
satria menuruni tangga dengan membawa 2 buah koper miliknya dan ara. sedangkan ara sudah ada di ruang keluarga bersama kedua mertuanya.
sesampainya diruang keluarga satria duduk di samping ara.
" kalian sudah siap?" tanya heru
" sudah yah" jawab ara dan satria berbarengan
" tidak ada yang tertinggal?" mereka berdua menggeleng.
mereka berpamitan pada lisa dan heru. lisa memeluk erat ara. merasa berat ditinggalkan menantunya. sebisa mungkin lisa tidak menangis, dan merelakan mereka pergi.
setelah berpamitan, mereka pun masuk mobil dan pergi meninggalkan kediaman aditama. di dalam mobil satria tidak berbicara apapun dan bahkan belum menjelaskan kemana mereka akan pergi
" keman kita pergi" satria melirik ara sebentar " kamu bahkan belum menjelaskan apapun soal kepindahan kita. aku kira kita bakalan tinggal di rumahmu, aku sudah nyaman dengan ibu" ara memelingkan wajahnya kearah jendela.
" maaf, soal itu. aku hanya ingin sedikit bebas dari pengawasan ibu" ara melirik satria
" maksudnya " tanya ara
" kita akan sedikit bebas bila tinggal berdua, lagi pula kita harus belajar mandiri bukan?".... ara mengagguk
mobil satria sudah memasuki area parkir gedung apartmen milik satria. mereka keluar dari mobil dan masuk kedalam gedung menuju lantai 15. sesampainya didepan pintu unit apartmen milik satria, satria memasukan pas code apartmen dan masuk... ara masuk dan melihat sekeliling lalu terakhir kamar mereka. di apartmen ini hanya ada satu kamar dengan kamar mandi didalam. ada dapur dan meja makan. serta ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga. satu lagi ada balkon menghadap ke arah utara, sehingga kita bisa melihat matahari terbenam.
ara lalu membereskan isi kopernya juga satria. sedangkan satria sedang sibuk dengan handphonenya yang sendari tadi berdering. ara tidak mempermasahkan hal itu.
cklek...
satria masuk kedalam kamar, ia melihat ara sedang memasukan semua bajunya kedalam lemari.
"kamu membereskan isi koperku?" ara melirik satria disela kesibukannya
" iya, kenapa. tidak boleh?" satria menggeleng lalu merebahkan tubuhnya
" ini apartmen yang baru kamu beli atau sudah lama?"
" aku baru membelinya sebelum kita menikah" jawab satria tanpa merubah posisinya
ara menggagguk, setelah membereskan pakaiannya dan satria, ara menuju dapur. ia melihat isi kulkas, ternyata tidak ada bahan makanan apapun hanya air mineral.
__ADS_1
" satria...." panggil ara
satria bangun dan menghampiri ara
" apa?..." satria melihat ara sedang mencatat diatas meja makan lalu mendekatinya
" apa yang kamu tulis" satria duduk disebelah ara
" mencatat bahan makanan dan bumbu yang harus kita beli, kita tidak punya bahan makanan" satria menatap ara yang tengah serius dengan catatannya.
" memangnya kamu bisa masak?.." ara melirik satria, lalu mencebikan bibirnya
" jangan meremehkan ku" satria terseyum
" ya sudah kita berbelanja sekarang sekalian makan malam diluar" ara mengagguk dengan mantap, senyum terukir dibibirnya.
hati satria mulai menghangat setiap ara tersenyum. satria beranjak dari duduknya lalu mengambil dompet dan kunci mobilnya. ia memakai hodie hitam dan juga topi.
" ayo kita berangkat sekarang" ajak satria
"ok, sebentar aku ambil tas dan handphone aku"
mereka lalu pergi ke supermarket terdekat. sesampainya disana ara langsung berbelanja sesuai catatannya. satria mendorong troli sedangkan ara mengambil barang yang mereka perlukan membeli kebutuhan dapur, rumah, juga kebutuhan pribadinya yang telah habis.
" cemilan apa?..."
"terserah..." ara mencebikkan bibirnya
setelah selesai mereka mengantri di kasir. saat mengantri satria pergi tanpa sepengatahuan ara untuk membeli es krim strawberry dan coklat. saat kembali satria melihat belanjaanya dengan ara sedang dihitung, dengan setengah berlari ia menghampiri ara
" kamu dari mana?..." lalu satria menunjukan tangannya yang sedang memegang eskrim ara pun tersenyum
" aku kira dia kabur hehehe..." batin ara
apa yang dilakukan ara tidak luput dari perhatian satria...
"kenapa?"
" eh...tidak ada...hehe" satria menggelengkan kepalanya
__ADS_1
setelah selesai berbelanja mereka duduk sebentar depan supermarket untuk memakan eskrim dulu.
"darimana kamu tau aku suka eskrim strawberry?" tanya ara
" mama yang bilang" jawab satria datar,
ara hanya ber oh ria. satria melihat ada eskrim di sudut bibir ara, tanpa sadar mengulurkan tangannya lalu mengusapnya.
deg...deg...deg...
ara tertegun, jantung ara berdetak dengan cepat. ara cepat cepat memalingkan mukannya yang serasa panas. begitu pun dengan satria, seketika suasana menjadi canggung
" sudah selesai, ayo kita makan dulu" ajak satria, ara hanya menggangguk.
satria memasukan belanjaan mereka dalam bagasi mobil lalu masuk kedalam mobil dan pergi menuju cafe miliknya. sesampainya di cafe, satria langsung turun meninggalkan ara dimobil
" ich dasar, bilang ke ayo kita turun, kita makan disini atau apa lah...ini malah maen pergi aja...huuuhf"
ara turun meyusul satria, ia melihat satria sedang mengintruksikan sesuatu kepada pelayan
" mungkin dia sedang memesan makanan" batin ara
setelah satria memberikan intruksi kepada pelayan, ia berbalik menuju tempat ara berdiri lalu menarik tangannya menuju ruang kerja satria di dalam cafe.
" ini..." berkata sambil melirik satria dan satria pun mengagguk
" daebak!!!,,," ara mengacungkan jempol pada satria
cafe yang mereka kunjungi adalah salah satu cafe milik satria. ara duduk disofa yang berada diruangan itu sedangkan satria duduk disinggahsananya. ara menatap satria yang sedang berkutat dengan laptop nya. tatapan itu beralih ke arah pintu dimana seorang pelayan perempuan datang membawa makanan pesanan satria.
" maaf pak ini pesanannya" lalu meletakkan dimeja " saya permisi" dianggukin satria
satria berdiri lalu duduk disamping ara. wajah ara berbinar melihat makanan yang ada di depannya. satria pun terseyum tanpa diketahui ara
" ayo makan" mereka pun memakan makanannya
" kamu punya berapa cafe?" ara bertanya disela makannya
" aku punya beberapa cafe di kota J dan sekitarnya termasuk kota B"
__ADS_1
"ternyata suamiku ini sudah berpenghasilan, pantas mama sama papa nikahin aku sama kamu gitu saja"
satria hanya diam menatap ara, ada rasa kesal terselip dihatinya. bahkan dia sendiri tidak mengerti