
Pagi menyingsing, cahaya matahari menerobos melalui celah gordeng kamar. Satria membuka matanya tergaggu oleh cahaya matahari yang masuk. Ia memandang Ara yang berada dipelukannya sejak semalam. Satria membelai wajah Ara, merapikan anak rambutnya.
"Thanks sudah memberikan sesuatu yang paling berharga dari diri Mu untuk ku " Ucap Satria tulus.
Satria mencium kening Ara lama. Merasa terganggu Ara menggeliat, lalu menelusupkan mukanya pada dada bidang Satria dan memeluk Satria erat. Satria menarik selimut yang sedikit melorot mepertontonkan tubuh Ara bagian atas. Satria tersenyum melihat tubuh polos Ara tanpa sehelai benang pun hanya ditutupi oleh selimut yang mereka pakai bersama. Ia teringat kembali malam panas yang telah mereka lewati berdua.
Flash Back On
Setelah sampai diapartemen Ara dan pak supir memapah Satria kesofa yang ada diruang tamu.
"Ih kamu berat banget" Ucap Ara "Terima kasih Pak" Ucapnya pada supir pribadi keluarga Aditama.
"Sama -sama Non. Mari, saya pulang dulu. ini sudah malam." Ara mengagguk
"Pak tolong jangan beritahu Ayah dan Ibu tentang malam ini"
"Baik Non, permisi" Ucapnya lalu keluar dari apartemen.
Ara berkacak pinnggang melihat keadaan Satria yang berantakan. Kancing kemeja telah terbuka semua, untung memakai pakaian dalam. Rambut Acak-acakan, wajah kusut, keringat membasahi tubuhnya. Bahkan ikat pinggangnya pun sudah terlepas. Tadi didalam mobil Satria mengeluh kepanasan dan membuka baju. Untung saja pas mau buka celana Satria dicegah oleh Ara. Ara menghela nafas lalu berniat mengambil air untuk mengelap Satria namun tangannya ditarik dan Ara jatuh terduduk disofa samping Satria.
"Jangan pergi. Ku mohon" Ucap Satria dengan suara serak.
"Aku hanya mau mengambil handuk dan air buat ngel-. ehmph" Ucapan Ara terpotong karena Satria menciumnya.
Mereka berciuman, lalu Satria mulai menjelajahi leher Ara. terdengar lenguhan dari bibir Ara membuat Satria menggila lalu kembali mencium bibir Ara namun lama kelaman permainan Satria menjadi lebih menuntut dan kasar. Ara mendorong Satria.
"Kamu kenapa sih, aneh banget!" Ucap Ara kesal
Satria menatap Ara dengan tatapan mendamba dan Ara tahu arti tatapan seperti itu. Ia menghela nafas panjang.
"Aku mengiginkanmu" Ucap Satria sembari membelai wajah Ara.
Ara memegang tangan Satria yang berada dipipinya dan menurunkannya.
"Bukankah kita sudah sepakat, akan melakukannya setelah lulus. Kenapa kamu mabuk dan memintanya?" Tanya Ara heran
"Aku tidak mabuk Ara" Baru Ara akan membuka mulutnya Satria kembali berbicara" Aku tekankan bahwa aku tidak mabuk, aku dijebak Ra. Ada yang menaruh obat diminuman ku" Jelas Satria
__ADS_1
Mata Ara membulat sempurna, Ara terkejut dengan penuturan Satria
" Hah!. Kok bisa, bukannya kamu berada di sana bersama Alvin dan Dion?" Tanya Ara
"Bisahkah kita tidak membahas ini dulu. Sungguh Ara aku sudah tidak tahan bahkan hanya dengan mendengar suara mu" Ucapnya
Ara menghela napas dan mengagguk. " Baiklah, lakukan apapun yang kamu mau. Asal tidak menyakiti hatiku" Ucapnya sembari tersenyum pada Satria
Mendapat lampu hijau dari Ara, Satria tidak menunggu lama ia langsung mencium bibir Ara. Ara membalas pungutannya, melingkarkan tangannya dileher Satria. Satria menggendong Ara ala bridal style menuju kamar mereka tanpa melepaskan pungutannya.
Satria membaringkan Ara dengan perlahan. Ia menatap Ara, Ara tersenyum.
"Lakukanlah. Sungguh aku tidak apa?" Ucap Ara menenangkan Satria.
Satria yang mendengar ucapan Ara tersenyum. Ia menanggalkan kemejanya dan mulai mencumbu Ara. Tangan Satria menyusuri leher Ara dan turun membuka satu persatu kancing seragam yang masih Ara kenakan. Satria melepaskan pungutannya dan beralih keleher Ara. Keluarlah suara lenguhan dan desahan dari mulut manis Ara membuat Satria semakin menggila. Tanpa sadar Satria sudah melepas semua pakaian Ara. Satria menatap Ara dan tersenyum sedangkan Ara ditatap seperti itu mukanya memerah karena malu. Lalu mereka melakukan malam pertama yang tertunda. Malam yang panas walau cuaca diluar sangat dingin karena hujan. Terdengar suara rintihan rasa sakit disertai Air mata dan tergantikan oleh desahan-desahan kenikmatan dari keduanya sampai mereka bersama-sama menuju puncak kenikmatan.
Satria dan Ara ambruk, kegiatan yang panas dan menguras tenaga membuat mereka kelelahan. Satria menarik selimut menutupi tubuh mereka. Ia kemudian merapihkan anak rambut yang menutupi kening Ara. Lalu ia mencium kening Ara.
" Thanks my Queen'' Ara tersenyum lalu mengagguk "I Love You Ara"Lanjut Satria
"I Love You too" Jawab Ara
Flash Back Off
Satria melihat jam sudah menunjukan pukul 06.35 WIB . Lalu ia melihat Ara yang tertidur pulas, sebenarnya ia tidak tega hanya saja ia tidak ingin membolos. menusuk-nusuk pipi Ara agar ia bangun. Namun Ara malah mengeratkan pelukannya. Satria menghela nafas biasanya ia yang sulit untuk bangun, sekarang Istrinya.
"Apa dia sangat lelah. Biasanya ia terbangun bila diganggu tidurnya?." Satria menghela nafas "Sudahlah"
Satria melepaskan pelukan Ara dan beranjak dari zona nyamannya lalu pergi kekamar mandi.
Drtt
Drtt
Drtt
Handphone Ara berbunyi. Ara terbangun dan langsung menerima panggilan.
__ADS_1
"Hallo"
"Ra ini gue Alvin. Kemarin kalian kemana kok ngilang. Mana Satria gak bisa dihubungin lagi."Cerocos Alvin
"Ehmm sekarang dia lagi mandi. Nanti aja tanyanya disekolah, dia pasti cerita"
"Oh ok. Sorry ganggu"
"Ehmm"
Ara menaruh handphonenya dipinggir bantal. Ara merubah posisinya duduk, lalu ia merenggangkan tangannya. Selimut yang ia pakai melorot. Ara merasa ada yang aneh, ia melihat tubuhnya telanjang.
"Aku lupa udah di unboxing Satria" Ara menepuk keningnya. Ara melirik kearah jam lalu ia membulatkan matanya terkejut.
"Ya ampun udah hampir jam tujuh. Gue kesiangan" Lalu dengan tergesah-gesah Ara turun "Aww" Rintihnya " Sekarang aku ngerasain lagi sakitnya" Gummanya pelan
Satria yang baru keluar dari kamar mandi, ia melihat Ara meringis segera menghampirinya.
"Kamu gak apa-apa?" Tanyanya khawatir
"Gak apa-apa. Ini hal wajar jika pertama kali berhubungan" Jelas Ara
"Kamu mau ke kamar mandi" Ara mengagguk " Ayo aku antar" Satria memapah Ara sampai kamar mandi lalu Satria keluar.
Ara menepuk keningnya pelan, ia lupa membawa baju kekamar mandi. Akhirnya ia hanya memakai handuk keluar kamar mandi. Ara keluar dari kamar mandi dan melihat Satria sudah rapi dengan seragamnya. Satria menatap Ara dari kepala sampai ujung kaki lalu ia tersenyum.
"Jangan tersenyum seperti itu!" Perintah Ara
"Kenapa?. Tidak boleh?"
"Cih. Menyebalkan"
"Tapi kamu suka bukan?" Satria manaik turunkan alisnya.
"Awas minggir. Aku mau ambil baju!"
Satria lalu menyingkir. Dia sebenarnya ingin terus menggoda Ara yang kini mulai menjadi kesenangannya. Tapi sekarang ia harus pergi sekolah, ini sudah hampir terlambat baginya dan dia tidak ingin terlambat.
__ADS_1
Ia melihat Ara berjalan pelan dan sesekali meringis menahan perih akibat ulahnya pun menghela nafas. Ada rasa bersalah melihat Ara kesakitan.
"Ini memang mungkin terlalu awal tapi cepat atau lambat kita pasti akan melakukannya" Gummanya pelan