
Hari hari berlalu. Hari ini Ara bersiap untuk pulang. Ara sudah rapi dengan pakaian santainya.bTapi mereka masih memperdebatkan Ara akan tinggal dimana selama masa penyembuhan. Perdebatan Lisa dan Devina menjadi tontonan Satria dan Ara.
" Kita pulang ke apartemen saja lah" Beo Ara
Satria melirik Ara lalu mengagguk " Iya itu lebih baik" Satria menimpali
" Apa Mama dan Ibu masih betah berdebat?" Ara menghela nafas panjang " Bagaimana kalau kita kabur?" Ucap Ara
Satria menatap Ara tidak percaya. Bagaimana mungkin mereka kabur, fikirnya.
" Kamu tuh ada-ada saja" Satria mengacak rambut Ara gemas
" Seandainya Bang Bara masih ada disini. Pasti seru" Ucapnya sendu
" Dia pasti cepat pulang setelah Bang Bara lulus. Doakan saja Abang disana lancar jadi cepat pulang" Ucap Satria
Ara mengagguk lalu menaikan tangannya keatas, meminta Satria menggendongnya. Satria malah memandang Ara dengan tatapan bingung. Ara menurunkan tangannya kesal.
" Apa?" Tanya Satria
" Gendong" Ucap Ara manja
" Menang mau kemana?"
" Pergi lah, mumpung Mama dan Ibu masih sibuk berdebat" Bisik Ara, Satria mengagguk
" Tunggu sebentar, Amanin dulu handphone dan kunci"
Satria menggendong Ara ala bridal style. Dengan langkah pelan tanpa menimbulkan suara, Ara dan Satria pergi meninggalkan kedua wanita paruh baya yang masih memperebutkan Ara. Untung saja pintunya sudah terbuka lebar sehingga mereka lebih mudah untuk kabur tanpa ketahuan.
Satria setengah berlari meninggalkan Ibu dan Mertuanya. Mereka tertawa setelah agak jauh dari ruangan Ara dirawat.
" Hahaha kita kaya lagi kawin lari ya" Ucap Ara sambil tertawa
" Iya benar juga" Timpal Satria
" Pas sadar Mama dan Ibu pasti marah. Dan kita pasti diomeli mereka" Ucap Ara
" Gak kebayang ekspresi mukanya pas sadar kita gak ada" Ucap Satria danp mereka pun tertawa.
"Eh kita kirim pesan dulu takut pada panik" Satria mengagguk
" Biar aku saja"
Satria menurunkan Ara dikursi yang tersedia untuk pengunjung Rumah Sakit. Ia mengambil Handphone nya lalu mengetik pesan untuk ke nomor ibunya. Setelah itu Satria menggendong Ara kembali lalu mereka pergi menuju parkiran.
Mereka berdua telah sampai diparkiran Rumah Sakit. Satria membuka pintu mobil lalu menurunkan Ara dikursi depan samping kemudi dan memasangkan sabuk pengaman. Lalu Satria menutup pintu dan memutari mobilnya untuk masuki mobil.
Didalam mobil Ara memperhatikan setiap gerakan Satria. Dari mulai memasuki mobil sampai kini mereka tengah berada dijalan.
" Apakah kamu belum puas memandang ku?" Satria melirik lalu fokus kembali menyetir
__ADS_1
" Apaan" Ara memalingkan mukanya melihat keluar jendela.
" Ya mungkin kamu belum puas melihat wajah tampan suami mu setelah tertidur selama sepuluh hari" Satria tersenyum tipis
" Eng-Gak!" Jawab Ara gugup
Muka Ara memerah dan Satria mengetahuinya. Satria merasa senang menggoda istrinya dan terus menggoda Ara
" Mulut mu bisa berbohong tapi wajah mu tidak" Ucap Satria lalu terkekeh.
Ara melirik Satria, ia mengerucutkan bibirnya dan berguma tidak jelas. Satria tertawa melihat tingkah laku Ara.
" Bahasa planet mana itu. Hahahaha." Satria tertawa lepas
Ara menatap Satria lalu tersenyum. Ia bahagia bisa meliahat Satria tertawa seperti itu, tawa yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
" Puas tertawanya?" Sarkas Ara.
" Ehmz." Satria menetralkan suaranya " Kita mau kemana?" Tanya Satria
" Ini ke arah mana?" Ara menengok kekanan dan ke kiri.
"Ini jalan mau ke Apartemen" Kata Satria
"Bisahkah kita ke pantai. Aku ingin sekali kesana" Satria melirik Ara
" Jangan sekarang. Lihat ini jam berapa. Masih sangat panas jika kita kepantai sekarang" Jelas Satria dan Ara pun mengagguk
Satria menyetujui keinginan Ara. Mereka pergi menuju resto dekat pantai.
Sementara itu disisi lain Devina dan Lisa akhirnya sadar orang yang mereka perebutkan sudah tidak ada.
"Pokoknya dia sama aku!" Ucap Devina
" Tapi kan dari Awal kita udah sepakat Ina bahwa Ara tinggal dirumah aku"
"Iya tapi kan sekarang keadaannya berbeda, dia lagi sakit"
" Memangnya aku juga bisa merawatnya, kamu tidak percaya padaku!"
" Bukan tidak percaya tapi aku sebagai Mamanya ingin merawatnya juga"
"Ya sudahlah kita tanya Ara dan Satria saja. Apa mereka mau tingg dirumah ku apa rumah mu"
Ketika mereka berbalik, ternyata tidak ada siapapun kecualia mereka berdua. Satria dan Ara tidak ada di tempat terakhir mereka melihatnya.
" Loh kok mereka gak ada" Ucap Devina
" Kemana mereka?" Tanya Lisa pada dirinya sendiri.
Mereka melirik kesemua penjuru ruangan namun sejauh mata memandang tidak ada siapapun. Lisa berdiri dan menuju kamar mandi berharap mereka ada disana namun nihil. Tidak ada siapapun. Sedangkan Devina melihat keluar ruangan, namun sama. Dia tidak menemukan anak menantunya. Akhirnya mereka berdua duduk kembali.
__ADS_1
"Kita hubungi Satria saja, mungkin mereka jalan-jalan diluar" Fikir Lisa karena melihat barang-barang Ara masih ada.
" Iya kamu hubungi saja Satria"
Lisa mengambil Handphone didalam tasnya. Saat membuka Handphone nya, Lisa melihat ada pesan yang masuk. Ia lalu membukanya dan terkejut melihat siapa yang mengirim pesan. Ternyata adalah anaknya, Satria. Lisa pun membuka pesannya.
Putra Ku
Ibu...
Aku dan Ara pergi duluan. Karena kami tidak ingin melihat drama antar Besan.
" DASAR ANAK KURANG ASEM!. AWAS KALIAN!" Teriak Lisa dan Devina langsung menutup telinganya dengan kedua tangannya
"Ada apa?. Kenapa kamu teriak teriak!." Ucap Devina sambil melepaskan tangannya.
"Lihat ini!" Lisa menyodorkan Handphone nya pada Devina.
Devina yang membaca pesan dari Satria pun menjadi sama kesalnya dengan Lisa.
" ARAA... SATRIAA...AWAS KALIAN!" Teriak Devina.
Pada saat bersamaan datanglah suami mereka berdua. Heru dan Bambang kaget melihat Devina berteriak menahan amarah. Mereka saling pandang, sejurus kemudian mereka bingung karena tidak melihat anak menantu mereka.
" Ada apa Ma teriak-teriak. Ini Rumah Sakit" Ucap Bambang menghampiri Devina
" Kemana Satria dan Ara" Tanya Heru yang tidak melihat anak menantunya yang akan mereka jemput.
"Itu dia Yah." Heru dan Bambang mengerutkan keningnya mendengar ucapan Lisa " Mereka kabur!" Lanjutnya kesal.
Heru dan Bambang saling lirik. Lalu Heru berinisiatif menghubungi Satria.
Disisi lain Satria dan Ara sedang dalam perjalanan ke resto dekat pantai. Tiba-tiba Handphone nya berbunyi tanda panggilan masuk.
"Ra. Ambil Handphone aku disaku" p
Perintahnya.
Ara menuruti Perintah Satria untuk mengambil Handphone Satria. Ia melihat dilayar Handphone Satria ada panggilan masuk dari mertuanya.
"Ini dari Ayah" Ucap Ara
"Angkat dan tolong loadspeaker" Ara menuruti apa yang Satria katakan.
"Asaalamualaikum Yah"
"Waalaikumussalam, kalian dimana!"
"Kami sedang dalam perjalanan menuju resto xxxx yang berada dekat pantai"
" Apa!"
__ADS_1