirik Ara sekilas.


"Tadi udah makan kok sama Alia" Ucap Ara. Satria menghentikan langkahnya lalu menatap Ara


"Makan?. Kapan?" Tanya Satria


"Tadi ditaman ada tukang bakso keliling jadi kita makan aja. Lagipula aku udah laper" Ucap Ara dengan nada manja


Satria menghela nafasnya tak lama ia tersenyum. Tangannya terulur mengusap kepala Ara.

__ADS_1


"Lain kali jangan makan sembarangan. Aku takut kamu nanti sakit" Ucap Satria lembut penuh perhatian


"Baiklah suamiku yang tampan" Ucap Ara lalu ia terkikik menertawakan dirinya sendiri.


Satria tersenyum mendengar kata Suamiku dari mulut Ara.


"Sering-seringlah memanggilku seperti itu" Ucap Satria


"Hah" Ara bengong


Satria membukakan pintu untuk Ara dan menuntun Ara yang masih bengong untuk masuk. Satria memasangkan Sabuk pengan dan menutup kembali pintunya setelah itu ia memutar lalu masuk kedalam mobil. Satria lagi-lagi tersenyum melihat tingkah Ara. Ara masih bengong dengan kedua tangan memegang sabuk pengaman. Satria mendekatkan dirinya pada Ara.


Cup...


Satria mengecup sekilas bibir Ara. Mata Ara membulat, ia terkejut dan langsung mendorong tubuh Satria.


"SATRIA!. Bagaimana kalau dilihat orang. Ini tempat umum" Omel Ara


"Jadi kalau diapartemen gak masalah donk!" Ucap Satria menggoda. Blush pipi Ara merona mendengar ucapan Satria.


Ara memalingkan wajahnya yang terasa panas. Ara tak ingin Satria melihat wajahnya yang mungkin sekarang sudah merah. Padahal Satria sudah terlanjur melihatnya. Satria tersenyum sembari menggelengkan kepala.


"Jadi gak ke super marketnya?" Tanya Satria lembut


"Jadi" Jawab Ara dengan ketus.


Satria menghidupkan mobilnya dan melaju menuju super market terdekat. Ara yang merasa pegal membenarkan posisinya. Karena ia malu dengan kejadian barusan, Ara pura-pura tidur. Namun ternyata ia benar-benar tertidur. Sesampainya di super market Ara masih tertidur. Karena Satria tidak tega untuk membangunkan Ara yang terlihat sangat nyenyak tidurnya. Jadi ia berniat untuk berbelanja sendiri. Sebelum itu Satria menurunkan sandaran kursi yang diduduki Ara untuk membuat Ara lebih nyaman. Setelah itu ia mengambil sweater yang selalu ia bawa untuk menyelimuti Ara.


Satria mengambil topi dan dompetnya lalu ia keluar. Sesampainya didalam, Satria membeli beberapa bahan makanan seperti sayuran, daging, ikan dan telur. Lalu ia juga membeli beberapa makanan ringan. Setelah selesai Satria langsung membayar belanjaannya. Satria menenteng dua keresek besar menuju mobilnya. Ia melihat Ara masih terlelap.


"Kamu tuh kalau udah tidur lebih kebo daripada aku" Ucapnya pelan.

__ADS_1


Satria menaruh belanjaannya dibagasi mobil lalu ia masuk dan menjalankan mobilnya menuju apartemen. Sesampainya diapartemen, Ara masih terlelap. Satria menggelengkan kepalanya melihat Ara yang tertidur sangat nyenyak didalam mobil. Ia menggendong Ara masuk ke dalam apartemen dan menidurkannya dikamar. Setelah itu ia kembali lagi keparkiran mengambil belanjaan yanng berada dibagasi mobilnya. Setelah mengambil belanjaan dan membereskannya, Satria membaringkan diri disamping Ara dan ikut terlelap.


...----------------...


Disebuah kafe terlihat seorang gadis dan seorang laki-laki sedang membicarakan sesuatu dengan serius. Laki-laki itu menyadarkan tubuhnya dan menyilangkan tangannya didada


"Mana obat yang harus gue taruh diminumannya?" Tanya laki-laki itu


Gadis itu mengeluarkan botol berukuran kecil dan menyodorkan botol itu pada Laki-laki yang berada didepannya.


"Ini dan lo harus memasukan obat ini keminumannya. Jangan sampai salah"


Laki-laki itu mengambil botolnya dan mengamati botol tersebut


"Apa efeknya cepat?".


"obat itu akan bereaksi sekitar 20 menit setelah diminum. Namun setelah bereaksi dia harus menyalurkannya. Karena tidak ada obat penawarnya. Obat ini sangat kuat menurut si penjual ya begitu." Tutur gadis itu


" Lalu kenapa sanagat lama reaksinya kalau ini obat yang sanagat kuat"


"Bodoh!" Laki-laki itu menahan amarahnya disebut bodoh" Kita akan ketahuan jika itu cepat bereaksi!"


"Baiklah gue ngerti"


"Jika rencana kita berhasil. Gue akan bayar berapapun dan apapun yang lo minta" Ucap gadis itu. Laki-laki didepannya tersenyum smirk.


"Apapun" Gadis itu mengagguk" Gue mau lo nemenin gue semalam" Gadis itu memebulatkan matanya dan mengepalkan tangannya. Ia terkejut mendengar permintaan yang tak masuk akal menurutnya. " Ya walaupun bekas Satria tapi tidak apalah" Ucapnya menyeringai.


"Lo mau gue" Tunjuknya pada diri sendiri. Dan laki-laki itu mengagguk sebagai jawaban. "Jangan mimpi!" Ucap gadis itu menahan amarah.


"Terserah lo. Deal or no deal ?" Laki-laki itu menyodorkan tangannya.

__ADS_1


Gadis itu merasa tidak ada cara lain. Lagipula siapa lagi yang mau membantunya dalam rencana gila ini fikirnya. Ia pun tidak ada pilihan lain selain setuju dengannya. Ia menjabat tangannya dan berkata setuju.


"Deal"


__ADS_2