Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
99


__ADS_3

Diperjalanan menuju kediaman keluarga Aditama, Ara melihat pedagang es cendol. Matanya langsung berbinar.


"Ehmm kayanya seger banget" Batin Ara, Ia langsung menoleh Satria dan langsung meminta Satria untuk berhenti.


"Sat Stop" Perintah Ara


Satria yang kaget langsung mengerem mendadak sehingga Mereka berdua terhuyung kedepan. Untung tangan Satria sigap menahan kepala Ara agar tidak mencium dashboard mobil. Satria mau mengeluarkan suara nya namun mulutnya hanya ternganga karena si pelaku sudah lari menuju tukang cendol. Pandangan Satria mengikuti kemana perginya Ara. Dan Satria mendesah saat ia melihat Ara membeli dua cup es cendol dan sekarang melangkah menuju mobilnya.


"Sabar Satria" Gumma Satria pelan


Senyum ceria mengiringi langkah Ara membuat Satria tanpa sadar tersenyum. Ara masuk ke dalam mobil lalu menyodorkan satu cup es cendol pada Satria yang sedang menatap ke arah nya.


"Ini, mau gak?" Tawar Ara


Satria mendesah, ia mengambil dan menyimpannya ditempat yang aman.


"Ara sayang" Panggil Satria lembut, Ara yang sedang asik memakan cendol nya melirik Satria.


"Bisa tidak lain kali kalau menyuruh berhenti jangan mendadak." Ara berhenti dari aktivitas nya dan menatap Satria "Kalau kamu mau sesuatu bilang. Biar aku yang belikan, jangan seperti tadi. Ingat Ra kami sedang hamil, bagaimana kalau terjatuh saat lari tadi"


Ara menunduk matanya berkaca-kaca "Maaf" Cicitnya dengan suara khas orang yang menahan tangisnya.


melihat itu Satria membawa Ara kedalam pelukannya. "Sudah, aku tidak marah. Hanya lain kali hati-hati" Ara mengagguk


Satria melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Ara. " Ayo habiskan cendolnya" Ara menggelengkan kepalanya


" Kenapa?. Tidak enak?" Tanya Satria


"Sudah tidak ingin" Satria tersenyum kecut mendengar perkataan Ara.


"Ya sudah. Mau apa sekarang" Ara menggeleng


"Tidak, Ayo kita lanjutkan nanti Ibu sama Mama nunggu lama"


Ara perasaan bersalah menghinggapi hati Satria. Satria pun menjalankan lagi mobilnya. Sesampainya mereka kediaman keluarga Aditama, Mereka disambut oleh dua wanita paruh baya yang tersenyum bahagia melihat mereka telah sampai.


"Akhirnya kalian sampai juga" Ucap Lisa


"Iya kami sudah menunggu" Timpal Devina


Satria dan Ara menyalami Devina dan Lisa. Setelah itu mereka masuk kedalam rumah


"Ayo masuk. Tadi Mama mu bawa mangga muda dan tadi kita buat rujak didapur" Lisa menggandeng Ara


"Aku yang buat rujaknya. Kamu cuma ngupas mangganya saja" Sungut Devina

__ADS_1


"Iya-iya kamu yang buat. Puas?" Devina pun mengangguk


Ara tersenyum melihat perdebatan kecil Antara Mamanya dan Ibu mertuanya. Sedangkan Satria menggelengkan kepalanya.


Mereka duduk diruang keluarga. Ara melirik kekanan dan kekiri mencari sosok sang Ayah dan sang Papa.


"Papa sama Ayah kemana?. Kok gak keliatan?" Tanya Ara


"Ada, mereka lagi diruang kerjanya Ayah mu" Jawab Lisa.


"Iya, paling mereka ngomongin bisnis" Ucap Devina


"Bu, Mah. Satria mau lihat Papa dulu"


"Iya sana pergi. Kalian itu sama saja. Iya kan?" Lisa melirik Devina


"Iya betul"


Satria tersenyum kaku, ia beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ruang kerja Ayahnya. Satria mengetuk pintu terlebih dahulu sampai ada sautan dari dalam ruangan yang mengijinkan dia masuk.


Cklek..


Satria membuka pintu, nampak dua pria paruh baya yang masih gagah diusianya yang menginjak kepala empat. Satria menghampiri Heru dan Bambang lalu mengalami mereka. Kemudian ia duduk didepan Ayah dan mertuanya.


"Kamu sudah menemukan jalan keluar?" Tanya Heru


Satria mendesah "Saat ini Satria hanya memikirkan satu hal yang akan membuat nama Ara bersih"


"Jangan bilang kamu akan melakukan konferensi pers?" Heru sudah bisa menebak jalan pikiran anaknya


"Tidak ada jalan keluar yang lebih baik dari itu Yah"


"Iya kamu memang benar, kejadiannya sudah seperti ini. Tidak ada jalan lain" Timpal Bambang


"Ya sudah kalau memang seperti itu. Sekarang atau nanti sama saja." Ucap Heru


Namun ekspresi Satria terlihat gusar dan itu tidak luput dari perhatian Heru dan Bambang.


"Kenapa muka mu seperti itu. Apa kamu tidak senang jika pernikahan kalian terkuak dan identitas Ara diketahui oleh semua orang?" Tanya Bambang dengan nada yang tidak bersahabat.


Mendengar itu Heru menatap Satria mencari kebenaran. "Katakan Nak, jangan buat kami salah paham dengan ekspresi mu itu"


"Maaf Pah, Yah. Satria bukan tidak ingin identitas Ara diketahui. Hanya saja Satria takut jika identitas Ara dan pernikahan ini terbongkar. Keamanan Ara mungkin saja terancam, terlebih dia sedang mengandung. Ara sekarang adalah kelemahan Satria, aku hanya takut Ara akan menjadi incaran orang-orang yang tidak suka dengan kita" Tutur Satria.


Satria akhirnya mengeluarkan semua kecemasan dan ketakutan didalam hatinya, membuat kedua pria itu mendesah. Apa yang dikatakan oleh Satria itu memang ada benarnya.

__ADS_1


"Ya sudah kita pikirkan lagi nanti, ayo kita temui Ara" Ajak Heru


mereka semua keluar menuju ruang keluarga. Namun baru saja Satria melangkah keluar pintu, handphone miliknya berbunyi. Satria langsung menggeser tombol hijau setelah melihat nama Alvin tertera dilayar handphone nya.


"Sat lo dimana?" Tanya Alvin diseberang sana


"Gue dirumah, kenapa?"


"Dion ngajak kita kekafe Lo. katanya dia udah nemuin siapa yang menyebarkan berita kehamilan Ara."


"Ok gue kesana sekarang"


"Ok"


Satria pun menghampiri keluarganya yang sedang berkumpul. Ia mengusap kepala Ara yang sedang asik memakan rujak buatan mama Devina. Lalu duduk disampingnya.


"Kamu mau gak, ini enak" Ara menyodorkan garpu yang berisi satu potong buah mangga dilumuri bumbu rujak.


Satria menelan salivanya. "Ehmm kayanya asem banget ya" Batin Satria


"Ini enak loh" Satria menggeleng


"Gak, buat kamu aja"


"Enak ini cobain dulu. Aku udh pegel nih tangan megang garpu" Rengek Ara


Melihat interaksi antara Ara dan Satria, kedua pasangan suami istri itu tersenyum dan mulai menggod calon orang tua muda itu


"Makan aja Sat. Kasihan nanti anak mu lahir ngeces loh. Karena keinginannya terpenuhi" Goda Lisa


"Iya loh Sat" Timpal Devina


"Tapi itu asem" Ucap Satria pelan


"Gak kok enak beneran gak asem" Ucap Ara semangat


"Makan aja Sat. Demi bayi dalam kandungan Ara" Ucap Heru


"Kamu harus jadi suami siaga. Apapun yang Ara minta harus dipenuhi" Ucap Bambang


Mendengar mertuanya berbicara seperti itu, Satria terpaksa membuka mulutnya dan menerima suapan Ara. Ia takut dicap menantu yang tidak bisa membahagiakan anaknya. Walaupun semuanya tahu jelas bahwa Satria sangat mencintai Ara.


Satria langsung mengernyitkan keningnya dan memejamkan matanya dalam saat ia menguyah dan rasa asam menjalar di seluruh dinding mulutnya.


"Enak dari mana!. Ini asam banget" Batin Satria

__ADS_1


"Enak kan?" Tanya Ara.


Yang ditanya hanya bisa mengangguk sambil maksakan menarik kedua sudut bibirnya. Melihat ekspresi Satria kedua pasangan suami itu pun tertawa. Tepatnya menertawakan Satria yang disiksa Ara.


__ADS_2