
hari ini adalah hari yang ditunggu tunggu semuanya juga hari yang paling menegangkan bagi satria dan ara. pernikahan dilaksanakan secara sederhana dan hanya dihadiri kerabat dekat, sahabat, relasi bisnis kedua belah pihak.
di kamar satria, terlihat satria duduk temenung memikirkan masa depannya bersama ara, gadis yang baru ia kenal 2 minggu yang lalu.
cklek...
pintu dibuka dan terlihat dua orang yang paling dekat dengan satria masuk kedalam kamar. siapa lagi kalau bukan dua sahabatnya, alvin dan dion. mereka lalu ikut duduk di sofa dalam kamar itu. duduk dengan posisi satria berada ditengah.
" tenang bro,,, jagan tegang gitu ach. gak lucu liat pengantin kaya es balok...hahaha" menepuk nepuk bahu satria
satria melirik ke arah dion dan menatapnya tajam
" slow brother,,,itu mata nanti keluar dari tempatnya..." alvin hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang absurd
satria mengeluarkan nafasnya kasar. alvin menepuk nepuk bahu satria.
" lo tau, pernikahan berbeda dengan pacaran. pernikahan itu ikatan suci yang sakral, janji lo bukan hanya depan tamu, orang tua lo, mertua lo dan istri lo tapi depan Tuhan. pernikahan bukan main main, kaya pacaran bisa putus sesuka hati lo karena hubungan kalian bukan hanya dengan istri lo tapi dua keluarga jadi satu. terlepas bagaimana kalian sampai menikah, ini adalah pernikahan, jangan mempermainkan pernikahan" ucap alvin panjang lebar menasehati satria.
satria hanya diam mendengarkan dengan serius nasihat alvin, berbeda dengan dion yang merasa aneh dengan sahabatnya yang tiba tiba kaya pak ustad.
"lo kerasukan roh ustad mana vin,,, bijak bener kata kata lo" dan dion langsung dihadiahi tabokan maut alvin " aww sakit bege" mengelus ngelus pahanya yang kena tabokan alvin
satria hanya terkekeh melihat kelakuan dua sahabatnya itu. ia sedikit terhibur juga sedikit mengurangi kegugupannya.
" apa kamu sudah siap nak, kita berangkat sekarang" ayahnya datang tiba tiba
" iya yah" jawabnya pelan
...****************...
di sisi lain di kamar ara...
ara duduk termenung didepan cermin. ia menerawang kembali kemasa lalu dalam situasi yang sama, namun dulu ia begitu bahagia menyambut hari ini. berbeda dengan sekarang, yang terpaksa menikah. ara terus saja menghembuskan nafasnya kasar...
__ADS_1
cklek...
ara menglihkan pandangannya ke arah pintu. terlihat wanita baruh baya masuk kedalam kamarnya.
" mama" beo ara
ya itu adalah nyonya devina mama ara. devina tersenyum melihat ata yang begitu cantik dengan balutan kebawa dan make up yang tidak berlebihan. ara menghampiri mamanya, dilihatnya mata yang meneduhkan itu penuh dengan genangan air yang siap keluar dari tempatnya.
" mama, kenapa ma?" ara memeluk mamanya. ada perasaan sedih saat melihat raut wajah sedih mamanya
" tidak apa apa nak, mama hanya sedih sebentar lagi anak perempuan mama bakalan diboyong suaminya" devina terkekeh sambil memeluk ara. tak terasa air mata itu pun tak bisa dibendung lagi.
" dek..." mendengar suara itu mereka melepaskan pelukannya.
" abang..." beo ara
bara langsung memeluk adiknya yang sudah lama ia tinggalkan. namun saat bertemu kembali ia malah akan melepas kepergian adinya untuk hidup bersama orang lain. melihat itu devina menangis
" tadi subuh, baru sampai" bara melepaskan pelukannya, mengusap pipi ara lalu mencium kening ara penuh sayang
"kamu tega dek ninggalin abang,, abang kesepian nanti kalau pulang kamu gak ada" ara mencebikkan bibirnya kesal dengan sang kakak yang terkesan menyudutkannya.
" salahkan saja mama sama papa yang buru buru nikahin ara,, kaya ara udah hamil aja cepet cepet dinikahin" sarkasnya
" hus kamu tuh kalo ngomong jangan sembarangan" mama devina kesal, lalu menoyor kepala ara
" ma udah, yang dikatakan ara itu ada benarnya. lagian kenapa ara harus dinikahkan sekarang" ara pun langsung bergelayut manja dilengan bara. dan si empunya lengan hanya tersenyum melihat kelakuan adiknya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
waktunya telah tiba, satria tengah duduk di depan penghulu dan juga calon ayah mertuanya. dibelakangnya ada kedua orangtua dan sahabatnya. dengan lantang satria mengucapkan ijab qobul di saksikan seluruh orang yang hadir hari itu
" ananda Satria Putra Aditama bin Heru Aditama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Tiara Adelia Wiguna binti Bambang Wiguna dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan dibayar tunai"
__ADS_1
" saya terima nikah dan kawinnya Tiara Adelia Wiguna binti Bambang Wiguna dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan dibayar tunai" seketika perasaan satria lega setelah mengucapkan janji suci pernikahan
"bagaimana para saksi, apakah sah?" tanya pak penghulu
" SAH..." jawab serempak
" Alhamdulillah..." lalu dipanjatkannya doa untuk kedua mempelai dan diamini oleh semua orang yang hadir.
deg...
deg..
jantung ara tidak karuan saat mendengar kata SAH terlontar dari bawah..lalu ia menoleh ke arah kakaknya yang sendari tadi dengan setia menemani sang adik. tatapan mata mereka bertemu, bara lalu tersenyum dan mengagguk.
" sekarang adek kesayangan bang bara udah jadi istri orang" lalu mengusap ngusap kepala ara sayang.
ara hanya diam, bahkan tidak membalas senyum kakaknya. ara menatap lurus dengan pandangan kosong. melihat itu bara mencium kepala ara, ara pun menoleh.
"bagaimanapun caranya kalian sampai menikah, mau itu baik atau tidak sekarang kamu seorang istri. jadi belajarlah menjadi seorang istri yang baik dan sholeha" ara hanya menunduk " walau sekarang kamu udah jadi istri satria tapi tetap kami adalah keluargamu yang akan dengan tangan terbuka menyambutmu. jika ada masalah kami akan selalu ada untukmu"
entah kenapa mendengar kata kata bara, ara refleks memeluk bara dengan erat. bahkan ara sendiri bingung kenapa ia memeluk bara.
tok...tok...tok...
" maaf aden, nona. saya disuruh menyampaikan bahwa non ara sudah waktunya turun ke bawah menemui suami non ara"
"baik bi kami akan turun" jawab bara " ayo kita turun" lalu menggandeng ara keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju tempat dimana ijab qobul dilaksanakan.
dengan anggun ara melangkah ke arah satria dan semua mata tertuju pada ara tidak terkecuali satria
deg...
jantung satria berdegup kencang saat melihat ara berjalan kearahnya.
__ADS_1