Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
105


__ADS_3

Disebuah ruang tamu yang tidak terlalu mewah namun nyaman. Elza sedang duduk menunggu Umi Rahma yang pergi kedapur untuk membuatkan dirinya teh. Tak lama kemudian Umi Rahma datang dengan seorang pelayan yang membawa nampan berisi dua cangkir teh dan beberapa toples kue kering.


"Maaf Ibu Elza kalau boleh saya tahu ada perihal apa Ibu Elza datang ke rumah saya" Tanya Umi Rahma sopan


"Maafkan saya datang mendadak seperti ini. Saya sebenarnya punya niatan untuk menjadikan Alia menantu saya" Ucap Elza dengan senyum bahagia yang terpancar jelas diwajahnya.


Mendengar itu tentu saja Umi Rahma kaget bukan main. Anaknya baru saja akan lulus sekolah menengah atas namun sudah ada yang melamar. Ia bingung harus menjawab apa sampai lupa dengan Elza didepannya karena sibuk dengan pikirannya sendiri.


" Mbak... Bak" Panggil Elza karena melihat Umi Rahma diam


Umi Rahma pun tersadar lalu tersenyum kepada Elza " Saya tidak tahu harus menjawab apa, Saya akan membicarakan ini dengan suami saya"


"Mbak, walaupun saya memang menginginkan Alia menjadi menantu saya. Tapi saya tidak akan memaksa bila memang keluarga atau Alia tidak setuju. Saya melakukan ini karena tidak ingin disalip orang lain. Hahahaha" Ucap Elza mencairkan suasana


Umi Rahma pun terkekeh, ada perasaan sedikit lega mendengar perkataan Elza. "Maafkan saya, Saya sangat terkejut sebenarnya"


"Itu pasti, tidak mungkin Mbak Rahma tidak terkejut mendengar saya mau melamar putri kesayangannya Mba secara tiba-tiba. Apalagi ia baru mau lulus sekolah. Kalau tidak terkejut berarti sudah dijodohkan sejak awal." Ucap Elza lalu ia terkekeh.


"Apa Nak Dion sudah tahu?" Tanya Umi Rahma


"Sebenarnya belum Mbak. Tapi Insya Allah ia pasti setuju. Karena sebenarnya anak saya itu suka dengan Alia. Hanya saja ia tidak berani mendekati karena ia menghormati Alia yang tidak ingin dekat dengan laki-laki kecuali calon imamnya" Jelas Elza


Mendengar penuturan Elza, Umi Rahma hanya mengangguk sebagai tanda mengerti.

__ADS_1


"Nak Dion anak yang baik" Puji Umi Rahma


Elza tersenyum kaku " Dia anak nakal"


"Tidak baik berbicara seperti itu, ucapan adalah doa" Elza mengagguk " Saya yakin Nak Dion baik karena saya melihatnya sendiri, ia juga sopan. Walaupun hanya beberapa kali bertemu ketika Alia diantar pulang oleh Nak Dion. Kalau tidak baik bagaimana mungkin Alia mau berteman dan sampai diantar pulang" Ucap Umi Rahma lalu mereka tertawa bersama


Mereka terus berbincang sampai tidak terasa waktu berlalu. Akhirnya Elza pamit pulang karena takut ia tidak ada dirumah saat anak dan suaminya pulang.


"Saya pamit ya Mbak. Kapan-kapan kita adakan pertemuan keluarga kalau Pak Ridwan menyetujui permintaan saya"


"Iya baiklah. Semoga mereka berjodoh"


Umi Rahma mengantar kepergian Elza sampai ia termenung didepan pintu karena sibuk dengan pikirannya. Umi Rahma tentu bahagia jika Alia mendapatkan mertua seperti Elza. Hanya saja ia sedikit tidak rela untuk melepaskan Alia dalam waktu dekat ini. Namun ia juga hanya bisa pasrah jika memang Allah SWT menghendaki Alia untuk menikah muda. Sampai lamunannya buyar karena panggilan suaminya.


"Assalamualaikum Umi. Umi." Pak Ridwan menepuk pundak Istrinya " Umi"


"Ngapain bengong di sini?"


"Ah tidak Abi" Umi Rahma menyalami suaminya " Ayo masuk " Ajaknya


Mereka berdua pergi kekamar. Pak Ridwan langsung membuka baju dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Umi Rahma malah duduk dipinggir tempat tidur dan termenung setelah menyiapkan pakaian untuk suaminya.


Keluar dari kamar mandi, Pak Ridwan melihat istrinya lagi-lagi termenung. Ada yang aneh dengan istrinya pikir pak Ridwan. Pak Ridwan melangkah mendekati istrinya dengan hanya memakai handuk dan duduk disampingnya istrinya.

__ADS_1


"Sebenarnya ada apa?. Coba katakan" Ucap lembut pak Ridwan sembari mengusap punggung istrinya


Umi Rahma menghela nafasnya panjang. Ia berbalik menatap suaminya. " Abi " Panggil Umi Rahma yang hanya dijawab deheman oleh pak Ridwan


"Tadi Bu Elza datang kemari"


"Bu Elza?" Ulang Pak Ridwan dan Umi Rahma pun mengangguk


"Bu Elza yang ditolong oleh Alia waktu itu" Umi Rahma pun kembali mengangguk "Ada apa?"


"Bu Elza bilang ingin menghitbahkan Alia untuk anaknya" Ucap Umi Rahma pelan


Sontak Pak Ridwan membulatkan matanya terkejut dan menatap istrinya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Lalu tak lama ia memalingkan wajahnya menatap lurus ke depan.


"Lalu apa jawaban Umi?"


"Umi bilang akan membicarakannya dulu dengan Abi dan Alia. Karena ini menyangkut masa depan Alia"


Pak Ridwan menghela nafas. Ada rasa lega mendengar ucapan istrinya. " Baiklah nanti kita bicarakan dengan Alia" Umi Rahma pun mengangguk sebagai jawaban


...----------------...


Konferensi pers akan diadakan besok siang di sebuah hotel milik keluarga Wiguna. Beberapa wartawan diundang oleh Bambang dan Heru. Ada beberapa wartawan yang merasa aneh mendapatkan undangan dari pengusaha sukses Bambang Wiguna, padahal sepengetahuan mereka konferensi pers yang diadakan kali ini untuk mengklarifikasi berita terkait pewaris perusahaan Aditama yang menghamili anak orang. Namun mereka tidak ambil pusing, yang penting mereka mendapatkan undangan untuk hadir dan mendapatkan berita terbaru.

__ADS_1


Selain mengundang awak media, persiapan pun sudah dimulai dari hari ini. Dari mulai tempat, proyektor yang akan digunakan untuk menampilkan bukti-bukti dilayar. Juga tempat untuk duduk Satria dan para awak media. Disetting sedemikian rupa. Satria menyiapkan itu semua dibantu oleh Heru dan Bambang.


Kini Satria hanya tinggal menunggu hari esok dan Satria berharap semuanya akan menjadi lebih baik.


__ADS_2