Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
77


__ADS_3

Ara yang sudah siap berangkat sekolah dengan seragamnya. Karena Satria menyuruh Ara untuk berangkat sekolah, walaupun Ara enggan dan ingin menemani Satria. Tapi Satria menyuruh Ara untuk tetap pergi sekolah.


Ara dan Satria tengah sarapan, tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut mereka. Hanya ada dentingan sendok dan piring yang saling bersautan. Setelah selesai dengan makanannya, Satria mulai bicara.


"Ara" Panggil Satria lembut


Ara tidak menjawab, hanya menatap Satria menunggu apa yang akan ia bicarakan


"Hari ini berangkatlah bersama Alvin. Mungkin sebentar lagi akan datang. Tidak apa kan?" Ucap Satria dan Ara tersenyum menanggapi


"Tidak apa, aku naik taksi saja. Tidak enak kalau harus Alvin kesini menjemputku" Ucap Ara tidak enak


"Tidak apa, aku tidak tenang membiarkan mu berangkat sendiri"


"Tapi"


"Tidak ada tapi!. Ikuti kata-kata ku!" Ara mengagguk pelan " Aku juga akan pergi kerumah Ibu setelah kamu berangkat"


"Baiklah" Ucap Ara pasrah


Satria berdiri dan menghampiri Ara. Ia mengacak-ngacak rambut Ara pelan.


"Ih jangan lakukan itu!. Rambutku nanti berantakan!" Ucap Ara kesal, Ia kemudian menyisir rambutnya dengan tangan dan merapihkan rambutnya kembali.


"Nanti pulang sekolah aku akan menjemput mu" Ara mengagguk


Drtt


Drtt


Drtt


Handphone Satria berbunyi, ada panggilan masuk kenomornya. Satria mengambil handphonenya lalu melihat sekilas siapa yang menghubunginya dan ia menerima panggilannya setelah nama sahabatnya yang tertera dilayar.


"Hallo"


"Sat gue udah sampai. Ara suruh turun aja ya. Gue malas naik nih" Ucap Alvin disebrang telepon


"Ok"


Alvin mematikan sambungan teleponnya.


"Ayo berangkat. Alvin sudah menunggu dibawah. Aku juga akan langsung berangkat" Ucap Satria dan Ara mengagguk


Satria masuk ke kamarnya dan mengambil beberapa barang juga sebuah topi dan masker untuk menutupi wajahnya


Ara dan Satria turun kelobi apartemen bersama. Satria mengantar Ara sampai masuk kedalam mobil Alvin. Setelah itu Satria pergi ketempat parkir dan berangkat ke kediaman Adithama.


Sesampainya dikediaman Adithama, Satria disambut Lisa didepan pintu. Satria berjalan menghampiri Ibunya lalu menyalaminya. Tanpa berkata apapun Lisa memeluk Satria.


"Ibu tahu kamu tidak bersalah. Ibu percaya padamu. Buktikanlah" Ucap Lisa dan Satria mengagguk sebagai jawaban

__ADS_1


Lisa melepaskan pelukannya lalu membelai wajah anaknya sembari tersenyum.


"Ayo masuk" Ajak lisa diikuti oleh Satria "Kamu sudah makan Nak?" Tanya Lisa


"Sudah Bu, tadi bersama Ara" Jawab Satria


"Kamu agak gemukan nak, Pasti Ara mengurusmu dengan baik" Ucapnya dengan bangga


Satria menghentikan langkahnya dan diikuti Lisa "Ibu benar. Terima kasih sudah memilihkan istri seperti Ara" Ucap Satria lalu ia mencium kening Ibunya.


"Sudah datang kamu!. Masuk keruang kerja!" Perintah Heru setelah melihat anaknya datang


"Yah" Ucap Lisa memelas


"Tidak apa bu" Satria menenangkan Ibunya "Baik Yah" Jawab Satria.


Satria mengikuti Heru masuk keruang kerjanya. Heru duduk disofa sembari memijat kepalanya yang pusing. Lalu Satria duduk disebrang Heru.


"Bagaimana keadaan perusahaan Yah?" Tanya Satria.


Satria yakin gosip yang menimpa dirinya akan berimbas pada perusahaan milik keluarganya.


"Saham perusahaan menurun, tapi masih bisa dikendalikan. Ada beberapa kerja sama yang dibatalkan sepihak. Ada juga yang menarik investasinya. Tapi masih aman" Ucap Heru menjelaskan dan Satria mengagguk


"Aku akan minta bantuan perusahaan keluarga Alvin dan Dion Yah" Ucap Satria dianggukin Heru


"Apa Papa Bambang sudah tahu Yah?" Heru mengagguk " Lalu apa Papa mau bantu perusahaan?" Tanya Satria


"Maafkan Satria Yah" Ucap Satria penuh penyesalan.


"Iya. Dan ini harus jadi pelajaran untuk mu. Jangan menyepelekan masalah kecil yang pada akhirnya akan menghancurkannmu" Heru menasehati


"Iya Yah"


"Mertuamu rencananya akan kemari. Mungkin sekarang dalam perjalanan" Lagi-lagi Satria mengagguk, tidak banyak yang ia katakan


Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka dan nampak Lisa membuka pintu masuk keruangan diikuti Bambang dan Devina. Satria berdiri melihat kedua mertuanya datang. Satria menyalami kedua mertuanya dan mereka duduk bersama di sofa.


"Dimana Ara" Tanya Bambang yang terkesan dingin


Satria menghela nafas, ia tahu mertuanya mungkin kesal sekarang


"Ara disekolah Pa" Jawab Satria


"Bagaimana bisa kamu membiarkan Ara sekolah!" Ucap Bambang kesal


"Tidak ada yang tahu identitas Ara disekolah Pa. Satria yakin Ara aman. Terlebih Satria meminta kedua sahabat Satria dan juga sahabat Ara untuk menjaga dan mengawasi Ara." Jelas Satria kedua mertuanya mengagguk.


"Ceritakan apa yang terjadi!. Papa ingin mendengarnya langsung dari mulut mu" Ucap Bambang


"Pa" Devina mengelus lengan Suaminya agar lebih tenang.

__ADS_1


"Baik Pa" Jawab Satria


Satria menceritakan kejadian itu dari ia dan Ara pergi ketempat karoke sampai Satria melakukan hubungan badan dengan Ara dibawah pengaruh obat perangsang. Satria pun mengatakan bahwa sekarang ia dan kedua sahabatnya sedang mencari bukti untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah.


Bambang menghela nafas mendengar cerita Satria.


"Baiklah Papa percaya padamu. Resiko punya menantu seperti mu" Ucapnya dengan nada bersahabat


"Terima kasih Pa" Satria tersenyum lega


"Kamu makin ganteng kalau tersenyum" Ucap Devina gemas


"Kalau kalian sudah melakukan malam pertama yang tertunda. Berarti kita akan segera mendapat kabar baik donk" Ucap Lisa antusias


"Iya kamu benar, kita akan jadi Nenek" Ucap Devina menimpali


Mereka semua yang berada diruangan itu tertawa kecuali Satria yang merasa malu sendiri. Walaupun hal yang ia lakukan bukan kesalahan.


"Tapi Satria rasa itu masih lama" Ucap Satria membuat hening ruangan " Kami masih SMA dan kami belum memikirkan sampai ketahap itu" Lanjutnya


"Jangan menunda-nunda. Lagian kalian juga sebentar lagi lulus. Iya kan?" Ucap Devina dan semua setuju


"Iya sedikasihnya saja" Ucap Satria mengalah


"Bagaimana keadaan perusahaan mu?" Tanya Bambang pada Heru


"Masih aman. Walau ada kerja sama yang dibatalkan secara sepihak dan penarikan dana oleh investor tapi masih terkendali" Jelas Heru lalu Bambang mengagguk


"Besok asisten mu suruh datang ke kantor ku. Kita akan membahas kerja sama. Dan aku akan menginvestasikan uang ku di perusahaan mu" Ucap Bambang


"Baiklah. Terima kasih kau mau membantu ku" Tulus Heru


"Jangan sungkan Her. Kita ini keluarga" Ucap Bambang


Dua keluarga ini pada akhirnya berbincang di ruang keluarga. Pembicaraan didominasi oleh kedua nyonya dari keluarga Aditama dan Wiguna. Sedangkan Bambang dan Heru tengah membicarakan bisnis. Satria hanya sesekali menimpali obrolah berbeda dari kubu Ibu dan Ayah.


Satria melirik jam dipergelangan tangannya


"Sebentar lagi waktunya Ara pulang" Gumma Satria pelan " Ma, Bu, Yah, Papa. Satria pergi menjemput Ara dulu. Sebentar lagi Ara pulang" Ucap Satria


"Hati-hati Nak" Ucap Lisa dan Satria mengagguk sebagai jawaban


"Yah. Aku pinjam mobil"


"Memangnya kenapa mobil mu?" Tanya Heru


"Tidak ada masalah, hanya mungkin jika Satria memakai mobil milik Satria. Murid disana akan tahu kalau itu Aku" Jelas Satria dan Heru mengagguk


"Kunci mobilnya ada diruang kerja. Diatas meja kerja Ayah"


Satria kembali masuk keruang kerja Ayahnya. Lalu ia mengambil kunci mobil dan pergi menjemput Ara

__ADS_1


__ADS_2