
Sejak pulang dari apartemen Satria, Dion mengurung diri dikamar. Dion sedang berkutat dengan notebook kesayangannya. Ia sedang memenuhi tugas yang diberikan Satria. Yaitu menyebarkan rekaman percakapan Satria dan Angel juga foto Angel bersama Renaldi dihotel. Dion membuat akun palsu untuk menyebarkan bukti ketidak bersalahan Satria. Dia juga meretas akun gosip ternama dimedia sosial dan memposting rekaman juga foto sebagai bukti Satria tidak bersalah. Setelah selesai ia merenggangkan ototnya yang kaku. Ia menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur dengan posisi terlentang.
"Ahhh akhirnya selesai juga. Tinggal menunggu hasilnya. Gue harap ini sesuai dengan yang kita inginkan" Gumma Dion.
Dion memejamkan matanya dan tertidur. Membiarkan notebooknya menyala begitu saja.
Disisi lain dirumah sakit, seorang pasien sedang mengamuk. Tidak terima dengan kenyataan yang ia dapat.
Prang...
Pecahan gelas berhamburan dilantai.
"Gue gak terima. Gue gak terima . GUE GAK TERIMA!" Teriak Angel histeris melihat berita tentang rekaman percakapannya dengan Satria. Yang membuat opini publik berbalik menyerangnya.
"Kenapa lo diam aja!. Lo harusnya lakuin sesuatu!" Angel kesel karena Renaldi tidak melakukan apapun
"Apa yang harus gue lakukan!. Tidak ada yang harus gue lalukan." Jawab Renaldi santai
"Bukannya lo janji mau bantuin gue menghancurkan Satria!. Lalu kenapa sekarang lo cuma diam!".
Renaldi kesal dengan tingkah Angel. Ia menghampiri Angel lalu mencengkram rahang Angel.
"Kalau saja lo gak hamil anak gue!. Gue gak bakalan disini temenin lo. "
Mata Angel membulat sempurna. Tangannya gemetar, tubuhnya menegang. Angel sangat terkejut mendengar kata Hamil dari mulut Renaldi.
"Gu Gue hamil" Batin Angel
Renaldi menatap tajam Angel "Minggu depan kita akan menikah!. Semua sudah diatur orang tua kita!." Angel menatap Renaldi tidak percaya " Lo berani kabur atau menggugurkan janin yang ada di perut lo. Gue pastiin lo hidup tapi berharap mati!"
Glek...
Angel menelan salivanya. Tubuhnya melemah, air matanya tak mampu lagi ia bendung.
"Hancur sudah semuanya" Batin Angel
"Cih" Renaldi melepaskan cengkramannya dengan kasar melihat Angel menitikan air mata.
Renaldi melangkah keluar menyuruh seseorang membereskan kekacauan yang telah Angel buat.
__ADS_1
...----------------...
Pagi yang begitu dingin sampai nenusuk ke tulang membuat Ara masih meringkuk dibawah selimutnya. Begitu pula dengan Satria, karena hari ini hari minggu mereka menarik selimutnya lagi setelah menunaikan ibadahnya. Mereka meringkuk dengan saling memeluk.
Cklek...
Pintu kamar mereka terbuka, Lisa masuk dan sudut bibirnya terangkat melihat anak menantunya yang mesih tertidur saling berpelukan. Ia melangkah mendekati tempat tidur Satria. Lisa berkacak pinggang sembari menggelengkan kepalanya. Ingin sekali ia menarik selimut yang menutupi tubuh anak menantunya, namun ia urungkan.
"Satria, Ara bangun" Panggil Lisa sembari menggoyangkan tubuh Satria dan Ara.
Ara mengerjapkan matanya merasa terganggu. Saat Ara membuka mata, ia kaget melihat mertuanya sampai ia langsung bangun dan duduk.
"I-Ibu" Ara tersenyum canggung
"Ayo bangun kita sarapan bersama. Bangunkan juga suami mu yang kaya kebo itu!"
"Iya Bu"
Setelah itu Lisa melangkah keluar kamar, namun saat diambang pintu ia berhenti dan berbalik.
"Ara sayang, cepat kamu bangunkan Satria. Sebentar lagi Ayah kalian turun" Ara mengagguk sebagai jawaban
Setelah Lisa tidak terlihat oleh Ara, Ara segera membangunkan Satria.
"Bentar lagi Ra" Gummanya pelan namun masih bisa didengar Ara
"Ihhh kamu gak malu apa dibangunin sama Ibu. Aku malu!" Rengek Ara
Satria membuka matanya, melihat wajah Ara ditekuk. Satria duduk dan mengucek matanya.
"Kenapa?."
"Kenapa?" Ara mengulang lagi perkataan Satria. Satria mengagguk sebagai jawaban
Ara mendengus kesal "Kamu tahu!. Tadi Ibu kesini membangunkan kita."
"Terus"
"Terus. Kamu bilang terus!. Ya aku malu!. Ibu dan Ayah nunggu kita sarapan!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Ara turun dari tempat tidur dan masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Satria tersenyum melihat Ara kesal. Sebenarnya ia sudah bangun dari tadi. Hanya ia malas untuk beranjak dari zona nyamannya.
tak perlu waktu lama bagi Ara untuk membersihkan diri. Ia keluar dengan menggunakan handuk dan itu membuat Satria memandangnya tanpa berkedip.
"Jangan melihatku seperti itu!. Cepat bersihkan dirimu!. Ayah dan Ibu sudah menunggu!" Ucap Ara dengan nada naik satu oktaf
"Dia benar-benar menggoda" Batin Satria
Satria turun dari tempat tidur dan membersihkan diri dikamar mandi. Satria keluar dari kamar mandi, sudah tidak melihat Ara dikamar. Satria pun tersenyum.
"Sepertinya dia sudah turun" Gumma Satria
Tap...
Tap...
Tap...
Satria turun dari tangga dengan menggunakan kaos oblong dan celana olah raga yang tadi ia pakai. Karena Satria tidak mandi, ia hanya mencuci muka dan menggosok gigi lalu mengganti kaos yang ia pakai untuk tidur dengan yang baru tanpa mengganti celana. Satria melangkah menuju meja makan. Karena semua sudah duduk menunggunya.
"Pagi semua"
"Pagi Sayang" Jawab Lisa
Satria menarik kursi disebelah Ayahnya. Ara lalu megambil piring Satria dan mengisinya dengan nasi goreng dan lauknya. Mereka Sarapan dengan tenang sampai seorang pelayan datang dan membisikkan sesuatu pada Lisa
"Nyonya itu, anu ada berita heboh tentang aden Satria" Bisik pelayan lalu menyerahkan handphone miliknya pada Lisa
Lisa menerima handphone pelayannya lalu ia tersenyum bahagia setelah membaca artikel berita online itu. Heru, Satria dan Ara menatap heran pada Lisa. Ia lalu mengembalikan handphone milik pelayannya.
"Terima kasih" Ucap Lisa tulus
"Ibu kenapa senyum senyum kaya gitu" Tanya Heru
"Ayo habiskan dulu sarapannya. Nanti Ibu kasih tahu"
"Ibu pake main rahasia-rahasiaan segala"
__ADS_1
Ara dan Satria hanya menyimak. Tanpa ada yang tahu sudut bibir Satria tertarik sebentar. Satria tahu apa yang membuat Ibunya tersenyum bahagia.
"Berarti rencananya berhasil" Batin Satria