Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
97


__ADS_3

Sesuai jadwal yang telah diatur. Ara dan Satria bersama keempat orang tua mereka datang kerumah sakit. Namun Bambang dan yang lainnya lebih dulu masuk dan menunggu di ruangan Dr. Kandungan yang direkomendasikan Dr. Dani. Sedangkan Ara dan Satria untuk menghindari masalah yang akan timbul. Mereka memakai masker dan topi untuk menutupi identitas mereka.


Saat Ara dan Satria masuk, Dr. Dani sudah berdiri menunggu mereka. Dr.Dani memimpin jalan menuju ruangan pemeriksaan kehamilan. Ara dan Satria langsung masuk dan disambut oleh orang tua mereka dan seorang dokter perempuan.


"Ini Dokter Sinta. Dokter kandungan terbaik di Rumah Sakit ini" Dr. Dani memperkenalkan rekannya yang akan memeriksa Ara


"Selamat siang. Saya Sinta, Dokter kandungan yang akan memeriksa Nona Ara" Dr. Sinta menyodorkan tangannya dan disambut oleh Ara serta Satria


Ara dan Satria duduk didepan Dr. Sinta yang terhalang oleh meja.


"Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan" Ara mengangguk "Apa anda ingat kapan hari pertama haid terakhir?"


Ara kemudian berfikir sejenak " Saya tidak ingat persis tanggal nya namun itu diawal bulan" Dr.Sinta pun mengangguk dan mencatat jawaban Ara


"Apa yang anda rasakan saat ini atau ada keluhan lain?"


"Untuk saat ini hanya pusing. Namun akhir-akhir ini saya selalu merasa mengantuk, lemas dan lapar" Ara terkekeh diakhir kalimat nya.


"Baiklah, kita periksa dulu. mari " Ajak Dr. Sinta.


Dr. Sinta berdiri dan membuka tirai pembatas ruang konseling dan pemeriksaan. Lalu menyuruh Ara untuk berbaring dibelangkar. Ara berbaring sambil memegang tangan Satria yang berada disampingnya. Seorang perawat menaikkan selimut sampai ke pinggang dan menaikkan baju Ara sehingga terlihat perut datar Ara. Kemudian mengolesi perut bagian bawah Ara dengan gel. setelah itu Dokter meletakan transduser diatas perut Ara dan menggerak-gerakannya mencari kantung kehamilan. Dr. Sinta tersenyum setelah mendapatkan apa yang ia cari.


"Ini kantung kehamilan" Tunjuk Dr. Sinta pada monitor "Janinnya belum terbentuk dengan jelas. Bisa dilihat ini seperti ulat yang sedang meringkuk. Tapi sudah ada bakal tangan, kelihatan itu matanya. Dilihat dari pertumbuhan janin ini berusia empat mingguan." Tutur Dr. Sinta


Mendengar penuturan Dr. Sinta, Ara terbaru. Ia mengeratkan genggaman tangannya. Lalu berbalik menatap Satria dengan berkaca-kaca. Begitu pula dengan Satria, ada perasaan aneh yang membuncah didadanya. Mereka berdua bahagia dengan anugerah yang diberikan kepada mereka. Bukan hanya mereka saja, namun dua pasangan paruh baya itu pun menitikan air mata bahagia.

__ADS_1


"Jadi saya benar-benar akan menjadi seorang ibu Dok"


" Dia sangat kecil" Gumma Ara pelan namun masih bisa didengar oleh Dr. Sinta


"Iya memang sangat kecil, mungkin sebesar biji kacang hijau" Jawab Dr. Sinta dengan tersenyum ramah tamah


Setelah selesai Ara kembali duduk dibantu oleh Satria.


"Janinnya dalam keadaan baik. Tolong jangan terlalu lelah dan stres. Karena itu bisa mempengaruhi kondisi janin. Kalau bisa jangan terlalu sering berhubungan intim, karena ****** bisa memicu kontraksi dan berakibat keguguran." Satria Dan Ara mengangguk " Kalau pun mau melakukan nya tolong untuk bermain dengan lembut dan memilih posisi yang nyaman bagi ibu dan janin"Lanjutnya


Blush...


Pipi Ara memerah mendengar perkataan dari Dr. Sinta. Sebenarnya Satria juga sama malunya namun ia bisa mengontrol ekspresi mukanya. Sehingga tidak terlihat bahwa ia juga merasa malu.


"Tuh dengerin jangan digas terus. Nanti menantu ibu kelelahan" Lalu Lisa terkikik


Kedua suami mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang istri.


Dr. Sinta tersenyum lalu melanjutkan lagi konseling nya " Mungkin Nona Ara akan merasa mual dan muntah dipagi hari, cepat lelah, mengantuk, emosinya tidak stabil dan juga merasa selalu lapar atau bahkan sebaliknya. Itu tidak masalah, normal bagi ibu hamil. Tapi walaupun tidak ingin makan harus memaksakan diri untuk memenuhi nutrisi dengan cara makan sering tapi dengan porsi yang sedikit. Jika Nona Ara sering buang air kecil, itu juga normal pada trimester pertama kehamilan tapi jagan mengurangi minum." Ara mengangguk " Tidak ada pantangan dalam makanan selagi itu baik dan tidak membahayakan keselamatan ibu dan janin. Disarankan untuk tidak mengkonsumsi makanan berkafein seperti kopi dan teh. Namun jika ingin meminumnya, itu boleh namun dengan catatan maksimal hanya satu gelas perminggu. Hindari makanan instan, itu juga tidak baik."


"Baik Dok saya mengerti" Ucap Ara


"Kami juga akan memastikan hal itu" Ucap Devina dan diangguki Lisa


"Benar" Ucap Lisa

__ADS_1


"Baiklah saya akan meresepkan vitamin, ini bisa ditembus diapotek" Dr. Sinta menyerahkan selembar kertas Dan langsung diambil oleh Heru


"Biar saya saja yang pergi" Lalu Heru keluar dari ruangan


"Usahakan minum susu ibu hamil untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkan. Minimal satu gelas perhari dan maksimal dua gelas perhari"


"Baik Dok"


Dr. Sinta menyerahkan buku pemeriksaan kehamilan khusus pasien VIP kepada Ara.


"Ini buku pemeriksaan kehamilan. Didalamnya banyak informasi seputar kehamilan. Seperti tanda bahaya, nutrisi, perawat tubuh, apa yang baik dan tidak dilakukan ibu hamil, ketidaknyamanan masa kehamilan tiap trimester dan masih banyak yang lainnya."


Ara kemudian mengambil buku yang disodorkan pada dirinya. "Iya terima kasih Dok"


"Owh saya lupa. Lakukan pemeriksaan setiap satu bulan sekali atau ada keluhan"


"Baik Dok" Ucap Ara dan Satria berbarengan


Setelah selesai mereka pamit lalu pulang kerumahnya masing-masing.


Diperjalanan Satria terngiang ngiang kata-kata Ibunya.


"Nak sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah. Kamu harus lebih dewasa dan bertanggung jawab. Dalam masa kehamilan ini kamu harus ekstra sabar menghadapi Ara karena mungkin kamu akan dibuat kesal oleh tingkah laku istri mu yang berubah-ubah. Ingat dia seperti itu karena mengandung anak mu. Apapun yang Ara minta, penuhi!. sesulit apapun itu. Jadilah suami siaga"


Satria melirik Ara sebentar lalu kembali fokus ke jalan.

__ADS_1


"Aku akan memenuhi semua keinginan mu dan anak kita" Batin Satria


__ADS_2