
Satria menghela nafas melihat Ara masih meringkuk dibalik selimut. Padahal sudah dari tadi ia bangunkan tapi tidak bangun-bangun. Bahkan sekarang Satria sudah siap berangkat sekolah dan sarapan pun sudah tersaji dimeja makan, tadi Satria memasak.
"Dia kenapa, tidak seperti biasanya. Apa dia kelelahan karena semalam gue minta" Satria menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Apa gue keterlaluan" Gummanya pelan.
Satria melangkah mendekati Ara dan duduk ditepi tempat tidur. Ia menyingkap selimut yang dipakai Ara. Satria menelan salivanya melihat tubuh Ara yang hanya memakai tank top Dan hotpans membalut tubuhnya. Lalu ia tersenyum melihat kissmark di beberapa bagian tubuh Ara.
"Ra bangun" Satria menepuk-nepuk pipi Ara "Ra ini sudah siang nanti terlambat" Ucap Satria sembari menggoyangkan tubuh Ara.
Ara membuka matanya, memandang Satria dengan tatapan mata sayu seperti orang yang sedang sakit.
"Kamu kenapa, Sakit?" Tangan Satria terulur menyentuh kening Ara " Gak panas"
"Karena memang bukan sakit panas" Jawab Ara pelan
Satria mengerutkan keningnya sejurus kemudian ia tersenyum
"Owh apa karena semalam" Ara mendelik "Apa itu sakit?" Tunjuk Satria pada bagian intim Ara dan Ara tidak menjawab pertanyaan konyol Satria.
"Makanya jangan memakai pakaian minim kaya gini Ra. Aku laki-laki normal yang pasti akan tergoda liat penampilan kamu kaya gini. Terlebih kamu sudah halal bagiku. Sangat sulit untuk ku menahannya disaat aku sudah pernah merasakannya dan menikmatinya" Senyum Satria pun terbit setelah mengatakan itu.
"Jangan tersenyum seperti itu!" Teriak Ara lalu bangkit dan masuk kekamar mandi
"Kamu lucu kalau lagi malu malu kaya gitu Ra" Ucap Satria lalu ia melihat jam dipergelangan tangannya " kayanya gue terlambat kesekolah"
Satria pergi keluar kamar dan menuju dapur. Disana ia sarapan sendiri sembari menunggu Ara. Setelah selesai sarapan Ara belum juga keluar kamar. Akhirnya Satria memutuskan membawakan bekal untuk sarapan Ara. Karena waktu sudah tidak mungkin untuk Ara sarapan. Bisa-bisa mereka terlambat.
"Biar Ara sarapan dimobil saja nanti" Ucapnya Setelah membuat bekal untuk Ara.
__ADS_1
Ara keluar dari kamar berjalan lunglai. Itu tidak lepas dari pandangan Satria. Satria menghampiri Ara dan membawa bekal untuk Ara.
"Lemes banget. Ini buat sarapan di jalan" Satria menyodorkan bekal pada Ara dan Ara menerimanya.
"Biasa" Satria mengerutkan keningnya " Makasih bekalnya" Satria mengagguk
"Ayo berangkat. Sudah terlambat" Lalu Ara pergi meninggalkan Satria yang masih mematung mendengar perkataan Ara
"Bukannya dia yang susah dibangunin. Kenapa seperti gue yang buat dia terlambat" Gummanya pelan lalu menyusul Ara
Satria dan Ara berangkat bersama menggunakan mobil milik Satria. Di perjalanan Ara tidak biasanya diam dan terlihat lemas. Ia menyenderkan kepalanya kejendela, bahkan bekal yang Satria siapkan pun tidak disentuh. Sesampainya mereka sekolah, Satria langsung memarkirkan mobilnya ditempat biasa tanpa menurunkan Ara sebelum sampai disekolah.
Satria melirik Ara yang masih dengan posisinya walau mereka sudah sampai disekolah, tanpa ada niatan untuk turun.
"Aneh. Biasanya dia akan marah jika gak di berhenti di pertigaan dekat sekolah. Ini udah masuk sekolah diem aja."Batin Satria
"Iya" Dengan malas Ara turun dari mobil Satria.
"Aneh" Gumma Satria
Saat Ara keluar dari mobil, Semua mata tertuju pada Ara. Jelas saja Ara jadi pusat perhatian, karena Ara turun dari mobil Satria. Banyak siswa dan siswi sekolah yang berbisik-bisik melihat kejadian langka itu. Ada yang memuji Ara karena berhasil mendapatkan perhatian Satria, ada juga yang iri, mencibir bahkan menyumpahi Ara. Seluruh sekolah jadi heboh karenanya.
Ara memasuki kelas, dan ternyata mereka yang berada didalam kelas sudah mendengar berita tentang Ara yang keluar dari mobil Satria. Ara menjadi tambah pusing mendengar ocehan teman-teman sekelasnya.
"Ra kamu gak apa-apa?" Tanya Alia yang melihat Ara masuk kekelas langsung merebahkan kepalanya dimeja dan memejamkan mata.
"Aku pusing, mana perut gak enak lagi" Jawabnya pelan.
__ADS_1
"Kamu lagi dapet?" Ara mengagguk sebagai jawaban "Pantesan, mau aku beliin obat gak?"
"Gak usah, cuma gak nyaman aja bukan sakit" Jawab Ara dan Alia pun mengagguk
Tak lama Satria masuk bersama kedua sahabatnya juga seorang guru yang akan memberikan pelajaran Bahasa Inggris.
......................
"Kapan lo bakal nyebarin video itu?" Angel menatap tajam lawan bicaranya
"Tenang sayang, kita tunggu waktu yang tepat. Gue harus nyingkirin beberapa bukti. Biar jalan lo mulus" Ucap Renaldi dan tersenyum Smirk
"Gue masih gak ngerti. Apa yang lo lihat dari cowok kaya Satria. Harta?. Gue juga kaya". Ucap Renaldi sombong
"Gue sayang dan cinta dia. Dia satu-satunya cowok yang bisa buat hati gue bergetar" Angel terseyum bahagia
"Nyatanya dia udah nolak lo berkali-kali bahkan nyakitin hati lo"
"Gue gak perduli, pokoknya gue harus memilikinya"
"Lo gak bakalan malu jika orang-orang melihat video itu?" Angel menggeleng" Mungkin lo bakalan di cap cewek murahan" Ucap Renaldi
"Gue gak perduli" Ucap Angel
Renaldi mengepalkan tangannya "Terserah lo. Gue cabut"
Renaldi meninggalkan Angel sendiri disudut cafe
__ADS_1
"Sorry gue manfaatin lo buat dapetin Satria. Gue tahu perasaan lo sama gue. Tapi gue terlanjur mencintai Satria. Gue bener-bener gak bisa nerima orang lain dihati gue"