Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
103


__ADS_3

Siang berganti malam, hari ini mereka tidak pulike apartemen tapi menginap di kediaman Aditama. Satria menyelinap keluar kamar setelah ia yakin Ara benar-benar sudah terlelap. Satria menuruni tangga dan masuk kedalam ruang kerja Ayahnya. Ia duduk di sofa dan menghubungi Dion.


"Lo udah dapat apa yang gue mau?"...


"Sudah, gue kirim ke email lo sekarang juga"


"Thanks kerja lo cepet juga"


"basa basi aja lo"


"Lo mau apa, gue kasih. sebagai tanda terima kasih gue"


"Gitu dong. Lo memang yang terbaik Sat. Tapi nanti lah gue pikir-pikir dulu"


"Ok"


Satria menutup sambungan teleponnya. Ia menyenderkan kepalanya disandaran kursi sembari memijat keningnya.


"Apa yang harus aku lakukan Ara. Apa mempublikasikan hubungan kita adalah jalan keluar yang terbaik. Aku tidak rela kau dihina seperti itu. Mereka harus tahu siapa dirimu" Gumma Satria pelan


"Ya mungkin itu jalan yang terbaik untuk diambil" Ucap Heru tiba-tiba membuat Satria langsung memalingkan pandangannya kearah pintu dimana Ayahnya berada.


"Ayah, sejak kapan " Ucapan Satria dipotong oleh Heru


"Sejak kamu berbicara dengan Dion" Jawab Heru cepat, sembari berjalan kearah Satria. Ia tahu apa yang dipikirkan oleh anaknya.


Heru duduk didepan Satria " Kita memang harus melakukan konferensi pers dan mengumumkan hubungan kalian serta identitas Ara"


"Tapi Yah, Ara tidak suka identitasnya diketahui orang" Ucap Satria


Satria sebenarnya bingung, disisi lain ia ingin menjaga identitas Ara untuk keselamatannya. Disisi lain ia juga tidak ingin Ara dihujat seperti itu.


"Ayah tahu kamu ingin menjaga dan memenuhi keinginannya. Tapi kabar kehamilan Ara sudah menyebar. Itu tidaklah cukup dengan hanya membuat mereka membungkam mulutnya. Tetap saja nama Ara akan tercoreng. Pikirkanlah baik-baik" Ucap Heru menasehati

__ADS_1


"Iya Yah"


"Serahkan daftar orang-orang yang membuat image menantu ku seperti seorang j*Lang. Aku akan buat mereka menyesal karena berurusan dengan keluarga Aditama dan keluarga Wiguna" Ucap Heru, tangannya terkepal menahan amarah.


"Apa yang akan Ayah lakukan.?" Heru menatap anak semata wayangnya " Jangan menghancurkan perusahaan mereka. Akan ada banyak orang tidak berdosa yang akan terkena imbasnya" Ucap Satria memperingati


"Tenang saja, Ayah tahu. Ayah hanya akan bermain-main dengan mereka" Heru tersenyum smirk


"Ayah akan buat mereka merasakan diposisi Ara. Ayah akan mengorek aib mereka dan membuat mereka menjadi trending topik. Dan tentu saja hal itu akan mempengaruhi perusahaan keluarga mereka. Ayah juga akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan mereka tentu Ayah akan meminta Bambang untuk melakukan hal yang sama"


Satria membuka email di handphone miliknya lalu mengirimkan isinya pada sang Ayah. "Aku sudah mengirimkannya. Periksa saja email Ayah." Ucap Satria


"Kapan kamu akan melakukannya?" Tanya Heru


"Setelah Ayah bermain-main dengan mereka" Heru mengagguk


"Tunggu saja tidak akan lama. Pergilah temani menantu ku"


"Baiklah, Aku akan pergi menemani menantu kesayangan Anda" Sarkas Satria, Heru tersenyum mendengar jawaban anaknya.


Di ruang kerja, Heru menghubungi asistennya dan memberikan perintah untuk membongkar aib beberapa orang yang sudah menghina menantu kesayangannya. Setelah itu ia juga menghubungi sahabat sekaligus besannya untuk membantu menghancurkan mereka. Bambang pun menerima daftar nama-nama yang telah membuat putri kesayangannya menderita. Bambang pun akan melakukan hal yang sama dengan Heru. Membatalkan beberapa kerjasama dengan perusahaan yang anaknya telah menyinggung dan menyakiti Ara. Walaupun sebenarnya Ara tidak tahu apapun.


...----------------...


Dua hari berlalu, Ara masih tinggal di kediaman keluarga Aditama. Ia juga tidak diperbolehkan untuk masuk sekolah dengan alasan kesehatannya. Ara pun menurut, hanya saja ia mulai curiga. Karena ia tidak diperbolehkan untuk menonton siaran televisi lokal dan handphone miliknya hilang. Bahkan saat ia ingin meminjam handphone milik mertuanya atau pun pelayan, tidak ada yang memberikannya dengan berbagai alasan. Dan Ara selalu diikuti oleh pelayan kemanapun ia pergi. Kecuali kekamar mandi.


Ara sedang menonton drama Korea di televisi ruang keluarga. Tentu ditemani oleh seorang pelayan yang setia mengikuti dirinya.


"Huft" Ara menghela nafasnya "Sebenarnya ada apa sih, kok aku jadi kaya tawanan gini" Batin Ara sambil mengunyah buah-buahan yang telah dipotong-potong kecil yang disajikan untuknya


"Kenapa mukanya ditekuk gitu sayang" Ucap Devina yang baru saja datang dan melihat anaknya cemberut


"Mama" Ucap Ara langsung berdiri dan meletakkan piring yang sedang dipegang olehnya. Kemudian ia menghampiri Devina

__ADS_1


"Hati-hati Kamu itu sedang hamil" Ucap Devina melangkah cepat menghampiri Ara.


"Mama" Ara memeluk Devina manja dan Devina pun membalasnya


" Kamu itu sedang hamil. Jangan bergerak sembarangan. Kalau jatuh gimana huh!" Omel Devina


Ara melepaskan pelukannya "Iya iya maaf"


"Dimana mertua mu?" tanya Devina


"Di dapur Ma"


Ara dan Devina pun melangkah menuju dapur dimana mertuanya berada. Sesampainya didapur, Devina dan Ara melihat Lisa sedang sibuk mengintruksikan pekerjaan pada pelayan yang akan memasak.


"Sibuk sekali besan ku ini" Ucap Devina


Lisa langsung berbalik dan melangkah menuju kearah Devina. "Loh kapan datang" Ucap Lisa sembari cipika cipiki


"Baru saja. Ini aku bawakan ayam geprek yang Ara inginkan" Devina menyodorkan kotak makanan.


Mata Ara berbinar mendengar kata ayam geprek, tadi ia memang menginginkan ayam geprek untuk makan siangnya. Karena itu Lisa mengintruksikan kepada pelayannya untuk memasak apa yang diinginkan oleh Ara.


"Itu ayam geprek Ma?" Devina mengagguk sebagai jawaban


"Loh udah dibawain aja." Lisa mengambil kotak makanannya lalu menyerahkan pada pelayan untuk di siapkan.


"Wah sepertinya enak. Ayo kita makan" Ucap Ara lalu menarik salah satu kursi dan duduk "Bik. Cepetan ya siapinnya" Ucap Ara tidak sabar


Lisa dan Devina tersenyum melihat Ara yang tidak sabar ingin memakan ayam geprek nya. Mereka senang Ara hamil tidak mengalami muntah-muntah dan mengalami penurunan ***** makan seperti kebanyakan wanita hamil pada usia kehamilan terimester satu pada umumnya. Hanya terkadang mual jika mencium parfum. Sehingga tidak ada yang memakai parfum dikediaman Aditama. Justru yang mengalami muntah-muntah itu adalah Satria, bisa juga disebut kehamilan simpatik. Sudah dua hari Satria selalu muntah tiap bangun tidur dipagi hari. Tidak bisa mencium aroma nasi yang masih panas. Dan mencium aroma bumbu yang sedang dimasak. Sehingga ia akan turun jika didapur sudah tidak tercium aroma bumbu. Dan nasi pun harus dalam keadaan dingin, tidak ada uap yang keluar lagi baru Satria akan memakannya.


"Tadinya aku mau masak sendiri buat Ara. Tapi sudah dimasakin Mamanya" Ucap Lisa lalu terkekeh


"Sudahlah. Dia juga anakku" Ucap Devina

__ADS_1


Lisa menyuruh pelayan untuk menyiapkan makan siang untuk mereka bertiga. Dengan menu ayam geprek yang dibawa oleh Devina. Mereka pun duduk dimeja makan dan memulai makan siangnya.


Ara begitu lahap memakan ayam geprek dengan tingkat kepedasan sedang. Dicampur dengan nasi hangat. Bahkan saking enaknya makan ia lupa bahwa ia makan dengan Ibu dan Mamanya.


__ADS_2