Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
51


__ADS_3

Cklek...


Pintu terbuka, nampak Ara sedang memeluk seorang laki-laki yang usianya lebih tua dari Ara. Semua yang melihat kaget kecuali tiga sekawan itu, siapa lagi kalau bukan Satria, Alvin Dan Dion.


Mereka mulai berbisik-bisik dan menduga-duga kalau laki-laki yang sedang memeluk Ara itu adalah pacarnya. Ara yang melihat itu melepaskan pelukannya.


" Abang itu teman-teman Ara" Bisik Ara


Bara menoleh dan melihat orang yang ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Satria dan kedua sahabatnya. Bara mempersilahkan teman-teman Ara untuk masuk. Lalu ia mencium pucuk kepala Ara.


" Ya udah Abang pergi dulu" Bisik Bara.


Ia melangkah pergi meninggalkan Ara. Namun sebelum benar-benar pergi Bara menghampiri Satria dan membisikan sesuatu.


"Jagain Ara, Abang keluar dulu" Ucap Bara dan Satria pun mengagguk.


Teman-teman sekelas yang melihatnya merasa aneh. Apa gerangan hubungan antara laki-laki itu dan Satria. Namun ada salah seorang dari mereka yang merasa mengenal wajah Bara.


" Siapa laki-laki itu, wajahnya begitu familiar" Batin Bima


Bima adalah salah satu anak dari seorang pengusaha. Walaupun bukan perusahaan besar. Ia terkadang ikut dengan orang tuanya untuk menghadiri acara-acara yang dihadiri oleh pengusaha-pengusaha kecil maupun besar.


Satria melangkah menghampiri Ara namun ditahan oleh Alvin dan Dion. Alvin mengajaknya untuk duduk saja disofa. Satria yang mengerti pun hanya mengikuti Alvin yang sudah lebih dulu duduk. Sementara yang lain menghampiri Ara. Namun Bima masih dengan fikirannya sendiri. Dia diam diambang pintu, sampai seseorang menariknya.


" Ayo samperin Ara, malah bengong lo disitu" Ucapnya


Bima menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Hehehe. Gue speechless liat adegan barusan" Jawabnya Asal.


Alia yang menyapa Ara lebih dulu melihat cincin Ara yang masih melingkar dijari manisnya langsung mengambilnya dengan berpura-pura bersalaman. Ara mengerutkan keningnya, cincin itu tidak pernah Ara lepas. Lalu karena merasa aneh Ara ingin meminta cincin itu namun Alia memotongnya.


" Al it.." Ucap Ara yang terpotong Alia


" Ra tahu gak. Waktu kamu koma ada gosip yang menggemparkan sekolah, benarkan?" Ucapnya lalu meminta persetujuan teman-teman yang lain.


Teman-teman Ara yang berada disitu membenarkan. Satria, Alvin dan Dion hanya menyimak.


" Apa ?" Tanya Ara


" Satria memposting foto bareng kekasihnya" Bisik Alia


Ara yang bingung melirik Satria lalu beralih lagi ke Alia.

__ADS_1


" Al tunjukin fotonya"


Alia menunjukan foto yang diposting Satria di akun medsos nya. Ara tercengang melihat foto itu. Foto Tangan yang saling berpegangan memamerkan cincin couple yang mereka pakai. Ara menatap Alia, kini ia tahu kenapa Alia melepaskan dan menyembunyikan cincinnya.


" Kayanya mereka serius deh"


" Hus. Jangan kenceng-kenceng orangnya ada dibelakang" Bisik salah satu teman sekelas Ara.


" Kita itu kesini bukan untuk ngegosip, tapi melihat keadaan Ara" Lanjutnya.


Mereka bercerita, bercanda dan beberapa menggoda Ara. Itu membuat Satria kesal. Ingin sekali dia bilang kalau Ara itu miliknya. Namun keadaan tidak memungkinkan.


" Eh kalian dari tadi sibuk disitu aja. Kan kita kesini mau jenguk Ara" Tanya Bima pada tiga sekawan itu.


" Kita terakhir aja" Ucap Dion lalu dianggukin Satria dan Alvin.


"Terserah kalian Saja lah" Ucap Bima pasrah.


Akhirnya satu persatu mereka pulang dan tinggallah Satria, Alvin, Dion dan Alia. Setelah semuanya pulang Alia menyerahkan cincin milik Ara yang sendari tadi ia simpan.


" Thanks Al" Ucap Ara menerima cincinnya.


Satria mendekat dan duduk diranjang Ara lalu mengambil cincin yang Ara pegang.


Tangan Ara terulur mengambil cincinnya namun ditahan Satria.


" Biar Aku yang simpan" Ucap Satria


Satria mengeluarkan kalung yang tersembunyi dibalik seragamnya lalu melepaskan kalung itu melewati kepalanya. Satria menjadikan cincin Ara sebagai bandul kalungnya bersama cincin milik Satria. Setelah itu Satria memakai lagi kalungnya.


Alvin dan Dion mendekati pasutri muda itu.


" Hai Ra. Gimana kabarnya?" Tanya Alvin


" Alhamdulillah baik Vin" Jawab Ara


" Akhirnya lo sadar juga" Ucap Dion


Karena ucapannya, Dion mendapat cubitan dari Alia.


"Aww, Sakit bego!" Alia menatap tajam Dion " Aish itu mata mau sekalian gue colok" Katanya gemas


Satria dan Alvin menggelengkan kepalanya melihat Alia dan Dion. Sedangkan Ara jangan ditanya, ia tertawa melihat kelakuan sahabatnya.

__ADS_1


" Kalian itu cocok deh. Hahahaha. Aku jodohin mau?"


" Ih najis" Ucap Alia dan Dion berbarengan dan itu membuat Ara terus tertawa.


...----------------...


Petang menjelang, Ara duduk diranjangnya melihat keluar jendela. Memandang indahnya panorama sore hari. Melihat langit yang indah berwarna Orange. Sekelebat ingatan melintas di kepalanya. Ara memegang kepalanya sakit. Walaupun tidak sehebat saat dulu bersama Susan diatap.


Melihat itu, Satria yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Ara. Ia khawatir Ara memaksakan lagi mengingat masa lalunya dan berakibat fatal.


" Ra. " Satria memeluk Ara " Jangan mencoba mengingat apapun" Ucap Satria


" Tidak, aku hanya mengingat sesuatu" Satria melepaskan pelukannya


" Dengar.! Aku tidak ingin kehilangan mu. Seandainya pun kamu tidak ingat apapun yang terjadi dimasa lalu. Itu tidak masalah. Kita akan menemukan cara untuk mengungkapkan kebenaran itu tanpa harus menyakitimu"


Ara mengagguk, ia terharu mendengar kata-kata Satria. Namun Ara sudah mengingat kejadian itu. Lebih tepatnya kini Ana sudah mendapatkan ingatan Ara tentang kejadian yang menimpanya.


" Aku memang tidak mengingat semua masa lalu ku, atau mungkin belum. Namun aku ingat tentang kecelakaan itu, aku ingat" Ucap Ara dan iru membuat Satria terkejut.


" Jadi kamu mengingatnya" Ara mengagguk " Ra, kamu sudah siap menceritakan kejadian itu" Ucap Satria lembut


" Aku belum siap Sat" Ucap Ara pelan


Satria memegang tangan Ara " Kenapa?" Tanya Satria


Ara menghela nafas. Sebenarnya bisa saja Ara menceritakan semuanya. Namun kejadian itu mengingatkannya akan kejadian yang sama dengan yang terjadi padanya (Ana).


" Saat aku mengingatnya, itu seperti hantaman yang sangat kuat bagi ku. Jadi aku mohon beri aku waktu. Jika aku sudah siap, aku akan menceritakannya pada kalian" Jelas Ara


" Baiklah Aku tidak akan memaksa mu. Sekarang istrirahatlah" Ucap Satria, ia merasa kecewa namun sebisa mungkin ia tutupi.


Ia beranjak, mengatur posisi tidur Ara agar nyaman. Lalu menaikan selimut sampai kedada. Dan terakhir Satria mencium kening Ara penun perasaan.


Ara mendapat perlakuan itu dari Satria merasa bahagia. Ia berharap semua bukan hanya mimpi.


"Aku berharap kita akan seperti ini selamanya, bahagia bersama. Aku harap ini bukan sekedar bunga tidur ku" Batin Ara.


Ara mencengah Satria yang hendak pergi. Ia memegang tangannya


" Sat. Satu hal yang bisa aku katakan saat ini." Satria menatap Ara " Itu kacelakaan" Ucap Ara


Satria tercengang mendengar pernyataan Ara. Ia semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa Ara terjatuh dari gedung sekolah.

__ADS_1


__ADS_2