Terlahir Kembali

Terlahir Kembali
53


__ADS_3

"Asaalamualaikum Yah"


"Waalaikumussalam, kalian dimana!"


"Kami sedang dalam perjalanan menuju resto xxxx yang berada dekat pantai"


" Apa!. Kenapa kamu bawa Ara pergi kesana!. Ara belum sehat benar"


"Satria tahu Yah, Tapi Ara ingin makan ikan diresto itu"


Ara mendelik mendengar perkataan Satria yang mengatakan bahwa ia ingin makan ikan diresto itu. Padahal ia hanya ingin makan sambil menikmati suasana pantai.


"Jangan terlalu lama diluar. Cepat pulang!"


Heru mematikan panggilannya tanpa mendengar perkataan Satria selanjutnya. Satria menyerahkan Handphone nya kepada Ara.


" Kamu simpan" Perintahnya.


Ara menyimpan Handphone Satria kedalam sakunya. Mereka melanjutkan perjalanan menuju resto yang menjadi tujuan mereka.


Dirumah Sakit, Setelah Heru mematikan sambungan teleponnya. Heru memerintahkan Lisa untuk mengambil barang-barang Ara.


"Ehm Her. Aku ingin Ara tinggal dulu dirumah ku untuk sementara" Ucap Devina


" Huft" Heru menghela nafas sebelum menjawab Devina " Ku kira harusnya kalian sebagai ibu kandung mereka pasti sudah tahu. Bahwa mereka tidak akan tinggal bersama salah satu dari kalian jika tidak ada yang mengalah. Mereka mungkin akan tinggal di Apartemen dibanding mengecewakan hati salah satu dari kalian" Ucap Heru panjang lebar.


" Tapi ..." Ucapan Devina terpotong suaminya.


" Yang dikatakan Heru benar Ma. Lihatlah sekarang mereka kabur daripada harus melihat kalian berdebat. Benar kan?" Ucap Bambang menimpali perkataan Heru.


" Mungkin memang benar" Batin Devina dan Lisa.


"Trus barang-barang Ara mau dibawa kemana?" Tanya Lisa

__ADS_1


" Ke apartmen Mereka" Jawab Bambang


" Memang Papa tahu password apartemennya?" Tanya Devina


"Tinggal Tanya Satria saja" Ucap Heru. Devina dan Lisa pun mengagguk.


Kini para Orang tua sedang mengecek barang-barang Ara yang tadi sudah dibereskan sebelum Lisa dan Devina berdebat.


"Ini sudah semua?. Tidak ada yang tertinggal?." Tanya Bambang


" Iya coba dicek lagi" Heru menimpali.


Setelah semua dicek kembali dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Dua keluarga itu pergi menuju apartemen Satria dan Ara. Sebelum pergi Heru mengirim pesan pada Satria, memberitahukan bahwa mereka akan pergi ke apartemen dan meminta password nya. Namun karena mereka belum makan siang. Mereka singgah di restoran milik keluarga Wiguna untuk makan terlebih dulu.


Disisi lain, Satria dan Ara telah sampai di resto yang mereka tuju. Satria keluar bersamaan dengan Ara. Ara melingkarkan tangannya pada tangan Satria dan mereka masuk ke resto bersamaan. Satria memilih tempat yang langsung menghadap ke pantai sesuai keinginan Ara. Mereka duduk saling berhadapan. Mata Ara berbinar melihat deburan ombak yang menyapu pantai dan angin yang membelai wajahnya. Tak lama datang pelayan laki-laki mengantarkan buku menu dan untuk mencatat pesanan mereka.


"Ini daftar menunya. Silahkan dilihat"


"Ra kamu mau makan apa?" Tanpa mengalihkan pandangannya dari buku menu


" Aku mau kepiting saus padang, udang bakar madu dan cumi krispi. Minumnya jus alpukat dan tolong air mineralnya juga" Ucap Ara tanpa melepaskan pandangannya dari pantai


Satria menatap Ara heran. Pasalnya Ara bahkan tidak melihat menu namun memesan makanan yang memang disajikan di resto itu.


"Kamu pernah kesini sebelumnya?" Ara tersenyum lalu menganguk


"Dulu, Saat aku dan Susan masih memegang teguh persahabatan" Ucapnya sendu.


Entah kenapa tapi Ana merasa sedih. Mungkin itu reaksi dari tubuh Ara. Satria pun tidak membicarakannya lebih lanjut.


" Tolong Samakan makanannya dan untuk minumnya es timun saja" Ucap Satria pada pelayan itu sembari menyerahkan buku menu.


" Ada yang lain?" Tanya pelayan itu

__ADS_1


"Tidak, terima kasih"


"Baik. Mohon ditunggu makanannya, permisi" Pamit pelayan itu


Pelayan itu pun pergi meninggalkan meja yang ditempati Satria dan Ara. Satria melihat Ara terus memandangi pantai seperti baru pertama kali.


" Pemandangannya indah sekali" Ucap Ara


" Memang indah" Timpal Satria


Melihat Ara yang begitu senang, sudut bibir Satria pun terangkat. Satria mengeluarkan handphone nya dan mengabadikan momen tersebut. Senyum Ara mengembang sembari menatap Satria.


" Kita selfi berdua bagaimana?" Ucap Ara


Satria mengagguk lalu mereka berfoto bersama. Setelah puas berfoto lalu Satria memposting salah satu foto mereka. Foto dimana Satria merangkul mesra Ara sembari tersenyum kearah kamera. Sedangkan Ara memeluk Satria dari samping meletakkan kepalanya didada satria lalu tersenyum kearah kamera. Pose mereka begitu mesra, tapi Satria menutupi wajah Ara dengan emoticon. Supaya tidak ada yang mengenali Ara. Karena Satria masih menyebunyikan identitas Ara sampai keadaan aman menurutnya.


Pesanan mereka datang, pelayan menyajikan semua menu yang dipesan diatas meja.


" Ini pesanannya" Kata pelayan sambil menyajikan makanan dimeja


" Terima kasih" Ucap Ara


Tapi pelayan itu tidak menggubris Ara. Ia malah terus curi pandang pada Satria. Satria yang mengetahui itu pun diam menampilkan ekspresi datarnya tanpa merespon pelayan perempuan yang terpana pada ketampanan Satria.


" Saya permisi" Ucap pelayan itu sebelum pergi. Ia berharap Satria meresponnya namun Satria bahkan tidak mengeluarkan satu kata pun. Pelayan itu lalu pergi dengan perasaan kesal.


" Ayo dimakan" Ucap Satria lembut


Mereka makan dengan lahap, terutama Ara. Satria tersenyum melihat Ara makan dengan lahap. Ia mengusap bibir Ara yang belepotan dengan saus menggunakan jarinya, lalu Satria menjilatnya. Mendapat perlakuan seperti itu Ara terkejut, Ia terus menatap Satria. Sesungguhnya Ara tidak pernah mendapatkan perlakukan seperti itu. Budi selalu sibuk dengan urusannya. Ketika berpacaran ataupun setelah menikah, perlakuan budi pada Ana terkesan cuek. Hubungan mereka dulu lebih seperti teman daripada kekasih.


" Ayo makanannya dihabiskan dulu. Baru kamu boleh sepuasanya menatapku" Ucap Satria


" Ich PEDE" Ucap Ara kesal " Sungguh Satria, hal-hal seperti ini yang membuatku jatuh cinta padamu" Batin Ara

__ADS_1


__ADS_2